Liveline

Liveline
One Day


__ADS_3

Mata Ladira mengerjap pelan, menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam indra penglihatannya. Entah kerasukan apa, Ladira malah mengelus pelan rambut Gean. Matanya memperhatikan setiap inci garis wajah laki-laki itu, sangat tampan dan anehnya baru kali ini Ladira mengakuinya secara jujur dan benar-benar di dalam hati, tidak seperti sebelumnya. Karena dulu Ladira menilai wajah tampan Gean hanya terlihat dari luar saja, tapi dia baru menyadarinya hati ini.


"Ngapain?" Tanya Gean yang langsung membuka lebar matanya dengan senyum geli saat melihat wajah syok Ladira.


Ladira ingin menarik tangannya kembali, tapi cepat-cepat Gean menahan dan menaruh telapak tangan Ladira pada pipinya. "Ini hari libur, kalau lo izinin buat gue habisin waktu sama lo full hari ini tanpa Danael, Laras dan yang lain. Boleh?"


Gadis itu tertegun sesaat, "gue mau beresin rumah, bekas darah yang kemaren.."


"Stt, gue udah urus tadi malam. Untuk jendela yang pecah, nanti siang ada yang datang buat ngurus," sela Gean yang mendekat dan menarik pinggang Ladira untuk mendekat.


"T-tapi jangan dekat juga," gugupnya. Merasa was-was saat mengingat bagaimana ekspresi Gean yang hampir saja menyambarnya tadi malam.


Ladira tidak bisa menyalahkan laki-laki itu, karena Ladira yang meminta untuk menemani dan sedikit kecerobohan membuat Gean sempat melihat sekilas Ladira yang tidak mengenakan busana apapun.


"Gue gak ngapa-ngapain lo yang berlebihan, tadi malam Tuhan ngasih bonus 2 persen aja buat suami. Sisanya lo yang berhak ngasih izin," jelas Gean. Karena gadis itu malah takut saat dia merengkuhnya ke dalam pelukan.


Mendengar itu, membuat Ladira sedikit merasa bersalah. Sudah 8 bulan mereka berumah tangga, tapi sampai sekarang Ladira tidak ada tanda-tanda untuk menyerahkan hak Gean sebagai suami Ladira. Tapi Ladira juga tidak ingin terikat begitu jauh, disaat hatinya masih terbagi untuk laki-laki lain.


"Maaf."


"Buat?"


"Udah jadi istri yang gak bisa penuhin tugasnya," jawab Ladira.


"Siapa bilang. Buktinya lo masih masak buat gue makan tiap hari," cerocos Gean dengan kekehan di akhir kalimat.


Ladira mencebik kesal, disaat dirinya tengah serius, laki-laki itu malah bercanda. Tapi Ladira beruntung, karena Gean pasti memahami dirinya yang memang tidak siap melepas mahkota, pada laki-laki yang belum dia tempatkan seutuhnya di hatinya.


Baiklah, pagi itu keduanya menghabiskan waktu untuk kembali tidur sampai menjelang siang. Bedanya, ini adalah tidur ternyaman untuk Gean, walaupun mereka sedang terlilit oleh banyak masalah, tapi pagi ini seolah-olah seperti sebuah jeda untuk mengistirahatkan pikiran keduanya.


...***...


Ting... tong


"Sebentar, bisa sabar gak sih!" kesal Ladira saat bel rumah terus terusan berbunyi, padahal Ladira sudah berteriak agar menunggu sebentar karena masakannya yang hampir matang dan tidak boleh ditinggalkan.


Ceklek


"Sia-"


"Mana Gean?!"


Ladira menghembuskan nafas jengah, lagi-lagi Laras datang. "Ngapain lo kesini mulu, gak punya rumah?" Sentak Ladira.


"Sorry, gue gak miskin," jawab Laras yang langsung masuk ke dalam rumah tanpa izin. Ladira yang tidak terima, mengejar Laras yang sudah berlari menuju lantai dua, di mana itu adalah kamar Gean.


Tangan Laras hampir membuka gagang pintu, tapi segera Ladira cegah. "Gak sopan jadi cewek, kalau mau masuk harus izin dulu sama yang punya rumah!"


"Ngapain gue harus izin, kan 4 bulan lagi gue udah resmi jadi nyonya di rumah ini. Bahkan 3 bulan lagi gue kan mau tunangan," jawab Laras, menatap remeh kepada Ladira yang sedang menatapnya sengit.

__ADS_1


"Tapi jangan nyelonong gitu kali!"


Ceklek


Kedua gadis yang tengah beradu mulut di depan pintu menoleh, mendapati Gean dengan muka bantal yang tiba-tiba langsung memeluk Ladira.


"Ra, tidur'in gue lagi," racau Gean yang sudah melingkarkan lengannya di pinggang Ladira.


Laras membuka mulutnya lebar, melihat Gean yang malah dengan mesranya memeluk Ladira di depan matanya saat itu juga. "Ihh, Gean. Kok lo meluk dia sih!" kesal Laras, menarik kuat tangan Gean yang semakin erat memeluk pinggang Ladira.


"Aduh Ge, gue susah nafas tau. Lepasin." Ladira berusaha melepas pelukan itu, tapi Gean malah semakin erat memeluknya dan membuat Ladira kesusahan untuk bernafas.


"Ra, ngantuk," rengek Gean lagi. Ladira merasa aneh kepada laki-laki itu, kenapa Gean bisa semanja ini.


"Udah siang, lo mandi sana!" tegas Ladira, membuat Gean melepas pelukannya dengan wajah mengerucut kesal.


Laras menarik Gean ke hadapannya, "lo kenapa sih, bukannya kita udah janjian buat jalan kok malah gak datang," kesal Laras.


Gean menghembuskan nafasnya jengah sambil mengacak rambutnya semakin berantakan, "lain kali bisa kan? Gue mager buat keluar rumah," jawab Gean lalu kembali masuk ke dalam kamar, sebelum Laras sempat mengejarnya yang sudah menutup pintu rapat.


Gadis itu mencebik kesal, menatap sinis Ladira lalu pergi dari sana.


...***...


Hari sudah malam tapi sampai sekarang Gean belum pulang. Cowok itu hanya bisa berkata jika dia tidak ingin menghabiskan waktu bersama Laras, tapi kata-kata itu seperti angin lalu saja. Saat Laras menelfon Gean tadi sore, cowok itu langsung terburu-buru untuk segera pergi dengan alasan penting, padahal Ladira tahu kalau Gean menutupi bahwa orang yang dia telfon adalah Laras.


"Huftt, ngapain ya?" Gumam Ladira yang meringkuk di atas sofa sambil menonton televisi dengan rasa bosan menghampirinya sejak setengah jam yang lalu.


Ting...


Mata Ladira tertuju kepada handphone yang ada di atas meja. Notifikasi yang masuk membuat handphonenya menyala dan menarik perhatian gadis itu untuk membuka pesan yang masuk.


...Mama...


Mama


Sayang, kamu sama Gean bisa


gak ke rumah mama malam ini.


Sekalian bawa baju buat nginap satu


malam aja.


^^^Me^^^


^^^Gean gak ada di rumah ma, jadi^^^


^^^belum nentu kalau kita bisa ke sana^^^

__ADS_1


^^^malam ini.^^^


Mama


Loh, kemana dia ninggalin kamu


malam-malam sendirian?


^^^Me^^^


^^^Gak tahu ma, tapi kayaknya ada ^^^


^^^urusan penting.^^^


Mama


Ya udah, nanti mama yang telfon Gean


soalnya mama gak bisa ngomong kalau


nunggu besok.


^^^Me^^^


^^^Oke ma.^^^


Gadis itu menghempaskan tubuhnya untuk berbaring di atas sofa dengan nyaman, jarinya menari-nari di atas layar ponsel dengan begitu lincah.


Beberapa menit bermain ponsel, pintu terbuka dan menampakkan Gean yang datang dengan wajah kusutnya. Ekspresi yang selalu Ladira lihat jika laki-laki itu pulang sehabis bertemu dengan Laras.


"Ra"


"Hm"


Gean mendekat dan duduk di ujung sofa, tepat di bagian kaki Ladira.


Tanpa aba-aba, Gean menjatuhkan tubuhnya dan menaruh kepalanya di atas perut Ladira dengan nyaman.


"Lo ngapain sih?" Tanya Ladira dengan raut wajah bingung.


"Lo gak ada niat buat batalin keinginan buat pisah?"


Ladira terdiam dengan pertanyaan itu, pikirannya langsung bercabang memikirkan banyak hal yang mungkin terjadi jika Ladira harus memilih antar bertahan dan berpisah dengan Gean.


Jika dia berpisah, maka apa kabar dengan ayahnya nanti dan bagaimana perasaan Winda yang sudah Ladira anggap sebagai ibu kandungnya sendiri. Tapi jika Ladira bertahan, bagaimana dengan hubungannya dan Danael, bagaimana dengan rencana pernikahan Gean dan Laras?


Keduanya sama-sama tidak membuka suara sama sekali, hanya suara televisi yang mengisi keheningan mereka. Sampai Gean akhirnya bangun.


"Kita ke rumah mama."

__ADS_1


...***...


...See you...😉...


__ADS_2