Liveline

Liveline
Karma


__ADS_3

Atas pengakuan suaminya yang jujur mengatakan bahwa dia akan menikahkan Gean kembali dengan anak teman kerjanya, Winda semalaman memarahi Zayan sehingga suaminya itu jengah dan pergi entah ke mana.


Karena merasa khawatir dengan kondisi Gean saat dia menelfon Ladira. Winda segera pergi menuju rumah anak-anaknya malam itu juga pada pukul 02.00.


Winda duduk di samping kasur sambil mengelus rambut Gean lembut, dia sedih saat melihat luka yang ada di wajah dan tubuh anaknya. Gean masih tertidur lelap karena suhu tubuhnya yang masih naik dan Ladira yang sama sekali tidak tidur karena beberapa kali mengganti kompres di dahi Gean.


"Mama tidur di sini ya. Biar Ladira yang jagain Gean," ucap Ladira pelan agar tidak menggangu tidur Gean.


Winda menggeleng, "kamu aja yang tidur nak, ini juga udah mau pagi. Lagian mama tadi udah tidur lama di rumah. Mama tahu kalau kamu enggak ada tidur semalaman, biar istirahat dulu kalau besok mau sekolah," ucap Winda dan akhirnya disetujui Ladira. Dia memang sangat mengantuk dari tadi, tapi karena suhu tubuh Gean yang tidak ada perubahan membuat Ladira merasa sedikit khawatir jika Gean tidak dijaga total.


Ladira yang ingin pergi dari kamar Gean langsung dihentikan oleh Winda, "kamu kemana, kenapa gak tidur di sini?" Tanya Winda yang membuat drinya melupakan kalau ibu mertuanya tidak tahu, bahwa dia dan Gean pisah kamar.


"Aku mau ke kamar tamu aja, nanti mama bisa tidur di sebelah Gean," ucap Ladira.


Winda menggeleng dan berjalan menghampiri Ladira, "biar mama yang nanti ke kamar tamu, kamu tidur aja." Winda menarik tangan Ladira dan menuntun gadis itu untuk berbaring di samping Gean.


Gadis itu merasa canggung sendiri, dia merasa aneh jika tidur di samping suami tapi di lihat oleh orang apalagi itu adalah mertuanya.


Ladira memunggungi Gean dan Winda yang duduk di samping Gean, mencoba untuk tidur tanpa melihat satu manusia yang tersenyum menatapnya, yaitu Winda.


Hingga beberapa menit berlalu, mata Ladira yang tidak tahan untuk tetap terbuka, perlahan menutup. Tapi baru saja Ladira ingin terlelap, tiba-tiba sebuah tangan besar dan hangat merengkuh pinggangnya.


Mata Ladira terbuka lebar saat mendapati bahwa tangan itu adalah tangan Gean, Ladira tentu menahan malunya mati-matian saat mendengar Winda tertawa pelan. Ladira mencoba mengabaikan sekitarnya dan mencoba untuk tetap tidur, sampai akhirnya dia kembali terlelap.


...***...


...Tok...tok.. tok...


"Ladira kalau kamu sekolah, cepat siap-siap ya nak. Makanan udah mama siapin. Tapi kalau masih ngantuk nanti izin aja gak masuk sekolah!" ucap Winda dari balik pintu.

__ADS_1


"Iya ma!" jawab Ladira, yang sebenarnya tidak mungkin Winda dengar.


Ladira menggeliat dan mencoba untuk bangun, tapi sepertinya Gean tidak mengubah posisi dan masih memeluknya sampai sekarang. Tangan Gean sangat sulit disingkirkan, ditambah beban baru dengan kaki Gean yang menaiki perutnya. Sekarang Ladira merasa kau dia adalah sebuah guling bagi Gean, gadis itu menghela nafas kasar dan memilih untuk membangunkan Gean saja. Dari pada menghabiskan tenaga untuk melepas pelukan Gean yang semakin erat.


"Ge, bangun. Gue mau berangkat sekolah," ucap Ladira sambil menepuk-nepuk punggung Gean.


Laki-laki itu bergerak lalu membebaskan Ladira dari dekapannya, dia masih melanjutkan tidur dengan posisi tengkurap.


Ladira menghela nafas lega, dia mengambil handuk dan mulai berjalan ke dalam kamar mandi. Melaksanakan ritual paginya secepat mungkin karena dia bangun sedikit kesiangan hari ini.


Beberapa menit di dalam toilet, Ladira akhirnya memunculkan kepalanya saja dari balik pintu. Matanya menelusuri kamar yang lenggang, karena Gean masih tidur dengan posisi yang sama.


Dirinya menghela nafas lega, karena kecerobohan saat tidak memeriksa terlebih dahulu, apakah ada Bath Sheet di sana terlebih dahulu, tapi Ladira malah langsung mandi karena mengingat waktu yang tersisa sedikit.


Alhasil, Ladira hanya mengenakan handuk yang dia bawa tadi. Apalagi handuk itu hanya menutupi dari atas dada sampai paha, membuatnya takut kalau Gean sampai melihatnya berpenampilan seperti itu.


Tepat dia sampai di depan pintu, Ladira tidak bisa membukanya. Apakah ada yang mengunci dari luar?


Cepat-cepat Ladira menarik selimut yang ada di kasur lalu menutupi seluruh tubuhnya. Saat Gean memasuki kamar, laki-laki itu mengerutkan keningnya bingung. Kenapa Ladira memakai selimut?


"Ngapain pakai selimut?" Tanya Gean.


"Gue taadi numpang mandi di sini, tapi gara-gara cuma ada handuk, jadinya gini deh. Baju gue kan semuanya di kamar sebelah," jelas Ladira yang dipahami oleh Gean. Laki-laki itu terlihat sedikit santai dan duduk di pinggir kasur sambil memainkan ponsel di tangannya.


"Ngapain masih di sini?"


"Pintunya gak bisa dibuka," jawab Ladira sambil mencoba memutar-mutar kunci, kemungkinan ada masalah di sana.


Kaki Gean melangkah menghampiri Ladira yang berdiri di samping pintu, dia mengambil alih untuk mengotak-atik apapun yang ada di pintu itu. Beberapa saat kemudian, tubuh Gean kembali tegap dan menghela nafas berat. "Kuncinya rusak, gak bisa dibuka kalau enggak di bongkar," jelas Gean.

__ADS_1


Ladira memanyunkan bibirnya kesal, sepertinya takdir memang tidak menginginkannya lepas dari Gean. Buktinya, dia harus dikurung di dalam kamar yang sama dengan suaminya. Lebih parah lagi, Ladira tidak mengenakan sehelai pakaian dan hanya bermodalkan handuk dan selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Terus lo diam aja gitu?" Tanya Ladira kesal saat Gean malah kembali duduk di kasurnya dengan santai.


"Gue gak bisa apa-apa sekarang mana gue lagi sakit, gak kuat dobrak pintu, peralatan buat bongkar gak ada, pulsa habis, hp mau lobet dan cash hp ada di ruang tamu. Gimana?" Gean mengangkat dagunya bertanya, setelah menjelaskan kekurangan setingkat itu.


Ladira memutar kedua matanya malas, dia berbalik menghadap pintu lalu menarik nafas panjang. "MAMA, TOLONGIN DIRA MA!" teriak Ladira sekuat tenaga, semoga saja mertuanya itu mendengar walaupun Ladira tahu, kalau kamar Gean sudah di desain kedap suara.


"Lo panggil mama, emang mama ada datang ke sini?" Tanya Gean yang tidak tahu-menahu, karena dia yang tidur terlalu pulas semalaman.


"Orang yang tidurnya ngorok, gak akan tahu kalau ada orang datang," ucap Ladira yang membuat Gean sedikit kaget. Apa benar jika dia tidur ngorok tadi malam, sampai tidak tahu kalau mamanya datang.


"Serius kalau gue ngorok? Gak mungkin, gue gak pernah kayak gitu," tolak Gean, bahwa sebaliknya, kalau Gean tidak seperti itu. Tipe Gean saat tidur hanya bermanja-manja, seperti tidak bisa tidur kalau tidak dipeluk atau tidak bersama seseorang.


Ladira menatap Gean jengah, "PD banget kalau lo gak ngorok, sampai ileran lagi," ucap Ladira menambah-nambah hal yang sebenarnya adalah hoax.


"Gak mungkin. Lo pasti bohong," Gean menggeleng tegas. Sungguh dia akan sangat malu jika hal itu benar terjadi, apalagi Ladira melihatnya. Karena selama ini, Gean tidka pernah mengalami hal jorok seperti itu saat tidur.


Sungguh hiburan yang lumayan menyenangkan saat melihat wajah malu Gean, walaupun dia terkurung entah sampai kapan.


Karena lelah berdiri terlalu lama, Ladira yang ingin berjalan menuju kursi, harus mengalami hal yang memalukan, melebihi dari Gean.


Saat berjalan, dia malah menginjak selimut yang dia kenakan. Membuat dia tersandung dan Gean malah menertawakannya.


Karma membohongi suami...


Sudah terkurung di dalam kamar dan jatuh dengan pose memalukan.


...***...

__ADS_1


...See You Next Time...😉...


__ADS_2