
Beberapa siswa-siswi yang berada di lorong-lorong kelas tidak henti-hentinya menatap Ladira. Suara mereka menggema seperti kerumunan lebah yang berisik saat Ladira lewat, tapi gadis itu tidak menanggapi.
Sikap dingin Ladira di sekolah masih melekat pada dirinya.
Satu tujuan yang ingin Ladira segera tuntaskan adalah menemui seseorang yang menghilang 1 hari lalu. Membuat Ladira merasa khawatir.
Kaki Ladira sudah melangkah memasuki ruangannya, di sana sudah hampir seluruh penghuni kelas yang datang. Tapi satu sosok yang dia cari-cari, tidak ada di sana.
"Hai Ra. Turun juga hari ini. Lo lagi cari apaan?" Tanya Bila, salah satu teman sekelas Ladira. Dia bingung saat gadis itu celingak-celinguk mencari sesuatu di dalam kelas mereka.
"El belum datang?" Tanya Ladira yang sudah menaruh tasnya dan duduk di kursi.
"Kita gak tahu, dia turun atau enggak hari ini. Tapi sejak lo izin, Danael gak ada kabar sampai sekarang," jelas Bila singkat. Membuat perasaan cemas yang terpendam sejak kemarin, kini bertambah besar.
...***...
"Ehemm, sa! Gue boleh duduk di sini juga?" Tanya Ladira yang sedang membawa segelas jus mangga di tangannya, kepada laki-laki yang tidak lain adalah Arsa. Laki-laki itu seolah menghilang setelah kejadian antara dirinya dan Danael.
Arsa mendongak mendapati Ladira di seberang mejanya, dia tersenyum, "silahkan duduk Ra!" ucapnya.
Setelah mendapat izin Arsa, Ladira duduk di seberangnya. "Gimana kabar lo Sa?" Tanya Ladira yang merasa sedikit kecanggungan di antara mereka, padahal dulu mereka seperti saudara yang selalu bersama. Merencanakan hal konyol untuk bolos bersama, dan akan mendapat hukuman bersama.
"Gue baik. Gimana kabar lo sama yang lain?" Tanya Arsa kembali.
"Baik," jawab Ladira. "Um,..gimana sama Naira? Dia enggak kelihatan tadi? Biasanya kan, setiap pagi Naira pasti jaga di depan gerbang?" Tanya Ladira.
Arsa menghela nafas sejenak, "Naira besok pindah Ra," jawabnya lesu.
"Hah? Pindah ke mana? Kok tiba-tiba gitu sih?" Benak Ladira mulai merasa khawatir, tapi dirinya berusaha agar tidak berfikir yang tidak-tidak untuk sekarang.
"Ke luar negeri. Dia tinggal di sana karena ayahnya yang netapkan buat kerja di sana, sampai proyek mereka selesai," jelas Arsa singkat.
"Tapi gak lama kan?" Tanya Ladira lagi.
Arsa menggeleng, "gak tau. Tapi kemungkinan Naira tinggal di sana bertahun-tahun."
"Terus kapan dia berangkat?"
__ADS_1
"Besok subuh jam 3"
"Ra," kepala Ladira mendongak ke atas, mendapati Gean yang menyentuh bahunya.
"Duduk Ge," tawar Arsa.
Gean mengangguk dan duduk di samping Ladira. Merasa diperhatikan oleh Arsa dan beberapa pengunjung kantin, Ladira menggeser kursinya sedikit agar menjauh dari Gean yang menaruh kursinya lumayan dekat dengan Ladira.
"Kok diam aja? Perasaan, kita makin canggung aja. Anehnya lagi, kalian udah mirip kayak orang pacaran yang masih malu-malu!" lontar Arsa, bingung tentunya sedikit berada di dirinya.
"Apaan sih lo Sa? Sejak kapan coba gue sama Gean yang beda prinsip malah pacaran, ngaco aja," terang Ladira berusaha bersikap sesantai mungkin.
Mata Gean melirik Ladira sesaat, "gak ada yang enggak mungkin di dunia ini," ucapnya yang terlampau santai. Tapi membuat Arsa berusaha sebaik mungkin, untuk mencerna perkataan laki-laki itu barusan.
"Iya juga sih Ge. Tapi kan Ladira sukanya mungkin sama Danael, secara kan, mereka itu sahabat dari kecil, di mana-mana Danael selalu ada buat Ladira, bahkan sampai sekarang. Gak mungkin di antara mereka gak ada rasa." Tanggapan dari Arsa membuat Ladira berupaya meneguk ludahnya yang hampir tidak bisa tertelan, dirinya ingin bicara, tapi tidak satupun kalimat yang mampu keluar dari mulutnya.
Gean merubah posisi duduknya, sedikit menghadap Ladira, "lo beneran suka sama El?" Tanya Gean dengan nada suara yang terdengar dingin.
Jantung Ladira berpacu lebih cepat saat tidak sengaja menatap mata Gean, pertanyaan macam apa itu? Apakah Ladira bisa menjawabnya, di depan suaminya sendiri?
Ladira mengatupkan bibirnya rapat, dirinya bingung ingin menjawab apa.
"GEAN!!" suara teriakan dari arah pintu kantin membuat hampir seluruh penduduk kantin menoleh ke arah asal suara.
Ternyata di sana ada seseorang yang menunggu Gean. "BURUAN KE RUANG OSIS, GUE TUNGGU!" teriak gadis itu, yang tentunya adalah salah-salah anggota OSIS. Dia adalah Laras sang sekretaris OSIS SMA Madra Jaya.
Gean menganggukkan kepalanya, sehingga Laras langsung meninggalkan kantin.
"Gue pergi dulu," Gean bangkit berdiri, dan tidak lama kemudian, punggungnya mulai menghilang di balik tembok.
Ladira menghela nafas lega, akhirnya dia bisa selamat dari pertanyaan tadi.
"Ya udah, ke kelas Ra. Bel udah bunyi, nanti pak Danu ngomel kalau kita belum ganti baju olahraga," Arsa berdiri dan disusul Ladira, mereka menuju kelas yang sama di mana sebentar lagi jam pelajaran olahraga akan segera dimulai.
...***...
Rasa suntuk dan gelisah mulai menyelimuti Ladira, berulang kali dia memanggil salah satu kontak, tapi tidak pernah ada jawaban.
__ADS_1
Setelah selesai praktek olahraga futsal, seluruh siswa-siswi diperbolehkan untuk bersantai dan hanya boleh di sekitar lapangan futsal, sampai guru mereka mengizinkan.
"AYO FINO SEMANGAT!!" teriakan dari Bila membuat Ladira refleks menutup telinganya karena kaget, bagaimana tidak, Bila berteriak cukup kencang dan tepat di samping telinga Ladira.
"Aduh, Bil. Jangan teriak juga kali," tekan Ladira kesal dengan temannya yang satu ini. Dia terlalu berlebihan, menurut Ladira.
"Fino kan pacar aku, jadi dia harus di kasih semangat supaya bisa menang," jawab Bila.
"Iya kasih aja dia semangat, tapi jangan teriak sekencang itu juga kali. Telinga gue udah berdengung dengar suara lo yang mirip kayak suara Toa!" Ladira menyentil pelan dahi Bila.
"Iya," dengus Bila lalu mulai bertepuk tangan. Tidak ada lagi suara Bila yang terdengar berlebihan, selain bersorak dengan suara yang sewajarnya.
Beberapa menit kemudian, Ladira yang masih memandangi layar handphonenya.
"YAAMPUN, ITU KENA KEPALA ORANG!!"
"Pliss deh Bil, kan gue bilang jangan teriak bisa kan!" tekan Ladira dengan nada kesalnya.
Tanpa aba-aba, Bila menarik Ladira yang langsung bangun dan berlari menuju kerumunan orang di lorong kelas.
"Ih Bil. Kita ngapain sih, lepasin," Ladira sedikit memberontak.
"Itu Ra, ada yang kena bola," jawab Bila, sedikit terengah-engah, karena sambil berlari.
Tidak lama, mereka sudah sampai di kerumunan itu. Yang Ladira lihat pertama kali adalah wajah Gean, yang berlutut di lantai dan memangku kepala seorang gadis yang pingsan di atas pangkuannya.
"Itu Laras kan? Aduh, kasihan tuh dahinya merah," pekik Bila pelan, melihat Laras yang sudah pingsan.
Ladira hanya diam melihat pemandangan itu, sampai akhirnya Gean menggendong tubuh Laras. Tentunya tujuan mereka adalah UKS.
"OMG, my crush gendong cewek lain," pekik Bila sedramatis mungkin.
Ladira mendelik, "gila lo ya? Ingat tuh kalau udah punya pacar!"
"Hehe. Iya juga," cengir Bila. "Tapi Gean bisa juga kalau jadi cadangan."
...***...
__ADS_1