Liveline

Liveline
Mal


__ADS_3

Seluruh siswa-siswi SMA Madra Jaya sudah berkumpul di lapangan untuk menyaksikan pelantikan singkat Gean sebagai ketua OSIS yang baru, dan beberapa anggota yang lain.


Acara tersebut berlangsung tidak terlalu lama, dan Gean sudah resmi menjadi ketua OSIS SMA Madra Jaya.


Pada akhir acara, Gean mengumumkan sebuah pengumuman. "Mengingat kita besok akan mengadakan kemah selama 3 hari di pegunungan, saya harap teman-teman sudah mempersiapkan peralatan maupun barang-barang yang memang diperlukan untuk dibawa. Saya meminta pula agar teman-teman bisa mematuhi aturan, dan tidak membuat masalah di lokasi perkemahan nanti. Untuk besok, kita sudah berkumpul di sekolah pada jam 07.30, karena jam 08.00 kita akan berangkat menggunakan bus!" ucap Gean mengumumkan masalah perkemahan yang akan mereka adakan besok.


Seluruh siswa-siswi SMA Madra Jaya bersorak gembira, karena hal yang mereka nantikan untuk kemah bersama akan diadakan besok. Ini adalah perkemahan terbesar mereka, karena diikuti oleh seluruh siswa-siswi SMA Madra Jaya, tanpa ada kelas yang harus ditinggal, seperti tahun-tahun sebelumnya.


...***...


Ladira bersandar lesu di depan pintu mobil,  tidak diduga-duga kalau dirinya akan bertemu Gean di taman belakang. Laki-laki itu menceramahi Ladira yang malah pergi begitu saja di parkiran, sehingga dia harus mondar-mandir untuk mencari.


Tangan Ladira masih di cengkraman kuat oleh Gean, membuat Ladira tidak bisa apa-apa setelah lama memberontak karena tidak ingin dilihat oleh orang-orang tentang dirinya yang dekat dengan Gean. Dia pasrah karena lelah sendiri.


Sedangkan Gean, dia sedang mencoba menelfon Laras yang sampai sekarang belum datang. Gean memiliki banyak kesibukan, karena dia hanya memiliki waktu sampai jam 15.00 untuk menemani kedua gadis itu ke mal, dan jam sekarang sudah menunjukkan pukul 13.15.


Karena kesal sendiri, Gean mematikan ponselnya dan menyuruh Ladira untuk masuk ke dalam mobil. Memutuskan membiarkan Laras, karena waktu yang semakin mepet.


"TUNGGUIN!" Gean menoleh, dia kembali memunculkan kepalanya saat sudah masuk ke dalam mobil.


"CEPETAN, GUE GAK PUNYA WAKTU BANYAK!" balas Gean berteriak kepada Laras yang masih berlari ke arah mobil.


Laras memasuki mobil dengan nafas yang masih belum teratur, dia kehabisan banyak energi karena terus berlari saat mengingat kalau Gean susah pasti menunggunya lama.


"Nih minum," Gean menyerahkan sebotol air mineral kepada Laras, dan langsung diterima gadis itu lalu meminumnya separuh.


"Makasih," Laras tersenyum kepada Gean.


Gean hanya mengangguk dan mulai menyalakan mobilnya, lalu beranjak pergi dari lingkungan sekolah, menuju mal yang akan menjadi tempat mereka membeli perlengkapan dan beberapa barang untuk besok berkemah.


Tidak ada lagi pembicaraan setelah itu, selama 25 menit mereka menempuh perjalanan, mobil Gean sudah terparkir rapi di parkiran khusus yang ada di mal tersebut.

__ADS_1


Mereka bertiga mulai menyusuri mal dan membeli tenda yang mudah untuk dipasang, lalu beralih menuju toko pakaian yang menjual jaket dan berbagai macam pakaian.


"Warna pink ini, cocok gak buat aku?" Tanya Laras, menunjukkan jaket tebal berwarna pink yang terlihat hangat jika digunakan.


"Terserah lo, yang pasti bisa buat hangat'in badan, dan gak ngerepotin buat dipasang," jawab Gean dengan sedikit kritikan yang dia beri.


Laras mengangguk, dia memahami itu lalu mulai mencari beberapa pakaian lagi.


Kaki Gean melangkah menghampiri Ladira yang juga sedang mencari jaket, dirinya mendekat dan mencari jaket di tempat yang sama dengan Ladira.


"Nih, cocok buat lo," Ladira menyerahkan sebuah jaket tebal berwarna hitam keabu-abuan kepada Gean.


Laki-laki itu tersenyum senang, ternyata Ladira memperhatikannya juga. Walaupun Ladira masih marah kepadanya, tapi gadis itu masih mengutamakan kewajibannya sebagai istri.


"Makasih," ucap Gean lalu menerima jaket tersebut lalu mencobanya.


Sangat pas dan nyaman untuk digunakan, penampilan Gean terlihat sempurna dengan balutan syal buru yang tiba-tiba Ladira lilitkan di lehernya.


Setelah mematut beberapa saat di depan cermin, Gean melepas jaket dan syal lalu memasukkannya ke dalam keranjang untuk dibayar nanti. Ladira pun sama, gadis itu sudah selesai dengan pilihannya. Sekarang mereka hanya menunggu Laras yang sedari tadi belum selesai-selesai untuk memilih.


Gean sedang duduk di bangku yang ada di sana, sedangkan Ladira yang bosan pun berjalan menuju stand penjual ice cream yang terlihat menggiurkan jika tidak dicoba.


"Ice cream coklat satu cup ya mbak," ucap Ladira saat melihat rasa yang tersedia.


Penjual tersebut mengangguk dan langsung menyiapkan pesanan Ladira, setelah selesai, Ladira membayarnya dan berjalan menghampiri Gean yang masih memainkan ponsel di tangannya.


"Beli ice cream?" Tanya Gean, saat Ladira yang duduk di sampingnya langsung menyeruput ice tersebut dengan sedikit lahap.


"Gak boleh? Ini uang gue kok, jadi terserah mau beli apa," jawab Ladira. "Atau lo mau?" tanya Ladira kembali.


"Boleh," Gean mengangguk dan mencondongkan tubuhnya mendekat dengan membuka mulut, bersiap menerima suapan ice cream ke dalam mulutnya.

__ADS_1


Ladira memundurkan tubuhnya, dia sedikit kaget, tapi tetap menyendok ice cream tersebut lalu mengarahkannya menuju mulut Gean yang terbuka.


"Beli sendiri," ucap Ladira tertawa puas, saat Gean yang gagal memakan ice cream tersebut karena Ladira malah membalikkan arah ice cream tersebut ke dalam mulutnya.


Dengan wajah yang ditekuk, Gean yang terlanjur kesal malah melakukan kejahilan dengan menggelitik pinggang Ladira, membuat istrinya itu tertawa karena kegelian.


Seperti tidak mengingat masalah di antara keduanya, mereka seperti pasangan yang selalu bahagia tanpa masalah, padahal sebaliknya dari kata bahagia.


Di seberang sana, Laras hanya mengepalkan kedua tangannya menahan kesal. Dia terlalu asyik berbelanja, membuat waktu bersama Gean malah terbuang dan direbut oleh Ladira.


"Ra..."


Tubuh Ladira terdiam dengan tawa yang sudah kembali reda, saat mendengar suara yang familiar di telinganya. Ekspresi gadis itu berubah saat mendapati Danael yang berdiri di belakangnya.


"E-eh...El," ucap Ladira tersenyum paksa.


"Kalian ngapain?" Tanya Danael, dengan suara yang terdengar sedikit ketus dan dingin.


"Tadi gue lagi cari-cari jaket buat besok, gak taunya ketemu Ladira. Kita ngomong sebentar, soalnya gue lagi nungguin Laras," jawab Gean, mewakili Ladira yang seperti tidak bisa menjawab dengan benar saat ini.


"Lo pacaran sama Laras?" Tanya Danael dengan suara yang berubah dengan nada yang terdengar bersahabat.


"ENGGAK!" jawab Gean refleks, dia melirik sekilas wajah Ladira yang terlihat berbeda dari ekspresinya tadi. Gadis itu sekarang malah menatapnya dengan tatapan sinis.


Danael tertawa lalu menepuk pundak Gean, "jangan bilang gak suka dulu Ge, mungkin lo gak akan tahu sama nasib yang nanti bisa berubah. Mungkin suatu saat, lo gak akan bisa lepas dari Laras," ucap Danael. Gean hanya bisa tersenyum paksa, tetapi di dalam hati dia berdoa agar apa yang Danael katakan tidak sampai terwujud. Dia hanya ingin ada satu orang saja yang tinggal di hatinya.


"Siapa tahu gue bisa jodoh sama Ladira, dan lo sama Laras," ucap Danael lagi.


...***...


...See You...😉...

__ADS_1


__ADS_2