
"Mau ke mana? Kenapa kemaren gak turun sekolah dan enggak ngabarin?"
Ladira diam di tempat, saat dia membuka pintu rumah. Danael sudah menghadangnya di luar.
"K-kemaren...." Ladira menggigit bibirnya, dia bingung ingin mengatakan apa kepada Danael. Jika dia jujur, maka laki-laki itu mungkin akan kecewa kepadanya.
"Kemarin saya yang minta Ladira izin, karena hari ini kami akan keluar kota," jelas Raska yang merupakan ayah dari Ladira.
Ladira menghela nafas lega, saat ayahnya datang di waktu yang tepat. Danael mengangguk, "apa boleh, Ladira ikut saya sebentar?" Tanya Danael.
"Kami bisa terlambat hanya karena kamu, lebih baik kamu pergi dari sini. Jangan suka mengganggu urusan orang lain," tegas Raska, yang memang dari dulu, kurang menyukai Danael sejak kecil.
"Pah, jangan gitu," ucap Ladira.
Raska langsung menarik Ladira untuk memasuki mobil, meninggalkan Danael yang hanya diam memperhatikannya.
Dari balik jendela mobil, Ladira semakin merasa bersalah kepada perasaannya sendiri. Dia sudah lama mencintai Danael, tapi dirinya malah menikahi orang lain hari ini.
Mobil langsung melesat pergi dari pekarangan rumah, meninggalkan Danael yang masih diam di tempatnya.
"Kenapa gue ngerasa gak enak hari ini. Gue selalu kepikiran lo Ra," gumam Danael langsung terduduk di teras, entah mengapa kakinya bergetar dan tidak tahan untuk menahan tubuhnya terlalu lama.
"El, kenapa lo mimisan," suara Zeano menghampiri pendengaran Danael. Matanya melihat sekilas laki-laki itu yang mengguncang tubuhnya, sampai akhirnya pandangan Danael menggelap.
...***...
Ladira termenung menatap pantulan dirinya di depan cermin. Pikirannya berkecamuk ke sana-kemari.
Memikirkan kelanjutan hidupnya yang selama 1 tahun akan menjalin hubungan bersama Gean seperti yang kemarin dia katakan kepada Gean, dan perasaannya kepada Danael yang tidak bisa dia sembunyikan.
"Nak, kenapa ngelamun?" Tanya Winda yang sudah masuk ke dalam kamar rias Ladira.
Ladira langsung menatap Winda dari pantulan cermin dan tersenyum, "gak papa kok tan, aku cuma ngantuk aja tadi," ucap Ladira, karena dia memang benar sedang mengantuk. Karena semalaman, dia tidak bisa tidur karena memikirkan statusnya yang sebentar lagi akan berganti menjadi seorang istri.
"Yasudah, kamu tahan dulu ya. Acaranya mau dimulai, jadi kalau sudah selesai nanti kamu bisa tidur kok," ucap Winda mengusap bahu Ladira.
Para perias pengantin sudah mulai membongkar isi tas mereka dan mendandani Ladira secantik mungkin.
Sampai 1 jam lamanya, Ladira sudah cantik dengan riasan dan busana yang dia pakai.
"Mantu mama cantik banget," puji Winda.
__ADS_1
"Makasih tan," Ladira tersenyum tipis.
"Jangan panggil tante terus, panggilnya mama ja. Kan sebentar lagi kamu akan jadi anak mama," ucap Winda menggenggam jemari Ladira yang terasa dingin.
Ladira mengangguk, "iya ma."
...***...
Dengan satu tarikan nafas, Gean mengucapkan Ijab Kabul dengan lantang dan jelas.
"Saya terima nikah dan kawinnya Ladira Devinika binti Devanio dengan maskawin tersebut dibayar tunai."
"Bagaimana para saksi. Sah," seru penghulu yang masih menggenggam tangan Gean.
"Sah!!"
Setelah kalimat tersebut berhasil diucapkan dengan lancar, tidak lupa mereka memanjatkan doa untuk Gean dan Ladira.
Ladira hanya dapat menunduk, dirinya mau ataupun tidak. Harus menjalankan kewajiban sebagai seorang istri dari hari ini.
Gean menggapai jari Ladira dan memasangkan cincin di jari manis istrinya, dan terakhir, Ladira memasangkan sebuah cincin yang serupa pada jari Gean.
Ladira menahan diri agar tidak terlihat lemah. Bagaimana tidak? Dirinya ingin sekali menangis dan berteriak, saat mengingat kata-kata yang pernah dia ucapkan saat masih kecil.
...***...
"Makasih ya, udah bantuin aku. Zean selalu aja gangguin aku kalau mau main," ucap Ladira kecil kepada sahabat baiknya. Danael.
Danael kecil mengangguk, dengan senyuman indah terukir di wajahnya. "Mama bilang, aku harus jagain kamu."
"Nanti aku mau kita nikah ya. Supaya aku aman, enggak digangguin lagi. Dira sayang sama Nael, janji ya jangan ninggalin aku," lontar Ladira kecil kepada Danael yang berusia 4 tahun, sepataran dengan Ladira.
"Iya, supaya kayak mama papa. Mereka bisa sama-sama tiap hari," jawab Danael.
...***...
"Ra, kenapa ngelamun?" Sentak Gean pelan, saat dari tadi tamu menunggu kedua pasangan tersebut untuk sungkeman.
Ladira mengusap sekilas, butir air mata yang keluar sedikit di ujung mata. Dirinya bangkit berdiri, dan mulai menyalami satu persatu anggota keluarga.
Acara resepsi yang sudah selesai, hanya tersisa sesi foto dan mempersilahkan para tamu untuk dijamu.
__ADS_1
Ladira memperhatikan gedung yang begitu megah dan indah, dipenuhi hiasan yang sangat mewah. Di sana, hanya ada keluarga mereka saja, tidak ada sama sekali teman mereka yang menghadiri acara.
Dikarenakan lokasi yang diadakan di kota lain, dengan jarak yang tidak mungkin teman mereka jangkau.
Dengan status yang dirahasiakan, itulah alasan utama mereka mengadakan acara tertutup.
"Ka, Ra. Lian mau peluk!" seru Lian yang bersusah payah menggapai Ladira. Dirinya yang kesulitan karena gaun Ladira yang baru dia ganti, begitu lebar dan menyulitkan Lian untuk menggapai Ladira.
Gean yang dapat menebak dan langsung peka, kalau Ladira pasti memerlukan bantuannya. Tangan Gean terulur untuk mengangkat adiknya, lalu menyerahkannya ke dalam gendongan Ladira.
Ladira hanya tersenyum tipis, berterima kasih dalam hati atas kepekaan suaminya yang baru sah hampir 1 jam lalu.
"Cantik," ucap bocah itu sambil mengelus pelan pipi Ladira dengan tangan mungilnya. "Lian cayang kak Ra," ucap Lian begitu genitnya. Membuat Gean dan Ladira sama-sama tercengang karena perilaku Lian.
"Dasar bocah genit, belajar dari siapa?" Tanya Gean menyentil pelan dahi adiknya.
Lian hanya mengulurkan lidah sebentar kepada Gean, lalu memeluk Ladira dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Ladira.
"Sh, kok digigit." Lirih Ladira saat Lian dengan usilnya menggigit leher Ladira.
Mata Gean melotot tajam saat mendengar lirihan Ladira tadi. "Heh, lo kenapa bocil. Bisa-bisanya lakuin gituan!" protes Gean lalu menarik paksa Lian dari gendongan Ladira. Saat bocah itu tidak mau lepas.
"Apaan sih. Lian pengen peluk kak Ra lagi," rengek Lian.
"Eh cil, lu sukanya kabur sih? Emak lo cari nih," ucap sepupu laki-laki Gean yang berumur sepataran dengan mereka. Dia adalah Aldo.
Gean menyerahkan Lian ke dalam gendongan Aldo, "urus nih bocil, jangan sampai berkeliaran!" ucap Gean.
"Lu kira gue baby sitter? No. Gue ogah ngurus bocah," elak Aldo.
"Terserah, yang pasti bawa dia balik ke mama." Suruh Gean lalu duduk kembali di kursi pelaminan.
Aldo memutar bola matanya malas, "iya, gue tahu lo pasti mau bucin kan? Santai aja, nanti malam puas-puas. Ya kan Ra?" Tanya Aldo yang kemudian beralih bertanya kepada Ladira.
Degup jantung Ladira memompa sedikit cepat atas pertanyaan itu, dirinya hanya tersenyum canggung dan menggeleng seolah berkata tidak.
"Udah-udah sana!" usir Gean secara terang-terangan.
"Dasar, enak banget lo main usir," lontar Aldo, tapi akhirnya tetap pergi dari sana bersama Lian di dalam gendongannya.
...***...
__ADS_1