Liveline

Liveline
Naira Tahu Semuanya


__ADS_3

Mobil Gean sampai di rumahnya dan Ladira, dengan cepat laki-laki itu mencari Ladira di dalam rumah. Tapi dia sama-sekali tidak menemukan keberadaan sang istri di sana.


Gean mengacak rambutnya frustasi, dia sudah mencari di setiap sudut rumah, sepertinya Ladira tidak pulang. Puluhan kali Gean menghubungi Ladira, tapi nomornya sedang tidak aktif.


"Lo di mana Ra," gumam Gean yang sudah terduduk di kursi.


Tangan Gean kembali mengotak-atik ponselnya, lalu menghubungi beberapa orang teman Ladira. Karena jam sudah sore, dan pasti seluruh siswa-siswi sudah pulang ke rumahnya masing-masing.


"Halo Bil! Ladira ada di rumah lo gak?" Tanya Gean saat telfonnya terhubung dengan Bila.


"Maaf ya, ini siapa? Kok tiba-tiba nanya teman saya?" Tanya Bila yang memang tidak tahu kalau itu adalah Gean.


"Gue Gean, sekarang jawab! Ladira ada sama lo atau enggak?" Tegas Gean yang malah tersulut ke dalam emosinya.


"Loh, kok ngegas? Santai kali. Ladira gak ada sama gue, dia bukannya pulang kan tadi, dan lo pasti nyusul. Masa nanya sama gue yang baru aja nyampe rumah," jawab Bila dari seberang sana.


Tut...


Gean langsung memutuskan sambungan telepon mereka, meninggalkan Bila yang bergumam kesal kepada Gean.


Laki-laki itu menyambar kunci motornya, lalu segera pergi dan menuju rumah yang Bila katakan. Ya, dia menebak jika Ladira pasti pulang ke rumahnya. Tapi setelah sampai di sana, Gean tidak menemukan tanda-tanda kehidupan di rumah itu.


Lenggang, tidak ada orang satupun di dalamnya. Setelah satpam di sana mengabarkan, kalau ayah Ladira pergi ke luar negeri untuk menjalankan bisnisnya.


Tidak ingin menyerah sampai di situ, Gean menelfon beberapa orang dan menanyakan apakah Ladira ada bersama mereka. Tidak lupa, Gean meminta bodyguard ayahnya untuk mencari Ladira, dan tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya.


Setelah beberapa lama Gean masih duduk di teras rumah Ladira, cowok itu mengangkat kepalanya. "Apa Ladira sama Danael!"


Dengan cepat, Gean berlari menuju rumah Danael yang berselisih beberapa rumah jaraknya.


"El, lo di dalem," Gean menggedor-gedor pintu sambil sesekali menekan bel rumah.


Sama seperti rumah Ladira, rumah Danael pun sama tidak ada orangnya.


Gean mengacak rambutnya, bingung. Ingin ke mana mencari gadis itu, sedangkan hari semakin sore, dan tidak ada kabar sedikitpun dari Ladira.


...***...


Di atas gundukan tanah, seorang gadis menatap nanar batu nisan yang bertuliskan nama seseorang di sana. Mata gadis itu sudah memerah, air matanya seolah kering sehingga tidak ada lagi air yang keluar dari matanya seperti 2 jam yang lalu.


"Mah, Dira kangen," ucapnya terus menerus.


Jam sudah menunjukkan pukul 16.56.

__ADS_1


Hari yang semakin gelap, membuat jalan raya di seberang makam yang awalnya ramai, semakin lama semakin sepi.


Lampu-lampu jalan sudah mulai menyala satu-persatu, tapi tidak ada sedikitpun niat untuk Ladira, bangun dan pergi dari sana. Entah mengapa, jika mengingat wajah Gean. Gadis itu akan kembali menangis, dia sedikit trauma dengan perbuatan yang Gean lakukan di sekolah tadi.


"Loh. Ladira!" suara seorang gadis yang sempat mengunjungi makam dan ingin pulang, terhenti saat melihat seorang perempuan yang masih mengenakan seragam SMA di sebuah makam.


Kepala Ladira mendongak menatap gadis yang kemudian berjongkok, untuk menyetarakan tinggi mereka.


"Naira," gumam Ladira pelan.


Gadis yang disebut Ladira adalah Naira. Dia hari ini sengaja pergi berziarah ke makam neneknya sebelum berangkat ke luar negeri, besok.


"Lo kenapa gak pulang? Inikan udah malam Ra, mana lo nangis lagi. Lo kenapa?" Tanya Naira khawatir.


"Lo enggak marah sama gue?" Tanya Ladira.


"Gue gak mau karena seorang cowok, sampai merusak persahabatan kita." Jawab Naira tersenyum lembut. "Awalnya gue marah sih, tapi gue paham, kalau lo enggak seharusnya dilibatkan dalam amarah gue," kalimat itu cukup membuat hati Ladira menghangat.


Akhirnya Naira kembali menganggapnya sebagai seorang sahabat kembali, "makasih," Ladira memeluk Naira erat.


Naira membalas pelukan itu, "ayok gue antar pulang! Gue bawa motor," Naira mengurai pelukan mereka.


"Enggak!" Ladira menggeleng, sampai pertahanannya runtuh kembali. Air mata yang tadi tertahan, kembali mengalir.


"Gue gak mau ketemu Gean," Ladira terus menggeleng, dengan suara seraknya.


Dahi Naira mengerut, "kok Gean, lo kan pulang ke rumah sendiri. Emangnya Gean ada di rumah lo gitu, sampai lo takut pulang. Gak mungkin lah!" terka Naira mengambil kesimpulan.


"G-gue satu rumah sama dia," ucap Ladira.


"Hah! maksudnya apaan sih satu rumah? Bisa lebih jelas gak Ra, apa maksudnya?" Naira semakin terjerumus ke dalam pertanyaan yang tidak mampu dia tahan. Sehingga nada suaranya naik satu oktaf.


"Kita u-udah nikah," jawab Ladira, yang tidak mampu menahan diri untuk tidak mengatakan kebenaran itu.


Cengkraman di bahu Ladira melonggar, Naira menatap Ladira tidak percaya. "Kalian udah jadi suami-istri?" Tanya Naira pelan, dan hanya dibalas anggukan Ladira yang masih terisak.


"Malam ini, nginap di ruah gue."


...***...


Naira menyusul Ladira yang duduk sendiri di balkon kamarnya, setelah Ladira mengangguk setuju, untuk bermalam di rumah Naira malam ini.


Tangan Naira membawa dua cangkir coklat hangat, dan menaruhnya di atas meja, "Ra, minum dulu," tawar Naira.

__ADS_1


Ladira mengangguk, "makasih," ucapnya lalu meminum sedikit coklat hangat yang Naira sajikan.


"Sekarang, gue mau lo cerita." Naira merubah posisi duduknya menghadap Naira yang ada di kursi sebelahnya.


"Tapi janji kalau lo gak akan cerita ke siapapun juga!" Naira mengangguk mantap setelah Ladira memintanya untuk berjanji.


Satu tarikan nafas dan Ladira menyamankan posisi duduknya, "gue udah nikah sama Gean 2 hari lalu. Itu semua bukan karena kemauan gue, tapi dipaksa sama papa."


"Gue kira lo nikah gara-gara lo sama dia hmm, gitu," tebak Naira menggaruk kepalanya, sambil menyengir.


Ladira yang paham memukul pelan tangan Naira, "yakali gue ngelakuin gituan, aneh-aneh aja pemikiran lo," tukas Ladira.


"Iya maaf, gak usah dibahas itu lagi. Sekarang gue paham kalau lo nikah gara-gara dijodohin paksa, tapi pertanyaan gue, kenapa lo nangis dan gak mau pulang?" Tanya Naira.


"Gean udah hampir nyentuh gue seutuhnya, di sekolah lagi, apalagi dia kasar," jeda Ladira yang sebenarnya tidak ingin mengingat kejadian yang tidak dia inginkan itu. "Gue takut. Apalagi gue gak ada rasa sama dia, gimana kalau sampai gue hamil dan harus tinggal sama Gean lebih lama, gue gak bisa Nai!" Jelas Ladira dengan sorot mata yang terlihat khawatir, jika hal itu sampai terjadi.


Mulut Naira terbuka sedikit, "ternyata Gean bisa gila juga ya, gue kira dia orangnya kalem dan gak akan mudah terpancing gitu. Tapi kenapa sampai Gean maksa lo?"


"Gue gak sengaja lihat Gean yang dekat banget sama Laras di UKS. Ya gue panas-panasin aja Gean, tapi gak taunya dia marah dan narik gue ke ruang ganti basket."


"Lo cemburu kan?" Tanya Naira.


"Enggak ya. Lo jangan asal kira, gue gak akan suka sama dia," tolak Ladira terang-terangan.


Naira menggeleng, "serah lo aja deh. Tapi gue yakin, kalau lo pasti akan kemakan omongan sendiri," ucapnya. Mata Naira menangkap bekas kemerahan di sebelah telinga Ladira, "huh, Ra. Bekas gituan sakit gak sih?" Tanya Naira menyentuh bekas kemerahan itu.


"Hah, ada bekasnya?" Tanya Ladira. Naira mengangguk.


"Gimana Ra, rasanya?"


Ladira melotot tajam, "lo apaan sih. Jangan bahas itu dong," tukas Ladira yang menjadi kesal, karena Naira yang malah membahas hal yang tidak ingin Ladira bahas.


"Iya, gue gak bahas yang itu. Tapi, gimana besok. Gue kan mau keluar negri, dan lo bakal pulang kan. Menurut gue, kasihan juga sama Gean yang mungkin lagi cari-cari lo," imbuh Naira mencoba membujuk gadis di sebelahnya.


"Tapi gue masih takut," lirih Ladira.


"Why, Ladira yang gue kenal enggak mungkin jadi penakut gini. Mana diri lo yang dulu?"


"Biarlah hari esok berjalan sesuai rencana yang di Atas!" ucap Ladira mendramatis, lalu melangkah masuk ke dalam kamar.


"What!!"


...***...

__ADS_1


...See you 🌈🤗...


__ADS_2