
Dua orang remaja yang berada di dalam satu mobil yang sama, terselip satu makhluk kecil yang terus-menerus mengusik kakaknya.
"Lian mau main, mau nya main kak!" Rengek Lian, sambil meronta-ronta di atas pangkuan Ladira. Susah payah, Ladira menahan agar Lian tidak jatuh dari pangkuannya, apa lagi sampai terbentur.
"Ge, bisa gak sih stop dulu sebentar. Lo gak kasihan sama Lian, dia nangis terus dari tadi," sentak Ladira begitu kesal, karena sikap dingin laki-laki itu dibawa-bawa, sampai mengacuhkan adiknya sendiri yang menangis sedari tadi.
Beberapa saat setelah Gean yang jengah mendengar omelan Ladira dan tangisan Lian, akhirnya Gean segera menepikan mobilnya di pinggir jalan.
"Mama gak izinin Lian buat main, apa gak ingat. Kalau tadi mama bilang, setelah temani Lian beli mainan langsung pulang? Lagian mama pasti gak akan kasih izin kalau mau jalan-jalan," jelas Gean.
Lian kembali menangis kencang, "t-tapi mau main," tangis Lian semakin pecah dan memeluk Ladira erat.
"Dasar bocil modus," gumam Gean saat melihat adiknya yang mengeratkan pelukan dengan Ladira.
"Biar gue yang minta izin, minjam ponsel lo sebentar," pinta Ladira mengulurkan tangannya.
"Ponsel lo kan ada, ngapain pakai punya orang. Pasti gak ada pulsa!" Tebak Gean mengira-ngira.
"Enak aja, hp gue lobet asal lo tahu," sentak Ladira tidak terima.
Gean hanya mengangguk-angguk, lalu menyerahkan ponselnya yang sudah disiapkan untuk menelfon mamanya.
Setelah beberapa saat, Ladira berbicara dengan Winda melalui telepon. Akhirnya mereka diizinkan untuk pergi menuju Timezone untuk mengabulkan keinginan Lian.
"Udah ya, Lian gak boleh nangis lagi. Nanti kita main. Oke!" Ucap Ladira tersenyum sumringah, kepada bocah tampan di depannya. Ladira akui, kalau Lian begitu tampan. Tidak kalah dengan kakaknya.
Lian mengangguk senang, "nanti kita mandi bola," sorak Lian. Di balas anggukkan Ladira.
Gean hanya dapat tersenyum tipis melihat interaksi antara Ladira dan adiknya, yang begitu akrab.
Mobil mereka melasat pergi menuju Timezone yang masih buka di jam sore seperti ini. Setelah beberapa menit di perjalanan, akhirnya mobil Gean sampai di tempat tujuan.
Setelah Gean membeli beberapa camilan dan kartu untuk mereka bermain, cowok itu menyerahkan kartu tersebut kepada Ladira.
"Kak Ra, Lian mau main," teriak Lian, sambil menarik tangan Ladira dan Gean menuju salah satu permainan sebuah mobil-mobilan.
Lian segera menarik Gean untuk duduk di bagian kursi kemudi, dan Lian langsung duduk di pangkuan laki-laki itu. "Kak Ean, bisa bawa mobil. Jadi ajarin Lian nyetir ya," mohon Lian kepada kakaknya.
"Iya," ucap Gean mengiyakan keinginan adiknya. Ladira hanya tertawa pelan melihat mereka, lalu menggesek kartu sehingga permainan mereka dimulai.
"Yey, ayo kak. Kita berangkat!" Sorak Lian, memegang kemudi dituntun Gean.
Gean yang terbawa suasana, tidak sadar kalau dia sampai tertawa terbahak-bahak saat melakukan kekonyolan dengan adiknya. Ladira mengulum senyum, untuk pertama kalinya dia melihat seorang Gean bisa tertawa selebar ini.
"YEY, BERHASIL!" Sorak Gean dan Lian bersamaan.
Ladira bertepuk tangan, saat melihat wajah bahagia saudara di depannya. "Wah, Lian keren ya. Udah bisa nyetir mobil," puji Ladira, lalu bertos ria dengan Lian.
__ADS_1
"AYO MANDI BOLA!" Sorak Lian langsung berlari menghampiri tempat yang dia nanti-nantikan.
"LIAN JANGAN LARI-LARI!" Teriak Gean saat adiknya semakin jauh.
Gean segera berlari menghampiri adiknya, tidak lupa tangannya langsung menggenggam lengan Ladira untuk berlari bersamanya.
"Etss, jangan asal lompat," cegah Gean, menahan tubuh Lian yang berada di pinggir kolam bola. Jika saja tidak ditahan, maka Lian akan terjun bebas di dalam surga bila di depannya.
"Mau main," rengek Lian, meronta-ronta.
"Kita bayar dulu, jangan asal nyebur bocah!" Geram Gean menyentil pelan dahi Lian.
Lian memanyunkan bibirnya kesal, dan berlari memeluk kaki Ladira. "Lihat tuh, kak Ean jahat. Nanti kita lempar dia," adu Lian kepada Ladira yang mati-matian menahan diri untuk tidak tertawa melihat kelakuan Lian.
"Dasar bocah,.... modus," ucap Gean memelankan suara di kalimat terakhir.
Lian hanya menjulurkan lidahnya kepada Gean.
Setelah selesai mengurus pembayaran, untuk mereka bertiga. Ya, bertiga. Karena Lian menangis lagi saat Ladira dan Gean tidak mau ikut. Dengan terpaksa, kedua remaja yang seharusnya tidak berada di kolam tersebut menjadi bocah sementara oleh Lian.
"Ck, serasa masa kecil kurang bahagia, gue," gerutu Gean, saat dirinya mulai masuk ke dalam lautan bola bersama Ladira.
Pasalnya di dalam itu, hanya ada anak-anak saja.
"Ayo main kak," girang Lian mulai melemparkan bola-bola ke arah Ladira dan Gean yang sedang menahan malu.
"Kakak, cari aku!" Heboh Lian mulai bersembunyi di tumpukan bola.
Ladira dan Gean swgera mencari anak itu, sampai 1 menit berlalu, mereka mulai panik saat Lian tidak ditemukan.
"Lian, keluar. Kamu di mana?" Ladira menyibak tumpukkan bila dengan perasaan cemas.
Gean yang juga tak kalah cemas ikut menyibak bola ke sana-kemari.
Karena kecemasan menguasai mereka berdua, Ladira dan Gean yang sama-sama mundur, langsung jatuh. Ladira yang tidak sengaja menginjak sebuah bola di bawah, kehilangan keseimbangannya sehingga saat dia berbalik. Langsung menubruk Gean yang terbaring di tumpukan bola.
Tubuh mereka langsung tenggelam di antara bola warna-warni di sekitarnya. Tidak ada yang melihat, kalau Ladira dan Gean berada di dalam tumpukan itu.
Degup jantung langsung berdetak cepat, keduanya sama-sama terdiam saat wajah mereka terlalu dekat sekarang.
Mata Gean menelusuri setiap inci, lekuk wajah cantik di depannya. Sampai matanya menangkap bibir pink indah Ladira yang tidak teroles apapun. Alami.
Mata Gean menggelap, tanpa sadar menyentuh tengkuk Ladira dan menariknya perlahan.
Ladira yang merasakan hembusan nafas mereka yang bertabrakan, tidak menyadari jika matanya yang terpejam. Entah siap atau tidak, saat Gean akan melakukan sesuatu kepadanya.
Hanya tersisa beberapa centy mereka akan bertemu, sampai akhir Gean tanpa sadar langsung berteriak saat asetnya di injak begitu saja oleh seseorang.
__ADS_1
"B***s**," umpat Gean tanpa sadar langsung bangun saat Ladira bangkit berdiri. Gean menggigit bibir bawahnya sekuat tenaga sebelum dirinya akan kembali berteriak.
Mata Gean menangkap Lian yang tertawa melihat dirinya, "dasar bocil, lo gak tau apa. Dunia gue bisa hancur," geram Gean, menahan kekesalannya.
Ladira hanya tersenyum kikuk kepada pengunjung yang memperhatikan mereka, "kita pergi dulu yuk, gak enak dilihatin orang banyak," ucap Ladira kepada Gean.
"Ngilu. Lihat aja lo, gue lempar nanti ke sungai," ancam Gean menatap tajam adiknya yang masih tertawa.
Dengan langkah pelan, Gean mulai melangkah pergi bersama Ladira dan Lian.
...***...
Langit senja yang begitu indah, menghangatkan suasana sore itu.
"Tadi ngapain sih, lama banget ke WC?" Tanya Ladira, saat tadi, Lian yang menangis tidak sabaran untuk segera menaiki bianglala. Tapi Gean yang begitu lama di dalam toilet, membuat mereka menunggu.
"Ritual," gumam Gean.
Ladira mengerutkan keningnya bingung, "ritual apaan sih, gak jelas kalau jawab," ucap Ladira heran.
"Gak perlu tahu," Gean menyandarkan kepalanya dan memejamkan mata.
Sampai beberapa saat diam, Lian bersorak, "wah, matahari nya bagus."
Gean langsung membuka matanya dan menoleh bersamaan dengan Ladira. Mereka terpana, melihat pemandangan yang begitu indah dari atas sana. Hingga Lian yang kelelahan, langsung tertidur lelap di pangkuan Ladira.
"Ra! Lo siap buat besok?" Tanya Gean tiba-tiba.
Ladira menunduk, terlalu banyak yang dia pikirkan untuk kedepannya. "Siap atau enggak, gue harus tetap siap. Gue gak mau mama lo sampai kenapa-kenapa," jawabnya.
"Apa karena alasan itu, lo terima pernikahan? Gak ada yang lain?" Tanya Gean lagi.
"Cuma itu, karena gue masih punya cita-cita dan cinta," jawab Ladira.
"Danael?"
Ladira diam sesaat, lalu mengangguk.
"Apa yang lo mau, dalam hubungan kita. Kalau tanpa cinta?" Tanya Gean kembali.
"Gue mau, hubungan kita sampai 1 tahun aja. Gue gak akan bisa bertahan, kalau punya hubungan tanpa ada rasa."
"Gimana kalau rasa itu hadir? Apa lo akan tetap memutuskan hubungan?"
...***...
...See you ✨...
__ADS_1
...Mana nih orangnya?...