Liveline

Liveline
Kejutan Akhir Perkemahan


__ADS_3

"Gue akan belajar buat bisa buka perasaan untuk lo Ras."


Hati Ladira terasa seperti disayat saat itu juga, seharusnya Ladira senang saat Gean berusaha untuk belajar mencintai Laras, tapi kenapa ada setetes rasa tidak setuju dengan keputusan yang Gean ambil saat ini.


Awalnya dia kira kalau Gean ingin menerima jabatan tangan dari Ladira seperti Danael yang sudah menunggu sambutan tangan darinya, tapi saat tangan Gean terulur kepada Laras yang duduk di depannya, pandangan gadis itu langsung tertunduk sendu.


"Ra, lo mau jadi pacar gue?" Tanya Danael untuk kedua kalinya. Laki-laki yang ada di depannya sekarang masih setia menunggu jawaban, walau tahu dari ekspresi Ladira yang sedang tidak baik-baik saja.


Tepat pertanyaan kedua keluar dari mulut Danael, gadis itu melihat betapa bahagianya Laras yang memeluk Gean dengan erat. Bahkan Ladira sebagai isterinya tidak pernah memeluk sang suami apalagi se'erat itu.


"Wah, walaupun gak jadian, tapi kayaknya suatu saat jadi couple super romantis nih!" heboh bu Yeni bertepuk tangan. "Sekarang Ladira belum jawab perasaan Danael, gimana nih, terima gak ya?"


Ladira menunduk sambil menghela nafas panjang, lalu menegakkan kepalanya tepat menatap Danael yang sedikit lebih tinggi darinya. "G-gue terima," jawab Ladira dengan suara lirih, terdapat paksaan yang terdengar dari sana, tapi karena saking bahagianya, Danael tidak perduli apapun dan segera menarik Ladira ke dalam pelukannya.


"Love you, Ra."


Dari jarak sedekat itu, Ladira bisa mendengar degup jantung Danael yang berpacu cepat. Laki-laki yang selama ini dia impikan bisa menjadi kekasihnya, akhirnya bisa tercapai sekarang. Tapi entah kenapa Ladira tidak terlalu bahagia dengan keputusannya untuk menerima Danael. Mengingat dia sudah memiliki suami, apakah pantas jika Ladira malah memiliki pacar, tapi apakah juga pantas jika Gean juga terang-terangan ingin belajar mencintai wanita lain.


Mereka belum cukup dewasa untuk mengerti arti sesungguhnya sebuah ikatan suci yang seharusnya tidak untuk main-main. Ego lebih tinggi dari pada harus memutuskan sesuatu dengan berfikir terlebih dahulu sebelum bertindak.


...***...


Pukul 08.00


Seluruh siswa-siswi sudah selesai dengan kegiatan pagi mereka berawal dari mandi, makan dan mengemas seluruh barang untuk pulang hari ini.


Setelah beberapa menit pengumuman, salahsatunya yang membuat mereka semua senang karena mereka dibebaskan untuk duduk bersama siapa entah itu digabungkan antar kelas,maupun kelas lain.


Danael tersenyum lebar sambil merangkul erat Ladira. Mereka berjalan memasuki sebuah bus dan memilih tempat duduk paling belakang, atas permintaan Danael.


"Ra, gimana kalau kita bikin jadwal buat ngedate. Gue gak mau sia-siakan kesempatan selagi kita masih sama-sama," ucap Danael tiba-tiba. Ladira yang sedang memperhatikan lokasi perkemahan yang mulai kosong, mengalihkan pandangannya kepada Danael dengan ekspresi bertanya.

__ADS_1


"Kok lo ngomong seolah-olah waktu kita cuma sebentar?" Tanya Ladira refleks, memperhatikan wajah Danael yang belakangan ini terlihat seperti kurang sehat.


"Maksudnya, kalau misalkan kita lulus nanti mungkin gak punya waktu buat ketemu. Jadi gue mau dari sekarang supaya kita bisa habisin waktu sama-sama," jelas Danael. Ladira menghembuskan nafasnya lega, entah kenapa saat Danael mengatakan itu membuat Ladira sempat merasa sedikit rasa takut, muncul di dirinya.


Gadis itu mengangguk, "oke."


"Kita..."


"Hai!"


Danael menghentikan ucapannya saat suara seorang gadis menyapa mereka, itu Laras bersama Gean yang mengikutinya untuk duduk di kursi, tepat di depan Ladira dan Danael.


Mata Laras melirik sekilas ke arah Ladira yang menatap tidak suka ke arahnya. Kesempatan itu digunakan Laras sebaik mungkin untuk membuat Ladira cemburu. Dengan begitu nyaman, Laras menyandarkan kepalanya di bahu Gean sambil memeluk erat lengan Gean yang sama sekali tidak membalas pelukannya.


"Ngantuk Ra," ucap Danael dengan cengiran-nya, dengan cepat menaruh kepalanya di bahu Ladira.


"Masih pagi kok ngantuk?" Tanya Ladira heran, sesekali mengelus rambut Danael yang sedikit panjang di bagian depan.


Ladira terkekeh, Rizal mirip seperti Gean yang suka memeluk seseorang seperti guling. Tunggu, kenapa Ladira mengingat Gean?


Mata gadis itu melirik sekilas ke arah Gean yang ternyata sejak tadi tengah memperhatikan interaksinya dengan Danael. Dari sorot itu, mata Gean sudah menunjukkan ekspresi tidak suka saat Danael dengan begitu nyaman memeluk Ladira dari samping.


...***...


Hari sudah sore, gadis itu sudah sangat ingin pulang, tapi Danael tidaklah mudah untuk diajak kompromi.


Sejak 1 jam lalu di saat mereka sudah sampai di sekolah dan bisa kembali ke rumah masing-masing, tanpa sepatah katapun dari Ladira, tiba-tiba saja Danael sudah menariknya dan mengatakan ingin jalan-jalan.


Keduanya sedang duduk bersama di atas rumah pohon sambil memandang kembali indahnya matahari yang akan terbenam, untuk kedua kalinya di rumah pohon itu.


"Um, El. Gue mau izin pulang dulu ya?"

__ADS_1


Danael yang tengah berbaring di paha Ladira sebagai bantalan pun menoleh, menatap Ladira dari bawah. "Kenapa? Lo ada kesibukan?" Tanya Danael.


"Gue cuma mau pulang cepat aja, soalnya pengen beres-beres habis itu istirahat," jawab Ladira tersenyum kikuk, saat Danael malah terus-terusan menatapnya.


"Gue anter."


"Eh. Gak perlu, soalnya mau mampir sebentar ke rumah Bila," tukas Ladira.


"Yaudah, sekalian kan gue bisa antar plus nemenin." Danael bangun dan duduk di samping Ladira yang bingung harus beralasan apa. Bukannya masalah jika Danael mengantar sampai ke rumah neneknya dulu, tapi yang menjadi masalah adalah Ladira tidak punya ongkos untuk kembali ke rumahnya dan Gean, karena jarak rumah neneknya dengan rumah Gean lumayan jauh. Sedangkan jika dibandingkan dengan jarak lokasinya sekarang, maka uang yang ada di tangan Ladira sudah pasti mencukupi untuk mengantarnya kembali ke rumah.


Gadis itu menggaruk kepalanya bingung, "plis yah, sekali aja. Gue bisa kok pulang sendiri, soalnya takut ada papah yang tiba-tiba sudah pulang dan nyusul ke rumah nenek, kan bisa bahaya," alibi Ladira tiba-tiba, saat alasan itu malah keluar sendiri di otaknya.


Setelah berfikir sejenak, akhirnya Danael menyetujui untuk Ladira bisa pulang sendiri.


...***...


Beberapa kali Ladira menekan bel rumah, tapi sama sekali Ladira tidak menemukan tanda-tanda jika ada orang yang akan membukakan dia pintu. "Gean, lo di dalem kan. Bukain pintu!" Panggil Ladira dengan suara yang meninggi.


"Ge..."


"Permisi kak. Kak Gean tadi keluar, dia nitip kunci," ucap seorang gadis yang tinggal tidak jauh dari rumah Ladira.


Ladira menerima kunci itu, "emang Gean ada bilang ya mau kemana?" Tanya Ladira.


"Gak tahu, tadi kak Gean cuma nitip kunci dan bilang kasih ke kakak kalau udah pulang," jelas gadis itu yang pergi, meninggalkan Ladira sendiri yang memulai aktifitas pekerjaan rumah.


...***...


...See you...😉...


Desember sibuk 🥱

__ADS_1


Merry Christmas...🎄


__ADS_2