
Mata Gean menyipit, dengan cepat dia sadar dari pingsan saat mendengar keributan antara dua gadis yang ada di sebelahnya. Tapi tidak secepat itu untuk Gean bangun, dia batal melerai keduanya karena di dalam perdebatan tersebut dia bisa mendengar Ladira yang menentang Laras agar tidak dekat dengan dirinya.
"Lo yang pergi, gue istrinya dan lo cuma terpaksa Gean terima!" tukas Ladira dengan nada bicara yang menusuk, walau gadis itu tengah menahan agar suaranya tidak terdengar nyaring sampai keluar.
"Palingan lo sebentar lagi mau diusir dan cerai sama Gean," tentang Laras. Gadis yang satu ini juga tidak aku kalah, dia akan rela melakukan apapun demi satu hal yang dia inginkan harus terwujud. Walaupun cara yang dia lakukan harus perlahan dan tidak menyorot dirinya sebagai gadis yang dinilai tidak baik, karena hal itu akan sangat berpengaruh terhadap harga diri yang dia jaga dengan baik selama ini.
Ladira mengeratkan rahangnya, dia mengendus sebal saat melihat wajah sok yang Laras tunjukkan. "Gimana kalau lo yang akan diusir dari kehidupan Gean dan batal buat nikah?" Tanya Ladira balik, dia tiba-tiba tersulut emosi yang membuatnya tidak sadar kalau dia malah menunjukkan sikap yang membuat Gean yang masih menutup mata, menahan bibirnya agar tidak tersenyum saat itu juga.
"Gak-"
"Kenapa kalian ribut? Kalian tidak melihat kalau Gean masih pingsan, sekarang keluar!" tegas bu Tria, yang tiba-tiba sudah ada di depan tenda.
"Maaf bu, tadi Ladira yang mulai. Dia gak bolehin saya jaga Gean, padahal pak Indra yang sudah menyuruh untuk menjaga sampai Gean sadar." Ladira mengepalkan tangannya kuat, ingin sekali Ladira menjambak rambut Laras, karena sudah berani menuduhnya yang tidak-tidak. Ladira ingin berbicara, tapi bu Tria mengatakan dengan tegas agar dirinya segera keluar dari tenda perawatan.
"Keluar Ladira!" tekan bu Tria, karena gadis itu masih berdiri di tempat dengan tatapan tajam menatap Laras yang tersenyum tipis saat melihat Ladira diusir dari sana.
"Tunggu bu."
Sorot mata ketiga orang yang ada di sana segera mengarah kepada Gean yang sudah membuka lebar keduanya matanya, laki-laki itu bangun dan memilih untuk duduk. "Ibu percaya atau tidak, yang pasti Ladira gak seperti yang Laras bilang," ucap Gean.
Bu Tria mengerutkan keningnya, bingung, "maksudnya?"
"Saya tidak bisa menjelaskan lebih detail bu, yang pasti saya lebih membutuhkan kehadiran Ladira di sini. Saya mohon agar ibu bisa membawa Laras keluar." Laras mendengus kesal, ia ingin protes, tapi saat melihat tatapan dingin Gean kepadanya, Laras menurut saat bu Tria menyuruhnya untuk keluar dari sana.
Sekarang, hanya tersisa Gean dan Ladira yang ada di dalam. Keheningan melingkupi keduanya, suara ribut terdengar samar dari luar, karena tenda perawatan terletak sedikit jauh dari lokasi perkemahan. Tujuannya agar pasien bisa beristirahat dengan tenang tanpa keributan.
__ADS_1
"Gue salah lagi," gumam Ladira memecah keheningan. Gadis itu duduk di kursi bersebelahan dengan tempat Gean duduk sejak tadi.
Laki-laki itu tersenyum tipis, "gak salah kok Ra, lo gak salah. Gue tahu kalau udah terlanjur cinta dengan seseorang pasti susah buat ditinggalkan, apalagi dilupakan. Itu tandanya laki-laki yang lo sayang itu beruntung, lo rela lupain apapun demi dia," ucap Gean dengan rasa sesak yang mengerubungi dirinya, dia hampir tidak bisa mengatakan kalimat tersebut.
Mata Ladira memanas, ingin menumpahkan genangan air yang seperti ingin mendidih di kelopak matanya. "Jangan bilang gitu, gue makin ngerasa bersalah."
"Gak usah ngerasa bersalah Ra, lo punya hak buat menentukan apapun yang lo mau. Selagi rasa itu belum tubuh ke orang lain, sebaiknya lo putuskan secepatnya. Jangan sampai menyesal di akhir." Entah, setiap patah kata yang laki-laki itu ucapkan, membuat Ladira semakin bingung dengan dirinya sendiri.
Hingga air yang sudah lama menggenang itu perlahan keluar membasahi pipi Ladira. "Gue bingung sama diri sendiri, kalau gue milih El dan kita pisah nanti papa..."
"Gue yang akan ngomong sama papa," potong Gean, yang membuat gadis itu mengangkat dagunya. Pikirannya terus dikerubungi oleh rasa bersalah, dia tahu kalau Gean selama ini pasti sangat menyayangi dirinya, tapi dia tidak tahu seberapa besar rasa yang sudah lama Gean simpan untuknya. Banyak hal yang menjadi halangan, jika ayahnya mengetahui kalau Ladira ingin memutuskan hubungan dengan Gean dan beralih bersama Danael, entah bagaimana respon ayahnya nanti.
Ladira sempat berfikir, apakah Gean sudah sangat kecewa, atau laki-laki itu merelakan perasaannya?
"Setelah papa lo pulang, gue akan ngomong. Seterusnya, itu keputusan lo. Supaya gue bisa belajar buat nerima Laras."
Deg
"A-arsa," gumam Ladira.
Arsa berjalan menghampiri keduanya, membuat Ladira dengan segera menghapus jejak air mata yang membasahi pipinya.
"Ra, gue tahu lo suka sama El, tapi apa yang lo sembunyikan tentang lo dan Gean?" Tanya Arsa.
"Gak ada apa-apa Sa," tukas Gean.
__ADS_1
"Gak usah ngelak, gue dengar omongan kalian sejak awal, waktu bu Tria dan Laras keluar. Apa maksudnya kalau Ladira lebih milih El dan apa hubungan kalian sampai melibatkan ayahnya Ladira?!" Tegas Arsa, membuat Ladira bungkam dan Gean meruntuki dirinya yang sudah terlanjur membahas hubungannya dengan Ladira di tempat yang rawan didengar oleh orang.
Gean bungkam sesaat, sehingga mata Arsa sempat menangkap sebuah cincin yang sama melingkar di jari Gean dan cincin yang Ladira jadikan buah kalungnya.
"Kalian udah menjalani hubungan sakral?"
Gean sempat kaget atas kepekaan Arsa, tapi dia sudah tidak bisa menutupi hal itu lagi karena suatu saat hubungannya dengan Ladira perlahan diketahui. Akhirnya Gean mengangguk, membenarkan apa yang Arsa katakan.
Arsa beralih menatap Ladira tidak percaya, "berarti setega itu lo buat Naira kecewa? Naira putus sama Danael gara-gara lo dan El yang dia kira sama-sama suka. Tapi lo malah sama Gean dan malah sudah nikah, ternyata lo setega itu. Sekarang kalau bosan, ceritanya lo mau cerai dan mau dekat sama El. Lo gak tahu apa itu hubungan sakral?!" kalimat menusuk yang Arsa lontarkan kepada Ladira, membuat gadis itu menangis tanpa suara. Ladira begitu menyalahkan dirinya yang egois.
"Cukup Sa. Lo gak tahu apa-apa, jadi jangan langsung nyalahin Ladira!" bantah Gean dengan suara yang meninggi.
Arsa terkekeh, "gue dengar semua yang kalian omongin. Bukti kalau kalian udah nikah dan semua kejadian sampai hubungan persahabatan gue dan Danael renggang. Naira berusaha ninggalin semua kenangan dan pindah keluar negri, itu semua gara-gara Ladira. Dia sumber semua kekacauan!" ucap Arsa.
Nafas Gean memburu, dia tidak rela Ladira direndahkan apalagi oleh sahabatnya sendiri. Gean berdiri di depan Arsa dan mencengkram kerah laki-laki itu kuat, "sekali lagi lo tuduh Ladira yang enggak-enggak, gue gak akan ampuni lo!"
Arsa terkekeh, "silahkan, gue gak takut. Istri lo itu murahan, mungkin kalian nikah muda gara-gara dia hamil duluan."
Bugh...
Ladira memekik kaget, satu tamparan keras itu mampu membuat Arsa tersungkur dengan lelehan darah yang sudah mengalir di hidungnya.
"Gean, jangan berlebihan!" Ladira berdiri di depan Gean, menahan laki-laki itu yang kembali ingin menyerang Arsa yang malah terkekeh, memancing emosi Gean.
"Berani lo hina Ladira sekali lagi, lo gak akan hidup tenang!" tegas Gean, sampai akhirnya seorang guru masuk ke dalam tenda melerai perkelahian dua orang remaja di sana.
__ADS_1
...***...
...See you...😉...