Liveline

Liveline
Seperti Bukan Kencan


__ADS_3

Rumah yang lenggang seperti tak berpenghuni, setelah Winda mengetahui kalau anak dan menantunya terkunci di dalam kamar, dia langsung menelfon orang yang bisa memperbaiki pintu itu kembali.


Pada pukul 09.00, Winda pun pulang ke rumah setelah membicarakan tentang hubungan mereka yang Winda inginkan untuk terus bertahan.


Jam yang menunjukkan pukul 12.45, matahari yang sedang terik-teriknya membuat suhu udara yang panas, semakin panas.


Gean mengeluh beberapa kali karena tubuhnya begitu gerah, apalagi dia baru merasakan keringat pagi tadi karena banyak bergerak untuk membantu tukang yang hanya bekerja sendirian untuk memperbaiki pintu kamarnya.


Karena bosan hanya berbaring dan duduk di dalam kamar, Gean memutuskan untuk keluar dari ruangan yang terasa pengap itu. Dia menuruni tangga dan melihat kalau Ladira yang berbaring santai di atas sofa, sambil menonton siaran TV yang menayangkan beberapa film.


"Ra," Gean membuka percakapan, setelah hening beberapa saat, karena saat Gean duduk, Ladira seperti tidak menghiraukannya.


"Hm," jawab Ladira mengubah posisinya menjadi duduk.


Gean menatap Ladira dengan tatapan yang tidak bisa Ladira artikan. "Gue mau jemput Laras," ucap Gean yang membuat Ladira menghentikan gerakan untuk menyuapkan kembali popcorn yang ada di tangannya.


Merasa kalau dirinya terlalu kaget saat Gean mengatakan itu, Ladira dengan cepat merubah ekspresinya menjadi santai kembali. Tangannya kembali memasukkan popcorn tersebut ke dalam mulut, "pergi aja!" jawab Ladira santai.


"Gue izin pulang kemalaman, soalnya diminta buat neman'in Laras jalan-jalan," ucap Gean lagi, yang membuat Ladira mati-matian malah menahan rasa kesal yang tiba-tiba muncul pada dirinya.


Dengan tidak nafsu untuk memakan popcorn yang tadi dia makan dengan lahap..."gak perlu laporan ke gue. Kalau mau jalan-jalan ataupun kencan sekalian, pergi aja!" tekan Ladira dengan nada kesal, lalu beranjak pergi menuju kamarnya.


Harapan Gean agar Ladira menahannya untuk tidak pergi, musnah seketika. Dirinya memang sudah menebak bahwa Ladira akan membiarkan dia pergi bersama Laras, karena mungkin Ladira masih belum bisa memastikan karena kejadian di sekolah waktu itu.


"Gue gak mau cepat pisah Ra. Walaupun ada Laras yang ganggu hubungan kita, tapi gue tetap senang waktu hubungan kita masih tetap bertahan," gumam Gean, saat mengingat konsekuensi dari ayahnya yang mengancam akan memaksa Gean untuk berai dengan Ladira dengan cepat, jika dia tidak mau menuruti permintaan Laras.


Mulai saat ini, Gean akan mempertahankan ikatannya dengan Ladira dan mencoba agar gadis itu bisa luluh kepadanya. Semoga saja takdir bisa berpihak kepada Gean, sehingga saat mereka akan naik ke kelas 12 nanti, Gean akan tetap bersama Ladira dan pernikahannya dengan Laras bisa dibatalkan.

__ADS_1


...***...


Hening di dalam mobil, tidak ada pembicaraan antara Gean dan Laras. Fokus Gean haya untuk mengantar Laras, pergi untuk menemani gadis itu jalan-jalan entah kemana dan yang paling dia nanti adalah pulang ke rumah dan bisa bertemu Ladira kembali.


Laras ingin berbicara agar suasana antara mereka bisa mencair, tapi Laras tidak bisa berkata-kata saat melihat Gean yang terlihat dingin di sebelahnya.


Beberapa menit di perjalanan, mobil Gean terparkir di halaman rumah Laras. Keduanya keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam rumah.


"Kamu tunggu di sini sebentar ya, aku mau siap-siap," ucap Laras yang Gean balas hanya dengan anggukan. Setelah itu dengan cepat, Laras menaiki tangga menuju kamarnya untuk bersiap-siap.


"Sok banget tuh cewek, pakai aku-kamu. Dia baik, tapi gara-gara buta gue jadi gak suka," ucap Gean mengatakan bahwa Laras seperti buta akan cinta kepadanya dalam artian lain.


Dia baru mengetahui bahwa Laras selama ini selalu dekat karena ingin menarik perhatiannya, tapi laki-laki itu sama sekali melirik Laras dalam artian menyukai gadis itu. Hati Gean yang sejak lama sudah terisi oleh seseorang yang berbanding terbalik dengan Laras yang terkenal baik, pintar dan disiplin. Gean malah lebih memilih Ladira yang terkenal nakal, suka bolos, tidak rajin belajar dan banyak hal yang menjadi khas utama kenakalan gadis itu.


Gean tidak memperdulikan semua kekurangan Ladira, karena dia dapat melihat sisi lain dari gadis itu. Terbukti kalau Ladira yang memiliki sifat perduli jika dilihat lebih jauh dan definisi sebagai seorang istri yang lumayan baik, walaupun mereka sering bertengkar dalam hal kecil maupun besar.


Waktu berjalan sudah 30 menit berlalu, Gean berdecak kesal karena jam sudah menunjukkan pukul 17.00, tapi Laras sama sekali tidak keluar dari kamarnya. Apalagi karena keinginan gadis itu ingin jalan-jalan, maka waktu Gean akan semakin lama bersama Laras dan pasti kalau dia akan pulang larut, malam ini.


Gean yang sedang memainkan ponsel langsung menghentikannya, dia beralih melihat penampilan Laras yang begitu cantik, dengan gaun berwarna putih dengan panjang selutut, dilengkapi dengan beberapa aksesoris yang membuat penampilan Laras terlihat begitu sempurna.


"Gimana, bagus atau enggak cocok ya?" Tanya Laras memastikan.


"Lo mau jalan-jalan ke mana, pakai gaun segala? Siap-siap juga lama, lo gak tahu kalau gue capek nunggu!" ucap Gean, yang bukannya menjawab pertanyaan Laras, tapi malah memarahi gadis itu, karena sudah menyita banyak waktunya.


Laras menunduk, dia merasa sedikit bersalah karena membuat Gean terlalu lama menunggu. Karena hari ini adalah harinya berkencan untuk pertama kali bersama Gean, oleh sebab itu Laras ingin berpenampilan secantik mungkin di hadapan laki-laki yang selama ini dia suka.


"Maaf," ucap Laras pelan dengan kepala yang masih menunduk karena rasa bersalahnya.

__ADS_1


Gean menghela nafas, dia malah menjadi kasar. Bisa bahaya kalau Laras sampai sakit hati dan melaporkan kepada ayahnya, dia tidak ingin sampai hubungannya dengan Ladira sampai putus karena laporan Laras.


"Ayo berangkat." Gean berjalan keluar rumah terlebih dahulu, setelah itu disusul oleh Laras yang masih saja menunduk takut.


Laki-laki itu berusaha bersikap baik kepada Laras, tapi dirinya selalu terpancing emosi saat mengingat kalau gadis itu dengan terang-terangan meminta untuk menikah dengannya, padahal Gean menyatakan kalau dirinya sudah memiliki Ladira yang berstatus sebagai isterinya.


Setelah keduanya masuk ke dalam mobil, mereka pun menuju tempat tujuan yang Laras beritahukan kepada Gean sepanjang perjalanan.


Sehingga memakan waktu selama 25 menit, akhirnya merekapun sampai di sebuah cafe yang tidak terlalu banyak pengunjung di dalamnya.


Laras menuju kasir dan mereka berdua di tuntun untuk menuju balkon yang ada pada cafe tersebut. Di atas sana sudah tersedia tempat yang sudah dihias yang dikhususkan untuk Gean dan Laras.


Kondisi canggung masih dirasakan oleh Laras, dia sudah beberapa kali meminta maaf karena bersiap sangat lama dan sudah Gean maafkan.


Sambil menunggu pesanan makanan datang, Laras akan mencoba untuk mencairkan suasana di antara mereka.


"Ehemm...Ge!" Laras tersenyum tipis saat Gean menatapnya.


Tatapan yang Gean berikan membuat Laras salah tingkah sesaat, dia menetralkan nafas lalu kembali duduk sempurna. "Lo suka warna apa?" Tanya Laras, yang sebenarnya bukan itulah pertanyaan yang ingin dia tanyakan. Tapi karena rasa canggung yang begitu besar, membuatnya sampai salah pertanyaan.


"Ngapain nanya begituan, enggak ada manfaat sama sekali," jawab Gean ketus lalu kembali menatap layar ponselnya.


Dapat Laras lihat, saat Gean menaruh ponselnya di atas meja dengan layar yang masih menyala. Terdapat foto Ladira yang menjadi wallpaper di ponsel Gean.


Laras sudah kehabisan kata-kata untuk bertanya, ini adalah kencan pertama yang begitu buruk, tidak ada kata romantis. Karena Gean yang sibuk memainkan ponsel, sedangkan Laras hanya diam dan bingung ingin mengatakan apa.


Seperti bukan kencan.

__ADS_1


...***...


...See You...😉...


__ADS_2