Liveline

Liveline
Takut


__ADS_3

Waktu terus berjalan, dua bulan belakangan ini hanya berjalan biasa-biasa saja seperi hari-hari sebelumnya.


Tapi tidak untuk kedua pasangan yang sudah melewati hari-harinya dengan berbagai rasa yang beragam. Ladira yang bertambah dekat dengan Danael dan Gean yang sehari-hari lebih sering menghabiskan waktu bersama Laras, tapi entah mengapa yang mereka lakukan selalu menimbulkan rasa tidak terima saat melihat orang yang terikat malah bersama orang lain.


Setiap berhadapan dengan Gean, entah mengapa desiran itu selalu menghantuinya. Sama dengan Gean yang tidak bisa berlama-lama untuk berhadapan dengan Ladira yang juga menghadirkan rasa yang lebih pada dirinya.


Pertandingan yang selalu diadakan tiap tahunnya, mendatangkan siswa-siswi dari SMA lain untuk mengadakan lomba. Berbagai ekskul menunjukkan kemampuan dan bakat mereka, untuk membanggakan nama sekolah.


Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 wib, tapi SMA Madra Jaya masih sangat ramai walaupun sudah hampir separuh banyaknya orang sudah pulang.


Pertandingan final basket yang selalu menjadi tontonan paling meriah nomor satu di aula yang sudah dipenuhi para suporter yang duduk di kursi penonton.


"Ayo Gean semangat!"


Ladira memutar kedua bola matanya malas, apakah dia harus memiliki nasib sial dengan duduk tepat di belakang Laras yang menyoraki Gean dengan heboh bersama temannya.


"Lo kenapa Ra?" Tanya Bila.


Danael yang sedari tadi masih asyik menonton, menoleh saat Bila berbicara kepada Ladira.


"Gak papa."


Tangan Danael menggenggam lembut jemari Ladira, "mau pulang?" Tanya Danael, merasa kalau Ladira terlihat lelah dari raut wajahnya.


"Nanti deh, kan kataya mau lihat final basket. Sekalian habis ini langsung pulang," jawab Ladira.


Danael tersenyum, "ya udah, tapi kalau memang mau pulang, langsung bilang," ucap Danael yang diangguki Ladira.


Permainan basket sudah lama berlangsung,  sekolah mereka unggul dengan poin yang sudah diraih. Sorakan heboh saat SMA Madra Jaya yang sebentar lagi akan mengakhiri permainan dengan tembakkan bola yang lagi-lagi berhasil Gean akhiri dengan kemenangan.


Melihat Gean bersorak gembira di tengah lapangan bersama teman-temannya, tanpa sadar Ladira ikut tersenyum dan bertepuk tangan.


Bila menarik lengan Ladira menuju tengah lapangan, menghampiri kerumunan para gadis yang berlomba-lomba untuk bisa memberikan minuman, berfoto, dan banyak kegilaan yang membuat para pemain basket kewalahan menghadapi kerumunan.


"Eh ngapain ke sini sih Bil?" Kesal Ladira, saat temannya itu malah dengan santainya menarik Ladira menghampiri tim Gean di tengah lapangan.

__ADS_1


"Mau foto bareng lah, selagi mereka pakai jersey basket. Kan keren-keren tuh," heboh Bila menahan Ladira yang ingin pergi.


Mulut Ladira terbuka, "what? Gue mau pulang sekarang!" tekan Ladira melepas cengkraman Bila yang sama sekali tidak membiarkannya pergi. Sial, sekarang Gean sudah melihat kehadirannya dan mereka sudah mulai mendekat.


Di sisi lain, Gean sempat melirik ke arah Ladira yang mendekat bersama Bila. Senyum laki-laki itu tiba-tiba bertambah merkah, membuat sorakan heboh kerumunan semakin membuat sekitar mereka berisik. Perlahan Gean sedikit menerobos kerumunan, dirinya mencoba mendekati Ladira, tapi lagi-lagi Laras dengan mudahnya langsung memeluk erat lengannya.


"Ge, gue mau pulang," rengek Laras mengeratkan pelukannya pada lengan Gean.


Laki-laki itu berfikir sesaat, sehingga pandangannya teralih kepada Ladira yang sudah berhadapan dengan Danael yang membawanya pergi dari sana.


"Hm, kita pulang."


...***...


Langkah Ladira terhenti tepat di depan pintu rumah, matanya tertuju pada kotak hitam yang tepat berada di depan pintu. Ada namanya yang tertera di sana, membuat gadis itu langsung mengetahui kalau kotak tersebut dikirimkan untuknya.


"Ini siapa yang naroh," gumam Ladira, yang sudah memegang kotak tersebut. Ringan.


Beberapa saat terdiam, akhirnya Ladira memutuskan membawa kotak itu ke dalam rumah. Dirinya duduk di ruang tamu, penasaran apa isinya perlahan Ladira membuka kotak hitam itu.


"I-ini apa," gumam Ladira, dengan tubuh yang bergetar takut melihat boneka beruang yang sangat lusuh dengan kepala yang terlepas dari tubuhnya. Bercak darah memenuhi kotak, membuat Ladira refleks menjatuhkan kotak itu dari pangkuannya. Darah yang berceceran, banyak mengenai kaki Ladira.


"S-siapa yang ngirim. Mah,.." lirih Ladira yang berlari menuju kamarnya.


Baru saja Ladira menginjakkan kaki di dalam kamar. Suara pecahkan kaca jendela membuat gadis itu sangat kaget, apalagi serpihan kaca jendela menggores  pergelangan Ladira saat itu juga.


Tangisan Ladira semakin pecah, dirinya menatap begitu syok pada banyaknya darah yang mengotori kakinya. Bau tidak sedap itu kembali muncul, membuat Ladira langsung berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya saat itu juga.


Bragg...


Pintu kamar Ladira terbuka, menampakkan sosok Gean dengan wajah khawatir, menghampiri Ladira yang terduduk lemas di lantai kamar mandi.


"Lo kenapa Ra?" Tanya Gean yang langsung merengkuh Ladira ke dalam pelukannya. Tubuh gadis itu bergetar hebat, semakin kuat memeluk Gean dengan tangisan yang semakin kencang.


"Takut," ucap Ladira menunjuk kakinya yang masih berlumuran darah.

__ADS_1


Gean yang paham, menggendong Ladira dan mendudukkannya di atas kursi dan membersihkan kaki gadis itu sampai bersih.


"Udah Ra, jangan nangis." Gean menghapus jejak air mata di pipi istrinya dan tidak sengaja melihat goresan di pergelangan tangan Ladira.


"Ini kenapa luka?"


"K-kena pecahan kaca," jawab Ladira yang masih sesenggukan.


Gean ingin pergi mengambil kotak P3K, tapi Ladira menggeleng dan langsung berhambur ke dalam pelukannya. "Jangan pergi, takut," lirihnya.


Merasa tidak tega kepada gadis itu, Gean menuntun Ladira untuk pindah ke kamarnya di sebelah. Belum keluar dari kamar, Ladira sudah memejamkan matanya saat melihat bercak darah yang tadi tersisa di lantai karena dirinya tadi.


Tanpa seizin Ladira, Gean mengangkat Ladira ke dalam gendongannya. Sangat lucu, jika melihat Ladira seperti koala di dalam gendongan laki-laki itu. Beruntungnya Ladira tidak berontak dan malah memeluk erat dan mengalungkan tangannya di leher Gean.


Laki-laki itu menegang sesaat, karena dengan nyamannya wajah Ladira bersembunyi di lipatan lehernya.


"Jangan terlalu mepet Ra." Danael sedikit menjauhkan wajah Ladira yang terasa seperti mencium lehernya. Gean merasa sedikit tidak nyaman jika gadis itu malah membuatnya hampir tidak bisa bergerak.


Ladira yang sadar memalingkan wajahnya yang tiba-tiba memanas, dia sedikit malu.


Keduanya sudah sampai di dalam kamar, dengan hati-hati Gean menurunkan Ladira untuk duduk di atas kasur.


"Lo gak mandi dulu, baju sekolahnya belum diganti?"


Ladira melihat dirinya yang ternyata masih mengenakan seragam, "mau mandi, tapi..."


"Lo duluan aja, biar gue terakhir," tawar Gean yang berjalan menuju meja belajar untuk menaruh tasnya di sana.


"B-bisa temenin ke kamar mandi?" Ucap Ladira pelan. Jujur dia malu, tapi trauma dengan kejadian beberapa menit yang lalu membuatnya takut untuk sendiri untuk saat ini.


Dug...


Buku yang awalnya Gean pegang langsung jatuh begitu saja dan berserakan di lantai. "Lo serius?"


...***...

__ADS_1


...See You...😉...


__ADS_2