
Suasana bandara yang tidak terlalu ramai, di saat jam 02.45 dini hari.
Ladira memeluk erat sahabatnya Naira, gadis itu sudah menarik koper dan bersiap pergi.
"Gue mau lo jaga diri baik-baik. Ingat, kalau Lo udah punya suami, apalagi orang itu Gean. Lo sudah hafal sama perilakunya. Lakukan tugas sebagai seorang istri yang baik. Oke," Naira memegang kedua lengan Ladira.
Mata Ladira sedikit meneteskan air di sana, bagaimana Ladira tidak menangis, seorang sahabat yang sudah lama dia kenal sejak masa SMP, sekarang harus pergi jauh darinya.
"Lo pulang cepat kan? Jangan lama-lama!" ucap Ladira menghapus air matanya dengan punggung tangan.
"Kok cengeng. Mana sih Ladira yang gue kenal, biasanya enggak mudah nangis kayak gini," kekeh Naira menghapus jejak air mata di pipi sahabatnya.
"Gara-gara lo gue kayak gini, mau pindah tapi tiba-tiba. Kita kan belum sempat jalan-jalan atau habisin waktu sama-sama," ucap Ladira.
Naira menggeleng pelan dan tersenyum, "kapan-kapan kalau ada libur panjang. Gue pulang kok ke sini, nanti kita jalan-jalan oke!"
"NAIRA, AYO KITA MAU BERANGKAT!" teriak bunda Naira yang duduk bersama suaminya di sebuah kursi, menunggu Naira berbicara beberapa menit dengan Ladira.
"Iya Bun, tunggu sebentar!" jawab Naira.
"Gue mau berangkat dulu. Jaga diri baik-baik, gue gak mau lo kabur-kaburan lagi. Kalau ada masalah, kalian harus selesaikan dengan kepala dingin," peringat Naira, lalu memegang tas dan menarik kopernya.
Ladira mengangguk dan melambaikan tangannya kepada Naira yang sudah berjalan menghampiri kedua orang tuanya.
"Dadah Ra!" Naira melambaikan tangannya, sebelum tubuhnya menghilang di balik tembok. Menyisakan keheningan di dalam diri Ladira.
Dirinya menghela nafas, lalu memutuskan untuk segera pulang. Dia yakin, kalau Gean tidak bisa tidur semalam, karena mungkin mengkhawatirkan Ladira dan tentunya tidak bisa tidur jika tidak dipeluk dulu.
Saat Ladira sudah sampai di sebuah taksi yang masih setia menunggunya di bandara, tangannya yang dicekal tiba-tiba membuat Ladira refleksi menepis kasar, tangan orang itu.
"Ra!"
__ADS_1
Tubuh Ladira tidak bergerak saat matanya bertemu dengan mata seseorang yang sedari tadi ada di pikirannya. Saat suara klakson pengguna jalan raya terdengar, Ladira segera mengalihkan pandangannya.
"Ra, lo mau pulang kan?" Tanya Gean dengan suara memohon.
"Iya," jawab Ladira lalu segera memasuki taksi. Namun lagi-lagi, Gean menahannya sebelum pintu taksi tertutup.
"Pulang sama gue, mobil ada di sana," pinta Gean menunjuk mobilnya yang terparkir tidak jauh dari mereka.
"Gue bisa pulang sendiri," ucap Ladira, dengan sekuat tenaga menarik pintu hingga tertutup.
Baiklah, Gean tidak akan memprotes jika Ladira menolak untuk pulang bersama. Gadis itu membutuhkan waktu sendiri, entah sampai kapan. Tapi yang penting, Ladira mau pulang dan Gean harus memastikan kalau gadis itu benar-benar pulang ke rumah mereka.
Dengan cepat Gean menjalankan mobilnya untuk mengikuti ke mana arah taksi yang Ladira tumpangi, sampai setengah jam berlalu ternyata benar kalau Ladira benar-benar pulang.
Mereka sudah sampai di pekarangan rumah. Gean sudah memakirkan mobilnya di garasi.
Saat Gean sudah keluar dari garasi, dirinya tidak menemukan sosok Ladira di luar, mungkin gadis itu sudah masuk ke dalam rumah duluan.
"Bi, Ladira udah masuk ke dalam?" Tanya Gean kepada salah satu asisten rumah tangganya di rumahnya.
Gean mengangguk dan mulai memasuki area dapur, dirinya cukup lelah sejak kemarin. Bahkan Gean hanya bisa tidur satu jam malam tadi, dan kembali terbangun karena kebiasaan bayinya belum dilaksanakan, apalagi pikirannya terus tertuju kepada Ladira yang tidak ada kabar.
Satu gelas air putih yang terisi penuh berhasil diteguk seluruhnya, untuk memenangkan pikiran sejenak Gean duduk sebentar di kursi meja makan.
Kepalanya terasa sedikit pening, dengan nafas yang sedikit tidak teratur, membuat keringat dingin mulai membasahi kening hingga tubuhnya.
"Den Gean sakit?" Tanya bi Nina, asisten rumah tangga yang tadi dia temui. Wanita paruh baya itu sudah bekerja cukup lama di keluarga Gean, sehingga dia ditugaskan untuk tetap bekerja kepada Gean, karena laki-laki sudah terlanjur bergantung kepada bi Nina yang sudah merawatnya sejak usia 6 tahun.
Mata Gean yang awalnya tertutup, langsung terbuka. Dia sedikit kaget saat tidak mengetahui keberadaan bi Nina yang tiba-tiba ada di depannya.
"Enggak bi. Cuma capek aja, mau istirahat kok habis ini," jawab Gean.
__ADS_1
"Maaf kalau bibi ikut campur, tapi kenapa non Ladira baru pulang. Dia kelihatan gak baik-baik aja tadi, apa den punya masalah?" Tanya bi Nina sedikit hati-hati, karena dirinya yang sudah terlanjur khawatir saat melihat Gean yang terlihat gelisah sejak kemarin.
"Bukan masalah besar bi, kemaren Ladira cuma ngambek aja. Jadinya dia nginap ke rumah teman dan katanya langsung ngerjain tugas kelompok." Gean merasa bersalah karena sudah berbohong kepada bi Nina, tapi tidak mungkin dia mengatakan terang-terangan tentang kejadian yang sebenarnya.
Bi Nina mengangguk, "yasudah kalau gitu den mau bibi masakin apa, langsung buat non Ladira?" Tanya bi Nina.
"Gean udah makan, buatin buat Ladira aja, terserah deh mau masakannya apa," jawab Gean.
Bi Nina mengangguk, lalu memasuki area dapur tempat dia akan membuat makanan.
Karena tubuhnya yang sudah lelah, Gean memutuskan untuk menuju kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya. Karena besok dia harus mengikuti rapat untuk persiapan kemah yang akan diadakan setelah ulangan tengah semester beberapa hari lagi.
Beban Gean di organisasi OSIS kini semakin bertambah, dirinya yang berawal sebagai wakil ketua OSIS, kini akan naik jabatan menjadi seorang ketua OSIS setelah selesai ulangan. Karena Naira yang sudah pindah.
Gean memasuki kamar yang pintunya terbuka setengah, di dalam sana terasa lebih kosong dari biasanya, tapi Gean berfikir, mungkin karena suasana hatinya yang juga tidak mendukung.
Tapi keanehan itu langsung menghampirinya, saat mendapati isi lemari yang hanya terdapat pakaiannya di sana. Di mana semua pakaian Ladira?
"Ra, lo di mana?" Teriak Gean yang mulai mengelilingi isi kamar, tapi tidak menemukan gadis itu.
Sehingga langkah kakinya mulai menelusuri luar kamar dan terhenti di depan sebuah pintu yang tertutup. Kamar tamu, dari luar Gean dapat mendengar suara seseorang di dalam sana.
"Apa Ladira pindah ke sini?" Gumam Gean pelan, bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Tok...tok...tok
Beberapa kali dirinya mengetuk pintu, sampai akhirnya pintu itu terbuka, menampakkan sosok seorang Ladira, yang kini berdiri di ambang pintu.
"Gue mau bilang, mulai sekarang gue gak mau satu kamar dengan lo, dan ingat, jangan terlalu ikut campur dalam hidup gue!" tekan Ladira lalu kembali menutup pintunya.
Di depan pintu itu, Gean hanya diam mencerna perkataan Ladira. Sebesar itu luka yang dia ciptakan untuk istrinya?
__ADS_1
...***...
...See you 🍂...