Liveline

Liveline
Rumah Pohon


__ADS_3

"Ra, ayo naik."


Ladira yang sedang memainkan ponsel, mengangkat dagu dan mendapati Danael yang duduk di atas motornya.


"Gue mau mesan ojol. Lo duluan aja, gue bisa sendiri," tolak Ladira.


"Ayo naik Ra," tekan Danael, menyerahkan helm yang dia bawa kepada Ladira dengan cara dilempar, sehingga Ladira refleks menangkapnya yang hampir jatuh.


Ladira mencebik kesal, "jangan dilempar juga kali, bisa kan dikasih baik-baik." Dengan bibir yang masih manyun karena kesal, dia berjalan menghampiri Danael yang tersenyum, tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"Gitu dong dari tadi," ucap Danael yang mencubit pipi Ladira gemas.


"Sakit El!" pekik Ladira memukul tangan cowok itu.


Danael masih tertawa, merasa gemas melihat wajah manyun dan galak Ladira bersamaan. "Ya udah naik." Dengan kesal, Ladira memakai helm yang tadi Danael serahkan secara tidak hormat, lalu menaiki motor Danael yang terlalu tinggi baginya.


"Sekali-kali kek pakai motor pendek, jangan tinggi-tinggi. Gue susah naik, apalagi pakai rok," ucap Ladira mengomentari tinggi motor itu.


"Hm, kapan-kapan deh. Sekarang kita pulang atau jalan-jalan dulu?" Tanya Danael.


"Pul..."


"Oke jalan-jalan dulu," potong cowok itu saat Ladira hendak menjawab. Dengan kesal Ladira memukul helm bagian belakang Danael. "Gue maunya pulang, engga minta jalan-jalan. Lagian orang ngomong di potong-potong," tukas Ladira yang semakin kesal dengan tingkah Danael.


Kepala Danael menggeleng, "sekali-kali Ra. Lagian gue rasa kita udah lama enggak jalan berdua, gara-gara gue selalu sama Nai.." mulutnya tertutup saat ingin menyebut nama seseorang yang sekarang menjadi masalalu nya.


"Iya jalan-jalan," jawab Ladira, untuk mengalihkan pikiran Danael yang mungkin sedang memikirkan sesuatu yang bersangkutan dengan mantannya itu.


Danael kembali tersenyum, dari pantulan kaca spion, Ladira bisa melihat itu. Dia menghembuskan nafas lega saat tahu kalau Danael tidak kembali memikirkan masalahnya dengan Naira baru-baru ini.


"Oke, sekarang mau jalan-jalan ke mana?" Tanya Danael.


"Terserah," jawab Ladira.


"Hmm...gimana kalau cafe?"

__ADS_1


"Enggak, itu namanya bukan jalan-jalan," tolak Ladira.


Danael kembali berfikir, dia terdiam sesaat untuk memilih tempat yang bagus untuk mereka berdua bersantai. "Taman?" Ladira menggeleng. "Timezone?" Lagi-lagi gadis itu menggeleng yang Danael lihat dari baik kaca spion.


Bahu Danael merosot, "terus apa Ra? Semuanya lo tolak," laki-laki itu melepas helm yang dia gunakan dan menaruhnya di atas tangki motor.


"Terserah."


Kepala Danael menoleh menatap Ladira dengan mulut menganga. "TERSERAH?!"


Ladira mengangguk.


"Oke terserah." Danael mengangguk-angguk, dia kembali memasang helm dan menyalakan mesin motor. Mereka mulai menjauh dari area sekolah dan mulai memasuki jalan raya.


"Kemana?" Tanya Ladira.


"Terserah gue," jawab Danael asal.


Plak


Kepala Danael dipukul dari baik helm yang dia kenakan, "kok gitu, lo ngajak ke tempat yang gue enggak setuju'in, gimana sih," gerutu Ladira.


"Ke mana sih?" Tanya Ladira yang mulai penasaran.


"Bentar lagi sampai, lo diam aja," ucap Danael yang akhirnya menjawab, setelah 25 menit dia diam sejak Ladira cerewet.


Baiklah Ladira mengangguk, dia lumayan menyukai pemandangan sawah yang mereka lewati. Begitu asri dan sejuk saat mereka ada di sana, berbeda dengan kondisi perkotaan yang tidak sesegar di desa.


5 menit kemudian, motor Danael berhenti tidak jauh dari sebuah danau. Ladira memandang takjub keindahan yang ada di sana, tanpa melepaskan helm, Ladira sudah berlari ke pinggir danau tersebut dan bersorak takjub melihat matahari yang berwarna jingga ingin tenggelam, ada di depan mata.


"WAH KEREN BANGET EL. LO TAHU TEMPAT KAYAK GINI DI MANA?" Tanya Ladira dengan suara kencangnya.


Danael membekap mulut Ladira saat laki-laki itu ada di belakangnya.


"Hmpp...lepasin," Ladira menarik tangan Danael sampai terlepas. Kemudian menatap laki-laki itu kesal. "Apaan sih, gak sopan banget nutup mulut orang kayak gitu!" lontar Ladira.

__ADS_1


Danael menghela nafas dan melipat kedua tangannya di depan dada, "danaunya ada buaya. Lo mau jadi makanan mereka, teriak-teriak enggak jelas kayak tadi?" Tanya Danael terlihat santai saat melihat wajah panik Ladira.


"Ayok pulang!" Ladira berjalan kembali menuju motor, disusul Danael yang mengajar.


"Nyantai dulu Ra, masa datang jauh-jauh langsung pulang aja. Percuma dong kalau gitu kita jalan-jalan," ucap Danael melepas helm yang tadi masih terpasang di kepala Ladira.


Mata Ladira menatap was-was menuju sekitar danau, dia merasa khawatir jika saja apa yang Danael bilang kalau di sini ada buaya. Pasti sangat berbahaya jika buaya itu akan muncul kapan saja. "Lo bilang ada buaya kan?" Tanya Ladira yang diangguki oleh Danael. "Makanya kita pulang sekarang. Gue takut kalau buayanya muncul tiba-tiba," ucap Ladira.


Danael menghela nafas lalu menggapai tangan Ladira dan menariknya. Gadis itu tidak mengikuti langkah Danael tanpa menolak, sehingga mereka sampai di depan sebuah pohon besar. Hal yang berbeda dari pohon itu, ada tangga dan di atasnya terdapat sebuah rumah pohon yang terlihat sangat indah dari bawah.


"Ini rumah pohon siapa?" Tanya Ladira.


"Naik dulu, nanti gue jelasin. Sebelum buayanya bangun," ucap Danael menakut-nakuti, dan terdengar begitu santai mengatakannya. Tanpa protes karena sikap santai Danael, Ladira segera menaiki tangga menuju rumah pohon yang ada di atas sana, dan disusul oleh Danael setelahnya.


Hal yang pertama menjadi daya tarik Ladira saat sudah berada di atas adalah pemandangannya yang sangat indah, dari atas sana dia bisa melihat lebih jelas matahari yang akan tenggelam.


Karena hari yang semakin sore, membuat langit terlihat jingga. Tidak berselang lama, Danael sudah sampai dan membuka pintu dari rumah pohon yang ada di sana.


Ladira menoleh dan menghampiri Danael yang sudah membuka pintu itu dan masuk ke dalam. Ruangannya muat diisi sekitar 8 orang di dalam, saat lampu dinyalakan ruangan itu terlihat sangat indah. Tapi mata Ladira tertuju pada lampu LED dengan beberapa foto yang menggantung di talinya.


Dia menatap takjub beberapa foto yang menggantung dengan indah, itu adalah foto Danael bersama keluarga dan ada dirinya juga di dalam foto itu. Mata Ladira beralih melihat foto masa kecilnya bersama Danael. Foto disaat Ladira berulang tahun dengan cream yang mengotori wajahnya, pelakunya adalah Danael.


Dia tertawa pelan mengingat momen itu.


Saat masih memperhatikan satu-persatu foto yang ada di sana, Danael duduk menghampiri.


"Gimana, bagus gak?" Tanya Danael dengan senyum percaya diri.


Ladira mengangguk, "kapan lo buat rumah pohon beginian?" Tanya Ladira dengan mata yang masih memperhatikan beberapa foto.


Punggung Danael bersandar pada dinding kayu rumah itu, dia memandang wajah gembira Ladira saat gadis itu sesekali tertawa saat melihat foto yang ada di sana. "Ini hadiah ulang tahun dari papa waktu gue umur 4 tahun. Gue yang minta buatin, supaya bisa punya rumah sendiri sama,.." Danael menggantung kalimatnya saat Ladira menoleh menatapnya.


"Sama siapa?"


Bibir Danael membentuk senyuman tipis, "sama lo," ucapnya. Saat tahu jika tujuan Danael menginginkan rumah pohon ini di bangun untuknya dan Danael, mati-matian Ladira menahan senyumannya. Entah kenapa degup jantungnya kembali berpacu, rasa yang dulu sama, kembali lagi saat itu juga.

__ADS_1


...***...


...See You 😉...


__ADS_2