
Dinginnya suhu udara pagi ini membuat setiap orang pasti sudah membungkus rapat tubuhnya dengan selimut tebal mereka, apalagi hari hujan tadi malam membuat banyak orang kebanyakan masih tertidur nyaman di atas kasur mereka.
Ya, seperti dua pasturi muda ini contohnya. Jam sudah menunjukkan pukul 09.25, tapi tidak ada niatan keduanya untuk segera bangun dan menjalankan aktivitas pagi.
Ladira melenguh pelan saat merasakan pergerakan orang yang ada di sebelahnya semakin mendekat, dan membuat Ladira merasa tubuhnya seperti ditimpa benda berapa kilo.
Mata Ladira perlahan terbuka, dengan pemandangan pertama yang dia lihat adalah wajah tenang Gean. Laki-laki itu masih betah dengan tidurnya. Diam-diam Ladira mengulas senyum tipis, memberikan usapan lembut pada rambut suaminya itu. Ladira akui, Gean sangat tampan jika sedang tidur seperti ini, bahkan kadar ketampanannya yang bertambah jika Ladira melihatnya dengan jarak yang sangat dekat.
Pipi Ladira bersemu merah saat ingatannya tiba-tiba mengulang kembali kejadian tadi malam. Sungguh, tidak bisa terduga jika Ladira bisa menyerahkan hak Gean. Walaupun banyak halangan, tapi hati kecilnya sangat mendorong Ladira untuk memilih itu.
"Kok imut sih?" Geram Ladira menoel-noel pelan pipi Gean. Pipinya terlihat menggembung saat tidur, membuat Ladira gemas ingin mencubitnya.
Tap
Mampus, dia kepergok saat masih memperhatikan Gean dengan tangan yang setia bermain di pipi laki-laki itu.
"Lepasin," ucap Ladira yang mengalihkan pandangannya saat Gean menatapnya intens.
Gean mendekat dan merengkuh tubuh Ladira ke dalam pelukannya, dia merasa sangat nyaman sehingga merasa ingin menghentikan waktu selama mungkin, agar Gean bisa merasakan kehangatan ini dalam waktu yang panjang.
"Susah nafas ihh," rengek Ladira, karena wajahnya terbenam pada dada polos suaminya.
Laki-laki itu terkekeh mendengar rengekan Ladira, dia memperhatikan istrinya yang juga mendongak menatapnya dengan wajah memerah karena tadi sempat sulit untuk mengambil nafas.
Cup
"Malu," gumam Ladira dengan senyum lebar saat Gean mengecup singkat bibirnya dengan begitu gemas.
"Ngapain malu?" Gean terkekeh samar, membuat suara serak khas bangun cowok itu terngiang-ngiang di ingatan Ladira. Sangat candu untuk dia dengar.
Beberapa menit mereka diam dalam pelukan hangat yang tidak terlepas dari tadi, sehingga Ladira tersadar dan mendongak, membuat Gean juga refleks menatap Ladira dengan tanda tanya.
"Ini jam berapa?" Tanya Ladira. Gean meraih ponsel di atas nakas, karena di dalam kamar ini memang tidak terpasang jam dinding semenjak Gean pindah.
"Jam 10.34," jawabnya, sambil melihat banyak notifikasi panggilan maupun pesan di sana.
"Serius, bukannya mamah sama papah berangkat jam 09.00?" Pekik Ladira.
Gean menepuk dahinya, "hari ini ada rapat OSIS." Betapa cerobohnya Gean, melupakan tugas yang sudah dipercayakan untuknya sebagai pemimpin. Sekarang mungkin sekolah sudah kosong, karena hari ini mereka hanya membersihkan kelas dan lingkungan sekolah karena akan libur sampai tahun baru berlalu.
Keduanya meraih ponsel masing-masing, menjawab setiap pertanyaan yang teman-teman mereka berikan melalui pesan.
"Aduh, gimana nih? Bila malah curiga, kenapa gue gak sekolah, barengan di waktu yang sama kayak lo." Gadis itu sudah kehabisan kata-kata untuk dia ketik, sungguh sulit untuk meyakinkan Bila yang keras kepala jika merasa jawaban yang Ladira berikan tidak efektif.
Laki-laki itu pun tengah sama bingungnya, di grup OSIS, teman-temannya juga sedang membicarakan Gean yang tidak mengikuti rapat. "Bilang aja ada acara dadakan, kalau papa lo diundang rekan kerja termasuk papah gue dan kita juga ikutan," monolog Gean, yang sudah kehabisan alasan selain acara.
__ADS_1
Dengan cepat Ladira mengetikkan jawaban tersebut, beberapa menit kemudian akhirnya Bila percaya dan tidak mendesak Ladira lagi untuk jujur.
Saat Ladira ingin mematikan ponselnya, sebuah notifikasi pesan masuk dan membuatnya mengurungkan niat untuk mematikan ponsel itu.
Ladira melirik Gean yang masih fokus dengan ponselnya. Pesan yang baru masuk itu dari Danael.
...Danael...
Danael
Ra, kok gak sekolah?
Kita jalan yuk nanti sore, buat ngisi list sepeda bareng!
^^^Ladira^^^
^^^Tadi ada acara dadakan^^^
^^^Um, nanti gue chat kalau bisa.^^^
^^^Gak janji dulu ya!^^^
Danael
Oke gak masalah,
tunggu di taman kota jam 4 sore.
^^^Ladira^^^
^^^Oke^^^
Ladira menghembuskan nafas lega, setelah semua chat berhasil dia jawab. Sekarang hanya Gean saja yang mungkin masih sulit memberi alasan, sebab yang dia hadapi adalah teman-teman OSIS-nya.
Perlahan gadis itu bangun dan duduk di tepi ranjang, merasakan tubuhnya yang kaku karena terlalu lama berbaring dengan posisi yang tidak nyaman semalaman.
"Auu, sakit," lirih Ladira sangat pelan, saat kakinya bergerak turun dari ranjang.
Dengan tubuh yang terlilit selimut, dia berdiri perlahan untuk melawan rasa sakitnya. Satu langkah saja sangat berat, dua langkah sungguh Ladira sudah sangat tersiksa. Pada langkah ke tiga, perempuan itu akhirnya menangis pelan karena badannya terasa remuk dan area di bawah sana sangat sakit jika Ladira memaksa untuk berjalan.
Gean yang tadi fokus karena menyempatkan diri untuk menulis berkas baru di ponselnya sampai tidak sadar jika Ladira sudah bangun, apalagi tubuh polosnya yang sudah tidak tertutup selimut.
"Kok maksa bangun sendiri Ra, kan bisa bilang kalau mau bangun," ucap Gean lembut. Mana tega Gean memarahinya, saat melihat pipi Ladira nsudah basah karena air mata.
Ladira berdiri dengan bantuan Gean, tapi Ladira tidak sama-sekali menoleh ke arah suaminya itu.
__ADS_1
Menyadari alasan isterinya sama sekali tidak menatapnya, Gean tersenyum simrik dan mengecup pipi Ladira beberapa kali.
"Kenapa hm?" Tanya Gean sambil menarik pelan rahang Ladira agar perempuan itu menatapnya.
Ladira menggeleng dan langsung menenggelamkan wajahnya di dada Gean. "Lapar." Gumamnya.
"Ya udah kita makan," ucap Gean yang dibalas gelengan dari gadis itu.
"Mandi dulu," ucapnya.
Tanpa izin Ladira, Gean sudah menggendong istrinya dan membawa Ladira menuju kamar mandi. Perlahan Gean menaruh pelan tubuh Ladira ke dalam bathtub yang sudah dia sediakan air hangat di dalamnya.
"Dah, keluar sana," ucap Ladira sambil memalingkan wajahnya, tidak ingin sampai menangkap tubuh Gean yang tidak terbalut apapun.
"Gak. Mau mandi bareng," tolak Gean.
"Ih, jangan aneh-aneh!"
...***...
Siang ini terasa sangat panas, kedua pasturi muda yang sudah pulang ke rumah mereka tengah berbaring santai di atas sofa sambil menonton siaran televisi.
"Aaaa." Gean membuka lebar mulutnya, menerima makanan berupa kacang yang sudah Ladira kupas dan siap masuk ke dalam mulutnya.
Gean dengan nyaman berbaring di atas paha Ladira, memandang wajah Ladira dari bawah mampu membuat laki-laki itu senyum-senyum sendiri karenanya.
Kepala Gean menoleh dan langsung berhadapan dengan perut Ladira, yang dibatasi oleh kain dari sebuah kaos putih yang perempuan itu kenakan.
Tangannya menyingkap sedikit kaos itu, membuat Ladira kaget dan refleks menoleh ke bawah.
"Mereka udah ada di sini gak Ra?" Tanya Gean.
Ladira yang paham hanya mengangkat bahunya, tidak tahu harus menjawab apa.
"Ra."
"Hm."
"Gimana sama Danael? Lo masih mau lanjut sama dia dan hubungan kita tetap sampai satu tahun aja?" Pertanyaan yang tidak ingin Ladira dengar sebenarnya, tapi memang masalah ini harus cepat terselesaikan. Dia harus bisa belajar menerima Gean dan berusaha meyakinkan Danael agar mereka bisa putus secara baik-baik. Suatu saat nanti, Danael juga pasti akan tahu tentang hubungannya dengan Gean, dan Ladira tidak ingin membuat Danael sakit hati karena terlanjur menyayanginya sepenuhnya.
Ladira terlalu takut untuk menghadapi berbagai masalah yang akan datang selanjutnya.
...***...
...See You...😉...
__ADS_1
Siapa² aja yg baca cerita ini? Btw, komen dong atau follow, lalu chat aku buat temenan di ig. Kangen rasanya mau punya teman baru. Hihi 👻