
Mobil Gean sampai di depan sebuah gerbang besar yang merupakan rumah tempat tinggal Laras.
Setelah lama berdebat lalu berakhir sama-sama diam, berakhir dengan Gean yang tetap memutuskan untuk menjemput Laras, tanpa ada kata penolakan dari Ladira yang sejak tadi merenungi kalimat dari suaminya itu.
Melihat Laras yang berlari kecil menuju mobil Gean, gadis yang sedari tadi hanya diam mulai mencebik kesal kepada Laras yang tersenyum begitu sumringah. Begitu senangnya Laras karena dia akhirnya dijemput, tapi kesenangan itu menurun drastis saat Laras membuka pintu mobil dan tiba-tiba mendapati Ladira yang sudah menempati posisi duduk di samping Gean.
"Duduk di belakang," titah Gean yang membuat Laras mengangguk dengan perasaan yang kecewa.
Sedangkan Ladira hanya diam, sambil menatap sinis ke arah Laras.
Tunggu...kenapa Ladira marah? Bukannya dia harus senang, karena berkat Laras, peluangnya dan Gean akan bercerai semakin besar. Tapi rasa bersalah saat mengingat Winda yang menginginkan agar mereka tetap bertahan, masih terus menahannya untuk tetap memiliki hubungan dengan Gean. Apa mungkin ayahnya juga akan semakin membencinya?
Walaupun Ladira tidak tahu kabar ayahnya yang pergi bekerja ke luar negeri entah di mana, tapi Ladira tetap memikirkannya.
Setelah Laras masuk ke dalam mobil, mereka segera berangkat menuju sekolah sebelum gerbang ditutup.
Selama perjalanan, tangan Gean masih setia menggenggam jemari Ladira, membuat Laras yang merasa menjadi nyamuk di antara keduanya merasa kesal.
Di sisi lain, Ladira tiba-tiba menjadi menuruti permintaan Gean untuk berakting di depan Laras agar membuat gadis di belakang mereka cemburu. Padahal Ladira menginginkan hubungan mereka cepat selesai, tapi dia malah melakukan hal yang berbanding terbalik yang malah membuat hubungan mereka semakin kokoh pertahanannya.
"Ge.."
"Apa?" Tanya Gean kepada Laras yang memanggilnya.
Ladira hanya melirik Laras sekilas, sudah mulai lagi gadis itu mencari perhatian.
"Lo bisa gak buat neman'in gue ke mal pulang sekolah nanti, soalnya gue belum punya perlengkapan buat kemah besok dan gak punya sweater ataupun jaket tebal," jelas Laras.
Gean mengangguk tanda dia paham dengan apa yang Laras butuhkan, "bisa..."
Laras mengembangkan senyumnya, sedangkan Ladira hanya menghela nafas jengah karena harus berada di posisi seperti seorang yang berbagi suami dengan gadis lain, padahal Ladira yang lebih memiliki hak atas Gean.
"Kita berangkat bareng kalau gitu, soalnya Ladira juga beli perlengkapan buat kemah juga," tambah Gean.
Ladira tertegun, dia kira Gean akan melupakannya. Laki-laki itu memang sangat berusaha untuk membuat Laras tidak menyukainya.
__ADS_1
"Oke," jawab Laras pelan, dengan rasa kecewa terbesit di hatinya. Padahal Laras ingin mempunyai waktu berdua tanpa Ladira, tapi laki-laki itu sendiri yang malah membuatnya gagal.
Beberapa menit kemudian mobil Gean berhenti di parkiran sekolah, mereka datang tepat saat waktu siswa-siswi juga mulai banyak berdatangan. Hal itu menarik perhatian beberapa siswa-siswi yang ada di sekitar sana, di mana Gean membawa dua gadis di dalam mobilnya.
Ladira merasa tidak suka saat beberapa pasang mata meliriknya sinis. Itu mungkin beberapa fans Gean yang sangat menentang perempuan yang berani mendekati idola mereka.
"Ra, ayo ke kelas," Gean menggenggam tangannya, tapi malah Ladira tepis.
"Gue gak mau orang lain curiga," tentang Ladira membuat Gean hanya mengangguk pasrah.
Saat Gean ingin pergi terlebih dahulu, Laras malah menahan tangannya dan berdiri di depan Gean. "Dasi lo kok gak rapi," ucap Laras yang langsung merapikan dasi yang ternyata belum Gean rapikan saat tadi mengejar Ladira di rumah.
Semakin banyak yang berbisik di sekitar mereka dan terang-terangan mengata-ngatai maupun menyoraki kedekatan antara keduanya.
Karena merasa bahwa dirinya juga masuk ke dalam pusat perhatian para siswa-siswi di sana, akhirnya Ladira lebih memilih pergi sebelum makin banyaknya orang yang akan datang.
"Ra, tunggu!" ucap Gean yang menghempas tangan Laras, lalu dengan cepat dia mengejar Ladira yang sudah pergi lumayan jauh, karena gadis itu malah berlari.
Laras berdecak kesal dan segera pergi menuju kelasnya saja, dari pada dia akan dibicarakan oleh orang-orang yang ada di sana.
Sedangkan Gean berlari menyusuri lorong untuk mengejar Ladira yang sudah menghilang, entah kenapa dia merasa kalau Ladira akan marah kepadanya karena perlakuan Laras barusan.
"Woi Ge, ada lihat Ladira gak?" Tanya Danael sambil merangkul Gean.
"Gue juga lagi cari dia. Apa Ladira gak ada lewat sini atau mampir sebentar ke kelas?" Tanya Gean kembali.
Danael mengerutkan keningnya bingung dan menggeleng tidak tahu, dirinya tadi pagi pergi menjemput Ladira ke rumah neneknya, tapi saat sampai di sana, tidak ada tanda-tanda penghuni di dalam rumah itu.
"Gean, ngapain kamu masih di sini? Semua anggota OSIS sudah menunggu di ruangan, tapi kamu masih berkeliaran!" ucap bu Sisi sang guru BK yang tergolong muda di antara guru-guru yang lain, dia datang secara tiba-tiba membuat Gean dan Danael sama-sama kaget.
Gean menepuk dahinya, dia lupa dengan janji untuk berkumpul di ruang OSIS, karena mengejar Ladira yang tiba-tiba menghilang.
"Baik bu, saya ke ruang OSIS sekarang," jawab Gean, sehingga bu Sisi pun pergi dari sana.
Dirinya menghela nafas lelah, banyak sekali tugasnya yang terlupakan. "El, gue minta tolong kalau ketemu Ladira bisa suruh dia nemuin gue ya," pinta Gean.
__ADS_1
"Oke," Danael mengacungkan kedua jempol. "Semangat Ge, buat sekolah jadi makmur dengan jamkos ya, kalau udah jadi KETOS!" ucap Danael menaik-turunkan alisnya disertai cengiran.
Gean menggelengkan kepalanya, ada-ada saja permintaan Danael. Jika seperti itu, maka Gean dengan mudah kehilangan jabatan sebagai ketua OSIS.
Ya, walaupun Gean tidak suka saat Danael begitu dekat dengan Ladira yang merupakan isterinya, tapi Gean akan berusaha memaklumi bahwa kedekatan Danael dan Ladira sulit terpisahkan karena mereka sudah bersahabat sejak kecil.
Dia tahu kalau Ladira menyimpan rasa kepada Danael, maka dari itu dia juga harus bisa membuat Ladira menyimpan rasa kepadanya juga, walaupun harus menyaingi Danael secara halus, yaitu sehat tanpa perkelahian.
...***...
Bragg...
Ladira memekik kesakitan sat dia yang sedang berlari malah menabrak seseorang yang ada di depannya.
"Lo lagi Ra, gak bosan buat gue sakit mulu tiap hari."
Dia mengenal suara itu. Suara yang dulu sering dia dengar di pagi hari, mengejek dan berteriak saat dia kesal kepada Ladira.
"Iya, maaf...maaf," ucap Ladira lalu berdiri sambil meregangkan otot pinggangnya yang terasa sakit.
Karena perkara dasi Gean yang belum rapi dan Laras yang mengambil kesempatan untuk merapikannya, Ladira malah harus berlari menjauh Gean yang mungkin mengira bahwa dia cemburu. Padahal tidak, Ladira hanya tidak ingin dianggap sebagai wanita yang tersakiti di hadapan semua orang, karena Laras merebut Gean. Masalahnya mereka datang di dalam satu mobil yang sama.
Zeano berdiri lalu meraih tasnya yang terlempar tidak jauh dari posisinya sekarang, laki-laki itu masih mengeluh saat bokongnya sakit saat tadi membentur keras lantai.
"Lo kenapa lari-lari?" Tanya Zeano yang kemudian berjalan menuju kursi yang tersedia di sana, disusul Ladira yang juga duduk di sebelah laki-laki itu.
"Di kejar setan!" jawab Ladira asal.
"Ck...percuma nanya kalau kayak gini. Ya udah, gak perlu dibahas. Gue mau nanya kenapa lo tiba-tiba pindah?"Zeano mengganti topik pembicaraan, membuat Ladira harus berfikir dua kali lebih baik untuk mencari alasan.
"Papah pindah ke luar negeri buat kerja, jadi gue bosan aja tinggal di rumah, makanya sekali-kali gue mau tinggal di rumah nenek. Di sana kan dekat sama rumah teman-teman, jadi gue gak kesepian," jelas Ladira, menjual nama teman-temannya di komplek perumahan tersebut, demi alasan yang logis.
Zeano mengangguk, dirinya bisa memaklumi Ladira yang dari kecil sudah sering ditinggal sendirian bersama para pembantu, membuat gadis itu sering bergaul dengan dirinya dan Danael, yang membuat kebiasaan dan gaya Ladira yang sedikit tomboi dan malas. Tapi sekarang Ladira terlihat sedikit berubah dari gayanya yang dulu.
"Oh iya, gue mau nanya soal El yang katanya waktu gue libur selama beberapa hari, dan dia gak ada di rumah. Emang dia ke mana?" Tanya Ladira yang sampai saat ini masih menyimpan pertanyaan itu, padahal dia sekarang sudah bertemu dengan Danael dengan keadaan yang baik-baik saja.
__ADS_1
.........
...See You Next Time...😉...