Liveline

Liveline
Surprise Naira atau Kejutan untuk Arsa


__ADS_3

Malam yang indah, di mana satu keluarga kecil berkumpul mengelilingi meja makan untuk makan malam bersama.


Naira, yang dilahirkan dalam sebuah keluarga harmonis. Mereka sesekali melempar candaan saat tengah makan bersama. Sungguh Naira sangat beruntung lahir di tengah-tengah keluarga tersebut.


"Makasih ya hadiahnya, banyak banget tau. Harusnya mama sama papa gak perlu repot-repot beli'in Nai hadiah. Cukup doa aja, Nai usah senang," ucap Naira kepada kedua orang tuanya.


Sang ibu tersenyum, "gak papa nak, sekali-kali mama sama papa juga bersyukur atas bertambahnya usia kamu, melalui hadiah-hadiah itu," ucap Ibu Naira.


"Dan doa mama papa selalu ada buat kamu," tambah sang ayah.


Naira mengangguk senang saat mendengarnya. "Ma...


Ting....tong...


Suara bel berbunyi, membuat Naira yang ingin berbicara terpotong dan perhatian mereka teralihkan menuju pintu.


"Bibi, buka pintunya ya." Titah ibu Naira kepada salah satu pembantunya. Dengan cepat pembantu tersebut membuka pintu.


Di ambang pintu, Naira dapat melihat kalau di sana sudah ada Arsa. "Hai Nai," sapa Arsa dengan senyum merekah yang tidak pernah hilang dari wajahnya.


Naira tersenyum, "silahkan masuk dulu Sa," tawar Naira.


"Bukannya gak mau, tapi gak sopan kalau cowok masuk ke rumah cewek tanpa izin orang tua, yang ada tetangga malah salah paham," jelas Arsa masih tetap berdiri di ambang pintu.


Naira mengangguk, selintas dia bangga kepada pemikiran Arsa yang dewasa. Walau sikapnya sehari-hari pernah beberapa kali sering melanggar peraturan sekolah. "Gak papa kok, silahkan masuk aja. Ada mama sama papa," jawab Naira.


"Um, gue mau duduk di luar aja Nai. Adem ada angin-anginnya," tolak Arsa merasa tegang, saat mengetahui orang tua Naira ada di rumah.


"Nanti bisa masuk angin," ucap Naira.


Arsa kembali menggeleng, "gak kok, oh iya. Nai lo boleh gak keluar sebentar bareng gue. Soalnya, Gean minta kue jemput lo buat bantuin bawa buku-buku dari perpustakaan ke rumah dia," jelas Arsa.


Gadis itu berfikir sebentar, "yaudah, tunggu dulu. Aku mau izin sebentar." Ucap Naira dibalas anggukan dari Arsa.


Setelah beberapa menit menunggu, Naira sudah keluar dari dalam rumah sambil membawa satu kardus yang berisi buku-buku di dalamnya. Arsa melotot melihat buku sebanyak itu, tapi dia lebih kaget saat orang tua Naira juga ikut keluar rumah.


Dengan cepat, Arsa menjabat tangan kedua orang tua Naira. "Malam om, Tante"


"Malam," sapa keduanya.


"Kamu Danael?" Tanya ibu Naira.


Arsa menggeleng cepat, "saya Arsa tan"


"Oh iya, maaf ya soalnya tante kira kamu Danael pacarnya Naira, yang sering Naira ceritakan. Atau mereka putus dan kalian pacaran, gitu?" Tanya ibu Naira kembali.


"Gak ma, Arsa teman aku," elak Naira dan Arsa hanya mengangguk pelan.

__ADS_1


"Yasudah, saya hanya mengizinkan Naira pulang dengan batas waktu pukul 21.00. Jangan sampai Naira terluka, paham," tagas Ayah Naira.


Arsa mengangguk mantap, "siap om, kalau begitu kita izin dulu," Arsa mengambil alih membawa kotak itu dari tangan Naira dan membawanya menuju mobil yang dia parkiran.


Setelah menaruh kotak itu di kursi belakang, dengan cepat Arsa membukakan pintu u tuk Naira di depan dan tidak lupa melindungi kepala gadis itu dari benturan atap mobil.


"Makasih," ucap Naira lalu memasuki mobil.


Saat Arsa ingin menutup pintu, Naira memanggilnya.


"Sa, kok sabuk pengamannya nyangkut?" Tanya Naira, berusaha menarik sabuk pengaman tersebut.


Arsa menunduk dan memperbaiki sabuk pengaman tersebut, dia baru mengingat kalau tadi siang sempat membawa mobil bersama dua orang sepupunya yang masih berusia 5 sampai 6 tahun. Tidak lupa jika kedua anak tersebut akan membuat berantakan mobil, sampai membuat sabuk pengaman ditarik dan menyangkut di bawah kursi.


"Ck, nyangkut Nai," human Arsa masih mencoba memperbaiki.


Naira hanya diam menatap Arsa dari samping, jelas sekali perbedaan seorang Arsa yang biasanya bersifat ceria dan menampilkan senyum di wajahnya. Dengan ekspresi Arsa yang serius, masih sibuk memperbaiki sabuk pengaman, lumayan membuat Naira terdiam sesaat.


Tangan Naira terulur menyentuh dahi Arsa yang berkeringat dan membersihkannya.


Arsa yang sedang fokus, langsung terdiam. Kepalanya menoleh dan melihat Naira yang segera menepis tangannya, dengan wajah gugup.


"Maaf Sa, tadi refleks," elak Naira meremas erat kedua jarinya.


Arsa tersenyum canggung, "oke, gak papa. Nih pasang sabuknya." Setelah menyerahkan sabuk pengaman, Arsa mengelilingi mobil dan segera mengendarainya menuju tempat tujuan.


Sedangkan di sisi lain, Arsa hanya menahan senyum yang ingin sekali terlukis di bibirnya. Dia bisa merasakan rasa yang berbeda di dalam dirinya, entah apa itu. Yang pasti rasa yang seharusnya tidak ada, disaat rasa itu mungkin tidak bisa terbalaskan.


...***...


Perasaan Naira semakin tidak enak, saat melihat lampu jalan dari beberapa meter lalu sudah mati. Membuat jalan sekitar terlihat bertambah sepi dan sangat gelap. Hanya lampu mobil yang menerangi sekitar.


"Kok gue takut Sa, ini gelap banget," Naira refleks menggenggam tangan Arsa di sampingnya.


"Gak papa Nai, gue ada di sini," Arsa menggenggam erat lengan Naira.


Sampai beberapa meter perjalanan, mobil dihentikan di sebuah cafe yang hanya diterangi lampu yang redup. Membuat keadaan cafe tersebut remang-remang dan menambah atensi takut Naira bertambah.


"Ngapain ke sini?" Tanya Naira menatap sekitar yang begitu sepi.


"Gean mintanya di sini, tadi," jelas Arsa singkat lalu menarik lengan Naira ke dalam cafe.


Tepat di tengah-tengah cafe, Arsa melepas tautan tangan mereka dan tiba-tiba seluruh lampu mati.


"ARSA," teriak Naira refleks. Air matanya mengalir begitu saja saat dirinya ditinggal sendiri, sampai beberapa detik kemudian satu cahaya mendekati dirinya.


"Happy birthday to you.... happy birthday to you... happy birthday to Naira,... Happy birthday to you," nada lagu ulang tahun, berhasil Ladira nyanyikan dan mempersilahkan Naira untuk meniup lilinnya.

__ADS_1


"Kok surprise nya nyeremin," gumam Naira masih menangis, tapi ada titik senyum di wajahnya.


Tik...


Seluruh lampu menyela, membuat Naira memejamkan mata sejenak untuk menyesuaikan dengan cahaya sekitar. Matanya menelusuri setiap sudut cafe yang begitu indah, dihiasi balon dan dekorasi yang indah bertema warna favoritnya. Tidak lupa, teman-teman mereka yang diundang memenuhi area cafe, tapi mata Naira terfokus kepada seseorang, matanya memanas dan berlari mendekap tubuh cowok yang berdiri mematung.


Seluruh tamu kaget saat Naira yang malah memeluk Arsa, bukannya Danael.


"Kenapa kamu tadi ninggalin aku," gumam Naira yang masih bisa Danael dengarkan.


"N-nai, kenapa lo peluk gue," Arsa menoleh melihat Danael di sebelahnya, laki-laki itu menatap dingin kearahnya.


Naira menggeleng, "jangan tinggalin aku lagi," gumam Naira.


"Nai, lo kenapa?" Tanya Ladira menghampiri Naira yang masih setia memeluk Arsa.


Seluruh siswa-siswi mulai berbisik-bisik, ada yang mengambil foto maupun video. Tidak akan ada yang melewatkan berita penting, di mana sang ketua OSIS malah memeluk sahabat pacarnya sediri.


Ladira menarik Naira sehingga Arsa terlepas dari pelukan Naira.


Bugh...


Satu kali tamparan meluncur menghantam pipi Arsa, membuat cowok itu yang sama sekali belum diam langsung tersungkur di lantai.


Seluruh tamu kaget melihat aksi Danael yang tiba-tiba menghantam Arsa.


"Lo apain Naira sampai jadi begini, gue suruh lo jemput dia, bukan rebut dia dari gue," gumam Danael dengan nada menusuk.


Arsa menggeleng, dengan hidung yang sudah mengeluarkan darah. "Gue cuma jemput Naira aja, gak lebih," lirihnya.


"Dasar penipu,"


Bugh...


"ARSA"


...***...


Satu kata untuk


Danael


Gean


Arsa


Ladira

__ADS_1


Naira


__ADS_2