Liveline

Liveline
Tulus


__ADS_3

Pemandangan pertama saat dia membuka pintu adalah sosok istrinya yang sudah tertidur nyenyak di atas sofa, dengan televisi yang masih menyala.Gean tersenyum melihat wajah Ladira yang sedikit belepotan karena coklat yang dia makan dan belum dibersihkan.


Tidak ingin sampai membangunkan gadis itu, Gean membersihkan sedikit noda di bibir dan pipi Ladira perlahan sampai bersih. Setelah itu menggendong Ladira menuju kamarnya, ya kamarnya atau lebih tepat kamar Gean yang berubah menjadi kamar mereka berdua. Dirinya mengambil kesempatan agar Ladira tidur dengannya, karena jika Gean meminta untuk tidur bersama, maka Ladira akan menolak dan Gean akan susah tidur tanpa seseorang yang mendampingi.


Setelah berhasil membaringkan Ladira dengan aman agar gadis itu tidak terbangun, Gean bergegas mandi untuk membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi.


Beberapa menit kemudian, Gean sudah selesai dengan kegiatan mandinya dan keluar dengan baju kaos serta celana pendek yang selalu dia gunakan untuk tidur.


Perlahan Gean menaiki kasur untuk berbaring di samping Ladira, dia mendekat dan mengecup lama dahi istrinya. "Mimpi indah Ra," ucap Gean menatap wajah tenang Ladira yang masih tidur tanpa terusik.


Gean berbaring dan melingkarkan tangannya di pinggang Ladira, sebenarnya Gean ingin Ladira juga membalas peluknya, tapi dia takut jika Ladira akan terbangun dan akan marah kepadanya.


Cukup lama Gean hanya memandang Ladira dari samping, sampai akhirnya dia tertidur karena mata yang semakin berat.


...***...


Jam sudah menunjukkan pukul 04.30, tepat pada waktu tersebut, perlahan Gean mulai bangun dari tidur nyenyak semalam. Tangannya meraba kasur yang ada di sebelah dengan mata yang masih terpejam, Gean segera membuka lebar matanya saat tidak menemukan Ladira.


"Mana?" Tanya Gean pada dirinya sendiri, menanyakan ada di manakah sang istri. Tapi saat mendengar suara serta aroma masakan yang harum dari dapur, Gean bisa menebak jika itu adalah Ladira yang sedang memasak.


Dirinya memilih untuk cepat-cepat bersiap, karena harus segera berangkat ke sekolah, karena hari ini adalah hari peresmiannya untuk menjadi ketua OSIS pengganti Naira.


Sampai 30 menit lamanya dia bersiap, Gean turun menuju dapur untuk sarapan, mungkin Ladira sudah siap untuk berangkat sekolah.


Benar, gadis itu sudah siap dengan seragam sekolah dan sedang menyajikan makanan di atas meja. Gean tersenyum senang, dia berjalan dan duduk di salah satu kursi. Masakan yang lezat, membuat Gean tidak sabar untuk segera menyantapnya. Walaupun Ladira malas untuk belajar di sekolah, tapi gadis ini tetap pintar dan pandai dalam bidang lain seperti memasak tentunya.


Setelah semuanya siap, Ladira duduk di kursi dan berdoa sebelum akhirnya menyantap makanan yang tersedia.

__ADS_1


Ladira hanya diam, dengan suara dentingan sendok yang beradu dengan piring mengisi kesunyian di antara mereka.


Tidak terasa makanan mereka sudah habis, Ladira mengurus bekas piring dan sendok lalu mencucinya sebentar.


"Dasi lo mana?" Tanya Ladira kepada Gean yang membantu untuk merapikan meja makan.


Gean meraba kerah kemeja, "iya gue lupa. Laki-laki itu ingin kembali menuju kamar, tapi terhenti saat Ladira memanggil.


"Ngapain cari ke atas, dasi lo ada di jemuran dapur, pelupa banget sih!" ucap Ladira yang langsung berjalan mengambil dasi Gean yang baru dicuci.


Setelah itu Ladira menyerahkannya kepada Gean.


"Gue gak bisa ikat dari Ra." Gean tidak menerima uluran dasi tersebut, karena dia memang bingung untuk mempelajari tahap pengikatan dasi. Walaupun pintar dalam pelajaran, tapi Gean tidak pintar dalam hal yang menurutnya rumit untuk dilakukan.


Tidak ingin berdebat panjang, Ladira segera mengulurkan tangannya untuk melingkarkan dasi itu di leher Gean, dia mulai mengikat dasi tersebut.


Ladira yang awalnya masih fokus dengan dasi, refleks menoleh kepada ponsel Gean yang ada di atas meja. Sebuah pesan dengan nama Laras terpampang jelas di layar, dengan notif pesan bahwa Laras meminta untuk dijemput.


Dengan cepat, Gean mematikan ponselnya yang tadi menyala. "Kita berangkat bareng Ra, " ucap Gean menahan Ladira yang ingin pergi, padahal ikatan dasi di lehernya belum dirapikan.


"Jemput calon istri lo aja, ngapain sama gue. Ingat juga ya, jangan sekali-kali berani buat bawa gue ka kamar lo kayak semalam, kalau lihat gue ketiduran di sofa, cukup bangunin, gak perlu lo capek-capek gendong!" tegas Ladira mencoba melepas cengkraman Gean yang semakin kuat menahan, saat dia ingin dilepaskan.


"Berangkat bareng Ladira!" ucap Gean menekan nama Ladira di akhir, membuat gadis itu menatapnya kesal.


"Enggak akan!" tolak Ladira yang masih mencoba melepas cengkraman Gean pada tangannya, tapi laki-laki itu sama sekali tidak berniat untuk melepaskan, walaupun mendengar rintihan Ladira yang kesakitan saat tangannya yang mungkin sekarang sudah memerah.


Tanpa aba-aba, Gean menarik Ladira menuju mobilnya yang berada di garasi, melemparkan tas mereka berdua di jok belakang, lalu memaksa Ladira untuk masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"LO MAU APA SIH? GUE BISA BERANGKAT SEDIRI!" Ladira mencebik kesal dengan memukul dashboard mobil, membuatnya sempat memekik kesakitan karena kelalaian sendiri.


"Gue mau bilang ke Laras, kalau gue punya istri, walaupun dia tetap ikut kita berangkat bareng. Gue mau lo akting," jawab Gean, yang membuat Ladira yang sedang mengelus tangannya yang serba sakit pun terhenti.


Gadis itu mengerutkan keningnya bingung, "akting buat apa coba?"


"Yang pasti lo harus bisa romantis, gue mau buat dia menyesal udah buat gue dipaksa nikah untuk kedua kalinya," jelas Gean. Itu membuat Ladira hanya bisa mencerna perkataanya barusan.


Tangan Gean menggenggam lembut tangan Ladira yang masih memerah olehnya dan gadis itu, dia menatap dalam Ladira yang juga menatapnya. "Kalau lo masih marah karena kejadian waktu itu, gue minta maaf dan janji gak akan lewatin batas setelah ini, kecuali atas seizin lo Ra. Satu hal yang perlu lo tahu lagi, gue enggak akan pernah menyesal buat nikah secepat ini, asal sama lo. Gue Tulus..."


Beberapa kali Ladira mengerjapkan matanya, saat Gean juga membalas tatapannya dengan sorot mata yang terlihat begitu tulus. Jika boleh jujur, gadis itupun sedang merasakan hal yang sama seperti Gean. Tapi hatinya masih disemayamkan oleh sosok laki-laki yang selama ini menurutnya jauh lebih baik dan dekat dengannya, sahabat lama di mana orang itu menjadi temannya dalam susah maupun senang.


Rasa ingin menjaga dan melindungi semakin besar saat Ladira mulai mengenal apa itu rasa suka terhadap seseorang, dirinya sudah menyayangi Danael lebih dari seorang sahabat, rasa sayang yang sekarang berubah menjadi cinta.


Cemburu dan tidak rela saat orang yang dia cintai sedang bersama gadis lain, apalagi saat mendengar bawa orang tersebut sudah menjalin hubungan walaupun hanya sebatas pacar.


Itu yang Ladira rasakan saat ini.


Dia ingin juga berkesempatan untuk menjadi bagian di dalam hati Danael, saat laki-laki itu sendiri.


Bukannya Ladira memanfaatkan kesempatan disaat Danael dan Naira putus, tapi jika takdir menginginkan, maka mereka akan bersatu walaupun Ladira sudah memiliki hubungan yang jauh dari sebatas pacar, dengan laki-laki yang sejak lama ternyata sudah menyukainya sejak kecil.


...***...


...See You Next Time....😉...


...Tebak apa arti kalimat terakhir cerita ini...?...

__ADS_1


__ADS_2