
Kemudian Ale berjalan lebih dulu sambil diliputi rasa marah, tanpa sadar dia berjalan sangat kencang hingga teman nya tidak bisa mengikuti.
"Aleee. " teriak Chia,
Le Le Le Le gema terdengar.
"Kok Ale gak ada suaranya ya. " kata Reza.
Yang pernah naik gunung yang sepi dan lebar pasti tau gimana serem nya gema suara kita.
" Lari yok, kejar Ale jangan biarin sendirian. " kata Reza panik.
Kemudian mereka bertiga jalan agak cepat.
Sedangkan Ale yang berjalan dalam keadaan emosi di berjalan sangat cepat tanpa sadar dan hilang dari rombongan.
...****...
Ale POV
Aku kenapa bisa marah ya karena bercandaan temen temen seperti biasa. Aku kenapa ya?
Ya kata kata itu memenuhi kepala ku sambil berjalan terlebih dahulu. aku hanya ingin menetralkan emosi ku yang berlebihan ini.
Aku sendiri juga bingung apa yang terjadi? kenapa aku begitu sentimentil, kemarin saja di goda i lebih dari ini aku biasa saja.
Apa karena aku sedang haid ya. Tau ah. mending di depan biar gak digodai.
Kok jalan nya aneh gini ya. kok pohon- pohon mulai habis. Dan aku balikkan tubuh ku.
Betapa terkejut nya aku bahwa ketiga teman ku tidak terlihat oleh mata ku.
"Chiaaaaa." teriak ku.
a a a a a suara gema menyahut.
"Rezaaaaaaaa." teriak ku lagi karena aku mulai ketakutan.
za za za za suara gema kembali menyahut.
"Kendra jangan becandaaaaa, " teriak ku lagi semakin ketakutan.
da da da da suara gema kembali menjawab teriakan Ale.
"Hiks. ma. Mama maafin Ale. " kata Ale terduduk di pohon terakhir sebelum hamparan sabana yang luas di depan sana.
Aku begitu ketakutan hingga aku menangis. Apa aku hilang? Apa aku di dunia lain? Hingga temanku tidak melihat ku? Aku harus bagaimana.
Kemudian aku berjalan terus semakin terus masuk ke dalam sabana itu. terus berjalan memasukin padang sabana yang luas.
Semakin melangkah, semakin aku ketakutan. Semakin jauh semakin sabana hilang digantikan tanah abu tandus. Setelah cukup jauh berjalan aku diam dan teringat dengan cerita ayah ku saat pertama kali dulu aku mendaki bersama mapala.
#Flashback
__ADS_1
Sore itu, Ayah mama dan adikku tengah duduk di teras depan rumah. Tumben ayah ku duduk didepan, biasanya dia akan sibuk ke hewan peliharaan nya atau apalah.
Kemudian aku mendekat dan melihat suasana hati ayah dan mama sedang sangat bagus, aku beranikan diri meminta izin untuk pergi mendaki,
"Yah, ma. "
"Apa sayang, sini duduk. " jawab ayah ku.
aku menolah duduk di sebelah nya. aku duduk di bawah di depan mereka, ayah dan ibuku.
"Yah, ma. Kakak bulan depan tanggal 7 ke Jawa Timur boleh?, " tanya ku.
"Ngapain nak ke sana?, " tanya mama penasaran.
"Ma, aku kan ikut mapala, bulan depan ada event ke gunung Lawu ma. Kan dulu aku sering main ke lereng gunung Lawu kan ma. jadi gak papa ya?, " kata ku.
Iya rumah nenek ku dari ibu ku ada di sana, di Jawa Tengah di lereng gunung Lawu. Setelah menikah dengan ayahku, mama ikut ke Jakarta.
"Iya, tapi gak mendaki nya nak, terlalu berbahaya. " kata mama.
"Apa kamu sangat menyukai naik gunung?, " tanya ayah.
"Iya yah, kakak udah nabung buat bisa pergi ke sana, kalau kalau ayah sama mama gak izin in. " kata ku.
Karena kelembutan ayah, membuat ku tak mampu membohonginya. Selalu seperti itu. Ah ayahku memang terbaik dan tersabar sepanjang masa.
"Berarti udah ada niat berangkat tanpa ijin kalau tidak di ijin kan?, " kata ayah.
"Awalnya iya ayah, tapi gak jadi. " kata ku murung.
"Serius ayah, Aaaaa ayah terbaik. " jawab ku senang sambil memeluk ayah ku.
"Sayang, tapi ingat. di gunung banyak sekali pantangan yang harus kamu lakukan. Jangan melakukan hal terlarang, jangan membuat kerusakan, jangan berbicara kotor, gak berbicara seenaknya, banyak yang hilang dan tidak kembali nak dari gunung Lawu. " kata Ayah.
"Lalu ayah, ceritakan padaku agar aku ber hati hati. " kataku.
"Disetiap gunung punya pasar setan nak, Kalau di Lawu ada pasar Dieng namanya. Itu pasarnya bangsa ghaib. Di sana konon kata nenek ada banyak yang bertransaksi tapi tidak terlihat oleh kita. ditengah tengah nya ada batu kerikil yang bertumpuk sampai setinggi 2 meter tanpa bisa jatuh. bayangin sama kamu tinggian krikil kecil kecil yang bertumpuk banyak sekali itu" kata ayah.
"Jika kamu salah dan ternyata melintas pasar Dieng, diam lah dan jangan berpikir macam macam, segera menjauh. " kata ayah.
"Tapi tidak semua melihat batu yang bertumpuk itu. " sahut mama.
"Apakah mama pernah kesana. " tanya ku.
"Itu tempat keramat kalau di desa mama dulu, jadi mana mungkin mama boleh kesana. " kata mama
"Kakak akan inget pesan ayah dan mama. " kata ku.
"Sayang, olahraga lebih rajin dari sekarang. Paling tidak jalan 2 kilo per hari kalau mau kesana. minta barengin Windu sana. " kata Ayah.
"Kok ayah tau, kata guru kakak juga suruh jalan setiap hari. " kata ku.
"Tentu tahu, ayah dulu juga suka ndaki waktu muda. Makanya ketemu mama mu. " jawab mama sambil tersenyum.
__ADS_1
"Iya iya yang bucin. Yaudah kakak mau mandi ma, yah."
#flashback off.
Ayah maafin kakak, mama maafin kakak. Kakak tadi salah bicara apa ya? . Kakak tadi salah bertindak apa ya?
Aku berkata dalam hati sambil beristighfar sambil melangkah mundur kembali ke jalan ku tadi. Kemudian aku berbalik dan jalan biasa menuju arah datang ku.
"Astaghfirullah. Ya Allah hanya pada-Mu tempat ku berlindung. " gumam ku.
Sambil terus berjalan sambil terus beristighfar. sampai semakin jauh semakin jauh lagi aku terus melangkah.
Aku melihat pohon tempat aku duduk sebentar tadi dan menghampiri pohon terakhir itu.
Aku duduk di pohon itu, sambil beristighfar memejamkan mata, sambil menangis.
"Hiks. Hiks. Hiks. Maaaa. hiks. Yah ayah, maafin kakak. " kata ku.
Aku terus beristighfar dan menangis di pohon terakhir itu. Entah aku tidak tau berapa lama. Yang jelas waktu sudah hampir gelap.
"Aleeee." aku mendengar suara Reza berteriak.
Tiba tiba aku mendengar suara Reza berteriak.
Aku senang dan bahagia, tapi aku tak berani membuka mata, takut takut kalau itu cuma halusinasi.
"Rezaaaaaa aku disini. " teriak ku.
"Le. tunggu disitu leeee. " teriak Reza dan lamat lamat ku dengar langkah kaki.
Aku takut membuka mata ku. Aku takut jika itu bukan Reza teman ku.
"Le buka mata mu. " kata Reza menggoyang- goyangkan tubuh ku.
Aku pun membuka mata dan melihat Reza, saking senangnya aku memeluk Reza.
"Aaaaa. Hiks. Hiks. Gue takut. Jangan tinggalin gue. " kata ku.
"Lo yang ninggalin. "
.
.
.
.
.
Ngadi ngadi si Ale, dia yang ninggalin juga ya. malah bilang Reza yang ninggalin. wkwkw
Happy reading semuanya,
__ADS_1
semoga suka dengan goresan tangan mak ya, yang ingin menghibur kalian.
😊