
"Assalamualaikum te! " sapa Windu setelah mengetuk pintu.
"Waalaikumsalam Ndu, Masuk nak ada apa? " tanya ibu nya Ale.
"Ale nya ada? "
"Ada di dalam kamar, masuk aja! " kata mama Ale.
Windu pun berjalan menuju pintu kamar Ale dan langsung membuka pintu nya.
Windu melihat Ale tengah sholah di sebelah ranjang nya dan membuka pintu lebar menuju ranjang Ale dan duduk di ranjang Ale sambil memainkan ponsel Ale.
"Ndu, mau tante ambilin makan? " tanya mama Ale.
"Boleh te kalau gak ngrepotin, hehe belum makan Ndu tadi! " jawab Windu selengekan.
"Dasar, bentar ya! " kaya mama Ale sambil terkekeh melihat kelakuan Windu.
Memang sudah biasa Windu masuk di kamar Ale tanpa ijin dan sudah biasa makan di rumah Ale dari kecil. Kalau di rumah nya kosong dia selalu ke rumah Ale dan minta makan di dapur.
Biasanya Windu akan langsung ke dapur dan mengambil sendiri karena tadi seperti mau bicara penting dengan Ale dan dirasa Ale aneh setelah pulang dari Surabaya bersama Windu tadi pagi mama nya Ale yang membawakan makan ke kamar Ale. Kebetulan Ale pun belum makan dari tadi.
Setelah salam Ale melihat Windu dengan sinis.
"Dasar lo ya, bisa gak masuk kamar cewek ketik pintu dulu! " kata Ale sinis.
"Hehe, Udah kebiasaan! "
"Gimana kalau gue ganti baju! " pekik Ale sambil berdiri dan memukul sajadah nya pelan pada lengan Windu.
"Gak mungkin Le, Lo akan ganti baju di kamar mandi. Gue hafal elo! " jawab Windu santai sambil terkekeh.
Ale hanya cemberut dan menggantung kan mukena nya di gantungan baju.
"Ngapain lo liat HP gue! " kata Ale sambil berjalan menuju Windu.
"Mau ngecek!"
"Udah kayak di sidak pacar aja gue! " jawab Ale sambil duduk di depan Windu.
Sebenarnya Ale tau apa tujuan Windu datang dan Ale sangat takut. Ale takut akan kehilangan Windu lagi dan akan ada salah paham lagi. Tapi hati Ale juga gamang dengan Danish.
__ADS_1
Setelah kembali bersama, Ale berfikir akan seperti semula rasanya. Nyatanya memang berbeda,memang benar memafkan mungkin saja tapi hati yang sudah retak tidak akan pernah kembali seperti semula.
Akan berbeda pantulan nya, begitupun hati Ale yang sudah retak dan hancur. Memaafkan cara Ale berdamai dengan rasa sakit nya penghianatan tapi nyatanya perasaan nya tak lagi sama.
Ale menjadi gamang dan jauh lebih takut kehilangan sahabat nya ini.
"Hahaha. Kayak udah punya pacar aja lo, eh iya udah deng! kan udah baikan! " jawab Windu sedikit sinis.
Windu memang tak se marah kemarin tapi nyatanya, emosi, kesal dan benci dengan perilaku Danish masih bercokol di hati nya.
"Ish. Siapa yang pacaran! " pekik Ale merespon ucapan Windu.
"Siapa yang pacaran? " kata mama Ale tiba- tiba membawa nampan makan untuk Ale dan Windu.
"Kenapa bawa kesini ma makan nya? " tanya Ale sambil berdiri dan menata meja lipat nya di karpet yang tadi untuk Ale sholat.
Mama meletakkan makanan itu di meja lipat yang sudah Ale buka dan tata.
"Hayoo siapa yang pacaran? inget janji kamu sama ayah Le! " peringatan mama mulai turun.
"Iya ma, Ale gak pacaran. Windu aja yang asal bicara!" pekik Ale.
"Ya udah ngobrol nya sambil makan! " kata mama kemudian keluar kamar.
Ayah sering menitipkan Ale pada Windu. Karena Ayah tau semua kelakuan dan pribadi Windu.
"Elo sih. Bacot banget dah! " gerutu Ale.
"Lah gue kan ngomong yang sebenernya, apa bener Le?" tanya Windu.
"Bener apaan! " kata Ale menghindar.
"Elo baikan sama Danish, dan melanjutkan hubungan kalian? " tanya Windu mode serius sambil meletakkan sendok yang bahkan belum digunakan untuk menyendok makanan.
"Makan dulu, kasian rendang mama kamu cuekin, sambe ijo nya enak banget ini pasti, hmm! " kata Ale mengalihkan pembicaraan.
"Elo takut kehilangan gue, Lo takut gue marah. Tapi lo gak bisa menghentikan hati lo. Haha lucu banget sih sahabat gue ini. Gpp le hati lo emang harus bener- bener sakit untuk bisa pergi jauh, sejauh mungkin! " batin Windu sambil mengambil sendok nya dan menyuapkan makanan ke mulut nya.
"Masakan tante emang paling juara! " pekik Windu dari dalam kamar hingga semua yang di ruang tamu kedengeran.
"Kalau nambah ambil di belakang sendiri Ndu! " jawab Ayah Ale.
__ADS_1
"Siap om! " jawab Windu lagi.
Begitu dekat nya Windu dengan Ale dan keluarga nya hingga kadang membuat Danish iri. Keluarga Ale yang sejujurnya sangat hangat dan bahagia membuat Windu sangat betah di rumah Ale dari kecil.
"Lo boleh cerita sambil ngunyah, gue akan dengerin hati- hati dan mencoba melihat dari sudut pandang lo Le, walaupun sebenarnya tidak ada di otakku untuk memaafkan laki laki macan dia! " kata Windu pelan sambil mengunyah nasi rendang nya.
"Hmmm. Jujur gue gak tau! " jawab Ale singkat sambil menundukkan kepala.
"Kenapa menunduk. Lo salah memang tapi gak harus menunduk, Lo salah karna membiarkan lo masuk ke lubang yang sama di kemudian hari. Akupun memaafkan Danish Le, tapi untuk bisa sahabat an lagi aku gak bisa. Kita beda jalan. Karna aku yakin jika rasa nya pun tidak akan sama seperti sebelum ada masalah ini! " jawab Windu pelan.
Ale perlahan mengangkat kepala nya dan menatap Windu.
"Gue percaya sama lo. Lo bisa cerita! " kata Windu lirih.
"Gue! " kata Ale tertahan tak mampu lagi meneruskan.
"Gue percaya lo, gue yakin lo kuat! " kata Windu lagi.
Ale mulai berkaca-kaca mendengar ucapan sahabat nya itu. Ale yang menahan hati sekuat tenaga saat pertama mendengar suara Windu masuk kanar nya tak lagi menahan hati nya.
"Lihatlah Le, Lo masih gadis normal seperti layaknya gadis oada umum nya. Lo butuh kepercayaan dan keyakinan dari orang lain. Lo butuh di yakinkan. Semoga lo tidak jatuh semakin dalam dari yang sekarang! " batin Windu.
"Hiks. Gue gak tau sama hati gue Ndu! " lirih Ake sambil berlinang air mata.
Windu hanya melihat tanpa berkomentar dengan apa yang diucapkan Ale.
"Gue gak tau, kenapa gue mau merendahkan harga diri gue, prinsip gue, dan Ego gue yang tinggi buat mempertahankan dia. Hiks! "
Windu masih diam di tempat sambil menatap Ale.
"Gue gak tau Ndu. Hiks. yang gue tau! " kata Ale dengan linangan air mata dan tersendat.
"Yang gue tau, Gue cinta sama Danish Ndu. Hiks! "
.
.
.
.
__ADS_1
.
Happy reading semuanya 😊