
Windu masih diam di tempat sambil menatap Ale.
"Gue gak tau Ndu. Hiks. yang gue tau! " kata Ale dengan linangan air mata dan tersendat.
"Yang gue tau, Gue cinta sama Danish Ndu. Hiks! " kata Ale sambil tersengal.
Ale begitu sakit mengatakan itu, dia benar- benar menghancurkan diri sendiri demi cinta yang salah itu. Cinta yang Ale tahu bukan Allah ujung dari pencarian.
"Lalu kenapa Lo nangis Le. Kalau lo suka dan cinta, gue gak akan nyuruh lo nyakitin hati lo" kata Windu pelan kembali menyuapkan nasi di mulut nya.
"Lo gak marah sama gue? " tanya Ale menyakinkan.
"Kenapa gue harus marah, lo yang rasain lo yang jalanin, gue sebagai sahabat udah ngasih tau kebenaran sama lo! " kata Windu sambil tersenyum.
Beda dengan Ale justru senyum Windu membuatnya sakit. Senyum itu justru membuat Ale berfikir jika pilihan nya memang telah salah. Memberi maaf dan memohon agar tidak pergi adalah kesalahan yang dilakukan nya.
"Maafin gue Ndu. Gue minta lo buat temenin gue buat hadapi Danish malah gue yang balik dengan sendiri nya ke dia! " kata Ale sambil tersedu- sedu.
"oke Le. Gak papa. Selama lo bahagia. Ingat Le, lo harus bahagia walaupun ada atau tanpa Danish. Buat gue lo bahagia udah cukup! " kata Windu sambil mengelus tangan Ale.
"Hiks. Maaf ya Ndu. Please jangan marah! " kata Ale takut.
"Hus. Nanti ayah sama mama denger. gue gak akan marah. tuk lanjutin makan nya! " kaya Windu.
Windu kemudian memasukan suapan besar pada mulut Ale dan Ale mau tak mau memakannya dengan mulut penuh.
"Xixiixixix" Kekeh Windu saat melihat Ale begitu penurut dan sangat tulus jika dia begitu takut Windu marah lagi.
Windu mengelap air mata Ale dan terus menutup mulut nya dengan nasi bertubi- tubi hingga susah bicara.
"Gue sayang sama lo Le, gue hanya bisa berdoa yang terbaik untuk lo. Sebagai sahabat gue sudah kasih tau dan memberi bukti semampu ku. Keputusan tetap ada pada tangan mu. Jika kembali membuat hati mu nyaman. Aku akan mendukung mu, tapi jangan suruh aku kembali seperti dulu dengan Danish. Karena rasa dan persahabatan aku dan Danish telah tinggal cerita. Semoga kau selalu bahagia Le! " kata Windu.
"Hiks Hiks Hiks Gue tau lo sayang banget sama gue, dan gue sayang banget sama lo. Gue juga benci hati gue Ndu! " kata Ale sambil terus terisak.
"Gue pulang kalo lo nangis terus ya Le! " kata Windu karena Ale semakin terisak.
"Iya Hiks Iya gue berhenti! " kata Ale sambil menyusut hidung dan pipi nya.
Mereka pun kembali menikmati makanan nya.
"Ya udah gue pulang ya Le. Takut ada yang marah kalau kelamaan di kamar cewek! " canda Windu.
"Siapa? Anis? " tanya Ale.
__ADS_1
"Ya Danish lah siapa lagi! " kata Windu sambil berdiri.
"Ish gak kali! "
"Orang dari tadi hubungi lo terus gitu! "
"Aih. Gue mau tidur. Bilang ke mama kalau gue ketiduran ya. Malu mata gue se gede gajah gini! " kata Ale.
"Lagian Lo sih, udah tua masih aja cengeng! " kata Windu sambil berjalan menuju pintu Ale.
Ale pun naik ke ranjang nya dan masuk ke dalam selimut nya, sambil mencebikkan bibirnya menanggapi perkataan Windu.
Ceklek suara pintu di tutup oleh Windu.
Kemudian Ale mendengar suara mama dan ayah nya bertanya pada Windu.
"Loh, sudah mau pulang Ndu? " tanya Ayah.
"Iya om. Udah malam juga! " jawab Windu.
"Loh, kenapa piring Ale kamu juga yang bawa Ndu? " tanya dan terdengar langkah kaki.
"Ale ketiduran te, jadilah Windu aja yang beresin! "
"Dasar memang si Ale, sini tante aja yang taruh belakang! "
"ahahahaha, kamu ini selalu saja memuji masakan tante, masakan mama kamu jauh lebih enak! " jawab mama sambil terkekeh.
"Ish. Tante kan tau kalau Ndu jarang di masakin mama. Windu makannya sellau disini hehe! " kekeh Windu kemudian pamit untuk pulang.
Windu pun pulang ke rumah nya.
Ale meraih ponsel nya yang di lempar Windu di ranjang tadi. Kemudian membuka nya. Dilihat nya ada 13 panggilan tak terjawab dari Danish dan 11 pesan masuk.
Ale ingin menelpon balik Danish tapi terdengar suara pintu nya di buka, kemudian Ale pura-pura tidur.
Mama masuk ke dalam kamar Ale dan duduk di sebelah Ale.
"Putri mama sudah besar, jadilah gadis yang bahagia anakku, gadis sholehah yang menjadi alasan ayah dan ibunya masuk surga juga suami mu kelak! " kata mama Ale sambil mengusap rambut Ale.
Kemudian mama bergegas keluar kamar setelah mengecup dahi Ale.
Ale membuka mata setelah kamarnya kembali di pacaran dan sayup sayup terdengar suara ayah nya menanyakan nya pada sang mama.
__ADS_1
Air mata Ale kembali luruh, entah kenapa rasa w bersalah semakin bersarang di hati nya. Memang dia tidak mengingkari janji dengan berpacaran, tapi dia meminta laki laki untuk terus bersama nya, memberi maaf untuk kesalahan nya. Laki-laki laki yang dengan jelas dan sangat jelas adalah laki - laki yang tidak baik, tapi Ale berharap bisa berubah lebih baik karenanya.
"Apa gue bisa di katakan pacaran sekarang dengan Danish? Apa gue udah ingkar janji dengan ayah? apalagi laki laki itu jelas bukan yang terbaik?" lirih Ale.
Ale melupakan niat awalnya untuk menelpon balik Danish dan Ale tertidur karena tangis bersalah nya pada sang ayah dan mama.
Pagi itu Ale bangun dan bersiap ke sekolah karena jadwal cap tiga jari.
Setelah bersiap dan menghubungi Anis, Ale menunggu di depan rumah. Anis pun sampai bersamaan dengan Windu keluar dari pagar nya. Mobil Danish berhenti di dekat Ale dan Anis.
"Selamat pagi para bidadari cantik! " sapa Windu.
"His, dasar bilang aja " selamat pagi Anis ku yang cantik" gitu aja malu! " ejek Ale.
Anis tersipu dengan pipi seperti kepiting rebus.
"Ih. Tau aja lo Le! "
"Apaan sih kalian. Sana berangkat lo Ndu! " pekik Anish salah tingkah.
"Kenapa lo salting gini Nis? kayaknya cinta lo gak akan tertolak Ndu" goda Ale.
"Aleeee! " pekik Anis.
Windu hanya tersenyum lucu melihat Anis salting dengan pipi merona nya itu. Tatapan Windu semakin membuat Anis malu.
"Pergi sana lo Ndu! " cemberut Anis.
"Nanti kangen kalau gue berangkat sekarang! " goda Windu.
"Ih geli banget! " gumam Ale.
"Tau ih, malu malu ini lo Ndu! " kata Anis.
.
.
.
.
Maafin mak ya baru bisa Update,
__ADS_1
Lagi sibuk RL banget.
Happy reading semuanya