
"Kapan terakhir kali kamu bahagia"
"Apakah kamu punya telinga yang selalu mendengar keluh kesahmu"
"Kapan terakhir kali kamu mendapatkan pelukan"
"Kenapa artikel selalu tercantum kata-kata seperti ini sih" Ucap Bagaskara membaca artikel yang update hari ini.
"Sekarang banyak orang yang bunuh diri karena selalu ada dalam tekanan bos, dia mau curhat tapi sama siapa. Dipendam sendiri tapi rasanya ingin meledak" Ucap Ken pada Bagaskara.
"Kok loe tau" Tanya Bagaskara ke Ken sopir pribadi Bagaskara.
"Sebelum bekerja sama bos saya korban perceraian orang tua saya, dimana saya harus bertahan sendiri tanpa kasih sayang mereka. Kerasnya dunia tanpa dampingan orang dewasa sekejam itu bos, dipaksa dewasa sebelum waktunya" Ucap Ken tersenyum pahit.
"Tapi dengan saya bekerja buat bos saya jadi tau kemana emosi saya bisa saya salurkan, terima kasih ya bos telah menyelamatkan saya dari dunia yang menakutkan ini" Sambung Ken.
"Bukannya masuk ke sini lebih menakutkan" Ucap Bagaskara tertawa kecil.
"Gak semenakutkan itu bos, lebih menakutkan dulu dimana saya tidak ada harapan untuk hidup lagi" Ucap Ken.
"Baguslah kalau begitu, gunakan amarahmu buat bekerja daripada terpendam tapi menyakitkan" Ucap Bagaskara dengan nada rendah karena teringat sesuatu.
...-FLASHBACK ON-...
BRUGGG PLAKKK PLAKKKK
"Papa, jangan pukuli mama lagi pah bagas mohon berhenti pah" Ucap Bagaskara kepada ayahnya yang terus-terusan memukuli mamanya.
"Diam kamu!!! Mama kamu disisi ayah cuma buat tempat sampah" Teriak papa ke bagaskara, Bagaskara lari dan berlindung dibelakang sofa.
"Emang harusnya kita gak punya anak biar gak ada yang belain kamu! Kamu malah diam-diam besarin anak kita. Kalian itu cuma beban tau gak" Teriak Papa sambil melanjutkan pukulan dan tendangan ke arah Mama.
__ADS_1
"Ampun mas, ampun!! Aku udah gak kuat lagi, tolong berhenti mas" Ucap Mama lirih dan akhirnya pingsan.
"Haahhhh.... Kamu tuh saya beli mahal dari orang tua kamu cuma jadi beban, ditambah punya anak malah nambah pengeluaran. Dasar sekumpulan manusia gak tau diri" Teriak Papa lalu pergi meninggalkan rumah.
"Mahh... Bangun mah. Papa udah pergi, mama bisa bangun sekarang. Mahh" Ucap Bagaskara menggoyang-goyang tubuh mamahnya agar bangun.
"Mah... Kok mama gak bangun? Biasanya mama cuma pura-pura pingsan. Mahh bangun" Ucap Bagaskara lalu lari keluar rumah untuk meminta bantuan.
Ciiittttttt suara rem mobil yang berhenti mendadak.
"Heh bocah loe mau mati ya" Teriak pemilik mobil pada Bagaskara.
"Om tolong mama saya om, dia gak bangun-bangun habis dipukuli papa. Tolong om " Ucap Bagaskara memohon kepada pemilik mobil untuk menolongnya.
"Oke om bakal bantu, dimana mama kamu sekarang" Tanya pemilik mobil.
"Sini om ikutin aku" Ucap Bagaskara memberi petunjuk arah, pemilik mobil itupun akhirnya mengikuti Bagaskara.
"Ya ampun mama kamu kenapa ini? Denyut nadinya lemah kita rumah sakit sekarang ya" Ucap Pemilik mobil lalu menggendong mama pergi ke rumah sakit.
"Sus tolong segera ditindak karena denyut nadinya sudah lemah" Ucap pemilik mobil.
"Baik pak akan kami tangani, silahkan tunggu diluar sebentar ya" Ucap suster.
"Baik sus" Ucap pemilik mobil menggandeng tangan Bagaskara untuk keluar.
"Mama kamu pasti baik-baik aja, kamu berdoa ya" Ucap Pemilik mobil sambil merangkulnya.
Tanpa di sadari Bagaskara dan penolong tadi, Papa Bagaskara masuk ke ruang UGD. Karena sebelumnya sudah memantau dari CCTV di rumah.
"Maaf pak, mohon keluar dulu pasien sedang kami tangani" Ucap Suster.
__ADS_1
"Melani ini aku, jangan tangani dia biar dia mati. Nanti kita bisa hidup bahagia tanpa ada penghalang" Ucap Papa Bagaskara menahan suster yang sebenarnya selingkuhannya.
"Ohh jadi ini istri kamu, oke mas aku akan memperlambat penanganan" Ucap melani yang bertugas sendiri karena penuh dengan pasien.
Tanpa di sadari Bagaskara diam-diam mengintip dari celah tirai yang menutupi, dan ternyata yang dia lihat adalah papanya jadi dia hanya memperhatikan dan tidak berani masuk.
"Aku gak sabar buat nikahin kamu mel, cewek ini hampir setiap hari aku siksa tapi gak mati-mati. Dan ini kesempatan kita" Ucap Papa bagaskara memeluk suster dari belakang.
"Iya mas, aku masih nungguin janji kamu buat nikahin aku. Dan ini waktunya" Ucap Suster melani sambil melepas oksigen yang terpasang.
Dengan melepas oksigen tersebut, Mama bagaskara kesulitan bernafas. Dengan kesadaran yang rendah mama bagaskara mencoba meraih alat oksigen tapi dipermainkan oleh suami dan selingkuhannya.
"Kamu mau ini? Sayang banget gue gak bakalan kasih. Loe harus mati secara perlahan ya" Ucap melani membisikki mama bagaskara.
"Aaakkk.....Aakkkk " Mama bagaskara makin lama sulit untuk bernafas.
Bagaskara yang melihatnya tidak bisa berbuat apa-apa karena jika ketahuan dia akan jadi target berikutnya. Makin lama mama bagaskara semakin lemah, perlahan demi perlahan kesadarannya menghilang bersamaan dengan detak jantungnya, Mama bagaskara pun dinyatakan meninggal dunia. Bagaskara menahan tangis sambil perlahan kembali ke ruang tunggu
"Akhirnya mati beban hidup gue selama ini hahahaha" Ucap Papa bagaskara tertawa kecil melihat istrinya sudah tidak bernafas.
"Udah kamu pergi ya, aku mau mulai aktimg" Ucap Melani, dan papa bagaskara hanya mengangguk dan pergi perlahan, Melani menghampiri bagaskara di ruang tunggu.
"Gimana sus? Baik-baik saja kan sus" Tanya penolong untuk memastikan.
"Maaf pak, pasien tidak bisa kami selamatkan dan dipastikan pasien meninggal pak" Ucap melani.
"Mamaaaa.....Mammaaaaa " Teriak Bagaskara menangis sejadi-jadinya.
"Yang sabar ya nak " Ucap penolong tadi sambil memeluk Bagaskara dan menenangkannya.
"Adek bisa ketemu dulu ya sama mama, karena akan kami makamkan dengan protokol lengkap karena sedang ada virus yang mematikan" Ucap melani, Bagaskara tetap menangis dan mengikuti melani.
__ADS_1
"Suster tinggal dulu ya" Ucap melani meninggalkan Bagaskara.
"Maaa, maafin bagas yaa, bagas gak bisa nolongin mama. Tapi bagas akan pastikan buat membalas perlakuan mereka terhadap mama. Bagas akan tumbuh besar buat lihat kehancuran papa ditangan bagaskara sendiri. Bagaskara janji''