
''Kita cuma figuran ya om disini.'' Ucap Erick sedikit sewot.
''Nak Erick jangan mau kalah dong.'' Ucap papa yeri memprovokasi.
''Iyaa om tenang aja, om pasti dukung Erick kan.'' Ucap Erick percaya diri.
''Om dukung siapa aja yang dipilih Yeri aja, om gak bisa mutusin apa-apa karena pilihan Yeri pasti yang terbaik buat dia.'' Ucap papa yeri menjelaskan kenapa dirinya tidak mendukung siapa-siapa.
''Bener sih om, tapi daripada si Aldo Erick lebih dukung Bagaskara. Tapi kalau Erick yang dipilih ya dengan senang hati gak akan nolak.'' Ucap Erick agak becanda.
''Udah jangan ngomong terus, Yeri mau istirahat kita pulang aja yuk.'' Ajak Bagaskara.
''Gue nginep disini aja deh.'' Ucap Erick menolak ajakan Bagaskara untuk segera pulang.
''Biarin om aja yang jagain nak Erick, kamu bisa pulang. Kalau disini om jadi merasa ngerepotin.'' Ucap papa yeri menolak secara halus.
''Tuhkan lagipula nanti Yeri ngerasa terganggu kalau loe disini. Yeri, nanti gue hubungi loe ya.'' Ucap Bagaskara sambil tersenyum.
''Dah Yeri cepat sembuh ya, gue pergi dulu.'' Ucap Erick terburu-buru karena dirinya didorong oleh Bagaskara agar secepatnya pergi.
Akhirnya Bagaskara dan Erick pergi menggunakan motornya masing-masing. Tetapi ditengah jalan Erick menghentikan Bagaskara karena ingin menanyakan sesuatu.
''Kenapa lagi rick.'' Tanya Bagaskara sambil membuka helm.
''Aldo kenapa gak terus terang ya kalau dia kakak dari clara.'' Ucap Erick bertanya-tanya.
''Karena dia bos yang sebenarnya, makanya identitas dia sangat dirahasiakan. Kalau bukan Calvin yang pergi dari sini kita gak tau kalau ternyata dia dibalik ini semua.'' Ucap Bagaskara sambil menyalakan rokoknya.
''Kesehatan loe udah bener-bener pulih? Kurangi lah rokoknya.'' Ucap Erick perhatian.
''Gue cuma hisap sedikit aja.'' Ucap Bagaskara membuang rokok yang baru 3 kali dihisap.
''Loe lagi banyak pikiran ya.'' Tanya Erick kepo.
''Gue lupa mau pergi beli air minum buat di markas latihan.'' Ucap Bagaskara mengingatkan bahwa dia seharusnya membeli air minum.
''Kok harus loe? Bukannya ada anak buah loe yang beli.'' Tanya Erick penasaran kenapa harus seorang bos yang beli sendiri.
''Gue gak percaya sama mereka, hampir aja mereka mati karena air minumnya sudah diracun. Dasar orang-orang yang gak waspada.'' Ucap Bagaskara kesal.
''Wah bahaya ya kalau sampai ada orang yang bisa masuk buat meracuni mereka. Apa Aldo udah tau markas latihan.'' Ucap Erick bertanya.
__ADS_1
''Markas latihan memang gak seaman itu, karena hanya buat latihan tim. Bisa aja anak buahnya ngikutin salah satu anggota tim waktu datang buat latihan.'' Ucap Bagaskara hanya memperkirakan.
''Berarti untuk sekarang loe jangan kesana dulu. Takutnya mereka tau kalau loe bosnya.'' Ucap Erick khawatir.
''Tenang aja gue udah tau apa yang harus gue lakuin.'' Ucap Bagaskara tersenyum.
''Emangnya apa yang mau loe lakuin.'' Tanya Erick penasaran.
''Adalah pokoknya, ini masalah internal perusahaan gue loe gak usah ikutan pusing mikirinya. Gue duluan ya.'' Ucap Bagaskara langsung memasang helmnya lagi dan tancap gas dengan kencangnya.
''Hal apa yang mau dia lakuin, bener-bener dia orang yang tertutup.'' Ucap Erick memikirkan apa yang akan dilakukan Bagaskara selanjutnya.
...****************...
......................
7 Bulan kemudian, semua berlalu dengan persaingan sengit antar Aldo dan Bagaskara. Walaupun tim Bagaskara lebih unggul dalam segala hal, tapi Aldo tidak pernah kehabisan akal untuk menjatuhkan pesaingnya yang diapun tidak tau siapa bos dibalik itu.
Begitupun perjuangan Calvin yang harus berjuang melawan rasa rindu yang terus mengganggu setiap pekerjaannya.
...°London°...
''Gimana Vin, loe betah kan disini.'' Ucap Roy.
''Kamu kenapa sih? Apa kamu meninggalkan orang yang spesial di Indonesia? Om udah kasih kamu sekertaris dan pegawai yang cantik-cantik, tapi sepertinya kamu gak tertarik sama sekali.'' Ucap Roy bertanya-tanya kenapa Calvin tidak bisa melirik wanita yang ada di kantor.
''Iya om, Calvin punya pasangan disana. Calvin bener-bener pengen banget denger kabar dia bagaimana. Tapi mudah-mudahan dia baik-baik aja, karena Calvin udah nyuruh papa buat jagain dia.'' Ucap Calvin dengan harapannya.
''Baru tau kak Birawa bisa berkomitmen untuk menjaga seseorang yang tidak menguntungkan baginya.'' Ucap Roy memancing emosi Calvin.
''Maksud om apa? Papa pasti memenuhi permintaan Calvin karena itu syarat agar Calvin mau ke sini.'' Ucap Calvin menyanggah pendapat Roy.
''Ya mungkin aja dia sudah berubah, syukurlah kalau dia ada peningkatan.'' Ucap Roy tak mau berdebat dengan Calvin.
''Kenapa perkataan om Roy buat gue jadi ragu kalau papa bener-bener menjaga Yura dengan baik.'' Batin Calvin, Roy akhirnya keluar dari ruangan Calvin dan bertemu dengan sekertaris Calvin yang cantik.
''Camilla, kamu kerja dengan baik ya. Kalau perlu cepat buat bos kamu jatuh cinta itu kan memang tugas kamu dari tuan birawa.'' Ucap Roy kepada Camilla yang hendak masuk ke ruangan Calvin.
...Camilla sekertaris Calvin...
__ADS_1
''Baik om Roy, tapi aku gak mau memaksa dia untuk langsung jatuh cinta. Aku akan buat dia melihat aku mirip seperti kekasihnya. Itu akan perlahan membuat dia jatuh cinta.'' Ucap Camilla dengan percaya diri.
''Bagus, pakai cara apapun yang terpenting misi dari tuan Birawa berhasil. Semangat ya milla.'' Ucap Roy menyemangati Camilla yang akan berusaha untuk mengambil hati Calvin.
''Iya om, Camilla masuk dulu yaa.'' Ucap Camilla masuk ke ruangan Calvin dan Roy pun pergi untuk melihat kinerja pegawai.
''Permisi pak Calvin, ini laporan yang bapak ingin lihat tadi.'' Ucap Camilla lemah lembut sambil memberikan data ke Calvin. Tapi karena Calvin yang tidak melihat mejanya ada kopi panas, dia menumpahkan kopi yang panas dan terkena tangan Camilla.
''Ahhh panas.'' Teriak Camilla yang tangannya terkena kopi panas.
''Camilla, maaf saya tidak melihat kalau ada kopi disitu. Sini luka terkena air panas harus segera kena air mengalir biar gak membekas.'' Ucap Calvin sambil menggandeng Camilla menuju wastafel di kantornya dan segera menyiramnya dengan hati-hati.
''Awhh... pelan-pelan pak.'' Ucap Camilla kesakitan, Calvin yang menyadari bahwa dia memegang tangannya lalu melepaskan.
''Kamu siram sampai rasa panasnya hilang ya, saya ambilkan salep dulu.'' Ucap Calvin gugup dan pergi mengambil salep yang ada di ruangan lain.
''Andai kalau kamu gak punya wanita lain, perjodohan kita pasti sudah berlangsung vin.'' Ucap Camilla perlahan sambil melihat Calvin yang berjalan keluar ruangan.
Setelah dirasa sudah tidak panas, Camilla kembali ke ruang kerja Calvin dan perlahan mengelap tangannya dengan tisu. Tak lama Calvin datang membawakan salep dan perawatan lainnya.
''Sini saya obati.'' Ucap Calvin.
''Biar saya sendiri aja pak.'' Ucap Camilla menolak, tetapi Calvin tetap ingin mengobati luka pada tangan Camilla.
''Gakpapa ini salah saya jadi saya harus menebusnya.'' Ucap Calvin memegang tangan Camilla dan mengoleskan salep yang ia bawa.
''Sekali lagi maaf ya, lain kali saya harus lebih hati-hati lagi.'' Ucap Calvin yang sedang fokus mengoleskan salep ke tangan Camilla. Camilla terlihat senang dan detak jantungnya berdegup kencang karena Calvin memperlakukannya dengan lembut.
''Iya pak, namanya kecelakaan jadi gak ada yang tau.'' Ucap Camilla meringis menahan rasa sakit.
''Semoga aja gak melepuh ya, kamu juga harus rajin ganti perban dan olesin salep biar gak membekas.'' Ucap Calvin selesai memperban luka Camilla. Tetapi Calvin terdiam karena melihat cat kuku yang dipakai Camilla, karena mengingat Yura yang sangat suka sekali dengan warna yang sedang dipakai Camilla di kukunya.
''Pak Calvin? udah selesaikan.'' Tanya Camilla karena Calvin melamun.
''Ohh udah, cat kuku kamu bagus.'' Ucap Calvin memuji.
''Hehehe makasih pak ini warna favorit saya, jadi lebih suka karena memang banyak yang bilang bagus.'' Ucap Camilla sambil mengusap kuku tangannya.
''Iyaa, inget ya apa kata saya tadi harus sering kasih salep dan ganti perban.'' Ucap Calvin mengulangi ucapannya.
''Baik pak, saya kembali ke ruangan saya ya. Nanti kalau datanya ada yang kurang bisa panggil saya.'' Ucap Camilla langsung pergi keluar kembali ke ruangannya. Dan Calvin menjadi termenung.
__ADS_1
''Dia memang sedikit mirip seperti Yura, tingkah lakunya, kelembutannya, bahkan warna favoritnya. dah lah gue mikir apaan sih.'' Ucap Calvin menghalau berbagai macam yang ada dalam pikirannya.