
''Clara! loe gak pernah diposisi gue! Jadi jangan pernah hakimi gue seperti ini.'' Ucap Yura terus membela diri.
''Itulah sampah masyarakat, sebelum loe diadili di akhirat loe akan di adili didunia.'' Clara menyiramkan air panas ke tangan Yura.
''Ahhh sakit.'' Teriak Yura, bi Eka langsung menghampiri Yura untuk menolong.
Clara yang penuh dengan emosi hanya bisa menyaksikan Yura yang kesakitan karena terkena air panas.
''Itu belum seberapa, kalau sampai loe ngusik Erick atau keluarga gue bisa mati loe ditangan gue.'' Ancam Clara dan pergi keluar untuk menemui Yeri dan Bagaskara.
''Yuk non kita obati lukanya.'' Ajak bi Eka untuk mengobati luka bakar yang terkena tubuhnya.
''Padahal bekas dulu disiram nyonya masih belum hilang, ini ada luka lagi. Non Yura yang sabar ya.'' Ucap Bi Eka, Yura hanya menangis dan tak menghiraukan ucapan bi Eka.
...-Taman Villa-...
''Loe mau ngomong apa?" Tanya Bagaskara ke Yeri karena sedari tadi Yeri seperti menahan diri untuk bicara.
''Sebenarnya ada pertanyaan yang ingin gue tanyain ke loe gas.'' Ucap Yeri ragu.
''Tanya aja, kalau bisa gue jawab akan gue jawab.'' Bagaskara mematikan rokoknya dan duduk di sebelah Yeri.
''Kok loe deket-deket gue sih.'' Yeri menggeser duduknya agak menjauh dari Bagaskara.
''Hmmm,,, bilang aja loe mau tanya apa!" Ucap Bagaskara agak kecewa karena Yeri menjauh darinya.
''Gue menjauh karena gue gak suka bau rokok. Gue gak bisa hirup asap rokok, karena dulu papa perokok aktif gue yang kena sakit paru-paru karena asap rokok. Itu kenapa papa udah gak merokok lagi.'' Ucap Yeri menjelaskan agar Bagaskara tau alasannya kenapa menjauh.
''Ohh maaf ya, gue kira loe emang gak mau dideketin.'' Ucap Bagaskara agak menjauh dari Yeri.
''Kenapa loe deketin gue gas?" Tanya Yeri menatap Bagaskara.
''Ya karena gue suka sama loe." Jawab Bagaskara lantang tanpa ragu.
''Tapi kan loe pernah gue tolak.'' Ucap Yeri menunduk karena Bagaskara terus menatapnya.
''Hati kan bisa berubah, kalau gue masih mau berusaha bisa aja suatu hari loe buka hati buat gue.'' Bagaskara tersenyum.
''Tapi bukannya loe gengster. Awal pertemuan kita loe terlihat menakutkan, loe cuek bahkan tersenyum seperti itu aja gak pernah.'' Ucap Yeri memberanikan diri membicarakan sudut pandangnya tentang Bagaskara.
__ADS_1
''Ya awalnya memang gue gak pernah tertarik sama yang namanya wanita.'' Ucap Bagaskara menyenderkan tubuhnya di bangku taman.
''Maksudnya loe gay? Loe sama Erick berarti.'' Yeri terkejut dengan ucapan Bagaskara.
''Enggaklah! Dari awal kan gue bilang gue cowok normal.'' Bagaskara tersentak dengan pertanyaan Yeri.
''Hahaha, habisnya loe bilang gak tertarik sama wanita. Atau jangan-jangan loe trauma ya sama wanita.'' Yeri terkekeh melihat reaksi Bagaskara yang malu.
''Gue gak mau nyakitin wanita, gue takut nyakitin wanita.'' Ucap Bagaskara mengepalkan tangannya.
''Maaf ya loe jadi begitu, entah loe pernah punya trauma atau apapun yang menurut loe nyakitin. Loe bisa kapan aja cerita sama gue walaupun gak sekarang.'' Ucap Yeri memegang tangan Bagaskara untuk membuatnya tenang.
Bagaskara langsung memeluk yeri untuk lebih menenangkan diri. Yeri hanya bisa menepuk punggung Bagaskara untuk agar menjadi lebih baik. Tak lama Clara datang menghampiri dan mengacaukan pendekatan Bagaskara terhadap Yeri.
''Kalian udah jadian?" Tanya Clara tiba-tiba.
Bagaskara dan Yeri yang sedang berpelukan kaget mendengarnya dan melepaskan pelukannya.
''Ahh enggak kok ra.'' Jawab Yeri salah tingkah.
''Gue ke dalem dulu ya mau numpang ke toilet.'' Alasan Bagaskara untuk menghindari pertanyaan dari Clara dan langsung masuk ke villa.
''Beneran belum kok Ra, gue cuma nenangin Bagaskara karena gue agak menyinggung dia.'' Ucap Yeri sambil tersenyum kaku.
''Oke deh kalau belum mau cerita.'' Clara terlihat bete dan duduk di sebelah Yeri dan menyandarkan kepalanya di bahu Yeri.
''Loe udah ngobrol sama kak yura?" Tanya Yeri mengalihkan pembicaraan.
''Udah, dia gak ngerti dibilangin kalau Calvin pergi ke luar negeri. Dia bilang gue bohong, padahal gue ngomong gitu biar dia gak khawatir kenapa Calvin gak pernah kesini.'' Ucap Clara berbicara tak sesuai dengan apa yang dilakukannya kepada Yura.
''Pelan-pelan aja, namanya orang hamil pasti sensitif. Dia mungkin merasa dikhianati karena Calvin pergi begitu aja. Loe harus lebih baik memperlakukan kak Yura ya ra.'' Ucap Yeri menasehati Clara.
''Iya yeri.'' Jawab Clara singkat dan terlihat lelah.
''Jangan harap gue memperlakukan loe baik Yura!" Batin Clara berkecamuk.
...----...
''Bi, toiletnya sebelah mana ya?" Tanya Bagaskara ke bi Eka.
__ADS_1
''Sebelah sini mas.'' Ucap bi Eka menunjukkan toilet, tapi mata bagaskara tertuju kepada Yura yang sedang kesakitan mengoleskan salep ke luka bakarnya.
''Loe kenapa?" Tanya Bagaskara mendekati Yura.
''Gue gakpapa, gak sengaja numpahin air panas.'' Ucap Yura berbohong.
Bagaskara melihat tangan Yura yang penuh dengan luka bakar dan sayatan.
''Siapa yang lakuin itu semua?" Tanya Bagaskara mengintimidasi.
''Gak ada, ini kesalahan gue gak hati-hati.'' Yura masih merahasiakannya.
''Oke kalau begitu.'' Ucap Bagaskara berbalik dan melangkah beberapa langkah dan berhenti lagi.
''Jangan karena cinta loe mau mati secara perlahan! Kalau memang mau lepas ya lepaskan secara perlahan. Jangan mau diinjak-injak hanya karena perasaan yang bisa kapan saja hilang.'' Ucap Bagaskara lalu pergi meninggalkan Yura.
Yura yang mendengar itu langsung menangis meratapi nasibnya yang malang. Disaat cinta yang membuatnya kuat, tapi keadaan yang menuntutnya untuk menyerah.
Bagaskara yang selesai dari toilet langsung kembali menuju taman untuk mengajak pergi Yeri dan Clara dari villa itu.
''Kita pergi sekarang ya.'' Ucap Bagaskara tiba-tiba.
''Loh kenapa buru-buru?" Tanya Yeri.
''Gue udah pesen villa gak jauh dari sini, gue gak mau kehadiran kita bikin gak nyaman yura.'' Ucap Bagaskara menatap serius Clara yang menatapnya.
''Oke, kita ke villa yang udah loe pesen aja gas.'' Ucap Clara setuju.
''Oke deh kalau begitu, gue ngikut aja.'' Yeri juga setuju.
''Gue turunin barang-barang yang disiapkan buat Yura ya, setelah itu kita pergi.'' Ucap Bagaskara langsung pergi menuju mobil dan menurunkan barang yang dihadiahkan untuk Yura yaitu perlengkapan bayi.
Setelah semua barang sudah diturunkan dan diberikan oleh Yura mereka pergi tanpa berpamitan dengan Yura, dan itu yang menjadikan Yeri bertanya-tanya.
''Apa ada masalah ya? Bagaskara dan Clara terlihat gak senang.'' Batin Yeri memikirkan apa yang telah terjadi.
''Yura terlihat gak nyaman kita disana, karena kita asing bagi dia. Jadi ini lebih baik kalau kita jangan disana.'' Ucap Bagaskara melihat raut wajah Yeri yang bertanya-tanya.
''Ohh gitu ya. Mungkin dia udah biasa sendiri jadi agak terganggu dengan kedatangan kita, apalagi dia cuma kenal sama Clara aja.'' Ucap Yeri mengerti dengan penjelasan Bagaskara.
__ADS_1
''Gue cuma gak mau loe lihat luka Yura yang terpampang karena kekerasan yang dialaminya.'' Batin Bagaskara khawatir Yeri tau mengenai Yura yang menderita.