
''Menurut saya Erick gak perlu tau, soalnya ini masalah internal antar perusahaan. Jadi orang luar jangan sampai tau strategi kita.'' Ucap asisten Bagaskara memberikan saran.
''Boleh aja, dia sudah seperti keluarga perusahaan ini. Apalagi dia juga sering kasih informasi ke kita sebelum tim kita tau.'' Ucap Bagaskara mau Erick tahu siapa dibalik Calvin.
''Oke aja kalau bos mau Erick tahu, kita juga tau kalian seperti adik kakak yang akur.'' Ucap asisten Bagaskara setuju.
''Cuma ada seseorang yang harus gue lindungi sekarang.'' Ucap Bagaskara.
...Bagaskara memikirkan seseorang...
''Bos lihat ini, ada informasi dari perbatasan bahwa mereka sudah mulai menyerang.'' Ucap asisten Bagaskara memperlihatkan laporan dari lapangan.
''Kalian tenang aja, dengan skala serangan segitu mereka cuma menggertak. Cara lama yang dia pakai.'' Ucap Bagaskara tersenyum sinis.
''Tapi anggota kita tewas 3 bos, cuma mereka yang menyerang sudah dihabisin tinggal 1 orang buat informasi kita nantinya.'' Ucap Asisten Bagaskara memperlihatkan foto korban dari penyerangan.
''Kamu urus itu semua, saya ada pertemuan dengan kedutaan untuk membicarakan bisnis yang akan segera ditandatangani.'' Ucap Bagaskara melihat jadwal di kalendernya.
''Tapi bos masih belum pulih, harus istirahat di rumah untuk beberapa hari.'' Ucap asisten Bagaskara.
''Saya sudah merasa lebih baik, saya udah 2 hari setelah keluar dari rumah sakit hanya di rumah. Membosankan.'' Ucap Bagaskara berbaring menatap langit.
''Bos sudah mengeluh dari 2 hari yang lalu kalau bosan, tapi tetap saja menurut hehehe.'' Ucap asisten Bagaskara mengingatkan.
''Jangan banyak bicara, dengerin aja apa kata saya.'' Ucap Bagaskara melirik ke asisten yang menertawakan nya.
''Maaf bos.'' Ucap asistennya menunduk takut.
''Kamu bisa gabung sama yang lain di luar, saya mau telfon.'' Ucap Bagaskara mengusir asistennya dengan gerakan tangannya.
''Baik bos, kalau perlu apa aja bisa panggil saya ya bos.'' Ucap asisten dan Bagaskara menjawabnya dengan kode tangan oke. Karena sudah fokus ke handphone yang sedang menghubungi Erick.
''Halo Rick, gue ada informasi penting yang harus loe tau.'' Ucap Bagaskara ke Erick.
''Informasi apa gas? Tumben banget loe telfon gue.'' Ucap Erick bertanya.
__ADS_1
''Gue udah tau siapa dalang dibalik Calvin. Ternyata orangnya gak jauh dari kita.'' Ucap Bagaskara menjelaskan.
''Yang bener loe? Siapa gue penasaran.'' Ucap Erick antusias.
''Bosnya adalah Aldo. Cowok yang buat masalah sama loe di hotel waktu itu. Yang dateng sama Yeri.'' Ucap Bagaskara memberikan penjelasan detail.
''Ha? Yang bener Loe gas? Dia gak terlihat seperti seorang bos besar, malah kelihatan masih anak kuliahan seumuran gue.'' Ucap Erick tidak menyangka.
''Bener, informasi dari anak buah gue pasti akurat. Dan loe sekarang pasti dalam bahaya.'' Ucap Bagaskara.
''Kok bisa loe bilang gue dalam bahaya.'' Tanya Erick masih tidak mengerti.
''Dasar anak kecil, kalau Aldo kakak Calvin berarti dia juga kakaknya clara.'' Ucap Bagaskara sambil menepuk jidatnya.
''Ya ampun, iya juga ya. Mati gue! Calvin yang gak begitu sadis aja gue selalu ada ancaman, apalagi sekarang Aldo. Pasti gak akan ada ampun buat gue. Gimana nih gas, loe bisa bantu gue kan.'' Ucap Erick meminta tolong.
''Untuk masalah itu gue gak bisa bantu loe Rick, soalnya ini masalah percintaan bukan bisnis. Kalau bisnis kan masih ada untungnya, tapi kalau urusan percintaan gue angkat tangan.'' Ucap Bagaskara menolak permintaan Erick untuk membantunya.
''Yah kok loe gitu sama gue, bantuin lah gas please.'' Ucap Erick memohon.
''Gak bisa Rick, ini masalah perasaan. Perusahaan gue cuma menangani masalah proyek dan investasi. Yaudah loe pikirin apa yang harus loe lakuin, kalau perlu menjauh dari Clara ya lakuin aja. Sepertinya Aldo bukan tipe orang seperti Calvin yang nurut sama Clara, dia bisa aja lakuin apa aja buat kalian pisah.'' Ucap Bagaskara memperingatkan Erick.
''Silahkan aja emang itu hobi loe koleksi cewek! Tapi awas ya jangan bawa-bawa nama gue kalau loe kedapatan masalah.'' Ucap Bagaskara.
''Tenang aja brother.'' Ucap Erick sedikit konyol.
''Yaudah Rick udah waktunya gue minum obat lagi.'' Ucap Bagaskara langsung menutup teleponnya sebelum Erick bertanya.
...****************...
...----------------...
...Villa Calvin...
Sudah dua minggu setelah kepergian Calvin ke luar negeri tanpa berpamitan ke Yura, Yura dengan hati gelisah terus memikirkan gimana kondisi Calvin karena tak ada kabar sama sekali dan tidak pernah lagi kembali untuk bertemu dengan Yura. Hal itu mempengaruhi kondisinya yang sedang hamil muda, itu membuatnya sering kram perut karena stres.
''Ahh, perut aku sakit lagi.'' Ucap Yura memegangi perutnya yang sakit karena kram.
__ADS_1
''Non Yura baik-baik aja? Apa perutnya sakit lagi? Sini duduk biar rileks gak tegang.'' Ucap bi Eka memapah Yura duduk di sofa.
''Makasih ya bi.'' Ucap Yura sambil terus melihat ke arah luar yang berharap Calvin datang di hari itu juga.
...Yura menatap arah luar...
''Non Yura gak boleh banyak pikiran ya, apalagi usia kandungan baru mau 1 bulan jadi harus dijaga baik-baik.'' Ucap bi Eka sambil memijit pundak Yura agar rileks.
''Calvin kenapa tidak pernah kesini ya bi? Apa dia baik-baik aja.'' Tanya Yura penuh harap.
''Mungkin tuan Calvin sibuk non, dia aja ke sini paling banyak sekali dalam sebulan.'' Ucap bi Eka yang selalu standby untuk mengurus villa.
''Tapi dia bilang akan datang seminggu sekali bi, ini udah 2 minggu tanpa adanya kabar. Nomornya juga gak aktif setelah dia pulang waktu itu.'' Ucap Yura meneteskan air mata.
''Mungkin aja tuan ada dinas ke luar kota non, jadi karena sibuk dia gak pegang handphonenya.'' Ucap bi Eka mencoba menenangkan.
Tak lama dari jauh terlihat mobil menuju ke arah villa Calvin dan tidak lama langsung dibukakan oleh satpam yang berjaga di gerbang. Melihat itu Yura terbangun berharap itu Calvin yang datang, dan berjalan keluar untuk menyapa. Tapi yang keluar dari mobil bukanlah Calvin, tetapi kedua orang tua Calvin.
''Om, tante.'' Ucap Yura kaget.
''Kenapa? Kamu berharap Calvin yang dateng.'' Ucap mama Calvin dengan judesnya.
''sst mah, kita masuk aja dulu.'' Ucap papa Calvin berjalan memasuki villa dan duduk di ruang tamu.
''Kamu kelihatan kurang sehat Yura? kamu sakit.'' Tanya papa Calvin memperhatikan.
''Enggak om, Yura baik-baik aja. Kabar om dan Tante gimana? Maaf ya Yura jadi gak bisa main ke sana.'' Ucap Yura mengalihkan pembicaraan agar tidak menanyakan kesehatannya.
''Ya seperti yang kamu lihat, gitu aja masih tanya.'' Ucap mama Calvin sedikit ketus.
''Ohiya bi Eka bikinin om teh tawar herbal, dan Tante teh wangi yang manis ya gulanya cukup 1.5 sendok aja.'' Ucap Yura kepada bi Eka.
''Baik non.'' Ucap bi Eka langsung pergi ke dapur.
''Kamu masih saja hafal dengan minuman kesukaan kita ya Yura.'' Ucap Papa Calvin sambil tersenyum.
__ADS_1
''Iyaa om, Yura gak bakalan lupa apa yang kalian suka hehehe.'' Ucap Yura.
''Mama mau keliling melihat-lihat apakah kondisinya masih sama.'' Ucap Mama Calvin pergi berkeliling.