
''Maaf bos, memang mereka gabung ke perusahaan baru cabang dari luar negeri bos. Saya sudah merayu sebisa mungkin, tapi mereka tidak menghiraukannya. Mungkin penawaran mereka lebih bagus bos dari perusahaan kita.'' Ucap Manager.
''Padahal penawaran kita juga sudah bagus, bahkan bisa melebihi perusahaan dari luar negeri. Apa sudah kalian cari tau siapa bosnya?" Tanya Bagaskara pusing.
''Sudah bos, benar-benar orang baru. Mereka juga kebanyakan orang-orang dari luar negeri.'' Ucap manager ketakutan akan menjadi sasaran kemarahan Bagaskara.
"Berarti musuh kita bertambah bukan hanya Aldo aja, tapi kalian harus monitor keduanya! Kita gak tau mana perusahaan yang mengancam kita.'' Bagaskara memegang kepalanya.
''Baik bos, kami akan bekerja lebih baik lagi bos. Saya akan melakukan gebrakan baru untuk menarik klien kakap lagi bos.'' Ucap manager bersumpah akan berusaha lebih baik lagi untuk kedepannya.
Mendengar ucapan itu Bagaskara terlihat lebih lega, apalagi itu memang bukan kesalahan internal perusahaan melainkan persaingan bisnis yang biasa terjadi di perusahaan manapun.
''Oke, kalian harus menyiapkan diri lebih baik lagi untuk persaingan kedepannya. Saya gak mau dengar lagi kegagalan untuk kedua kalinya. Kali ini kalian gak akan saya hukum, tapi jika selanjutnya akan berakhir seperti ini setengah gaji kalian akan saya potong dan menerima hukuman fisik.'' Ucap Bagaskara tegas.
''Baik bos kami akan berbenah untuk jadi lebih baik.'' Manager menunduk untuk berterima kasih karena kali ini dia terlepas dari hukuman kejam dari Bagaskara.
Bagaskara hanya diam dan mengisyaratkan untuk segera keluar dari ruangannya. Manager yang melihat langsung pergi dengan segera. Hanya asisten pribadinya yang sedari tadi menyimak percakapan mereka.
''Bos, sebenarnya pak Hutama belum lama ini kesini mencari bos.'' Ucap asisten Bagaskara perlahan.
''Mau apa dia? jangan sampai dia masuk ke perusahaan, karena kita gak tau niat busuk apa yang dia udah rencanakan.'' Bagaskara menatap tajam asistennya.
''Tapi menurut satpam yang berjaga dia selalu ingin bertemu dengan anaknya bos.'' Ucap asisten, Bagaskara terlihat sangat emosional.
__ADS_1
''Anak mana yang dia maksud? kalau kamu ketemu sama dia, bilang aja 'sampai dia matipun saya gak akan pernah menemuinya, saya gak akan pernah bertemu dengannya sampai dia mati ditangan saya sendiri'. Inget itu! Sekarang kamu pergi, bener-bener hilangin mood.'' Bagaskara menyuruh asistennya pergi karena merasa hilang mood baik hari ini.
''Kenapa tua Bangka itu nyari gue setelah bertahun-tahun, mama mati juga karena dia! Kenapa dia gak mati aja sih! Emang benar ya orang jahat akan lama matinya.'' Batin Bagaskara penuh dengan bayangan dan trauma di masa lalu.
"Ahh, gue emang gak boleh berpikir berlebihan. Jangan sampai gue drop lagi, gue harus minum obat sebelum terlanjur sakit.'' Bagaskara mencari obat yang biasa dia minum.
Setelah mendapatkan obatnya dia baru sadar bahwa obatnya masih utuh tanpa ada yang dia minum satupun.
''Wahh, loe bener-bener kurang ajar ya gas. Bisa aja kalau obat ini habis loe gak akan kambuh.'' Ucap Bagaskara membicarakan dirinya sendiri.
Lalu dengan tangan yang bergetar Bagaskara langsung meminum obatnya, walau tadi baru separuh dia memakan makanannya.
''Gue gak akan mati begitu aja kan, gue masih muda. Bahkan dendam gue sama Hutama belum terlaksana, bila udah saatnya gue akan habisin dia, seperti dia menghabisi mama waktu dulu.'' Ancamnya menatap foto mama yang dipajang di meja kantornya.
Klek seseorang datang dan masuk tanpa permisi ke ruangan Bagaskara, dan terlihat Bagaskara masih lemas dengan keadaannya yang drop tiba-tiba.
''Oh loe Rick, gue udah bilang kan jangan dateng ke kantor gue. Loe bisa bahaya karena nanti loe akan dikira anggota tim gue.'' Ucap Bagaskara duduk dengan tegap.
''Aman karena ada loe kan, loe berusaha keras banget ya sampai kesehatan loe gak loe pikirin.'' Erick memberikan sebotol minuman bersoda diletakkan di meja Bagaskara.
''Akan gue minum nanti, gue baru minum obat. Ohiya, gimana kencan loe kemaren? gue gak salah kan pilihkan cewek buat loe!" Ucap Bagaskara mengalihkan pembicaraan agar tidak membicarakan kesehatannya.
''Lumayan, keduanya cantik. Bahkan masih belum ada yang pernah menyentuh keduanya selain gue.'' Ucap Erick sambil tersenyum senang.
__ADS_1
''Maksudnya mereka loe....
Sebelum Bagaskara melanjutkan ucapannya, sudah dipotong oleh Erick.
''Iyalah gas, loe tau gue kan. Gak bisa nganggurin cewek cantik sedetik pun. Lagipula mereka mau, makasih ya bro atas uang dan ceweknya. Lain kali kalau mau tau tentang Yeri tanya aja gue ya.'' Ucap Erick berharap Bagaskara memanfaatkan dirinya lagi untuk tau lebih jauh tentang Yeri.
''Oke oke loe tenang aja, tapi loe sama Clara gimana?'' Tanya Bagaskara.
''Gue cuma kasihan sama dia, karena udah terlanjur cinta sama gue jadi gue berusaha buat dia gak sakit hati. Walau dia udah tau kelakuan gue sebenarnya tapi dia masih mau terima gue. Emang cewek bodoh kan.'' Ucap Erick tertawa kecil.
''Rick, loe tau Yura kan? Bisa gak loe selamatin dia.'' Ucap Bagaskara berharap.
''Yura siapa ya?" Tanya Erick pura-pura tidak tahu.
''Wanita yang loe tiduri waktu itu, ceweknya Calvin. Dia lagi hamil, gue yakin banget itu anak loe.'' Ucap Bagaskara tanpa basa basi lagi, Erick terlihat terkejut.
''Gak mungkin, bisa aja itu anak Calvin. Kenapa loe bilang itu anak gue.'' Erick tak percaya dengan pernyataan Bagaskara seperti halnya waktu Clara menanyakannya.
''Jika itu memang anak Calvin, keluarganya gak akan nyiksa dia begitu Rick. Clara juga kejam sama dia, bahkan luka ditubuhnya lebih parah dari luka sebelumnya.'' Ucap Bagaskara perlahan agar Erick mengerti.
''Gue cuma gak suka lihat wanita diperlakukan buruk oleh orang lain, apalagi sesama wanita saling menyakiti. Gue cuma gak mau nasib dia seperti orang yang gue sayangi Rick. Kenapa gue gak pernah mainin perasaan wanita, karena gue merasa bersalah karena gak bisa selamatin mama gue sendiri.'' Bagaskara dengan menutup wajahnya seolah-olah ingin melupakan kejadian masa kecilnya.
Tetapi semua itu masih terbayang dengan nyata di ingatan Bagaskara, jika ingin melupakan semuanya tapi pada kenyataannya semakin jelas semua kejadian dimasa lalu.
__ADS_1
''Gas, loe harus belajar menerima itu semua agar loe bisa melupakannya. Ketika semakin loe ingin lupain, itu akan terlihat jelas di ingatan loe. Tapi kalau loe belajar untuk menerima, loe akan bisa lupa dengan berjalannya waktu.'' Erick mencoba memberikan solusi untuk Bagaskara.
''Gak semudah itu Rick! Jika semudah membalikkan telapak tangan, gue gak akan se menderita ini. Gue udah menderita terlalu lama, rasanya gue ingin kembali ke masa lalu dan datang buat nyelametin mama. Tapi itu mustahil.'' Bagaskara dengan putus asa