
"Ternyata kamu gak berani ya ubah semua yang ada disini." Ucap mama calvin melihat lukisan dan barang antik yang ada di lemari.
"Yura mana berani merubah tempat orang lain tante." Ucap Yura tersenyum canggung.
"Baguslah kalau sadar diri, kamu bisa tinggal disini tapi jangan seenaknya. Mama mau lihat taman yang ada di halaman belakang dulu ya pa." Ucap mama berpamitan sama papa.
"Iyaa, tapi hati-hati ya ma. Takut licin karena habis hujan." Ucap papa perhatian.
"Iyaa pa." Ucap mama langsung pergi menuju halaman belakang.
"Yuraa... Om mau bicara hal penting sama kamu." Ucap papa calvin memposisikan duduknya dengan serius, Yura yang mendengarnya langsung gugup.
"Iya om, mau bicara apa." Ucap Yura berdebar.
"Calvin sudah 2 minggu pergi keluar negeri, dan om juga gak tahu sampai kapan dia akan kembali." Ucap papa calvin.
"Maksud om? Calvin pergi begitu aja." Tanya Yura terkejut.
"Itu kemauan om ra, semua demi kebaikan Calvin. Kalau Calvin tetap disini akan membahayakan dirinya sendiri." Ucap papa Calvin menjelaskan.
"Tapi om, kenapa calvin gak pamitan sama Yura? Sekarang malah gak bisa dihubungi. Selama ini Yura khawatir kalau Calvin kenapa-napa." Ucap Yura sambil menghapus air matanya yang mengalir.
"Gak ada yang bisa hubungi Calvin disini ra, om dan tante pun gak bisa hubungi dia. Kalau mau kita harus menunggu sampai batas waktu yang gak ditentukan." Ucap papa Calvin.
"Ahh." Perut Yura kembali kram.
"Kamu kenapa ra." Tanya papa Calvin khawatir, bi Eka yang datang membawa minuman langsung menolong Yura.
"Rileks yaa non, jangan banyak pikiran." Ucap bi Eka memijit perlahan.
"Kali ini lebih sakit bi... Hiks." Ucap Yura menangis.
"Bi Eka Yura kenapa." Tanya papa Calvin.
"Non Yura sedang hamil muda tuan, karena akhir-akhir ini dia banyak pikiran jadi perutnya sering kram." Ucap bi Eka menjelaskan, mendengar itu papa Calvin marah.
"Apa? Hamil? Saya yakin anak yang kamu kandung itu bukan anak Calvin kan" Ucap papa Calvin meminta penjelasan, tapi Yura hanya menangis.
__ADS_1
"Gak habis pikir, om kesini biar kamu gak terlalu memikirkan Calvin yang pergi. Soalnya Calvin menitipkan kamu sama om, tapi lihat apa yang kamu lakukan. Berarti rumor yang tersebar itu benar ya. Mulai hari ini om sama tante gak akan pernah kesini buat melihat kamu Yura." Ucap papa Calvin marah dan berdiri bersiap pergi.
"Ada apa pa? Kok kamu marah sekali." Ucap mama yang baru kembali.
"Ini Yura hamil ma, yang pasti bukan anak Calvin yang dia kandung." Ucap papa calvin menjelaskan.
"Apa? Kamu beraninya mendekati anak saya padahal kamu mengandung anak orang lain." Ucap mama sambil menjambak rambut Yura.
"Ampun tante, lepasin." Ucap Yura memohon agar dilepaskan.
"Huhhh, buat apa kita jauh-jauh kesini cuma buat ketemu sama wanita yang gak tau diri ini pa. Kita pulang sekarang, kamu boleh tinggal disini tapi jangan berharap bisa bersama dengan Calvin nantinya. Minum ini." Ucap mama menarik rambut Yura sampai Yura terjatuh dan menyiram tangan Yura dengan teh panas. Mama dan papa Calvin langsung pergi meninggalkan Yura yang kesakitan.
"Ah sakit banget bi." Ucap Yura kesakitan, dan bi Eka langsung membangunkan Yura yang tersungkur di lantai.
''Tunggu disini ya non, saya ambilkan salep biar nanti lukanya gak membekas.'' Ucap bi Eka mengambil salep luka di lemari P3K.
''Hikss..Hikss... Calvin padahal loe janji mau membesarkan anak ini sama-sama. Kalau seperti ini aku gak mau Vin. Lebih baik anak ini mati.. Lebih baik mati vin.'' Ucap Yura sambil memukul-mukul perutnya, bi Eka yang melihat langsung menghentikan aksi Yura yang berbahaya.
''Tenang non, jangan begitu. Bibi tau hubungan kalian memang gak di restui. Tapi anak ini gak salah non, tuan Calvin juga akan marah kalau tau non begini.'' Ucap bi Eka memegang kedua tangan Yura.
''Calvin gak peduli bi, buktinya dia pergi gitu aja setelah janji mau besarin anak ini bareng-bareng. Dia bohong bi, dia bohong.'' Ucap Yura masih histeris.
''Tapi kenapa dia tega Ninggalin aku disini sendiri bi.'' Ucap Yura.
''Enggak, tuan sudah antisipasi semuanya. Tuan sudah memperkerjakan banyak orang disini. Ada satpam, tukang kebun, sopir, bahkan banyak bodyguard tuan yang siaga tanpa non Yura tau'' Ucap bi Eka.
''Sini non biar saya obati luka terkena air panasnya. Yahh ini melepuh non, kita harus ke klinik terdekat sekalian check up kehamilan non Yura ya.'' Ajak bi Eka memanggil sopir yang sedang berbincang dengan satpam.
...*...
...*...
...*...
...° Klinik °...
''Luka terkena air panas akan membekas ya Bu, soalnya gak langsung ditangani dengan baik.'' Ucap Dokter.
__ADS_1
''Tapi gimana dengan kandungan saya dok, saya sering kram akhir-akhir ini.'' Tanya Yura penasaran tanpa menghiraukan luka ditangannya.
''Untung rahim ibu kuat, jadi janinnya bisa bertahan. Kalau bisa ibu jangan kebanyakan pikiran ya, saya tau kalau diumur ibu yang masih muda ini pasti menginginkan banyak hal. Tapi keputusan ibu untuk menjadi seorang ibu adalah tugas yang mulia.'' Ucap dokter.
''Iyaa dok.'' Ucap Yura menganggukkan kepalanya.
''Ini vitaminnya ya Bu, inget ibu yang bahagia akan membuat janin juga bahagia. Begitupun sebaliknya, kalau ibu sedih janin juga akan sedih, jadi ibu selalu usahakan untuk bahagia.'' Ucap dokter memotivasi.
''Baik dok, terima kasih ya.'' Ucap Yura menerima vitamin ibu hamil.
''Usahakan sebulan sekali check up ya bu, kalau memang ada keluhan bisa langsung kesini.'' Ucap dokter lagi.
''Iyaa dok, saya permisi ya.'' Ucap Yura beranjak pergi sambil memegangi tangannya yang terluka.
...****************...
...----------------...
...°Rumah Yeri°...
Sang ayah sedang sibuk membersihkan rumah dengan rasa bahagia masih ada waktu untuk berkumpul dengan putri yang tercinta. Yeri yang sibuk menyenangkan hati Clara yang masih kecewa atas kepergian Calvin yang mendadak, membuat Yeri kurang beristirahat dan akhirnya sakit.
''Pa, papa jangan sampai kecapean ya. Jangan terlalu maksain buat berberes rumah.'' Ucap Yeri berbaring di sofa.
''Papa udah biasa, lagipula kalau papa cuma diam saja badan papa sakit.'' Ucap Papa.
''Tapi hati-hati ya pa, jangan sampai terjatuh.'' Ucap Yeri dengan suara kecil.
''Kamu kalau masih ngantuk tidur di kamar aja nak.'' Ucap papa melihat kearah Yeri yang tiduran berselimutkan selimut tebal.
''Pah, Aldo udah gak kesini lagi ya? Apa dia udah ada wanita lain.'' Tanya Yeri.
''Kamu tumben sekali tidur pakai selimut.'' Tanya papa sambil menghampiri Yeri.
''Badan Yeri dingin pa.'' Ucap Yeri sambil menggigil.
''Kamu sakit nak? Badan kamu panas sekali. Kita ke rumah sakit yaa'' Ajak papa mencoba membangunkan Yeri dari tidurnya.
__ADS_1
''Papa gendong kamu ya. Tapi papa udah gak kuat, papa memapah kamu aja ya. Kamu kuat berjalan kan.'' Tanya papa mencoba memapah Yeri yang lemah. Sesampainya di depan rumah, papa tidak kuat untuk menahan berat badan Yeri. Untungnya ada Aldo yang berlari ke arah Yeri dan menangkapnya sebelum terjatuh.