Love In Siren

Love In Siren
Perusak Makam Ibu


__ADS_3

Zayn tampak melihat spionnya dan menyetir dengan hati-hati. Sesekali ia terlihat tersenyum membayangkan akan menjumpai Audrina setelah sekian lama. Zayn dan Audrina adalah teman satu SMP dan juga berbakat dibidang seni. Hanya saja saat sudah lulus SMP, Zayn terpaksa harus pindah ke kota B mengikuti orang tuanya yang dipindah tugaskan ke kota tersebut.


Sedangkan Audrina tetap melanjutkan studinya di kota A dan masuk ke sekolah paling ternama disana. Mendengar sekolah yang bergengsi itu, Zayn membujuk orang tuanya agar bisa bersekolah disana. Dengan dalih akan membuat dirinya semakin berkembang dan sukses jika masuk ke sekolah itu.


Tentu saja dengan haus akan kesuksesan dan ketenaran yang dimiliki orang tuanya itu, mereka langsung mencoba mendaftarkan anaknya ke sekolah tersebut. Melihat potensi dan portofolio yang sangat mengagumkan dari Zayn, sekolah tidak mungkin menolaknya. Apalagi Zayn adalah anak yang sangat santun dan berdedikasi tinggi untuk keberhasilannya.


Walaupun kedoknya itu untuk membahagiakan orang tua dan mengangkat status sosial mereka, sebenarnya tujuan awal Zayn hanya agar bisa hidup terpisah dengan mereka. Zayn juga memiliki alasan lain yang paling diinginkannya, yaitu menemui Audrina.


Zayn dibelikan kamar disebuah apartemen yang menengah keatas oleh ayahnya sesuai keinginan Zayn. Ia tidak ingin tinggal dengan bibinya karena jika begitu sama saja ia akan dikontrol oleh orang tuanya. Walaupun sedikit kesulitan membujuk orang tuanya, akhirnya Zayn membuat kesepakatan dengan mereka.


Kalau Zayn bisa masuk kategori 10 murid berpotensi di bidangnya, mereka akan menuruti keinginan Zayn untuk membeli kamar diapartemen. Orang tua Zayn menyanggupi dan baru sebulan bersekolah disana, Zayn akhirnya masuk ke kategori tersebut. Zayn diperingkat empat sedangkan Audrina di peringkat pertama.


Melihat kesuksesan awal yang ditunjukkan anaknya, orang tua Zayn mau tidak mau harus menurutinya. Zayn juga berjanji akan tetap mempertahankan gelar sampai lulus nanti.


"Habis ini belok kanan," ucapnya pada diri sendiri sambil terus memperhatikan GPS yang ada dilayar mobilnya. Ia sesekali bersenandung kecil untuk membuatnya tetap fokus berkendara.


Satu hal yang membuat bingung, darimana Zayn tau kalau Audrina sedang sakit?


Melihat kedekatan Zayn dan Audrina dari awal semester dua membuat guru-guru disana mengetahui akan hal itu. Apalagi dengan sifat pemalu dari Audrina yang membuatnya kesulitan berteman menjadi satu hal baru saat menyadari kedekatan Zayn dan dirinya.


Sehingga, jika ada salah satu yang sedang ada masalah atau sakit pasti guru yang mengetahui kedekatan mereka akan memberitahukan kondisinya. Bukan hal buruk saja, hal baik juga akan diberitahu.


Zayn mendapat kabar Audrina sakit dari salah satu operator kelas daring yang tidak sengaja berpapasan dengannya di koridor sekolah. Tentu saja hal itu membuat Zayn khawatir dan meminta izin beberapa hari untuk mengunjugi Audrina.


Saat belokan terakhir dari jalan besar, terlihat sebuah villa yang cukup besar disana. Villa daisy milik keluarganya Audrina. Gerbang villa itu terbuka lebar, sepertinya pak Karni sengaja membukanya agar memudahkan Zayn masuk ke dalam.


"Nah, akhirnya sampai." Zayn memarkirkan mobilnya di garasi mobil. Setelah itu, ia tampak meregangkan tubuhnya mengingat ia sudah berkendara selama tiga jam.


Sebelum turun, ia sempat membuka bagasi belakangnya untuk mengeluarkan tasnya. Kemudian ia mengunci mobil dan menuju pintu depan villa untuk masuk kedalam.


Zayn membuka pintu dengan kunci yang diletakkan di pot bunga gantung dan sudah dicadangkan padanya oleh pak Karni. Setelah membuka pintu, ia menyimpan kunci itu ke lemari kunci yang diberitahu ayahnya Audrina.


Zayn meletakkan tasnya diatas sofa ruang tamu dan celingak-celinguk untuk mencari dimana kamar Audrina. Ia menelusuri ruangan di lantai 1 tapi tidak ada Audrina, akhirnya ia memutuskan untuk menelusuri lantai 2.


"Audrina?" panggil Zayn sambil menaiki anak tangga.


Bugh


Terdengar suara seperti sesuatu yang jatuh. Dengan cepat Zayn menuju sebuah kamar yang menjadi sumber suara itu. Zayn membulatkan matanya panik saat melihat Audrina jatuh dari tempat tidurnya.


"Yaampun Audrina!" Zayn memapah tubuh Audrina naik keatas tempat tidur lagi. Audrina terlihat memegang sikunya yang menjadi tumpuan awal saat ia jatuh.


"Kamu gak papa?" tanya Zayn sambil melihat tubuh Audrina takut ada yang terluka.


Audrina menggeleng, "Aku gapapa. Makasih ya, Zayn." Ucap Audrina dengan suara seraknya.


Zayn memandang wajah Audrina saat ini. Ia meletakkan tangannya ke dahi Audrina, ternyata panas sekali. Terlihat juga wajah pucat, suara kering dan bibir yang kering membuat Zayn menghela napas pelan.


Tanpa mengatakan apapun, Zayn turun kebawah meninggalkan Audrina sendiri dikamar. Audrina tampak bingung namun enggan untuk bertanya dan memutuskan untuk kembali tidur. Keringat sudah deras membasahi tubuhnya hingga bajunya.


Beberapa menit kemudian, Zayn masuk ke kamar Audrina lagi dengan membawa termometer dan semangkuk bubur panas yang sudah ia siapkan sebelum berangkat tadi. Bubur itu hanya dipanaskan sedikit lalu disajikan diatas mangkuk. Tidak lupa ia membawa paracetamol dan baby fever untuk menurunkan panas Audrina.


Sebelum menyuruh Audrina makan, ia mengecek suhu tubuh Audrina dengan termometer. Saat dilihat, suhu tubuh Audrina mencapai 39 derajat.


"Makan dulu, Au." Zayn menyentuh pelan bahu Audrina dan membantunya untuk duduk.


Audrina yang sedikit pusing berusaha untuk duduk dan menyandarkan dirinya ke kepala tempar tidur. Zayn tampak menindihkan beberapa bantal sebagai tempat sandaran Audrina.

__ADS_1


Zayn meniup bubur yang akan disuapi kepada Audrina, "hati-hati panas." Ingatnya kepada Audrina yang membuka mulutnya.


Audrina memakan semua suapan bubur sampai habis. Lalu meninum obatnya. Zayn menempelkan baby fever ke dahi Audrina lalu menyuruh Audrina untuk istirahat.


"Makasih, Zayn." Ucap Audrina sembelum ia tidur.


Zayn hanya tersenyum kecil lalu meninggalkan Audrina istirahat dikamarnya.


Zayn memasuki salah satu kamar tamu di lantai 1, lalu merebahkan dirinya ditempat tidur. Tubuhnya sangat lelah akibat lamanya diperjalanan. Ia melirik jam dan ternyata sudah siang.


"Pantes lapar," Zayn mengusap perutnya yang sedikit berbunyi.


Sebelum makan, ia mandi terlebih dahulu dan menganti pakaiannya dengan pakaian rumah yang nyaman. Setelah selesai mandi, Zayn menuju dapur dan melihat bahan apa yang bisa dimasaknya.


Seketika idenya muncul saat melihat ada telur ayam yang cukup banyak disana. "Buat omelet aja deh."


Zayn memasak omelet dengan lihai, terlihat bahwa ia sangat pandai memasak. Setelah selesai, ia langsung makan dan mencuci piring serta alat masakan yang dipakainya tadi.


Perut sudah kenyang, sudah mandi pula. Yang harus dilakukan disaat ini ialah..


"Tidur siang, ah.." Zayn berjalan kembali menuju kamarnya dan merebahkan dirinya diatas kasur yang empuk.


...****************...


Audrina mengerjapkan matanya menyesuaikan dengan cahaya matahari sore yang masuk kedalam kamarnya. Rasa pusingnya sudah hilang, namun badannya masih sedikit hangat.


Tangan Audrina meraih gelas yang ada disamping tempat tidurnya, namun tidak ada air disana. Terpaksa ia harus turun ke dapur untuk mengambil air, tenggorokannya sangat kering sekarang.


Audrina membuka kulkas untuk mengambil botol berisi air.


Audrina cemberut, "sedikit aja."


Zayn menggeleng, "gak boleh." Ia menaruh kembali botol air itu lalu menutup kulkas, "kalau air hangat boleh." Lanjutnya sambil memberikan gelas berisi air hangat.


Audrina mengambil gelas dengan malas lalu meminumnya sekali teguk. "Bukannya orang demam harusnya dikasi yang dingin dingin ya?" tanyanya.


Zayn mengangguk paham. "Air es gak boleh, es krim boleh." Tangannya terulur mengambil es krim yang sudah dia beli dijalan menuju villa.


Wajah cemberut Audrina perlahan hilang dan dengan senang hati memakan es krim yang sudah dibelikan oleh Zayn. Ia berjalan duduk di meja makan diikuti Zayn yang juga memakan es krimnya.


Saat sedang asik makan es krim, Zayn membuka pembicaraan yang membuat Audrina mematung.


"Tadi sebelum aku ke villa, Gea nitip salam." Ucap Zayn santai, "katanya cepat sembuh ya."


Audrina terdiam. Tidak menanggapi ucapan Zayn sedikitpun.


"Audrina?" panggil Zayn lagi. "Kamu kenap-"


Audrina berdiri dari duduknya, "Bisa gak sih gausah bahas perempuan itu?!" Teriak Audrina kesal, "aku masih belum memaafkannya!" Air mata Audrina seketika jatuh membasahi pipinya.


"Audrina." ucap Zayn lirih, "bukannya kamu udah janji sama aku?"


Audrina menghapus air matanya kasar. "Iya! Aku janji akan lupain masalahnya, bukan maafkan dia gitu aja!"


Audrina berlari ke kamarnya meninggalkan Zayn yang merasa bersalah karena telah menyebut nama 'Gea'. Zayn menatap punggung Audrina sambil terus mengutuk dirinya sendiri. Harusnya ia tidak merusak suasana hati Audrina.


"Sial!" umpat Zayn pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Flashback on


2 tahun yang lalu...


"Siram terus! Aku yakin dia pasti kaget setelah melihat ini." Perintah Gea dengan memakai baju seragam SMP.


Gea mengobrak-abrik rumput halus yang tumbuh diatas pemakaman hingga tanahnya keluar berserakan. Dua temannya yang lain juga tampak menuruti perintah Gea untuk menghancurkan sebuah pemakaman yang tampak sangat familiar.


Saat sudah puas dengan apa yang dilakukan, mereka bertiga bersembunyi dibalik pohon besar yang berada disana.


Tampak Audrina yang sedang berjalan bersama dengan Zayn dengan perasaan yang senang. Bunga tulip putih yang sangat indah dipeluknya dengan erat.


"Audrina." Ucap Zayn lirih.


Audrina yang sedang asik menghitung bunga yang dipegangnya tampak menoleh kearah Zayn yang mematung. Audrina sedikit memiringkan kepalanya bingung.


"Ada apa, Zayn?" tanyanya yang masih belum mengetahui apapun.


Zayn tidak kuasa berbicara lagi, ia hanya menunjuk kearah pemakaman yang sudah berantakan dan banyak cairan bewarna merah diatas batu nisannya. Audrina yang melihat arah tunjuk Zayn membulatkan matanya terkejut. Ia langsung berlari kearah pemakaman itu dan bersimpuh disana, tanpa disadari bunga tulip yang di pegangnya sudah jatuh ke tanah.


"S-siapa yang tega hancurin pemakaman mama?" tanya dengan suara yang bergetar. Ia tidak kuasa menahan tangisnya.


Audrina berusaha terus menerus membersihkan batu nisan dengan tulisan 'Kena Ghania' dengan lengan bajunya. Namun sia-sia saja, cairan itu tidak bisa hilang. Sepertinya itu adalah cat merah yang cepat mengering, namun juga tergenang diatas tanah makam.


Audrina masih terus menangis kesal sampai sesegukan melihat kondisi makan ibunya yang hancur. Zayn berusaha untuk menenangkan Audrina, namun sakit hati yang dialami Audrina begitu dalam sampai ia tidak berhenti menangis.


Tiga hari kemudian, Zayn dan Audrina mendapat pemberitahuan dari guru bahwa ada anak perempuan bernama Gea yang mengaku telah merusak makan ibunya Audrina. Audrina dengan tegas langsung menyuruh guru untuk menghubungi ayahnya untuk membicarakan masalah ini. Audrina benar-benar tidak bisa memaafkan perbuatan Gea.


Saat ayahnya datang, Audrina meminta Zayn untuk menemani ayahnya bertemu dengan Gea beserta orang tua Gea. Audrina tidak ingin menemuinya. Zayn yang tampak mengerti dengan perasaan Audrina menyetujuinya.


Setelah diskusi yang lumayan panjang dan sengit, akhirnya Gea terpaksa harus dipindahkan ke cabang lain dari sekolahnya ini. Pilihannya hanya dua, dikeluarkan atau pindah ke cabang lain dari sekolah ini.


"Terimakasih pak, saya mohon maaf sebesar-besarnya atas perbuatan anak saya yang keterlaluan." Ucap ayah Gea dengan perasaan yang sangat bersalah.


Gea hanya diam menundukkan kepalanya, tidak banyak berbicara.


Setelah kejadian itu, Gea tidak terlihat lagi disekolahan itu. Sampai tiba lulus dan masuk SMA, tanpa disangka Gea memilih sekolah yang sama dengan Audrina. Gea yang masih menyimpan perasaan bersalahnya mulai berusaha mendekati Audrina dengan cara apapun. Tapi tetap ditolak Audrina.


"Zayn, bantu aku minta maaf dengan Audrina. Aku mohon!" Gea membujuk Zayn yang sedang membaca buku di taman.


Zayn menghela napasnya, "aku sudah berbicara dengannya. Tapi Audrina tetap tidak ingin berbicara dengan mu." Imbuh Zayn lagi sambil menatap kasian kearah Gea.


Gea menundukkan kepalanya sedih, "b-bagaimana kalau suruh dia melupakan kejadian itu? Kita mulai dari awal untuk berteman."


Zayn memandang Gea dengan tidak percaya, "kamu gila ya? Setelah kamu menghancurkan makan mamanya kamu suruh dia lupain gitu aja? Benar-benar tidak waras." Ucap Zayn kesal.


"M-maafkan aku Zayn, aku sudah tidak terpikir cara apapun lagi." Gea akhirnya menangis, menyesal dengan apa yang baru saja ia ucapkan. Ia juga merasa ucapannya sungguh keterlaluan.


Zayn hanya memandang punggung Gea yang bergetar karena menangis.


Zayn akhirnya menyerah. "Baiklah, aku akan coba bujuk dia. Tapi jangan berharap dia akan memaafkan mu, mungkin dia hanya akan menganggap itu bencana. Jadi jangan terlalu berharap." Ucap Zayn lalu beranjak meninggalkan Gea yang terus menerus mengucapkan terimakasih kepadanya.


Flashback off


"Walaupun aku mengubah pandangan menjadi bencana, bukan berarti aku memaafkannya." Ucap Audrina pelan sambil terus memandangi foto ibunya yang ia simpan di meja belajarnya.


......-----......

__ADS_1


__ADS_2