Love In Siren

Love In Siren
Pengalihan Menuju Rencana Besar


__ADS_3

Setelah mendengar laporan dari Daniel sebelumnya tentang pintu utama dek inti kapal mereka yang sudah hampir dibobol hingga membuat tangan siren merah bisa masuk ke dalam, Tio sebagai kapten yang memiliki tanggung jawab penuh atas keselamatan para krunya tentu saja sangat panik. Walau tidak terlihat di wajah tegasnya, tetapi detakan jantungnya terus berdegup tidak karuan sejak tadi memikirkan hal-hal buruk yang mungkin saja bisa terjadi.


Tio berlari melewati lorong untuk menuju dek inti, disusul oleh kru kapal lainnya yang mengikutinya dari belakang. Namun, ada beberapa yang berlari ke arah yang berlawanan untuk menjaga dan mengecek pintu belakang dek kapal memastikan tetap aman.


"Ron, kita ke pintu belakang aja!" ajak Soni yang menarik tangan Roni hingga ia sedikit terjungkal ke belakang.


"Sek, jangan tarik-tarik!" berontak Roni namun tetap mengikuti Soni dari belakangnya.


Sesampainya di dek inti, Tio menghentikan langkahnya saat melihat bekas cakaran di pintu. Di sana, Jacob bersusah payah untuk mendorong pintu agar tidak terbuka bersama dengan Jhonson yang berulang kali hampir terkena cakaran tangan siren merah itu yang selalu berusaha membuka pintu agar bisa masuk ke dalam.


"Dorong terus, Jhon!" titah Jacob.


Napas Jhonson terdengar menderu, "berat banget, astaga!" katanya sambil terus mendorong pintu sekuat tenaga, hingga tanpa sadar ia berdiri tegak membuat wajahnya setara dengan tangan siren yang menggantung di atas pintu.


"Jhon, hati-hati cakarnya!" teriak Jacob mengingatkan sambil menarik tangan Jhonson untuk menunduk. Jika Jacob telat sedikit saja, mungkin ia akan kehilangan penglihatannya jika terkena cakaran siren itu.


Jhonson menunduk sambil tetap mendorong pintu dengan wajah yang tertegun, "m-makasih, Jac."


Tio memperhatikan kedua krunya itu sambil berpikir keras, mencari cara untuk membantu mereka. Ia berbalik menatap semua kru yang tengah memandang kedua orang itu tanpa berniat membantu mereka, mungkin mereka juga takut mendekati pintu itu. Sampai sorot kehitaman Tio mendapati salah satu krunya yang membawa pedang yang tergantung di pinggangnya.


Tio mendekati kru itu lalu mengambil pedang yang berada di pinggangnya, membuat kru itu tersentak kaget lalu membiarkan Tio membawa pedangnya itu.


"Kalian menunduklah, jangan ada yang berdiri secara tiba-tiba!" peringat Tio kepada Jacob dan Jhonson.


Namun, saat Tio hampir menebas tangan siren itu, seakan tersadar dengan fakta mengerikan dari ingatan sebelumnya ia menghentikan niatnya itu. Lalu, memberikan perintah lain kepada para kru di sana.


"Carikan benda atau alat pelindung dari aluminium atau besi yang bisa digunakan untuk melindungi Jacob, Jhonson dan aku. Cepat!" titahnya tegas.


Semua kru tanpa diperintahkan kedua kali langsung mengikuti perintah Tio. Mereka pun bergegas pergi untuk mencari barang yang dimaksudkan oleh Tio itu.


"Kap, buat apa benda besi itu?" tanya Jhonson penasaran.


Tio menatap tangan siren yang terus mencakar di udara itu dengan intens, "makhluk terkutuk ini memiliki darah yang sangat berbahaya jika terkena tubuh manusia. Bisa-bisa kulit kita terbakar dan melepuh seperti korban kebakaran dengan luka hampir mendekati 100 persen," jelas Tio.


Sontak Jacob dan Jhonson langsung terduduk di lantai sambil menahan pintu, tidak lagi menunduk seperti sebelumnya. Raut wajah panik mulai terlihat dari kedua orang itu, membayangkan tubuh mereka yang mungkin bisa saja terkena imbas seperti yang dikatakan oleh Tio.


Kru kapal yang lain akhirnya kembali dengan membawa beberapa helm yang biasa digunakan untuk las dan enam buah besi pipih seperti tameng. Tio langsung mengambil helm itu dan memakaikannya ke kepalanya, kemudian menyuruh Jacob dan Jhonson juga memakai helm itu. Tameng besi pipih juga diperintahkan Tio untuk digunakan seperti payung oleh kedua orang itu.


Dengan memasang tameng besi di tangan kiri untuk dirinya sendiri, sekarang Tio sudah siap untuk menebas tangan siren itu dengan pedang di tangan kanannya.


"Kalian semua menjauh dari sini, jangan ada yang mendekat dan sampai terciprat darah siren ini atau kalian akan mati."


Peringatan tegas Tio yang terdengar sangat mengerikan itu langsung dituruti oleh kru kapal yang lain. Mereka juga melindungi diri dengan sisa tameng yang ada dan beberapa diantara mereka juga ikut menggunakan helm seperti Tio.


"Setelah hitungan 3, kalian berlari ke belakang ku dengan tameng itu. Paham?" ucapnya kepada Jacob dan Jhonson.


"Baik, kapten!" teriak mereka berdua.


"Satu.."


"Dua.."

__ADS_1


"Tiga!"


Tio menghembuskan napasnya berulang kali, memberikan ancang-ancang untuk menyerang. Adrenalinnya mulai kepancing, darahnya mulai deras mengalir, tubuhnya kemudian bergerak saat hitungan ketiga dengan mengayunkan tangannya untuk menebas tangan siren yang sedang menyakar di pintu itu hingga putus. Kemudian, terdengar suara teriakan parau kesakitan yang memilukan dari luar pintu.


Bersamaan dengan putusnya tangan itu, cairan hitam pekat seperti tar itu mulai menyiprat ke sembarang tempat. Untung saja mereka semua sudah menggunakan tameng pelindung itu, sehingga tidak ada satupun yang terkena cipratan secara langsung. Ada lumayan banyak cipratan yang mengenai helm Tio karena dia yang memutuskan tangan siren itu.


Bagian tangan yang terputus itu seketika jatuh di bawah kaki Tio, dengan lumuran cairan hitam yang merupakan darah siren itu. Jhonson yang melihat tangan jatuh tepat dihadapannya itu spontan mengubah sorot matanya menjadi ngeri dan jijik di waktu yang bersamaan.


Jangan tanyakan kondisi Daniel. Saat ini ia sudah berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya sejak melihat tangan itu terputus. Sedangkan sisanya hanya mematung melihat keadaan itu sambil berlari menarik Jhonson dan Jacob agar menjauhi pintu.


"Jac, ayo ke sini!" teriak Hans sambil menggapai tangan mereka berdua.


"O-oke," seru Jhonson terbata-bata.


Tio melirik ke sebuah ember hitam besar yang berada di sebelahnya, lalu meraihnya dan menutup tangan itu dengan ember itu.


"Apa ada yang terkena cipratannya?" tanya Tio memastikan.


Semua kru kapal menggelengkan kepala mereka, tanda mereka tidak ada yang terkena cipratan yang bisa membakar kulit seketika itu. Tio terlihat menghela napasnya lega, lalu melirik pedang yang dipegangnya sudah berlumuran darah hitam menjijikan itu.


"Bagus, semuanya jangan ada yang menyentuh cairan hitam itu!" peringat Tio mewanti-wanti.


"Ada apa dengan cairan itu, kapten?" tanya Arnold yang penasaran sejak tadi.


"Itu adalah darah dari siren itu, mereka bisa menyebabkan kulit manusia seperti kita hancur hingga tewas seketika," terangnya membuat para kru menelan salivanya dengan bersusah payah.


Namun, tidak selesai sampai disitu. Di sana, mereka semua kembali dikejutkan dengan suara teriakan menggema dari salah satu kru kapal yang sebelumnya telah ditugaskan untuk menjaga dek R, dimana tempat Felix berada. Suara teriakan kesakitan itu semakin lama semakin menjadi-jadi hingga tidak terdengar lagi.


"Ada apa?" tanya Hans penasaran sambil memegang kedua bahu lelaki yang ketakutan itu.


"S-siren itu.." ucapnya terbata-bata sambil terus menunjuk ke arah dek R dengan tangannya yang gemetar.


Hans mengeryitkan dahinya tidak mengerti, "maksudmu apa? Bicara yang benar."


"S-siren itu.. Dia membunuh Will."


Hans dan semua yang mendengar pernyataan itu membulatkan mata mereka sempurna. Teriakan yang mereka dengan tadi adalah suara salah satu kru kapal yang menjaga dek R sesuai perintah Tio tadi.


Tio dengan cepat melangkahkan kakinya menuju dek R untuk melihat kondisi kru kapal yang di laporkan tewas tadi. Saat berada diambang pintu, ia menemukan jasad dari Will yang sudah melepuh dengan kulit yang hampir meleleh memperlihatkan tulangnya. Wajahnya yang tampak terlihat takut juga membuat kesan mengenaskan dari kondisi tubuh Will saat ini.


Tio mengalihkan fokusnya kepada Felix yang tengah terduduk masih dengan tubuh yang terantai. Namun, yang menjadi perhatian adalah mulut Felix yang terus menerus menetes cairan hitam hingga menggenang di lantai.


"Apa yang kau lakukan?" teriak Tio marah, ia tidak mendekati Felix karena takut makhluk itu akan melakukan hal yang sama seperti kepada krunya.


Felix menengadahkan kepalanya, meniti sorot mata Tio yang penuh dengan amarah. Bukannya menjawab pertanyaan Tio, Felix hanya tersenyum menampilkan deretan gigi dan taringnya yang sudah penuh dengan cairan hitam yang terus mengalir. Tio menyadari sesuatu hal yang sangat diluar nalarnya saat ini, ia tidak menyadari ada makhluk yang nekat melakukan hal mengerikan seperti Felix hingga membuatnya ngilu.


Ternyata darah itu berasal dari lidah Felix yang sengaja ia gigit hingga putus dan menyebabkan darah hitam yang mengalir dari mulutnya. Karena hal itu ia tidak menjawab pertanyaan Tio melainkan hanya menampilkan senyuman menyeramkannya saja.


"Kau benar-benar gila! Apa kau sengaja mengigit lidah kau hingga terputus untuk menyerang anak buahku?" teriak Tio tidak percaya.


Jhonson tercekat, "dia mengigit lidahnya sendiri?" tanyanya kepada rekannya yang lain.

__ADS_1


"Aku tidak membayangkan seberapa sakitnya itu. Aku jadi ngilu sendiri," celetuk Jacob sambil mengidikan bahunya ngeri.


Felix hanya tertawa semakin nyaring saja mendengar ucapan Tio, entah apa yang lucu dari pernyataannya yang seperti itu.


Melihat kondisi Felix yang tidak akan menjawab karena lidahnya yang sudah terputus seperti itu membuat Tio memandangnya dengan curiga. Ia merasa ada hal yang sedang diam-diam ia rencanakan, atau bisa saja ini adalah jebakan lainnya yang mereka rencanakan.


Tio berbalik menyuruh anak buahnya untuk segera menuju pintu depan untuk menjaga dan mendorongnya dari dalam, mengantisipasi jika ada serangan mendadak yang mungkin akan terjadi selanjutnya.


Mereja harus benar-benar waspada, apalagi musuh mereka adalah makhluk yang paling licik serta berbahaya yang ada di dunia saat ini.


...****************...


Aríos hanya diam saja saat melihat salah satu anak buahnya yang merintih kesakitan karena tebasan pedang hingga tangannya putus. Ia tidak terlalu memikirkan hal itu, toh bisa di tumbuhkan kembali dengan ramuan Gladius jika perlu.


Hanya saja, saat ini mereka sudah harus memikirkan cara alternatif untuk mengalihkan perhatian manusia-manusia itu dari pintu dek inti sehingga mereka dengan leluasa membuka pintu itu tanpa hambatan.


Sebenarnya, Aríos bisa saja mendobrak pintu hingga hancur namun sesuai perintah Gloria bahwa Aríos hanya boleh menggunakan anak buah untuk mengurangi damage kapal membuatnya sedikit menahan diri.


"Tuan, Felix sudah mengigit lidahnya hingga putus."


"Dari mana kamu tau?" tanya Aríos kepada si pembawa berita.


"Cleo baru saja memberikan pesan dari yang mulia, Gloria."


Aríos menautkan alisnya, "mengapa ia sampai mengigit lidahnya? Apa tujuannya?" tanya Aríos lagi.


"Sebelum sempat menggigit lidahnya sendiri, Felix sempat bergumam dan berhasil ditangkap oleh batu kristal," jelas si pembawa berita.


"Apa yang ia katakan?"


"Faínetai óti i ektropí mou den páei kalá. Tha travíxo xaná tin prosochí tous, opóte efarmóste to schédió mas méchri na petýchei. Tha káno mia akómi thysía, elpízo na min eínai mátaii, " (Tampaknya pengalihan yang aku lakukan tidak sukses dengan baik. Aku akan mendapatkan perhatian mereka lagi, jadi lakukan rencana kita hingga sukses. Aku akan membuat satu pengorbanan lagi, aku harap itu tidak akan sia-sia.)


Aríos yang mendengar berita itu hanya menatap datar si pembawa berita lalu membiarkannya pergi. Ada rasa bangga di dalam hati Aríos memiliki anak buah yang loyal seperti Felix, mengingat ia sudah ingin mengorbankan dirinya sendiri untuk keberhasilan rencana yang mereka susun sedemikian rupa.


Tanpa perlu menunggu waktu yang lama, Aríos kembali menggunakan kesempatan ini untuk menyerang pintu utama dek inti sehingga mereka dapat mengambil alih kapal secepatnya. Kali ini, ia akan melakukannya sendiri mengingat waktu yang tidak banyak dan ia juga tidak oerlu sembunyi-sembunyi lagi, toh Gloria bisa melihatnya di batu kristal miliknya.


Urusan hukuman yang akan diterimanya karena tidak mematuhi perintah Gloria nanti ia pikirkan belakangan, saat ini yang terpenting adalah keberhasilan rencana mereka. Apalagi Felix sudah berkorban, ia tidak akan menyia-nyiakan pengorbanannya.


"Menyingkir lah kalian, biar aku saja yang buka," titah Arìos datar namun dengan intonasi tegas yang membuat siren lain membuka jalan agar Arìos bisa mendekat.


"..Kalian coba ke pintu belakang saja, untuk pintu depan biar aku yang ambil alih," lanjutnya seraya menatap lurus ke pintu besi yang berada beberapa meter dihadapannya itu.


Siren lain akhirnya membagi tugas menjadi dua, setengah dari mereka menuju pintu belakang dan setengan lagi mendampingi Aríos di pintu depan. Aríos berjalan mendekati pintu utama dek inti, lalu dengan setengah kekuatannya di menarik paksa pintu itu hingga terpental jauh ke belakangnya.


Duakk...


Pintu terbuka. Kali ini karena bukan di dorong ke depan melainkan di tarik ke luar membuat pintu tidak bisa ditahan dengan maksimal. Aríos berdiri di ambang pintu utama sambil menuruni anak tangga masuk menuju dek inti dan diam berdiri di sana.


Semua mata tertuju pada pintu yang sudah terbuka. Kru kapal yang sebelumnya membelakangi pintu utama akhirnya berbalik memandangi Aríos yang tengah berdiri tegak sambil memandangi netra mereka satu per satu. Beberapa kru terlihat terduduk secara tiba-tiba, karena otot kaki mereka yang mendadak kelu hingga tompangan tidak lagi bisa menahan tubuh mereka yang lemas seketika.


"Ah.. Apa aku mengejutkan kalian para andrás?" tanya Aríos sambil tersenyum miring.

__ADS_1


...-----...


__ADS_2