Love In Siren

Love In Siren
Kunjungan ke Lembah Siren Biru


__ADS_3

Semakin dalam mereka menyelam semakin gelap pula keadaan sekitar. Cahaya matahari tidak bisa masuk sedalam ini karena terhalang oleh air yang bergelombang. Audrina semakin mengeratkan pegangannya kepada Aoi, takut jikalau terlepas ia akan tersesat dengan gelapnya danau.


Perasaan gelisahnya kini hilang saat dititik tertentu sirip dan sisik dari para siren dan Zayn mulai mengeluarkan cahaya mereka sendiri. Pantulan cahaya itu membuat keadaan danau yang gelap gulita menjadi terang bercahaya. Kerlipan dari dinding-dinding batu yang ada disekitar juga membuat suasana dalam air menjadi lebih indah, seperti bintang di langit malam.


Zayn dan Audrina yang melihat itu terpana sampai tidak bisa berkata-kata. Melihat mereka merasa takjub dan terpesona dengan keindahan bawah air, Vivian memberikan isyarat kepada Aoi dan Thania untuk melewati rute memutar sehingga mereka bisa melihat suasana ini lebih lama lagi. Aoi dan Thania yang mengerti mengibaskan ekornya mengikuti Vivian yang sekarang sudah memimpin di depan.


"Wahh, cantik banget," kalimat itu spontan keluar dari mulut Zayn dan Audrina.


Mereka sesekali melihat beberapa ikan yang berenang melewati mereka dan beberapa ada yang menjauh karena takut dimakan oleh siren yang melintas. Sesekali mereka melihat seperti ada pohon yang mengapung namun akarnya tertanam di tepi-tepi tebing yang berada di dalam air.


"Aku tidak tau kalau danau sedalam ini, Aoi," ucap Audrina yang sedari tadi hanya memandangi sekitarnya dengan takjub.


Aoi tersenyum sambil terus menatap lurus ke arah depan, "sebenarnya, setiap danau memiliki keunikannya masing-masing. Ada beberapa danau indah yang hanya memiliki kedalaman 30 meter saja, hingga cahaya matahari masih bisa menembusnya seperti danau Tondano."


"..Ada beberapa danau indah yang memiliki pesona bawah air yang memiliki taman seperti Green Lake Gruner See di Austria," lanjutnya lagi.


Kemudian Aoi sedikit bergerak lebih ke dalam membuat Audrina sedikit tersentak karena gerakan yang tiba-tiba itu. Aoi menarik tubuh Audrina ke depannya, membuat Audrina harus memeluk leher Aoi dan tangan Aoi yang melingkar dipinggangnya.


Aoi melirik ke bawah, melihat wajah Audrina dan tersenyum lagi.


"Tapi, mereka hanya menyoroti keindahan bawah danau yang sempurna saja. Mereka tidak ingin berita tentang kegelapan danau mencuat keluar, karena ketakutan mereka yang begitu besar," Aoi melanjutkan lagi penjelasannya membuat Audrina kembali penasaran.


"Mereka siapa?" tanya Audrina.


"Para elite global di dunia atas. Mereka hanya menutup pengetahuan manusia yang luas dengan keindahan dan mengubur keingintahuan lain agar tidak menjadi pusat perhatian," jawab Aoi.


Audrina kembali berpikir, "kenapa mereka melakukan itu?"


"Entahlah. Mungkin karena mereka tidak bisa menjamah kegelapan bawah danau dan tentu saja karena hal itu mereka tidak bisa mendapati keuntungan. Sesuatu yang tidak menguntungkan, tidak akan di populerkan bukan?"


"Hanya karena mereka tidak bisa mendapatkan keuntungan mereka membatasi wawasan?" Audrina mengerutkan dahinya menunggu jawaban Aoi.


Aoi menghela napas pelan, "kegelapan bawah danau dan makhluk yang hidup di dalamnya adalah sebuah mitos. Mereka menolak untuk membuktikannya karena itu akan mengancam kedudukan mereka jika sejarah sesungguhnya terungkap. Begitulah kira-kira."


Aoi menutup penjelasannya lalu kembali fokus mengikuti Vivian yang memimpin di depan. Audrina yang seakan paham dengan maksud Aoi kembali diam dan menoleh kesekitar, tidak ingin melewati kesempatan ini.


Zayn terlihat sangat menikmati perjalanannya saat ini. Sesekali ia berusaha menggapai hewan air dan tanaman yang mereka lewati. Thania yang menuntun Zayn sampai membuatnya sering tertawa sendiri melihat tingkah Zayn yang seperti anak kecil yang baru pertama kali diajak keliling kebun binatang oleh orang tua mereka.


"Thania, apa itu?" tanya Zayn untuk kesekian kalinya kepada Thania.


Thania menoleh kearah tunjuk Zayn, "itu remis, kerang air tawar," jawab Thania yang tidak bosan-bosan menjawab pertanyaan Zayn yang sangat ingin tau itu.

__ADS_1


Kerang yang ditunjuk Zayn mengeluarkan cahaya kebiruan yang sangat indah. Saat Zayn ingin berusaha menyentuhnya, kerang itu bergerak menjauh dan masuk ke sela-sela tanaman rambat yang tumbuh di bebatuan.


Zayn hanya tertawa kecil melihat itu, lalu kembali mengubah perhatiannya ke objek lain yang menurutnya asing dan belum pernah dilihatnya selama ini.


Thania mengibaskan ekornya kembali dan mengeratkan peganggannya kepada Zayn, gerakan sedikit memutar membuat Zayn menutup matanya spontan. Gerakan memutar itu meninggalkan lingkaran gelembung air di belakang mereka.


Saat merasa Thania sudah berenang dengan lebih tenang, Zayn perlahan membuka matanya. Gerakan memutar terakhir itu membawa mereka masuk ke dalam sebuah lembah bawah air yang sangat menakjubkan. Bahkan Zayn dan Audrina tidak mengedipkan matanya sedikitpun melihat tempat ini.


"Selamat datang di rumah kami, kastil biru dasar danau yang bernama Kástro ble límnis," seru Vivian sambil membuka lebar tangannya dengan bangga memperlihatkan tempat tinggal mereka.


Cahaya biru yang sangat indah bersinar dari setiap bangunan yang terbentuk dari batu-batu danau. Beberapa siren terlihat sedang berlalu-lalang mengerjakan sesuatu dan tampak sibuk sekali. Kerlipan seperti kunang-kunang yang menghiasi sekitar lembah membuat tempat itu terkesan sangat indah dan mewah sekali di waktu yang bersamaan.


Tebaran batu-batu bercahaya seperti rubi dan berlian menghiasi dasar danau tempat kastil itu berdiri. Membuat siapapun ingin menyentuh batu-batu indah itu.


Dari setiap bangunan kastil yang berada disana, terdapat satu bangunan kasil terbesar dan tertinggi. Itu merupakan tempat Amber dan sesepuh lain yang tersisa berdiam diri. Mereka menuju kesana saat ini.


Semakin mereka mendekat kearah kastil, semakin banyak siren yang memperhatikan mereka. Siren-siren yang tadinya sibuk dengan pekerjaan mereka, seketika berhenti dan menyambut kedatangan mereka berlima dengan antusias.


"Chairetismoús se sas," ucapan salam kepada mereka berlima dari setiap siren yang dilewati oleh mereka.


Audrina hanya tersenyum dan sesekali melambaik kepada siren-siren itu. Zayn juga sesekali melambaikan tangannya mencoba menyapa siren lain yang melihat mereka.


Terlihat beberapa anak-anak siren melambai kepada mereka, "chairetísmata se esás anthrópous, eíste tóso goiteftikós, " (Salam kepada kalian manusia, kalian sangat menawan) ucap siren-siren kecil itu dengan semangat dan tertawa kecil.


Thania dan Vivian memaklumi perasaan mereka terhadap anak-anak siren itu, terkadang Thania dan Vivian juga sampai mencubit pipi anak-anak itu saking gemasnya.


Sepanjang perjalan menuju kastil sesepuh, mereka selalu disapa oleh siren-siren yang penasaran dengan ramah, antusias, bersahabat dan ceria. Sikap yang berbeda sekali saar bertemu siren merah yang suram dan menegangkan.


Sampai tiba di dua blok terakhir sebelum kastil, salah satu siren mendekati mereka dengan ekspresi heran. Melihat raut wajah keheranan itu, Vivian menoleh kebelakang.


"Aoi, cahaya apa itu?" tanya Vivian bingung sambil menunjuk ke dada Aoi.


Aoi melihat ke arah yang ditunjuk Vivian. Seketika Aoi membulatkan matanya, ternyata arah yang ditunjuk itu tepat di dalam dadanya dimana tempat ia menyimpan batu jantung jóias.


Cahaya biru dari jóias memenuhi dadanya, kemudian ia mengeluarkan batu itu perlahan. Aoi menoleh ke arah Audrina yang berada tepat disebelahnya.


"Ody, pegang jóias ini. Sepertinya kamu sudah memicu kehadiran jantung jóias ini," Aoi menyerahkan berlian jóias biru kepada Audrina.


Dengan hati-hati Audrina memegang jóias itu. Saat Audrina mendekatkan batu itu ke dadanya, desiran air yang sebelumnya tenang mulai meriak tidak karuan, seakan mengerti apa yang sedang hadir di tengah-tengah mereka saat ini.


Thania dan Vivian sedikit menjauh dari tempat Audrina dan Aoi berada saat ini. Zayn juga ditarik mundur oleh Thania karena merasa akan ada sesuatu yang terjadi di sana.

__ADS_1


Para siren yang tadi menyapa mulai berkerumun di belakang Thania dan Vivian, merasa penasaran dengan apa yang sedang terjadi.


"Bukankah itu jóias?"


"Apa dia dariás?"


"Dia keturunan Kena?"


"Benarkah dia adalah dariás?"


"Jóias itu bercahaya!"


"Dariás masih hidup!"


"Perempuan itu ternyata dariás!"


Terdengar kegembiraan dari suara semua siren disana saat ini. Beberapa ada yang teriak kegirangan mengetahui ternyata darías lain masih hidup dan belum punah. Rasa lega kini mulai menyelimuti mereka, terlihat dari wajah mereka yang bersinar ceria.


Audrina melihat siren-siren yang senang akan kehadirannya itu lalu menatap Aoi yang tersenyum hangat ke arahnya.


Cahaya yang dikeluarkan jóias perlahan mulai semakin menyilaukan mata, membuat semua yang berada disana menutup mata mereka, kecuali Audrina. Hentakan gelombang yang diberikan jóias itu membuat mereka sedikit terdorong ke belakang. Seperti hembusan angin kencang yang menerpa pohon sehingga membuat daunnya berjatuhan.


Cahaya jóias mulai meredup dan semua mata yang tertutup perlahan mulai membuka mata mereka kembali.


Saat mereka membuka mata mereka, betapa terkejutnya mereka melihat cahaya biru mengkilau mulai bertebaran disekitar kastil mereka. Batu-batu kecil yang sebelumnya hanya seperti batu biasa mulai mengeluarkan cahaya biru seperti anting Audrina saat ini.


Para siren itu tidak sadar bahwa selama ini, anak-anak dari jantung jóias biru berada disekitar mereka. Melihat keajaiban itu, dengan cepat Vivian menyuruh kepada semua siren untuk mengumpulkan anak-anak jóias itu ke dalam sebuah wadah.


"Terima kasih," ucap salah satu siren perempuan yang sepertinya seumuran dengan Thania kepada Audrina.


Audrina tersenyum dengan lebar sekali, "sama-sama," serunya dengan bahagia.


"Kumpulkan semua jóias, jangan ada yang tersisa!" teriak Aoi yang membuat semua siren bergegas menuruti titahnya.


Suasana yang bahagia mulai terasa hingga ke seluruh penjuru lembah Kástro.


Aoi memeluk Audrina hingga mereka sedikit berputar di dalam air, "Audrina, kamu berhasil!" Aoi tertawa bahagia.


Audrina menerima pelukan itu dengan senang hati. Zayn terpesona dengan kilauan indah yang dikeluarkan anak-anak jóais itu tidak sempat melihat pelukan itu. Fokusnya sudah diambil alih oleh keindahan jóias yang bersinar terang.


Saat ini, jóias biru sudah berhasil menemukan kembarannya dengan bantuan Audrina. Semoga kedepannya lebih mudah lagi.

__ADS_1


...-----...


__ADS_2