Love In Siren

Love In Siren
Kembali ke Villa Daisy


__ADS_3

"Dokimáste to an boreíte," (Coba saja kalau bisa) remeh pengintai itu membalas desisan Thania.


Dengan kekuatan yang dibantu dorongan ekornya, Thania berhasil menarik Zayn ke atas. Tetapi dua lawan satu, tentu saja ia kalah dalam segi kekuatan. Seperti mengerti isi hati Thania saat ini, Aoi muncul dari belakang dan membantu Thania menarik Zayn untuk kembali ke permukaan.


Aoi juga memberikan perlawanan sengit yang membuat pengintai itu kewalahan. Saat ini mereka harus segera ke permukaan, sebelum Zayn kehabisan napas. Datangnya pertolongan Aoi sudah sangat membantu sekali, karena Aoi saja sudah bisa dihitung dua kali siren itu hingga mereka dengan mudah menarik Zayn.


Kedua pengintai siren merah itu melepaskan tarikannya dari kaki Zayn, karena tekanan yang diberikan Aoi dan Thania. Saat sudah terlepas, Aoi memerintahkan Thania untuk membawa Zayn ke permukaan sedangkan ia menghadang kedua pengintai itu.


Thania menarik Zayn ke atas, "bertahanlah Zayn!" mohonnya karena ia merasa Zayn sudah seperti akan kehilangan kesadarannya saat ini.


Aoi merentangkan kedua tangannya dengan memegang senjata andalannya yang seketika bersinar bersamaan dengan sisik Aoi. Iris mata kehijauannya sudah mengecil, tanda ia menargetkan lawan dihadapannya dengan desisan yang menciutkan lawannya.


"Bisa-bisanya kalian menyentuh dariás kami!" kesal Aoi mengeluarkan cakarnya yang mengkilap.


Pengintai itu mendelik, "lelaki itu juga dariás?" terlihat jelas raut mata kebingungan di wajah mereka berdua.


Aoi menaikkan kepalanya hingga menatap kedua pengintai itu dari bawah, "menurut kalian?" tukasnya dengan nada datar membuat si pendengar merinding hingga ke tulang ekor mereka.


Aura kuat sangat terlihat jelas pada Aoi, mereka menyadari tidak akan bisa menang melawannya yang ada mereka akan mati.


"Kami akan mundur sekarang. Kalian beruntung saja hari ini," kata pengintai itu berusaha menahan gengsinya. Mereka pun akhirnya memutuskan untuk mundur dan meninggalkan Aoi yang sudah hampir memutuskan batang leher mereka dengan mudah.


Tidak ada niatan untuk mengejar mereka, Aoi hanya menatap kepergian mereka dalam diam. Ia tau mereka tidak akan bertindak bodoh hanya untuk mati ditangannya tanpa perintah dari pimpinan mereka, Gloria. Walaupun setia, mereka tetap menyangin nyawa mereka sendiri bagaimanapun situasinya.


Setelah memastikan pengintai itu pergi, Aoi berbalik dan kembali menuju permukaan.


Audrina menepuk-nepuk punggung Zayn yang sudah batuk-batuk karena air yang memenuhi paru-parunya, sedangkan Thania membantu menahan tubuh Zayn yang terlungkup di atas pangkuannya mendekapnya agar lebih hangat.


Wajah Zayn sudah memerah sempurna dengan air mata yang membasahi sekitar matanya.


"Ayo bawa Zayn ke dalam Villa!" titah Aoi yang sudah naik ke permukaan. Ia mengambil alih tubuh Zayn lalu mengendongnya ala bridal-style agar lebih mudah dan berlari menuju Villa dengan Audrina dan Thania yang berlari menyusul dari belakang.


Audrina mendahului Aoi, "sebentar aku buka pintunya," ucapnya sambil merongoh kunci rumah yang diselipkan di balik pot besar diseberang pintu.

__ADS_1


Aoi langsung menuju perapian untuk menghangatkan tubuh Zayn, lalu menyuruh Audrina untuk mengambil handuk dan baju ganti untuk Zayn.


"Thania, hidupkan kompor dan buatkan air hangat!" perintah Aoi.


Thania yang mendapatkan perintah aneh itu memandang Aoi dengan penuh tanda tanya. Ia tidak pernah berinteraksi dengan manusia seperti dirinya, bagaimana seorang siren danau primitif seperti dirinya mengerti cara membuat air hangat dengan kompor.


"Yang benar saja, Aoi. Kamu menyuruh aku membuat air hangat dengan kompor? Kompor aja aku tidak tau seperti apa bentuknya," sergah Thania sambil menggelengkan kepalanya heran.


Aoi yang tersadar langsung terkekeh pelan, "benar juga," ia pun beranjak dan menyuruh Thania untuk menahan kepala Zayn agar tetap di atas, "biar aku yang buat, kamu di sini aja jagain Zayn."


"Baiklah," jawab Thania lalu meletakkan kepala Zayn ke atas pangkuannya.


Aoi langsung beranjak menuju dapur membuat minuman hangat untuk Zayn, sedangkan Thania yang merasa risih dengan pakaian Zayn yang basah langsung membantunya melepaskan bajunya agar tidak lembab sehingga tubuhnya lebih cepat hangat. Zayn sejak tadi hanya memejamkan matanya, walau sebenarnya ia sadar. Hal itu ia lakukan untuk menekan fokus pernapasannya yang sedikit terganggu karena telalu lama di dalam air tadi.


Audrina akhirnya kembali turun mendekati Thania dan Zayn di perapian, dengan membawa handuk dan baju ganti untuk Zayn.


"Thania, ini handuknya," Audrina mengulurkan tangannya yang terdapat handuk tebal kepada Thania dan diterima langsung olehnya.


Zayn perlahan membuka matanya, "baiklah," ia pun mendudukkan dirinya dibantu Thania dari belakang.


Audrina memberikan baju kepada Zayn, "ini baju gantinya, Zayn."


"Terima kasih, Na," sahut Zayn lirih seraya menerima baju ganti dari Audrina.


Thania yang masih tidak tega dengan kondisi Zayn akhirnya menawarkan diri untuk membantunya berganti pakaian.


"Mau aku bantu gantikan?" tanyanya langsung.


Pertanyaan yang sedikit aneh itu membuat Audrina terdiam, ditambah lagi Zayn yang merasa malu hingga wajahnya memerah karena tawaran mendadak Thania yang tanpa filter itu.


Bagaimana pun Thania adalah seorang perempuan. Laki-laki mana yang tidak tersipu seperti Zayn jika ada seorang perempuan yang menawarkan dirinya mengantikan pakaiannya? Secara Zayn adalah laki-laki normal yang juga masih menyukai perempuan.


Zayn menundukkan arah pandangnya, "t-tidak Thania, aku bisa sendiri kok," serunya dengan susah payah menelan salivanya.

__ADS_1


"Kamu yakin?" tanya Thania lagi, ia kali ini mencoba mendekati Zayn namun melihat Zayn yang malah mencoba menjauhi membuatnya menggurungkan niatnya.


"Iya, aku bisa sendiri," ucapnya lalu beranjak dari duduknya, "aku ganti baju dulu."


Thania dan Audrina mengangguk melihat Zayn langsung bergerak menuju kamar mandi untuk mengganti pakaiannya yang sudah basah kuyup itu. Helaan napas terdengar keluar secara halus dari mulut Thania yang kemudian memutuskan untuk membantu Aoi.


Aoi sedang memanaskan air di kompor dan menyiapkan teh hangat seperti yang pernah diajarkan oleh Audrina sejak dulu. Saat mereka masih terpisah oleh jarah dan hanya bisa berbicara dari kalbu yang semu. Tidak bisa bersentuhan, hanya memandang satu sama lain untuk menghapus rindu mendalam yang entah muncul dari mana.


Dengan telaten Aoi mencoba mendemonstrasikan langkah demi langkah sesuai dengan ajaran Audrina dari takaran gula, air, dan sebagainya. Audrina hanya memantau Aoi dari kejauhan tanpa berniat untuk campur tangan, ajarannya tidak sia-sia rupanya.


"Itu yang namanya kompor?" tanya Thania yang penasaran dengan bentuk kompor tanam Villa yang unik dan tidak pernah ia jumpai sebelumnya.


Aoi mengangguk, "iya. Ini kompor, yang merah kebiruan itu apinya. Jangan disentuh!" teriaknya panik saat sorot matanya melihat Thania hampir menyentuh api yang kekuar dari kompor itu.


Thania yang merasa diteriki terkejut, "kenapa?" tanyanya panik pula karena nada suara Aoi yang meninggi.


"Itu panas! Nanti tangan kamu melepuh," jelas Aoi sambil mendorong pelan tangan Thania agar menjauhi kompor, "kamu duduk aja sana!" perintahnya.


Thania mendengus kesal, "huh, baiklah-baiklah," pasrahnya lalu duduk di kursi bar dapur seraya menompang dagunya dengan tangannya.


Kegiatan normal yang terjadi Villa semakin lama semakin familiar. Terlepas dari kejadian yang tidak mengenakkan terhadap Zayn, mereka berhasil kembali ke Villa sebelum matahari tenggelam sempurna.


Misi awal mereka berjalan sesuai rencana, selanjutnya adalah rencana lanjutan mereka setelah ini. Semoga saja semua berjalan sesuai dengan diskusi mereka bersama Vivian dan para sesepuh di lembah.


"Aku sudah selesai," ucap Zayn keluar dari kamar mandi dengan mengelap rambutnya dengan handuk.


"Bagus, ini minum teh hangat dulu," seru Aoi sambil menaruh teh di atas meja bar.


Aoi bukan hanya membuat untuk Zayn saja, melainkan untu mereka berempat. Akhirnya, mereka memutuskan untuk istirahat sejenak dengan minum teh bersama.


Jarang sekali ada siren yang mau minum teh bukan?


...-----...

__ADS_1


__ADS_2