Love In Siren

Love In Siren
Tanaman Ampélia


__ADS_3

"Sebentar, aku kirim tugas dari professor aku dulu."


Audrina berlari ke arah ruang lukisnya dengan membawa kamera dslr dan mendokumentasikan hasil lukisannya. Lukisan abstrak yang menjadi salah satu tugas kesekiannya dengan nuansa coretan biru dan emas yang sangat proporsional nan indah. Hanya mereka yang tau seni yang akan mengerti kriteria seni pada lukisan Audrina saat ini. Orang awam hanya akan mengatakan bahwa itu ada coretan tidak jelas.


Setelah mengambil beberapa foto lukisannya, ia kemudian membuka laptopnya dan mengirimkan tugasnya ke email professor yang memberikan tugas ini kepadanya. Setelah mengecek riwayat pemgiriman dan berhasil, Audrina kembali menutup laptopnya.


Dalam keadaan segenting apapun, tugas memang harus diprioritaskan. Tugas itu nomor satu, menurut Audrina tentu saja. Hanya orang-orang terpilih yang akan melakukan hal yang sama seperti Audrina, kalau tidak sanggup jangan ditiru. Disclaimer, hanya untuk orang-orang profesional saja.


Zayn menggelengkan kepalanya heran, "bisa-bisanya ngumpulin tugas disaat kayak gini."


"Hehehe... Tugas itu nomor satu, biar papa seneng anaknya rajin," sahut Audrina sambil terkekeh pelan. Hal itu dilakukan juga atas dasar untuk membahagiakan orang tuanya agar merasa perjuangan ayahnya itu tidak sia-sia.


Thania masih mengobati luka cakaran yang dilakukan sendiri oleh Zayn, sesekali ia meringis menahan perihnya obat yang tersentuh lukanya itu. Zayn meruntuki dirinya sendiri, kenapa dengan bodohnya ia malah melukai diri sendiri hingga harus menahan sakit kembali seperti ini.


Setelah Thania selesai, Aoi mendekati Zayn yang masih belum memakai bajunya dan melihat kondisi dari punggung Zayn. Luka bakarnya tidak ditumbuhi sisik seperti daerah lainnya, ia kira luka bakarnya akan tertutupi sisik.


Sisik keabuan yang muncul di punggung Zayn perlahan berkilau seperti halnya sisik siren lainnya. Aoi menyipitkan matanya melihat kilauan yang terpantul dari sisik pada punggung Zayn itu.


"Jangan pakai baju," titah Aoi kepada Zayn yang baru saja memegang baju untuk dikenakannya.


Zayn mengernyitkan dahinya, "kena- Oh, yaa.. Baru dikasi obat tadi," ucapnya yang tersadar bahwa Thania baru saja memberikan obat pada punggunya.


Saat Thania beranjak dari duduknya, Zayn reflek menahan tangan Thania.


"Um, terimakasih Thania," ucap Zayn sambil tersenyum tulus.


Thania menunduk, "sama-sama."


Audrina kembali ke kamarnya yang sudah seperti kapal pecah itu. Kondisinya sangat memprihatinkan, pintu hancur berkeping-keping, kaca pecah, barangnya berserakan. Kalau kalian lihat pasti akan sakit kepala sendiri.


Vivian melihat wajah lesu Audrina yang kemudian berinisiatif untuk mengembalikan kamarnya ke kondisi semula. Mendengar hal itu, Audrina tentu dengan senang hati menerima tawaran itu karena ia tidak perlu memberikan alasan yang tidak-tidak kepada ayahnya tentang kamarnya nanti.


Semua orang diminta untuk keluar dari kamar itu, hanya Vivian saja yang boleh berada di sana. Vivian menyentuh setiap benda yang ada di kamar Audrina satu per satu. Kemudian, ia berdiri di ambang pintu lalu menepukkan tanganya sebanyak tiga kali.


Terlihat kerlipan cahaya putih seperti kunang-kunang pada malam hari yang mulai menghiasi seisi kamar Audrina, bersamaan dengan menyatunya kembali semua barang yang telah hancur sebelumnya. Buku-buku dan barang lainnya yang berserakan pun juga kembali ke tempat semula.


Dalam beberapa detik saja, kamar Audrina kembali seperti sedia kala.


"Wow," ucap Zayn dan Audrina bersamaan. Mereka merasa takjub dengan kekuatan yang dimiliki oleh Vivian. Mereka juga sesekali mengucek mata mereka untuk memastikan apa yang mereka lihat adalah sungguhan.

__ADS_1


Vivian berbalik badan sambil tersenyum, "bagaimana? Keren kan?" ucapnya bangga sambil mengibaskan rambutnya ke belakang.


Zayn dan Audrina bertepuk tanggan dan dengan sangat keras, memberikan reaksi yang benar-benar sesuai ekspektasi Vivian. Vivian yang merasa dipuji seketika tertawa, hingga mengerakan telinga lancipnya dengan bangga.


Aoi menutar bola matanya jengah, " biasa aja," celetuknya membuat Vivian yang semula bahagia berubah menatapnya dengan sorot mata kesal.


"Ayo kita berangkat," ajak Thania. Sepertinya ia juga tidak terlalu tertarik dengan kehebatan Vivian itu, sudah basi menurutnya.


Vivian mengerucutkan bibirnya melihat tidak adamya apresiasi Thania dan Aoi terhadap dirinya. Selagi menahan kekesalannya ia juga membantu Zayn berjalan untuk menuruni anak tangga, disusul Thania dan Aoi yang menggandeng tangan Audrina dengan erat.


Setibanya dipinggir danau, Aoi mengeluarkan beberapa lembar tanaman rambat dari saku celananya lalu memberikannya kepada Zayn dan Audrina. Melihat tanaman aneh yang tidak pernah mereka lihat, sorot mata mereka melirik Aoi dengan kebingungan. Tidak mengerti maksud dari tanaman yang diberikan itu.


Audrina menatap tanaman di tangannya itu, dengan sorot mata yang bingung, "ini buat apa?" tanyanya.


"Kalian makan itu dulu, supaya kalian bisa bernapas di dalam air," jawab Aoi sekenanya.


Zayn menatap jijik tanaman yang berada di tangannya itu, "makan ini? Ih geli banget."


"Kalau ngga mau yaudah sini kembalikan! Biar aja mati kehabisan napas di dalam air," tukas Aoi ketus.


Zayn terdiam sejenak, lalu tanpa berpikir panjang ia langsung memakan tanaman itu. Rasanya yang tawar dan agak amis membuatnya sedikit mual, mengigat perut Zayn yang sensitif dan sangat sulit menerima makanan aneh yang masuk ke perutnya.


Audrina menyipitkan matanya menahan rasa menjijikkan yang baru saja ditelannya, "uwek, tanaman apaan sih ini?"


"Tanaman ampélia. Itu tanaman rambat dari lembah tempat tinggal kami. Bukan hanya bisa membuat kalian bernapas di dalam air, tanaman itu juga merupakan tanaman obat yang mujarab," jelas Thania lagi.


Setelah menunggu beberapa menit agar efek tanaman itu bekerja, Vivian dan Thania terlebih dahulu masuk ke dalam air. Saat menyentuh air, kaki mereka perlahan berubah menjadi ekor yang sangat indah.


Zayn hanya termangu menatap perubahan siren di depannya itu, seakan takjub juga dengan apa yang ia lihat. Begitu juga dengan Audrina yang belum pernah sekalipun melihat perubahan siren langsung di depan matanya.


Thania membantu Zayn untuk masuk ke dalam air dan memegang tangannya untuk menuntunnya di dalam air nanti.


"Giliran kamu, Ody," ucap Aoi lembut sambil memberikan tangannya untuk membantu Audrina masuk ke dalam air.


Audrina menelan salivanya, ada rasa sedikit takut untuk kembali masuk ke dalam air. Mungkin ia masih trauma dengan kejadian tidak mengenakan saat tenggelamnya ia waktu kecil dulu. Seperti mengetahui apa yang dirasakannya, Aoi pun mendekatinya lalu mengelus pelan puncak kepalanya membuat Audrina seketika mendongakkan kepala menatap manik mata kehijauan Aoi yang sangat lembut itu.


"Tidak apa-apa, aku ada disini," ucapnya menenangkan Audrina.


Audrina mengangguk paham lalu berjalan perlahan mendekati tepi danau. Aoi terlebih dahulu masuk ke dalam air agar Audrina tidak takut untuk melompat ke dalam air juga.

__ADS_1


Audrina menghembuskan napasnya pelan, lalu melompat ke dalam air dengan mata tertutup. Ada rasa panik yang membuatnya sedikit teringat akan kejadiannya dulu, namun beda halnya kali ini Aoi berada di sampingnya.


Audrina membuka matanya perlahan, di sebelahnya sudah ada Aoi yang memegang tubuhnya dengan erat. Ia tidak tenggelam kali ini. Saat mereka sudah masuk ke dalam air semua, Vivian langsung memberikan instruksi untuk menyelam ke dalam air menuju dasar danau tempat mereka tinggal selama ini.


"Jangan ditahan napasnya, Zayn."


Thania menepuk pundak Zayn yang terlihat menegang, padahal ia sudah memakan tanaman ampélia tadi. Mungkin ia belum terbiasa dengan keadaan yang seketika berubah saat ini. Biasanya saat di dalam air mereka tidak boleh bernapas berlebihan, namun kali ini mereka di haruskan untuk bernapas seperti biasa. Agak kaku memang.


Zayn mencoba membuang napasnya dan bernapas seperti biasanya. Saat ia mulai terbiasa bernapas di dalam air, ia menoleh ke arah Thania dengan ekspresi takjub karena saat ini ia bisa bernapas di dalam air tanpa alat bantu pernapasan. Thania ikut tersenyum senang melihat ekspresi wajah Zayn yang seperti kegirangan itu.


Audrina masih belun terbiasa dengan menyelam pun terlihat sedikit panik, namun berkat Aoi yang selalu menggengam tangannya Audrina merasa lebih aman.


"Pelan-pelan," seru Audrina saat tangannya ditarik sehingga tubuhnya semakin dalam masuk ke dasar danau oleh Aoi.


Aoi mengibaskan ekornya perlahan agar Audrina merasa lebih aman dan tidak takut, karena biasanya dengan satu kibasan ekornya saja ia bisa melaju hingga kecepatan 50 km/jam.


Mereka berlima saat ini berenang semakin dalam menuju lembah di danau kegelapan.


...****************...


"Bagaimana? Apa andrás itu memakannya?" tanya Gloria pada Kiesa yang baru saja tiba di depan kastilnya. Rasa penasaran Gloria kini sudah sampai ubun-ubun, ingin mendengar kabar kelanjutan dari mata-matanya itu.


"Iya, yang mulia," jawab Kiesa sambil menundukkan kepalanya.


Aríos tersenyum, "aku yakin mereka saat ini sedang menuju danau."


Gloria tampak bahagia, kali ini rencananya berhasil. Tulang yang kemarin diolahnya dengan ramuan yang dibuat oleh Gladius berhasil bekerja dengan sempurna.


Tulang yang mereka olah itu adalah milik salah satu sesepuh siren merah yang memiliki kekuatan hebat, dimana ia dapat merubah bentuk siapapun sesuai keinginannya. Apabila ditambah dengan beberapa ramuan sepadan akan bekerja dengan maksimal.


Tulang belulang itu adalah salah satu rahasia kekuatan siren merah yang tersembunyi selama ini.


Tidak ada pilihan lain selain membawa mereka menuju Amber yang berada di dasar danau. Hal itu pula merupakan peluang terbaik untuk menyerang Aoi karena priotitas utama mereka pasti melindungi manusia. Mereka pasti akan lengah, pikir Gloria.


"Kelemahan mereka terlalu mudah udah dibaca," celetuk Gloria sambil tertawa, "Aríos, siapkan pasukan menuju ke danau. Aku sudah tidak sabar melihat dariàs itu, pasti mereka membawanya juga kesana," titah Gloria kepada Aríos.


Dengan cepat Aríos menganggukkan kepalanya paham dan mulai mengumpulkan pasukannya. Mereka menuju ketempat Aoi dan Audrina berada saat ini.


Sepertinya akan hal mengerikan sekaligus menegangkan yang akan terjadi selanjutnya. Semoga tidak ada yang terluka nantinya.

__ADS_1


...-----...


__ADS_2