Love In Siren

Love In Siren
Evolusi Dariás


__ADS_3

Zayn kembali seperti setelan awalnya, tidak suka meminum apapun yang pahit. Ia kembali menolak mentah-mentah untuk meminum ramuan yang sudah disediakan Amber khusus untuknya. Aoi yang tadinya merasa kasihan terhadapnya kini berubah menjadi jengkel begitu pula Vivian yang bersusah payah sejak tadi menahan tubuh Zayn agar tidak bergerak.


Thania hanya tertawa melihat tingkah Zayn yang memberontak seperti itu, layaknya anak kecil. Melihat itu, Zayn berarti sudah kembali seperti semula. Akhirnya Audrina kembali mengancamnya lagi apabila ramuan itu tidak segera diminum segera maka Audrina tidak akan segan-segan menjauhinya.


Tentu saja, ancaman sederhana seperti itu berhasil membungkam Zayn sepenuhnya. Mudah sekali bukan?


"Uwekk..." Zayn merasa mual dan tenggorokannya seakan terbakar.


"Nah, pinter." Aoi menepuk-nepuk bahu Zayn.


Zayn berusaha menutup mulutnya sambil menatap tajam ke arah Aoi yang sedang kegirangan melihat keadaannya saat ini. Suatu saat ia akan membalas perbuatan Aoi bagaimanapun caranya, pikirnya.


Audrina tertawa hingga memperlihatkan taringnya yang sudah muncul satu hari yang lalu. Hal itu tentu saja menarik perhatian Amber yang tidak sengaja melihatnya.


"Sepertinya kamu sudah berevolusi Audrina," ucap Amber tiba-tiba.


Audrina menoleh kearah Amber tersadar akan sesuatu yang menarik perhatiannya, "sepertinya kamu sudah melihat taringku," ucap Audrina sedikit kikuk.


Amber mengangguk, "pasti punggung kamu sudah penuh dengan ukiran kan?" tanya Amber yang membuat Audrina mengangguk.


"Bagaimana kamu tau?" tanya Audrina penasaran. Padahal ia belum mengatakan apapun tentang punggungnya karena masih memikirkan kondisi Zayn yang menurutnya sudah sangat mengkhawatirkan.


Amber sedikit terkekeh, "aku jadi teringat ibu kamu. Kalian benar-benar mirip."


Audrina sedikit tersipu sekaligus senang mendengar kalimat itu. Mendengar itu membuatnya selalu mengenang hal baik dari ibunya dan dengan begitu ibunya ternyata selalu diingat sampai detik ini. Senyum manis Audrina telah mengatakan ucapan terima kasih yang sangat tulus kepada Amber saat ini.


"Apa salah satu alasan kalian kesini juga karena kamu, Audrina?" tanya Amber.


Audrina mengangguk pelan, "semakin lama sepertinya aku semakin berubah," ucapnya parau. Ia masih merasa takut untuk berubah wujud saat ini, takut dan bingung untuk untuk sekedar merangkai kata yang nantinya akan ia katakan kepada ayahnya juga menjadi salah satu alasan yang kuat.


Apalagi sosok Audrina yang saat ini sangat dikenal hampir dikalangan orang, membuatnya sedikit minder. Pasti jika ada sesuatu yang berubah, ia akan digunjing. Misalnya tiba-tiba ia menghilang, takutnya malah membuat rumor tidak jelas dan merusak nama baik keluarganya.


Entahlah, manusia banyak sekali berpikir. Seperti Audrina saat ini, semua hal dipikirkan. Padahal hal itu bisa saja tidak terjadi.


Overthinking.


Kualitas public figure yang dimilikinya menjadikan dirinya banyak pikiran dan sulit menetralkan otaknya, karena selalu berpikira dan menbangun skenario aneh di benaknya. Tipikal *creat*or.


"Karena kamu sudah terlalu lama terbuka, semua yang seharusnya ada di dalam dirimu akan muncul secara perlahan," Amber menjelaskan dengan suara lembutnya.

__ADS_1


Audrina menghela napasnya, "aku takut perubahan ini bisa membuat keluarga aku dikucilkan." Raut wajah sedih Audrina terpampang jelas. Sudut bibirnya kini telah melengkung ke bawah menandakan rasa sedih dan khawatir di waktu yang bersamaan.


"Sepertinya kamu sangat memikirkan keluargamu," Amber menghela napasnya, "sudah aku katakan, kalian mirip sekali. Bahkan pemikirannya pun juga sanat mirip."


Audrina tersenyum simpul, mengerti dengan apa yang dimaksudkan oleh Amber. Kena adalah sosok perempuan yang sangat mencintai keluarganya, begitulah cara Audrina mendapatkan didikan tentang pentingnya sebuah keluarga. Sehingga, apapun yang akan dilakukan ke depannya harus memikirkan keluarga terlebih dahulu.


Kadang hal itu memang baik, tapi bisa juga tidak mendapatkan timbal balik.


"Ikut aku, akan aku berikan mantra penahan mu," ajak Amber sambil merangkul pelan pundak Audrina dan membawanya ke sebuah ruangan yang cukup besar.


Mereka masuk ke sebuah ruangan yang bernuasa biru kehijauan yang didindingnya berjajar kristal-kristal yang sangat menarik perhatian. Selain itu, banyak sekali jenis tanaman rambat dan buku-buku yang terbuat dari kaca.


Audrina duduk disalah satu batu marmer yang berada diruangan itu, sedangkan Amber bergerak mengibaskan ekornya mendekati salah satu tanaman yang berada diruangan itu.


"Kristalnya indah," ucap Audrina seraya menatap antusias kristal yang berada disana.


Amber tersenyum, "ini adalah salah satu benda turun-temurun dari generasi ke generasi. Mereka sangat spesial."


Audrina mangut-mangut. Lalu ia berusaha meraih tanaman yang berada di belakangnya. Anehnya, tanaman yang baru saja ia sentuh mulai merambat hingga ke jarinya.


"Eh.." teriak Audrina panik karena rambatan tanaman itu semakin menjalar ke pergelangan tangannya.


Audrina menahan napasnya sejenak saat Amber menarik tanaman itu. Lilitan kuatnya seakan memudar saat Amber menyentuhnya.


Helaan napas lega akhirnya bisa dikeluarkan oleh Audrina saat Amber berhasil mengembalikan tanaman itu ketempatnya semula.


"Tanaman itu namanya synkrátisi, kami biasa menyebutnya tanaman syn. Tanaman pengekang yang paling sulit dikendalikan dan punya pemikirannya sendiri. Ia hanya akan menurut dengan siapa yang telah merawatnya." Amber menjelaskan seraya mencoba memilih buku yang ada dihadapannya.


"Seperti peliharaan?" tanya Audrina.


...Sahhh......


Terdengar amukan memekik dari tanaman syn saat Audrina mencoba menyamakan mereka dengan peliharaan. Audrina sedikit terlonjak kaget mendengar suara yang sebelumnya belum pernah ia dengan dari tanaman.


Amber tertawa, "mereka paling tidak suka kalau dianggap peliharaan."


"Terus apa dong?"


Amber yang sejak tadi berusaha memilih buku akhirnya menemukan yang dicarinya, lalu membawanya dan duduk diatas batu marmer disebelah Audrina.

__ADS_1


"Kami itu keluarga, mereka juga termasuk keluarga. Seperti maknanya keluarga, mereka akan melindunginya dari marabahaya," seru Amber sambil sesekali membuka halaman buku yang ia pegang.


Makna keluarga yang sangat berbanding lurus dengan apa yang selama ini diajarkan ibunya. Semakin lama Audrina disini, ia semakin merasa nyaman dan senantiasa dekat dengan ibunya.


Sifat Kena yang penyanyang, sangat persis dengan Amber. Sepertinya Audrina akan minta Aoi mengajaknya kesini lagi jika ia mulai rindu dengan ibunya.


"Ah..." Suara Amber memecahkan keheningan. Ia seperti baru mendapatkan sesuatu yang dicarinya sejak tadi.


Amber memberikan buku kaca yang dipegangnya ke hadapan Audrina, mempersilahkannya untuk membaca halaman yang ditunjuk oleh Amber.


Audrina sedikit mengernyitkan dahinya, ternyata itu bukan hanya tulisan aneh yang tidak ia ketahui makna dan artinya tetapi juga ada gambar bergerak didalamnya.


Disana terdapat gambaran perjalan dari seorang bayi yang baru dilahirkan, hingga ia menjadi tua dan meninggal. Silsilah kehidupan yang selalu berulang tanpa bisa dihindari makhluk didunia ini, bahkan siren sekalipun.


Tidak seperti cerita vampir yang Audrina tau, dimana mereka akan tetap awet muda sesuai dengan masa dimana ia berubah menjadi vampir. Atau pada versi lainnya mereka tetap menua, hanya saja saat umur mereka sudah berabad-abad tahun mereka akan menua.


Entahlah, banyak versi cerita yang Audrina ketahui.


Gambar bergerak yang menarik netranya membuat Audrina mematung mencari kelogisan yang terjadi saat ini. Buku kaca ini tidak memiliki teknologi hologram sehingga bisa menampilkan gambar bergerak yang sangat nyata.


"Wah, ini keren." Ucap Audrina terperangah dengan buku dihadapannya.


"Lihat isinya Audrina, sudah cukup mengaguminya." Amber mengingatkan.


Audrina menggelengkan kepalanya berusaha menghilangkan pikiran-pikiran tidak penting dikepalanya, seakan itu berhasil.


Setelah peringatan Amber, Audrina mulai fokus melihat isi dari buku itu. Ia mengabaikan tulisan yang asing diatasnya, fokusnya hanya ke gambar yang bergerak saja.


Diperlihatkan perjalannya singkat kehidupan, sepertinya itu adalah dariás.


"Ini dariás?" tanya Audrina memastikan.


Amber mengangguk, "benar. Lihat saja, maka kamu tidak perlu takut tentang evolusi waktu di tubuh kamu selama menjadi dariás." Amber tersenyum kepada Audrina lalu mengibaskan ekornya keluar dari ruangan itu, meninggalkan Audrina sendiri disana.


Audrina melihat ambang pintu dimana Amber terakhir terlihat. Ia sedikit menghela napas perlahan, lalu kembali melihat buku yang ada didepannya.


Waktunya ia memperlajari takdir hidupnya dengan lebih bersungguh-sungguh.


...---------------...

__ADS_1


__ADS_2