Love In Siren

Love In Siren
Membuka Portal Hutan Pinus (2)


__ADS_3

Cahaya portal akhirnya berhasil muncul dan terbuka. Audrina berhasil membuka portal menuju hutan pinus, seperti perintah Aoi dan Thania.


"Aku berhasil," ucapnya sumringah dengan wajah yang tampak tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lakukan.


Semua orang yang melihat itu tentu sangat bersemangat dan mengapresiasi Audrina yang bisa menguasai mantra itu hanya dengan dua kali percobaan saja. Audrina menoleh ke arah Aoi, meminta persetujuan untuk memasuki portal itu. Tetapi, Aoi menahannya karena jika Audrina ingin masuk ke portal maka ia juga harus menyusulnya.


Untuk itu, ia juga berdiri di sebelah Audrina dan membuka portal untuk dirinya masuk. Karena satu pintu portal hanya bisa dimasuki oleh satu orang saja.


"Sudah siap?" tanya Aoi kepada Audrina.


Audrina mengangguk, "sudah," jawabnya yakin.


Setelah mendengar aba-aba dari Aoi, mereka pun akhirnya masuk ke dalam portal dan menghilang di balik cahaya berkabut portal itu. Sepersekian detik kemudian, portal itu pun tertutup.


Dimensi ruang dan waktu portal yang ia masuki hanya ada kabut putih dan cahaya redup saja. Hingga diujung dimensi itu, ia melihat ada cahaya terang yang merupakan tujuan awalnya yaitu hutan pinus.


Audrina melangkahkan kakinya untuk keluar dari dimensi waktu itu lalu berhasil menapakkan kakinya di tanah hutan. Portal yang ia lewati seketika hilang bersamaan dengan tubuhnya yang sepenuhnya telah berpindah tempat dari ruangan kosong lantai 3 di Villa daisy ke hutan pinus yang cukup rindang.


Audrina menengadahkan kepalanya, "menakjubkan sekali," lirihnya dengan senyum lebar hingga tampak taringnya yang memang tumbuh saat ia berevolusi waktu itu.


Aoi tersenyum penuh arti melihat antusias yang ditunjukkan oleh Audrina. Ia pun berjalan mendekati Audrina seraya berkata, "ayo istirahat dulu, kita tunggu Zayn dan Thania di sini. Mungkin 1 sampai 2 jam lagi mereka baru akan tiba," ucapnya diselingi kekehan yang membuat Audrina mengernyit heran.


"Kenapa lama sekali?" tanyanya yang saat ini berjalan beriringan dengan Aoi.


"Percayalah padaku. Atau kamu ingin bertaruh denganku, Ody?" tantang Aoi.


Audrina menggeleng heran, "oh, ayolah. Zayn tidak seburuk itu," ucapnya masih percaya akan kemampuan Zayn.


Aoi menganggukkan kepalanya, "baiklah, kita lihat saja nanti. Kalau aku benar kamu harus menjadi pelayanku selama satu hari penuh ya, Ody."


Audrina tertawa kecil, "pokoknya aku masih percaya dengan kemampuan, Zayn," yakinnya.


"Kita lihat saja," ucap Aoi akhirnya sambil meraih tangan Audrina untuk duduk di salah satu batu yang berada di sampingnya.


Sementara di Villa, sesuai dengan perkiraan Aoi ternyata Zayn sudah berulang kali gagal membuka portal hingga membuatnya berulang kali harus terlempar dari tempatnya berdiri. Thania tidak henti-hentinya memberikan semangat dan terus membenahi kesalahan yang dilakukan Zayn, walau sebenarnya ia hanya mengulangi kesalahan itu-itu saja.


Namun, entah mengapa sepertinya kesabaran yang dimiliki Thania tidak setipis itu. Ia sepertinya memiliki kesabaran yang lebih kuat daripada graphene selaku sebagai material paling kuat di dunia, dimana Selembar logam graphene dengan ketebalan satu atom memiliki kekuatan 200 kali lebih kuat daripada baja.

__ADS_1


Sekuat itulah kesabaran yang dimiliki Thania.


Kalau Aoi yang berada di sana, mungkin ia akan mengamuk emosi melihat kesalahan Zayn yang berulang itu. Memang sangat tepat memasangkan Thania dan Zayn sebagai partner dalam belajar saat ini.


Zayn sudah hampir 20 kali mencoba membuka portal dan untuk kesekian kalinya pula ia gagal. Saat kegagalan ke-20 tubuhnya sampai terlempar terlentang di atas lantai, membuatnya tidak kuasa untuk merebahkan dirinya beristirahat sejenak.


"Capek banget," keluhnya seraya memandang langit-langit ruangan itu.


Thania menghembuskan napasnya pasrah, "sudah aku bilang. Jaga pernapasan kamu, jangan sampai kecolongan dengan udara disekitar kamu yang memicu munculnya percikan api antara tenaga kamu dan portal yang kamu buat."


Zayn melirik Thania yang berada tepat di atas kepalanya, "aku gagal terus. Sepertinya aku tidak berbakat," ucapnya dengan nada menyesal.


"Bernapaslah dengan mulutmu, jangan dari hidung," ucap Thania memberi solusi.


Zayn yang mendengar itu akhirnya bangkit dan kembali berdiri di posisinya. Dengan praktikal ia berusaha keras melakukan saran Thania.


Bernapaslah dengan mulut jangan dari hidung, batinnya dalam hati.


Gerakan demi gerakan ia kerjakan secara berurutan dengan fokus utama pernapasannya. Sampai tiba di gerakan penentu keberhasilan pembukaan portal, Zayn berhasil melewati masa kritis yang membuatnya selalu gagal terpental karena percikan awal dari dimensi ruang waktu yang ia buka. Saat percikan itu tidak muncul melainkan cahaya kabut tipis yang akhirnya terbuka hingga seperempatnya, betapa senangnya Zayn hingga konsentrasinya buyar dan kegagalan ke-21 pun tidak terelakkan.


Zayn kembali terpental ke belakang.


Dengan perasaan campur aduk Thania tersenyum miris sambil membantu Zayn untuk duduk, "makanya jangan terlalu berbangga diri, Zayn. Akhirnya lupa sama tujuan akhirmu dan kembali ke titik awal lagi, kan?" sarkasnya membuat Zayn tertohok dengan kalimat itu. Mau bagaimana pun ia salah saat ini.


"Maafkan aku," sesal Zayn.


Thania menghela napasnya, "tidak apa-apa. Kamu istirahat aja dulu, sudah satu jam lebih kamu berusaha keras. Kita istirahat 5 menit," tegasnya.


"Baik," turut Zayn mau tidak mau, karena badannya yang terpental berulang kali itu pun sudah mulai terasa nyeri dan pegal.


Zayn pun menuruti perintah Thania untuk istirahat sejenak sekaligus mengatur pernapasannya yang mulai tidak stabil. Ia mendudukkan dirinya di sudut ruangan dan muluruskan punggungnya di tembok.


Thania hanya melihatnya dari tempat ia berdiri lalu berinisiatif untuk memberikan segelas air kepada Zayn, barangkali ia haus.


"Minumlah," ucap Thania menyodorkan minuman.


Zayn menerima dengan kedua tangannya, "terimakasih."

__ADS_1


"Habis ini kita langsung berlatih kembali ya. Aoi dan Audrina pasti sudah sangat bosan menunggu kita di sana," kekehan geli terdengar dari suara Thania. Sepertinya ia membayangkan Aoi yang sudah menggerutu dan Audrina yang khawatir dengan Zayn.


Zayn meneguk habis minumannya, "ayo, aku sudah siap," ucapnya penuh percaya diri.


"Bagus. Ingat, jaga konsentrasi pikiran dan atur pernapasanmu," peringat Thania, "kamu paham, Zayn?" tanyanya lagi memastikan agar Zayn tidak mengulangi kesalahan yang mendetail itu lagi.


Anggukkan kepala Zayn menggambarkan kepahamannya, Thania menepuk pelan punggung Zayn dan menyemangatinya.


"Semangat Zayn!" tukas Thania.


Zayn tidak menggubris, ia sudah terlarut fokus dalam gerakan, pikiran, pernapasan dan mantra yang mulai terucap dari bibirnya.


"Kúba Talpor Ińca."


Sesaat setelah Zayn berhasil mengucapkan mantra itu, perlahan portal berkabut mulai terbuka. Kali ini Zayn tidak cepat bersenang hati dulu, ia masih memfokuskan pikirannya sampai portal benar-benar terbuka sepenuhnya. Ia tidak ingin mengulang kesalahan yang sama seperti sebelumnya.


Zayn mulai mengatur pernapasannya dengan irama yang senada, pikiran kosongnya fokus meniti tujuan akhir portal yang ia buka. Yaitu, hutan pinus tempat Aoi dan Audrina berada saat ini.


Thania terus menyemangati Zayn dalam diamnya, takut suara teriakan akan menganggu konsentrasinya. Kali ini ia yakin, Zayn akan berhasil membuka portalnya.


Sring...


Portal berhasil terbuka.


"Berhasil!" teriak Zayn yang langsung dengan spontan berlari ke arah Thania.


Thania tentu saja juga berteriak kegirangan. Sudah satu setengah jam lebih mereka berusaha, akhirnya hasilnya tidak mengecewakan. Zayn berhasil membuka portal berkabut menuju hutan pinus.


"Ayo segera susul mereka," ajak Thania.


Zayn mengangguk mantap, dan berlari berhadapan dengan portal yang baru saja ia buka selagi menunggu Thania membuka portal miliknya.


"Ayo masuk!" tukas Thania setelah membuka portalnya.


Setelah masuk melewati dimensi berkabut yang membawa mereka ke hutan pinus, tanpa sadar Zayn hampir menjatuhkan mulutnya melihat suasana yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.


Selangkah lagi ia akan menginjakkan kakinya di hutan pinus, maka portal akan hilang kembali. Bisa dilihat diujung ruang dimensi, Zayn melihat Aoi dan Audrina yang sedang menunggu kehadiran mereka.

__ADS_1


Zayn dan Thania akhirnya sampai di hutan pinus, menyusul Aoi dan Audrina.


......-----......


__ADS_2