
Audrina masih bersembunyi dengan perasaan takut dan tidak sedikitpun berani bersuara. Bahkan untuk mengintip saja ia tidak ada nyali. Ia hanya bisa berdoa saja semoga Aoi tidak terluka.
Sedangkan Aoi masih belum bisa menemukan keberadaan Arìos. Ia berkeliling kesana kemari mengintari villa Audrina, tapi nihil.
"Fýge deilé! Xéro óti eísai esý, Ários ." (keluarlah pengecut! Aku tau itu kau, Arìos.) Teriak Aoi dengan perasaan kesal dan marah.
Aoi tampak frustasi. Sirip belakangnya tampak menegang menahan emosi, sesekali ia berdesis menampakkan taringnya yang meruncing.
Arìos benar-benar mempermainkannya saat ini.
"Arìos!" teriak Aoi lagi, cakarnya mulai meruncing. Aoi benar-benar marah saat ini.
Terdengar suara tawa Arìos dari atas pohon besar yang berada dihalaman depan villa. Aoi mencari keberadaan Arìos, tetapi hanya suaranya saja yang terdengar.
"Iremía. Faínesai polý tentoménos, Aoihan." (Tenanglah. Kamu terlihat sangat tegang, Aoihan.) Walaupun hanya suaranya saja yang terdengar, nada ucapan Arìos itu terdengar sangat menjengkelkan.
Aoi tampak mengeraskan rahangnya. "Apa yang sebenarnya kalian lakukan?" tanya Aoi.
Samar-samar terlihat cahaya putih namun karena kondisi malam hari, sehingga sangat sulit untuk memastikan keberadaan cahaya itu di bawah gelapnya malam. Namun Aoi bisa melihat sedikit cahaya dari sisik Arìos.
"Hm.. Aku hanya ingin bermain-main dengan buruanku. Itu saja," ucap Arìos enteng tanpa merasa bersalah.
"Bermain-main katamu? Kamu hampir membunuhnya!" geram Aoi.
Arìos tertawa lagi, kali ini lebih menggelegar. "Iremía, Aoi. Aku tidak berniat untuk membunuhnya sekarang," Arìos akhirnya menunjukan wujudnya dan duduk di dahan pohon besar itu, "tidak sebelum jòias itu menjadi milik kami." Lanjutnya dengan senyum nafsunya.
Aoi memandang Arìos dengan pandangan benci dan marah. Berharap ia bisa langsung mencakar wajahnya itu hingga tidak bisa menyatu lagi. Arìos walaupun memiliki tubuh yang tinggi dan kekar, namun tampangnya itu sangat mengesalkan untuk dilihat.
"Berhentilah menganggunya! Atau aku akan membunuhmu, Arìos!" bentak Aoi.
Arìos terkekeh pelan, "oops! Apa sekarang siren biru ini menjadi budak àndras?" ejek Arìos dengan memberikan gestur aneh.
"Apa maksud-"
"Oh!" potong Arìos membuat Aoi berhenti berbicara, "atau karena ándras itu adalah seorang darías makanya siren biru ini mau memasang badan untuknya? Romantis sekali." Arìos memasang raut wajah seperti terkesima yang dibuat-buat.
Aoi masih berusaha untuk menahan dirinya. Ia tidak ingin melakulan sesuatu yang ceroboh sehingga dapat membuat dirinya dan Audrina dalam bahaya. Aoi masih menatap Arìos dengan tatapan penuh dengan kebencian.
Arìos turun dari pohon dan mendekati Aoi yang masih diam menahan amarahnya yang sudah bergejolak. Arìos sengaja ingin memancing Aoi, ini adalah salah satu misinya yang di berikan oleh Gloria.
"Ada apa Aoi? Sepertinya kamu sudah berancang-ancang ingin membunuhku," ejek Arìos lagi tanpa memikirkan konsekuensi.
Sudah cukup basa basinya, batin Aoi.
Aoi yang sudah tidak bisa menahan diri lagi, kesabarannya sudah habis. Ia dengan cepat menyerang Arìos dan terjadilah pertarungan antara kedua siren itu. Tentu saja Aoi lebih unggul daripada Arìos yang hanya bisa bertahan dari serangan Aoi yang sangat gesit.
Merasa terpojok, Arìos mengambil pasir lalu melemparkannya ke wajah Aoi. Aoi yang tidak menyangka akan dilempar pasir tidak bisa mengelak, ia seketika tersungkur karena tendangan di perut oleh Arìos yang licik.
Arìos tampak puas dengan hal itu. "Haha.. Bagaimana?"
Aoi bangkit kembali, hasrat untuk membunuhnya semakin tinggi. Ia mendesis lalu dengan gesit berlari kearah Arìos. Taring Aoi berhasil mengigit tangan kanan Arìos dan mengoyaknya seperti memakan daging yang membuat Arìos berteriak kesakitan.
Belum puas dengan itu, ia mengeluarkan cakarnya lalu mencakar punggung belakang Arìos hingga menyebabkan sobekan yang cukup dalam. Darah hitam mulai mengucur keluar dari luka yang di berikan oleh Aoi.
__ADS_1
Arìos yang sudah semakin terpojok dan kesakita akhirnya melempar jarum beracun yang sama seperti pada bola aluminium tadi. Untung saja Aoi menyadari hal itu, dengan cepat ia menghindari lemparan jarum itu dan menjauhi Arìos.
Hembusan napas Arìos yang semakin berat dan tubuhnya yang semakin lemah tidak akan mungkin menang melawan Aoi. Aoi benar-benar bukan tandingannya.
Arìos berlari naik keatas pohon. "Baiklah. Aku menyerah!" Arìos menaikkan kedua tangannya memberikan gestur menyerah kepada Aoi.
Aoi mengerutkan dahinya bingung, "tidak usah bersandiwara. Aku tau semua tipu muslihat mu." Ucap Aoi datar.
Arìos menaikkan bahunya, " a-aku serius! Aku tidak akan menganggunya lagi."
Aoi masih terdiam, menunggu kelanjutan dari ucapan Arìos yang sangat tidak bisa dipercaya itu. Tipu muslihat siren merah dan kelicikannya sangat busuk dan benar-benar menyusahkan orang lain. Mereka hanya memikirkan keuntungan mereka sendiri tanpa peduli dampak yang terjadi oleh korbannya.
Aoi sangat mengerti akan hal itu. Sehingga ia harus sangat berhati-hati dengan mereka.
"Aku akan berhenti menggangunya. Tapi aku tidak berjanji jika tidak akan membunuhnya suatu hari nanti." Arios tertawa bahagia, karena berhasil membuat Aoi sangat marah saat ini. Namun tawanya berhenti karena tangannya mulai terasa seperti terbakar.
Dia benar-benar mempermainkanku! batin Aoi dengan mengeraskan rahangnya.
"Jangan bercanda!" tegur Aoi sambil berdesis menampilkan taringnya dengan sirip yang menegang dan sisik yang semakin bersinar. Ia kembali masuk ke posisi akan menyerang dengan sedikit menunduk.
Melihat itu, Arìos langsung menundukan badannya dan mengubah posisi menjadi pertahanan diri lagi. Tidak mungkin Arìos bisa mengalahkan Aoi saat ini. Ia tau betul akan hal itu melihat luka yang sudah diterimanya.
"Wo..wo.. Tenang!" bujuk Arìos, "aku tidak akan menganggunya lagi. Aku serius!" lanjutnya dengan yakin.
Aoi menatap tajam Arìos, "pergilah! Atau aku akan membunuhmu saat ini juga!" usir Aoi dengan cakarnya yang kali ini siap merobek wajah Arìos.
Arìos berdiri tegak lalu perlahan mulai berjalan mundur. Ini adalah kesempatannya untuk melarikan diri sebelum Aoi membunuhnya. Arìos sangat pandai dalam membaca situasi, baik itu menguntungkan ataupun merugikan.
Tipe orang yang akan menggunakan perasaan sesuai dilapangan dan memposisikan diri untuk mendapatkan pilihan terbaik untuk dirinya. Sifat seperti ini bukanlah sifat seseorang yang loyal dan setia. Mereka bisa saja meninggalkan rekannya hanya untuk kepentingan dirinya sendiri.
Aku harus kabur, batin Arìos sambil meraba udara.
Ia mencoba menyembunyikan dirinya kembali seperti diawal. Sebelum menghilang dengan sempurna, Aoi sempat mendengar Arìos berguman pelan sambil menyeringai.
"Jagalah selagi dia belum kami ambil," akhirnya Arìos hilang tanpa jejak lagi.
Aoi tidak mengerti dengan kalimat itu. "Apa maksudnya?" tanyanya sambil bermonolog. Ia tidak mengerti konteks kalimat itu merujuk kemana. Atau bahkan dia salah dengar, pikirnya.
Saat yakin Arìos sudah pergi, Aoi berlari kembali kekamar Audrina dan membuka lemari tempar Audrina bersembunyi. Wajah Audrina tampak terkejut dan lega saat melihat Aoi baik-baik saja.
Audrina langsung memeluk Aoi dengan erat sekali, seakan tidak mau melepaskannya. Aoi hanya bisa tertawa kecil lalu mengendong Audrina dan membawanya keatas tempat tidurnya.
Aoi mengelus belakang rambut Audrina dengan lembut, "kamu tidak usah khawatir lagi ya. Kamu aman didekat ku," ucap Aoi yang dibalas anggukan oleh Audrina.
Audrina melepas pelukannya lalu menatap Aoi, "apa siren itu sudah pergi?" tanyanya khawatir.
Aoi mengangguk sambil tersenyum, "sekarang kamu istirahat ya. Biar aku yang bersihkan kamarmu," Aoi mengelus lembut pipi Audrina.
Audrina yang mendapat perlakuan seperti itu tampak menegang. Padahal Aoi sering melakukan hal seperti itu, tapi kali ini respon Audrina berbeda. Pipi putihnya itu akhirnya memerah dan tanpa sadar ia menunduk.
deg!
Jantung Audrina tiba-tiba berdegup kencang.
__ADS_1
"Ody? Kamu baik-baik saja?" suara khawatir Aoi terdengar jelas ditelinganya.
Audrina mengangguk, "aku tidak apa-apa."
Aoi menghela napasnya lega, lalu mencium puncak kepala Audrina lalu beranjak membersihkan kamar Audrina. Audrina tidak bersuara lagi, ia hanya memperhatikan setiap gerak-gerik Aoi yang membersihkan kamarnya.
Ada perasaan yang sulit diartikan dari dalam dirinya. Nyaman, aman, hangat, damai, semua jadi satu.
Apa aku jatuh cinta dengan Aoi? tanyanya pada dirinya sendiri.
Pikiran itu terus menghantuinya, ia merasa kalut dengan perasaannya sendiri. Audrina berusaha menghilangkan pikiran yang terus muncul itu, hingga akhirnya ia ketiduran.
...****************...
Audrina tidak masuk kelas keesokan paginya karena demam. Sepertinya ia terlalu lelah semalam dan semua kejadian aneh terjadi secara terus menerus. Audrina menarik selimutnya dan menutup matanya untuk beristirahat.
Kamar Audrina sudah kembali seperti semula. Semalamam Aoi membersihkan kamarnya hingga Audrina ketiduran. Saat ia bangun, matahari sudah terbit.
Drtt.. drtt..
Ponsel Audrina bergetar, sepertinya ada yang meneleponnya. Dengan malas Audrina mengambil ponselnya dan mengecek nama si penelepon.
Zayn calling....
Audrina menatap layar ponselnya lama, ragu untuk mengangkatnya. Tapi, pikirannya yang lain mengatakan untuk mengangkat teleponnya, mungkin ada hal yang penting.
Audrina menghela napasnya pendek, "halo?"
"Audrina, kamu sakit?" tanya Zayn dengan suara yang terdengar khawatir.
Audrina sempat berpikir dari mana Zayn tau saat ini ia sedang sakit? Padahal Audrina hanya menghubungi guru yang mengajar hari ini saja tidak ada yang lain.
"Kamu tau darimana, Zayn?" tanya Audrina heran.
"Ada deh.."
Audrina tidak menanggapi. Ia masih berpikir dari mana Zayn mengetahui kondisinya saat ini.
"Halo, Audrina. Kamu masih disana?"
"I-iya masih kok."
"Saat ini aku sudah di tol X, menurut perkiraanku 45 menit lagi aku tiba di Villa kamu," ucap Zayn santai.
"Ha?" Audrina terkejut, Zayn sedang di jalan menuju Villanya. Yang benar saja?
"Kamu istirahat aja, aku sudah menghubungi papa mu dan pak Karni sudah meletakkan kunci cadangan untukku," jelasnya panjang lebar.
Audrina semakin pusing, ia tidak sanggup berpikir lagi. Yang dilakukannya saat ini hanya pasrah saja, apalagi Zayn sudah menghubungi ayahnya. Audrina aja tidak berani menghubungi ayahnya sendiri karena takut khawatir. Ternyata orang lain yang memberitahu kepada ayahnya.
"Ya, Zayn. Terserah. Aku mau tidur," suara serak Audrina terdengar lelah sekali. Akhirnya ia mematikan ponselnya lalu kembali tidur.
Kepalanya benar-benar pusing.
__ADS_1
...-----...