Love In Siren

Love In Siren
Buku Kaca Wilona


__ADS_3

"Coba kamu gak ketemu Audrina dari awal, pasti dia gak bakal dalam bahaya seperti ini." Ucap Zayn ketus sambil terus menyalahkan Aoi.


Zayn masih merasa semua hal ini bermula dari kemunculan Aoi sejak awal. Namun Zayn tidak bisa menyalahkan Aoi sepenuhnya melihat Kena yang juga menjadi benang penghubung dari takdir Audrina saat ini.


Aoi termangu mendengar ucapan Zayn yang membuatnya sedikit merasa bersalah. Ia juga tidak bisa menyalahkan Zayn mengatakan hal seperti itu, karena tanda Audrina memang ia yang membukanya. Jadi, cepat atau lambat Audrina akan ketahuan juga.


"Sekarang apa yang harus dilakukan untuk menghentikan siren merah itu?" tanya Zayn akhirnya mengambil langkah kedepan, ia merasa tidak bisa terus menyalahkan keadaan melainkan harus melakukan sebuah perubahan.


Aoi menghela napasnya pelan, "Amber telah memberiku buku kaca untuk melindungi Audrina dari siren merah itu," Aoi berdiri dari duduknya sambil mengarahkan kedua telunjuknya ke dahi Zayn dan Audrina.


"Apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Zayn curiga.


"Ikuti saja, Zayn. Aoi mau menunjukkan sesuatu." Sahut Audrina yang kesal mendengar Zayn yang terus curiga kepada Aoi.


Aoi tersenyum penuh kemenangan mendapatkan pembelaan Audrina. "Tenang, Zayn. Ini tidak membunuhmu kok," Aoi menggoda Zayn.


"Kalau aku mati kamu orang pertama yang aku hantui, Aoi." Balas Zayn dengan ketus.


Aoi hanya tertawa pelan lalu kembali mendekatkan telunjuknya ke dahi mereka berdua.


"Lihatlah, ini adalah buku kaca yang aku maksud," Aoi memejamkan matanya sambil mengalirkan pikirannya kepada Zayn dan Audrina, "buku ini bernama Wilona."


Zayn tampak takjub dengan apa yang ada dilihatnya dalam keadaan mata tertutup ini. Seakan ia sedang berada di tempat lain dibawah air, hanya saja saat ini ia berada dikamar Audrina.


Kilauan sisik yang dipancarkan siren bawah air itu tampak membuat buku Wilona menjadi sangat menawan dan berkilap. Buku ini adalah buku terindah yang Zayn dan Audrina lihat seumur hidupnya ini.


"Wow, cantik sekali." Ucap Audrina dengan kagum.


Zayn mengangguk, "apa kita bisa menyentuhnya, Aoi?" tanya Zayn penasaran.


"Tidak. Kecuali kalian menggunakan cermin Aides milikku," jawab Aoi, "untuk hal ini kalian hanya bisa melihatnya saja." Lanjutnya sambil menarik turun tangannya.


Zayn dan Audrina perlahan membuka mata mereka saat tidak merasakan lagi tangan Aoi di dahi mereka. Terlihat dari wajahnya, Zayn tampak mulai mempercayai Aoi namun sedikit, hanya sedikit saja.


"Apa isi buku itu?" tanya Audrina penasaran.


"Aku belum sempat membacanya, buku itu langsung aku simpan setelah Amber memberikannya kepadaku," jawab Aoi seadanya.


Audrina mengangguk paham, "sepertinya kita harus membaca buku itu secepatnya. Pasti ada petunjuk disana."


"Iya benar, sebelum penganggu Audrina tiba-tiba datang menyerang. Itu pasti sudah sangat terlambat," timpal Zayn.


"Benar, aku harus kembali untuk membawa buku itu." Aoi memandang kedua orang didepannya ini dengan serius, "berjanjilah jangan keluar dari kamar ini apapun yang terjadi. Aku akan menutup pandangan untuk kalian disini. Mantra ini tidak bejerja jika kalian tidaj diruangan ini. Satu langkah saja kalian keluar, kalian akan terlihat. Kalian paham?" Titahnya tegas.


Zayn mengerutkan dahinya kesal namun ia tidak bisa membantah ucapan Aoi. Tentu saja ia tidak ingin terlihat oleh siren merah itu dan terbunuh karenanya. Walau kesal diberi perintah, ia harus menurutinya.


"Zayn, kamu harus menjaga Audrina apapun yang terjadi." Aoi mengingatkan kepada Zayn.


"Ck, aku tau." Sahut Zayn ketus.


Aoi mencabut salah satu sirip yang ada dipunggungnya, lalu memberikannya kepada Zayn. Sirip itu memiliki panjang sekitar 60cm dan ketajaman yang sama seperti pedang yang ditempa dengan besi, sangat tajam dan mematikan. Bahkan tujuh kali lebih mematikan daripada pedang biasa.


"Gunakan sirip ini untuk melindungi diri. Arahkan ujung sirip ini tepat langsung ke jantung." Aoi menjelaskan strategi membunuh yang sangat ampuh untuk mengalahkan musuh.


"Kamu nyuruh aku untuk membunuh?" tanya Zayn sedikit ragu.


"Hanya jika keadaan mendesak, Zayn." Audrina berusaha menenangkan Zayn.


"Benar. Aku memberi ini sebagai pertahanan, bukan menyerang." Jelas Aoi lagi sembari memberikan sirip itu.


Zayn menelan salivanya dan mengambil sirip itu dengan perasaan ragu. Ia menggelengkan kepalanya berusaha menepis hal-hal buruk yang mungkin bisa terjadi dan menfokuskan untuk melindungi Audrina selama Aoi kembali ke danau.


Aoi membuka jendela kamar Audrina untuk kembali ke danau. Entah kenapa ia lebih suka keluar dari jendela ketimbang dari pintu.


"Aku lupa memberitahu satu hal," Aoi kembali menoleh kearah Zayn, "usahakan untuk tidak mengenai darah siren merah itu atau kulitmu akan terbakar, Zayn." Aoi kembali memberi peringatan.


"Bagaimana dengan Audrina?" Zayn menunjuk kearah Audrina yang tampak khawatir juga.


Aoi tersenyum, "tenang saja. Audrina tidak akan terpengaruh karena dia memiliki darah siren ditubuhnya. Khawatirkan sama dirimu untuk hal ini, Zayn."


Zayn bernapas lega, "baiklah."

__ADS_1


"Jangan mati sebelum aku kembali. Hanya aku yang berhak membunuhmu," ucap Aoi menggoda Zayn lalu tertawa kecil sambil keluar dari jendela menuju danau.


Zayn terlihat tidak percaya dengan ucapan Aoi barusan. Audrina yang mendengar itu hanya terkekeh pelan lalu membuka lemarinya.


Audrina mencari sebuah jaket yang besar dan panjang untuk diberikan kepada Zayn.


"Zayn, pakailah ini." Aoi memberikan dua jaket tebal kepada Zayn.


"Buat apa?" tanya Zayn bingung.


"Kamu hanya memakan baju kaos saja dan baju yang kamu pakai saat ini sangat berbahaya karena tidak melindungi kulitmu," terang Audrina.


"Aku bisa mengambil bajuku dibawah," Zayn berusaha menolak.


"Apa kamu lupa pesan Aoi? Kita tidak bisa keluar dari ruangan ini."


Zayn teringat dengan pesan Aoi sebelumnya lalu menerima jaket yang diberikan oleh Audrina. Ia sebenarnya tidak ingin menolak, tapi melihat jaket yang diberikan itu sangat identik dengan perempuan dengan warna ungu dan merah muda membuatnya sedikit malu.


Zayn memakai kedua jaket itu dan memakai tudungnya untuk melindungi kepalanya. Audrina juga memberikan kaos kaki untuk digunakan Zayn melindungi kakinya.


"Apa harus seperti ini?" Zayn tampak tidak nyaman dengan pakaiannya saat ini.


Audrina terkekeh pelan, "tentu saja. Ini untuk melindungimu."


"Apa siren merah itu akan kesini?"


"Aku juga tidak tau. Semoga saja tidak."


Jujur, Audrina sangat ketakutan saat ini. Walaupun disisinya ada Zayn yang melindunginya, tapi ia juga tidak ingin Zayn terluka.


Dalam benaknya, Audrina berulang kali berdoa semoga Aoi segera kembali secepatnya sebelum hal buruk terjadi.


...****************...


Aoi memasukkan buku Wilona kedalam sebuah tas rajut yang sempat diberikan Audrina sebelumnya lalu memakai tas itu ke punggunya. Ia juga mengatur rambut panjangnya agar menutupi tas itu.


Sebelum keluar dari kastilnya, ia mengambil sebuah kerang seukuran kepalanya dan didekapnya ke dada. Ia juga mengambil beberapa lembar tamanan bewarna ungu lalu memasukkannya kedalam kerang yang didekapnya tadi.


Hempasan ekornya membuat tubuhnya meluncur kencang keatas permukaan air. Saat hempasan ekor terakhir sebelum mencapai permukaan, ekor Aoi ditarik oleh sesuatu yang membuatnya kembali masuk ke dasar air.


Aoi berusaha keras mengoyangkan ekornya untuk melepaskan benda yang menariknya itu. Akhirnya dengan bantuan tanganya, benda itu terlepas dari ekornya.


Tidak ingin melepaskan Aoi begitu saja, ada tarikan lain dari sisi berlawanan yang menarik tangan kanan Aoi hingga membuatnya sedikit terjungkal kebelakang. Untungnya Aoi sempat merobek benda itu dengan giginya sehingga ia tidak menabrak batu yang ada dibelakangnya.


Wushh...


Sebuah batu terlempar kearah Aoi dengan begitu cepat namun berhasil ditangkis dengan ekornya. Bagaimana mungkin sebuah batu bergerak begitu cepat didalam air? Siapa yang telah melempar batu sekuat itu didalam air, hanya yang memiliki kemampuan khusus yang dapat melakukan hal itu.


"Siapa itu?!" teriak Aoi kesal setelah mendapatkan serangan bertubi-tubi seperti itu.


Tidak ada jawaban. Hanya suara arus air yang terdengar disana. Dengan sinar sisiknya pun, Aoi tidak bisa melihat apapun disekitarnya.


Aoi bergerak mendekati arah datanganya serangan yang tadi menghambat pergerakannya. Tidak ada siapapun disana.


Seperti tersadar, Aoi kembali menghiraukan siapa yang telah menyerangnya itu. Ia harus cepat kembali ke tempat Zayn dan Audrina saat ini.


Apa serangan tadi hanya mengulur waktuku saja? Batin Aoi dengan perasaan tidak enak.


Disisi lain, Audrina dan Zayn duduk dengan gelisah sambil menunggu kedatangan Aoi. Sudah hampir tiga puluh menit Aoi belum juga kembali dan waktu sudah hampir menuju tengah malam.


Duk..duk..dukk..


Terdengar suara benda jatuh dari lantai bawah. Audrina dan Zayn yang mendengar itu seketika langsung berdiri dan menjaga satu sama lain.


Zayn menarik tubuh Audrina agar berdiri dibelakangnya, berusaha menjaganya tetap aman disana. Audrina menelan salivanya pelan pikiran aneh mulai muncul dibenaknya.


Setelah suara aneh itu muncul, tidak ada suara lagi yang terdengar. Hanya keheningan yang mencekam dan membuat siapapun menjadi gelisah.


Zayn mencoba untuk mendekati pintu kamar Audrina untuk mengecek situasi dengan menempelkan telinganya dipintu.


"Ada dengar sesuatu?" bisik Audrina kepada Zayn.

__ADS_1


Zayn menggelengkan kepalanya. Ia tidak mendengar apapun dari luar kamar. Ia sempat berpikir sepertinya mereka salah dengar. Sampai tiba-tiba ada yang berusaha mendobrak pintu kamar Audrina.


Spontan Audrina langsung berteriak kaget dan berlari mendekati pintu. Audrina dengan bersusah payah mencoba menutup pintu kamarnya dengan tubuhnya. Ada seseorang yang berusaha mendobrak pintu kamarnya itu dengan sangat ganas.


Zayn pun dengan susah payah menahan pintu agar tidak terbuka. Ia melirik kesegala arah melihat sesuatu yang dapat dijadikan penahan pintu. Perhatiannya jatuh ke meja belajar Audrina yang berada disebelah kanan pintu. Ia berlari mendekati meja itu dan mendorongnya kearah pintu untuk dijadikan penghalang agar musuh tidak masuk ke kamar ini.


"Zayn cepet! Aku udah gak kuat nahannya!" teriak Audrina yang panik karena kekuatan dorongan yang diberikan orang itu semakin kuat saja.


Zayn mendorong meja itu dengan sekuat tenaganya. Ia harus segera menghalangi pintu itu.


"Audrina geser, sini bantu dorong!" teriak Zayn saat meja belajar itu sudah sampai didekat pintu.


Audrina berlari dan membantu Zayn mendorong meja belajar. Pintu sedikit terbuka memperlihatkan ada sebuah tangan yang masuk dan berusaha menyakar pintu.


Pintu tidak bisa ditutup jika tangan itu masih menjangal disana. Mereka masih menahan diri dengan mendorong meja itu agar pintu tidak terbuka lebih lebar lagi


"Pintunya gak bisa ditutup, Zayn!" teriak Audrina panik saat melihat tangan merah yang berusaha mencakar mereka.


Zayn menoleh kearah pintu, "damn! " umpatnya.


Mereka harus melakukan sesuatu dengan tangan itu. Audrina yang ingat dengan sirip pemberian Aoi langsung menyuruh Zayn untuk menggunakannya.


"Zayn, pakai sirip itu!" perintah Audrina yang masih berusaha mendorong meja belajarnya.


"Ha? Sekarang?" Zayn tampak ragu dengan ucapan Audrina.


"Cepat Zayn! Kamu mau kita mati disini?!"


Zayn memandang Audrina dengan ragu, "tapi-" Zayn mengantungkan ucapannya saat merasa hentakan keras dari balik pintu. Ia menahan kakinya bergerak memberi dorongan yang kuat untuk menahan pintu.


"Akh!" Audrina berteriak frustasi saat merasa pintu kamar sedikit demi sedikit semakin terbuka dengan lebar, mereka tidak ada waktu lagi.


Kekuatan siren merah itu semakin kuat saja. Mereka tidak bisa bertahan lebih lama lagi.


"Zayn, kita gak bisa kayak gini terus!" teriak Audrina lagi yang sudah terlihat kewalahan menahan dorongan pintu itu.


Zayn mau tidak mau harus menggunakan sirip itu. Ia berusaha mengambil sirip yang ada dijaketnya lalu memegangnya dengan menumpu tubuhnya agar tetap menahan pintu.


Hentakan yang diberikan membuat Zayn tidak bisa bergerak. Sirip ditangannya hampir saja jatuh karena dorongan yang semakin kuat.


Karena sudah tidak tahan lagi, akhirnya Audrina mengambil sirip itu dan mengayunkannya ke tangan siren yang menyusup ke dalam itu.


Zash...


Tangan siren itu putus diiringi dengan teriakan memilukan dari siren merah itu. Zayn yang dengan sekuat tenaga mendorong meja itu sampai terdorong kedepan karena dorongam dari balik pintu itu berhenti saat Audrina berhasil memutuskan tangan siren itu.


Darah hitam itu berhasil mengenai wajah dan tangan Audrina.


"Ih apaan ini." Audrina berusaha mengusap wajahnya dengan lengan bajunya untuk menghilangkan cairan itu.


Zayn menghela napasnya lega menyadari sepertinya siren tadi sudah tidak ada lagi dipintu. Ia menyandarkan punggungnya di meja belajar itu berusaha menenangkan diri.


Saat ia sedang mengistirahatkan tubuhnya, tiba-tiba Zayn merasa punggungnya seperti terbakar.


"Akh! Panas!" Zayn meringis kesakitan sambil berusaha meraih pungungnya itu dengan tangannya. Rasa terbakar mulai menjalar dipunggungnya. Karena tidak tahan, dengan cepat ia langsung membuka jaket yang digunakannya itu.


Setelah melepaskan jaket yang dipakainya, rasa terbakar itu masih terasa dipunggungnya. Ia pun melepas baju yang dipakainya hingga ia menampilkan tubuhnya.


"Zayn, punggung kamu kenapa?" Audrina membulatkan matanya saat melihat luka bakar yang sangat serius dipunggung Zayn.


"Akh!" Zayn masih meronta kesakitan sambil terus membungkukkan badannya.


Audrina melihat baju yang dikenakan Zayn tadi sudah bolong, sepertinya Zayn terkena cipratan dari darah siren tadi saat Audrina memotong tangannya.


"Akh!" Suara rintihan kesakitan Zayn semakin terdengar menyakitkan.


Audrina tidak tau harus berbuat apa saat ini. Semua hal ini terjadi secara tiba-tiba sehingga ia tidak bisa berpikir jernih.


Audrina mencari botol airnya berencana untuk menyiram punggung Aoi dengan air. Saat hendak menyiram, suara dari arah jendela menginterupsinya.


"Jangan, Ody!" Aoi berteriak panik saat melihat apa yang akan dilakukan Audrina.

__ADS_1


Audrina menoleh kearah jendela dan mendapati Aoi yang menatapnya dengan tajam.


...-----...


__ADS_2