
Amber keluar dari ruangan tempat Audrina membaca buku. Ia mengibaskan ekornya berenang menuju Aoi yang masih berada diruang pertemuan. Tangan Amber terulur untuk menarik Aoi sedikit menjauhi orang yang ada disana.
Aoi sedikit terkejut mendapat tarikan mendadak, saat dilihat yang menariknya adalah Amber ia hanya nurut saja.
"Apakah kamu sudah membaca buku Wilona?" tanya Amber berbisik.
Aoi menggeleng, "belum. Aku berencana membacanya bersama Audrina disini. Ini aku ba—"
"Jangan dikeluarkan! Biarkan saja disana," potong Amber sedikit tertahan saat Aoi ingin mengeluarkan buku Wilona yang dia simpan dalam tas rajut dibalik rambut panjangnya.
Aoi tampak bertanya-tanya, kenapa ia tidak diizinkan untuk mengeluarkan buku itu. Namun ia urungkan, ia masih menunggu penjelasan Amber.
Amber menarik lengan Aoi menuntunnya untuk ikut masuk ke ruangan tempat Audrina berada saat ini. Setelah masuk, Amber mengeluarkan sebuah serbuk berwarna putih yang dia tebarkan ke ambang pintu bersamaan dengan gelembung kecil yang mengikuti.
Arah pandang Aoi saat ini jatuh kepada Audrina yang sedang fokus membolak-balikan buku yang ada diatas meja.
"Kamu baca apa Ody?" tanya Aoi yang penasaran lalu mendekati Audrina.
Audrina menoleh kearah sumber suara sebentar, lalu kembali memfokuskan padangannya kearah buku dihadapannya itu.
"Buku bergam..bar?" cicitnya sedikit ambigu.
"Ha?" Aoi tampak tidak mendapatkan petunjuk jelas dari ucapan Audrina.
Audrina mengidikkan bahunya, "entahlah. Aku cuma disuruh Amber lihat buku ini, biar tau evolusi dariás seperti apa. Jadi, aku tau," ucapnya terus terang sesuai dengan apa yang disampaikan Amber kepadanya tadi.
Mata penasaran Aoi ikut menelusuri buku yang dipegang Audrina, mencoba melihat juga evolusi yang dikatakannya seperti apa. Ia belum pernah melihatnya juga.
Sedang fokus terpaut dengan buku itu, Amber mengambil alih fokus mereka dengan sedikit membunyikan lonceng yang mengeluarkan suara halus yang familiar.
Sringg....
Arah pandang kedua anak muda itu menangkap sosok Amber yang tengah berdiri di ujung meja seberang mereka. Tatapan saling pandang yang sama-sama bingung terlihat dimata Aoi dan Audrina.
"Aoi, bawa Audrina kemari." Perintahnya lembut dengan menunjukkan batu marmer kemerahan yang berada disebelah Amber.
Aoi tanpa dititah dua kali, langsung mengendong Audrina yang senantiasa mendekap buku bergambar itu ke dadanya.
Dengan perlahan Aoi menurunkan Audrina diatas batu marmer yang ditunjuk oleh Amber. Lalu mereka kembali fokus kearah Amber yang seperti menatap mereka dengan intens.
__ADS_1
"Keluarkan buku itu Aoi," titahnya dengan suara tenang sekaligus dalam itu membuat Audrina merinding.
Aoi mengangguk lalu mengambil buku Wilona dan meletakkannya keatas meja dihadapan Amber.
"Audrina apa kamu takut?" tanya Amber pelan melihat wajah tegang Audrina yang sangat terlihat jelas dimatanya.
"Um.. Aku cuma bingung," cicitnya lirih berusaha menenangkan diri.
Amber mengangguk dan tidak menjawab Audrina melainkan membuka buku Wilona yang berada dihadapannya. Lembar demi lembar ia buka sambil mencari sesuatu yang sepertinya sangat penting sekali. Raut muka serius Amber menjelaskan semuanya, sampai Aoi maupun Audrina tidak berani bertanya kepadanya.
Mata hijau Aoi masih meniti setiap gerak-gerik Amber yang semakin aneh. Seperti sedang melakukan sesuatu yang membuatnya curiga.
"Ehem.." Aoi sedikit berdehem berusaha mencairkan suasana.
Seperti tau apa yang ada dipikiran Aoi, Amber mulai kembali angkat bicara. "Jangan lakukan apapun, ada yang sedang memperhatikan kita," serunya singkat.
Audrina sedikit menahan napasnya, mendengar gerak-gerik mereka diperhatikan membuat tubuhnya reflek membatu.
Aoi mengernyitkan dahinya, ia sepertinya tau siapa yang bisa melakukan itu. Hanya satu orang yang bisa melakukan hal yang sangat menyebalkan itu.
"Ah.." Amber menaikkan oktaf suara, ia telah mendapatkan sesuatu yang sangat menarik.
Audrina melihat ke sekeliling ruangan, seperti mencari sesuatu. Ia menilik dari satu titik ke titik lain dengan perlahan, agar tidak melewatkan sesuatu.
Sampai saat netranya berhenti bergerak dan terus menatap ke ukung siku ruangan, seakan tidak ingin melepaskan pandangan dari sana.
"Ketemu," ucapnya yang membuat Amber bergerak pelan menuju Aoi yang masih tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
"Fére ton pio kontá sto simeío pou édeichnan argá ta mátia tou. min ton afíseis na anavosvínei," (bawa dia lebih dekat ke tempat matanya perlahan menunjuk. jangan biarkan dia berkedip) bisik Amber kepada Aoi.
"Entáxei," (baiklah) jawab Aoi.
Aoi memegang kedua bahu Audrina membuat perempuan itu tersentak tapi tetap berusaha menjaga matanya agar tidak berkedip.
Seperti perintah Amber kepada Aoi, ia mengendong Audrina dengan perlahan agar kepala dan matanya tetap menatap lurus kearah depan. Dimana mata Audrina tidak berhenti menatap lurus kearah batu jamrud kemerahan yang menancap di sudut siku ruangan itu.
Mereka berdua perlahan mendekati batu itu. Saat langkah mereka sudah berjarak lima senti dari batu itu, Audrina mengusap kedua matanya pelan lalu mengelus batu itu sebanyak dua kali.
"Prostátis mou," (lindungi kami) mulut Audrina dengan pasti mengatakan matra itu tanpa berkedip.
__ADS_1
Batu jamrud merah itu berubah wujud menjadi sebuah mata dengan pupil bewarna putih yang sangat mengerikan.
Audrina sedikit tersentak kaget melihat berubahan wujud batu itu. Mata itu menatap Audrina dengan marah dan berusaha mengeluarkan diri dari tembok itu. Mata itu ternyata memiliki kaki seperti kepiting, kakinya berusaha menekan agar mata itu keluar.
Saat mata itu berhasil meloloskan diri dari tembok, ia berjalan merayap di tembok membuat Audrina memekik ketakutan. Ekor Aoi spontan mengibas ke depan untuk mejauhi mereka dari mata bergerak itu.
Srak...
Pekikan kecil keluar dari mata itu. Mata itu akhirnya berhenti bergerak saat Amber menusukan sirip yang ia cabut dari punggungnga sendiri. Darah hitam pekat mulai keluar dari mata berkaki kepiting itu.
Audrina menatap ngilu kearah mata itu saat Amber meletakkan siripnya keatas meja dengan mata yang masih tertancap disana.
"Gloria memata-matai kita," suara dalam Aoi terdengar marah saat mengatakan itu.
Amber melirik Aoi, "karena itu aku melarangmu mengeluarkan buku Wilona. Aku yakin diluar ruangan ini ada lebih banyak pengintai mereka."
Aoi menghela napasnya, "bagaimana kau tau tentang ini Amber? Aku saja tidak menyadarinya," selidik Aoi.
"Aku.. Hanya tau saja," jawab Amber seperti menyembunyikan sesuatu.
Saat itu pula Audrina menyadari, mau dimanapun dirinya berada ia tetap tidak aman. Hal ini sungguh lebih menakutkan daripada yang ia bayangkan sebelumnya.
Pengintaian dan pembunuhan yang siren merah lakukan bukan main-main. Mereka sungguh sangat tidak bisa dianggap remeh, karena segala cara akan mereka lakukan untuk keberhasilan mereka.
Baik secara langsung ataupun sembunyi-sembunyi.
Di sisi lain, ditengah laut gelap tak terjamah manusia Gloria tampak tertawa dengan sangat keras sekali. Ia seperti terhibur akan sesuatu yang terjadi.
Kristal yang ia gunakan untuk mengintai berubah menghitam.
"Oh, sepertinya wanita tua itu sudah mengetahuinya," gumamnya dengan seringai jahat yang mendominasi raut wajah Gloria saat ini.
Aríos mendekati Gloria, "bagaimana, Glo? Apakah kita harus melakukan sesuatu?" tanyanya.
Gloria menggelengkan kepalanya, "tidak perlu Aríos, biarkan saja. Aku yakin mereka sedang ketakutan sekarang, terutama perempuan dariás itu," suara lembut Gloria itu terdengar sangat menyeramkan saat ini.
Aríos mengangguk paham, lalu menundukkan badannya dan meninggalkan Gloria sendiri. Wajah berbinar Gloria mendominasi saat ia melihat tentara yang disiapkan Aríos sudah mulai bergerak.
Gloria benar-benar mencintai perang sebagaimana ia membunuh seseorang.
__ADS_1
...-----...