
"Skáse! Eísai polý thoryvódes plásma! " (Diamlah! Kau sangat berisik!).
Suara bariton yang khas itu terdengar menggebu dari ambang pintu menjadikan si empu mendapat sorotan semua netra yang penasaran, termasuk siren yang di rantai itu. Tidak ada yang menyangka bahwa wakil kapten yang sudah mengambil alih posisi kapten di kapal ini ternyata yang telah bersuara. Dengan langkah panjangnya, Tio mendekati siren itu dengan sorot mata tajam yang menusuk ke tulang.
Tio berlutut di hadapan siren itu, menyamakan posisi netra mereka yang saling bertatapan satu sama lain. Ada rasa mual yang masih terus menusuk perut awak kapal yang lain saat melihat Tio sanggup melihat dari jarak dekat wajah siren yang menurut mereka sangat menjijikan itu.
Siren itu menyeringai, deretan taringnya terlihat jelas menghiasi mulutnya yang sedikit berlendir.
"Den schediázate na páte stin toualéta gia na adeiásete to stomáchi sas, paidiá? " (Kamu tidak berencana pergi ke kamar mandi untuk mengosongkan perutmu, kawan?)
Tio lebih mendekatkan wajahnya ke arah siren itu, "irémise, to stomáchi mou den eínai tóso adýnamo óso to dikó tous,"(tenang, perutku tidak selemah perut mereka) serunya sambil membalas seringaian siren di hadapannya itu. Sudut bibir siren itu terlihat menurun dengan netra merahnya yang menajam saat mendengar kalimat Tio, seakan tidak suka.
"...Álloste edó tha, íthela na chairetíso ton palió mou gnostó. pós eísai Félix? " (Selain itu, di sini saya ingin menyapa kenalan lama saya. Bagaimana kabarmu, Felix?) lanjutnya lagi.
Siren yang ternyata bernama Felix itu tampak terkejut, terlihat dari pupilnya yang mengecil menandakan sorot matanya yang meredup saat mengetahui ada yang mengenali identitasnya. Melihat perubahan raut muka Felix yang kentara tentu membuat Tio kembali menaikkan sudut bibirnya.
Namun dengan cepat Felix kembali tersadar dan kembali menyoroti Tio dengan pandangan intens yang dimilikinya, bahkan orang yang berada disekitarnya bergidik ngeri kecuali Tio yang masih dengan wajah tenang dan tegasnya yang mendominasi. Tidak ada perasaan takut yang terukir di wajahnya, membuat Felix menelan pelan salivanya.
Pikiran Felix mulai meracau kemana-mana, berusaha berpikir keras mencari celah jawaban apakah ia pernah bertemu dengan lelaki di hadapannya ini. Netra kehitaman yang tajam dan garis wajah tegasnya membuatnya teringat akan sesuatu yang kentara di benaknya saat ini.
"K-kau tau namaku? Bagaimana bisa? Siapa kau?" tanya Felix dengan suara yang goyah namun masih mempertahankan sorot matanya yang mengintimidasi.
Tio terkekeh, "kau? Biasanya siren seperti kalian masih menggunakan kata 'kamu' untuk menunjuk orang. Bukankah begitu?" balas Tio dengan nada suara mengejek yang menyebalkan, membuat Felix mengerutu di dalam hatinya.
"Diam kau!" marah Felix dengan mengerakkan tubuhnya yang di rantai, kalau saja Arnold tidak menggemboknya pasti Tio akan mendapat serangan telak darinya.
Tio sedikit menjauhi tubuhnya dari Felix, memberikan jarak sepuluh senti lebih jauh dari sebelumnya. Melihat hal antipasi Tio yang seperti itu, membuat Felix mendecak kesal. Sepertinya Tio menyadari bahwa dirinya bukan hanya bisa menyerang menggunakan tangan namun kaki yang awalnya ekor itu juga sudah dilatih untuk menyerang.
"Berbahaya sekali. Sepertinya kalian sudah melatih tubuh bagian bawah kalian dengan sangat baik, aku hampir terkena serangan mu."
Tio tertawa membuat semua awak kapal terheran dengan sikapnya yang seperti itu. Felix sempat terdiam sejenak, ia seperti menyadari satu hal dari sosok Tio. Membuatnya kembali memutar ingatan masa lalu yang sempat ia lalui dulu.
Diamnya Felix kini berubah menjadi gelak tawa yang mengerikan, membuat Tio yang awalnya tertawa akhirnya terdiam karena terusik dengan suara tawa Felix.
"K-kenapa dia ketawa?" cicit Soni yang sudah bersandar di tembok karena ketakutan.
"Mana ku tau!" sahut Roni yang berada di sampingnya.
Semua memandang Felix dengan aneh, terlebih lagi tawanya yang mengerikan itu membuat mereka akan selalu mendapatkan mimpi buruk jika terus - menurus di dengar. Tio masih memandang Felix dalam diam, membiarkan makhluk itu puas dengan tawanya yang menggelegar memenuhi ruangan dek R atau bahkan sampai satu kapal.
Sebelum benar-benar berhenti tertawa, Felix terdengar cekikikan seperti merasa geli dengan apa yang ada di pikirannya saat ini. Sampai akhirnya ia menatap netra kehitaman itu sambil nyeletuk membuat Tio emosi bukan main.
"Aku ingat sekarang," ucap Felix pelan seraya melirik ke arah Tio, "kau cucu dan anak laki-laki dari keluarga Ivankov itu bukan? Bukankah sudah lama kita tidak berjumpa, kawan lama?"
Nada suaranya yang datar dan menusuk terlihat sangat mengerikan ditambah dengan raut mukanya yang tersenyum sinis menampilkan deretan gigi dan taring yang menajam sempurna. Sosoknya kini dua kali lipat lebih menyeramkan dari sebelumnya. Walau dengan kondisi di rantai, tidak ada satupun yang berani mendekatinya.
Sadar dengan perbedaan kekuatan yang terlihat dari aura sekitarnya, membuat otot dan otak mereka kelu seakan tidak bisa berbuat apa-apa. Rasa takut yang terasa lebih mendominasi mereka, rasa kalut mulai menyelimuti jiwa mereka.
Padahal, Felix tidak melakukan apapun. Hanya ekspresinya saja yang bermain, tapi bisa melumpuhkan kinerja respon hampir semua laki-laki dewasa yang berada di kapal secara bersamaan.
Tio tersenyum miris, "ternyata kau ingat," ucapnya lirih.
"Tentu saja. Tragedi kapal SS Ourang Medan yang sangat melegenda tidak akan mungkin aku lupakan. Apalagi mengenai kapal Mont Blanc ayahmu yang sangat tragis. Mengingat aku adalah salah satu diantara mereka yang menikmati kejadian itu," teriak Felix bangga.
"Kalian benar-benar makhluk rendahan yang tidak punya hati!" bentak Tio.
__ADS_1
"Benarkah? Bukankah kalian yang tidak punya hati?" bantah Felix dengan nada meremehkan. Nyalinya tidak juga turun sejak tadi, masih merasa sangat mengintimidasi.
Tio mengepalkan tangannya, "jangan memutar balikan fakta Felix sialan!"
Felix terkekeh pelan, "seandainya keluarga kalian tidak menganggu lembah kami, mungkin kalian masih menjadi keluarga besar yang bahagia. Bukankah begitu?"
Rahang Tio mengeras menahan emosi yang sudah memuncak mendengar ucapan Felix yang semakin membuatnya naik pitam. Mulutnya yang tajam seakan menusuk tepat ke ulu hatinya, membuatnya kembali mengingat emosinya yang sudah hampir 20 tahun ia pendam.
Tio melirik ke sebelahnya, di dapati salah satu anak buahnya yang sedang memegang tongkat kayu yang langsung diambilnya tanpa aba-aba. Dengan kalut, Tio langsung memukulkan tongkat itu ke wajah Felix hingga tongkat itu patah dan terdengar suara retakan tulang yang membuat ngilu siapapun yang mendengarnya.
Wajah dan tubuh Felix terhempas ke samping karena pukulan itu. Anehnya, pukulan yang sepertinya memiliki kecepatan 90 mill per jam tidak terlalu berdampak dengannya. Saat Felix membalikan badannya, hanya ada sedikit cairan kehitaman yang keluar dari sudut bibirnya. Kalau manusia biasa yang mendapatkan pukulan itu, mungkin sudah menghancurkan tengkorak dan mematahkan lehernya.
"D-dia masih bisa bergerak," celetuk Arnold tertahan, masih tidak percaya dengan apa yang barusan ia lihat.
Pukulan fisik tidak dapat mengalahkan siren itu. Lantas apa yang bisa membuat siren itu kalah?
Tio menggerutu, "sialan. Ternyata pukulan tongkat itu tidak bisa menghancurkan wajah menjijikanmu."
Felix terkekeh pelan, "kalian kira bisa mengalahkan siren? Dasar makhluk naif."
Semua awak kapal yang menyaksikan hal itu seakan mematung hingga lupa caranya untuk bernapas. Rasa takut kembali tersulut hingga ke urat nadi mereka, membuat darah mereka mendesir cepat dan jantung mereka berdegup kencang mengingat mereka harus akan berhadapan dengan lebih banyak makhluk seperti ini di luar kapal nanti.
Jhonson yang berada tepat di belakang Tio berusaha untuk berjalan mundur, menghindari suasana mengerikan yang membuatnya ketakutan. Ia juga menarik beberapa orang yang berada dijangkauannya untuk keluar dari ruangan itu.
Ada dua orang yang berhasil di tarik keluar oleh Jhonson, yaitu Daniel dan Jacob.
"Hahhhhh...."
Mereka bertiga akhirnya bisa bernapas dengan lega saat sudah berhasil menjauh dari ruangan itu. Napas mereka yang sejak tadi seakan tercekat membuat oksigen tidak berjalan lancar ke otak mereka hingga respon tubuh mereka melambat. Jacob menepuk-nepuk pundah Jhonson sebagai ucapan terima kasih yang belum bisa teralisasikan karena napasnya yang masih tidak beraturan.
Jhonson mengangguk, "sama."
Mereka terduduk di lantai lorong kapal sambil menyandarkan punggung mereka, sekedar mengistirahatkan diri beserta pikiran mereka yang kacau. Di tengah keheningan mereka, akhirnya Jhonson bersuara seakan meluapkan rasa penasarannya sejak tadi.
"Apa kalian dengar yang di katakan siren tadi?" tanya Jhonson.
"Maksudnya perkataannya yang mana?" seru Jacob melirik Jhonson yang berada tepat di sampingnya.
"Kapal SS Ourang Medan dan kapal Mont Blanc."
Daniel mengerutkan dahinya, "memangnya ada apa dengan kedua kapal itu?" nada kebingungan terdengar dari suaranya.
Jacob terdiam seakan memikirkan sesuatu, "sesuai cerita yang beredar, tragedi kapal SS Ourang Medan yang terjadi pada kisaran tahun 1947-1948 itu masih belum diketahui penyebabnya pastinya kondisi korban yang membatu dengan wajah yang membelalak itu karena apa.."
"...Tapi, menurut rumor yang dipercaya oleh banyak orang, itu bisa jadi karena gas beracun yang masuk ke tubuh para awak kapal hingga mengubah sel mereka dan akhirnya membatu seperti itu atau bahkan hal lainnya." jelasnya.
Daniel tampak meragukan jawaban dari Jacob, "mitos kali, Jac. Mana ada orang yang membatu gitu, kayak habis ngeliat medusa aja. Kau buat-buat cerita ya?" tuduhnya.
Jacob mengetuk pelan kepala Daniel geram, membuatnya meringis pelan. Bisa-bisanya ia mengatakan Jacob membual. Sepertinya lelaki itu tidak pernah serius dalam mendalami sejarah perkapalan yang sangat melegenda itu. Padahal sejarah perkapalan seperti ini harusnya sudah tidak kentara lagi bagi para pelaut yang sudah berkeliling dunia seperti mereka.
Daniel adalah definisi orang yang kurang literasi terhadap minat pekerjaannya sendiri.
"Kau itu yang kurang literasi," kesal Jacob.
"Maaf."
__ADS_1
Jhonson menghela napasnya pelan, tidak tertarik dengan pertengkaran kecil kedua rekannya itu. Ia kembali mendesak Jacob untuk melajutkan ceritanya dan dengan pasrah akhirnya Jacob kembali menjelaskan panjang lebar tentang semua hal yang diketahuinya tentang peristiwa bersejarah itu.
Jacob mengalihkan pandangannya menatap lurus ke ujung lorong tempat pintu utama terlihat dan melanjutkan ceritanya.
"Sebenarnya, ini sudah menjadi rahasia umum. Detik kematian para kru kapal dan kapten yang ada di kapal itu sudah terekam, maksudnya rekaman SOS yang dikirimkan diterima oleh salah satu operator radio kapal yang melintas di sekitaran sana. Saat kapal yang menerima pesan tersebut menemukan kapal SS Ourang Medan ini, bukan hanya mayat manusia yang membatu, ada mayat seekor anjing yang juga terlihat kaku dengan ekspresi ketakutan.."
"..Padahal tidak ada luka pada tubuh korban yang berada di kapal itu, juga tidak ada yang selamat," lanjutnya.
Jhonson mengarahkan tubuhnya kepada Jacob, "terus bagaimana hasil investigasinya?"
"Tidak ada."
Daniel yang mendengar itu tentu saja langsung bingung, "hah? Tidak ada?"
Jacob mengangguk, "saat kru kapal penerima pesan itu mengecek dan menemukan mayat korban, tiba-tiba ada api yang menjalar di kargo kapal. Akhirnya mereka yang panik memutuskan untuk menyelamatkan diri dan kapal Ourang Medan pun meledak dan tenggelam."
Jhonson dan Daniel tampak mengangguk paham mendengar penjelasan cerita Jacob. Seakan mengerti kepanikan dari para kru yang melihat sulutan api yang menjalar di kargo kapal, membayangkan mereka pasti akan melakukan hal yang sama. Apalagi mereka sama-sama bisa dikatakan sebagai pengecut.
Setelah dipikir-pikir, Jacob juga mengatakan bahwa penyebabnya beredar dari rumor. Jadi, memang belum bisa dipastikan apa penyebab kematian mereka yang berada di kapal itu.
Namun, yang menjadi pertanyaan saat ini adalah apa hubungannya tragedi itu dengan kapten baru mereka, Tio dan keluarganya dengan tragedi itu? Bahkan siren itu juga terlibat.
"Tapi, kalau kapal Mont Blanc itu, aku kurang tau ceritanya," ucap Jacob sambil menghela napas kasar.
Daniel menatap Jacob kecewa, "yah, masa ngga—"
Sebelum selesai mengatakan kalimatnya, Jacob menyentuh bahu mereka dengan tekanan yang kuat membuat ringisan kecil terdengar dari mulut mereka. Saat menatap wajah Jacob dan arah netranya yang membulat lurus ke depan, mereka spontan mengikuti arah pandang itu.
Kedua pasang mata itu juga ikut membulat, saat didapati hal yang membuat Jacob membisu.
Di sana, tepatnya di pintu utama, mereka melihat tangan berselaput yang sedang berusaha membuka pintu dari luar. Cakarnya mulai menggaruk daun pintu besi itu, meninggalkan goresan-goresan panjang di sana.
"J-Jac," panggil Jhonson gemetaran.
"Kita harus melakukan sesuatu," ucap Jacob yang langsung berlari cepat menuju pintu itu sambil mengeluarkan katana yang sejak tadi ia kalungkan.
Melihat Jacob yang berlari ke pintu, tanpa mikir panjang Jhonson mengikutinya dari belakang dengan langkah yang gontai. "Beritahu kepada kapten, Dan! Aku akan membantu Jacob!" teriaknya sesaat ia menyusul Jacob.
Daniel yang mendapat pesan itu dengan sekuat tenaga menompang tubuhnya yang goyah dan berjalan menuju dek R tempat Tio berada.
"K-kapten! Siren itu sudah hampir masuk lewat pintu depan. T-tangannya masuk!" teriak Daniel saat sudah tiba di ambang pintu.
Tio menoleh kearah Daniel, "apa?!"
Felix yang mendengar laporan Daniel malah kembali tertawa. Tawanya seakan menggambarkan kesenangannya dan seperti mengetahui hal ini akan terjadi. Merasa dipermainkan, Tio yang masih tersulut emosi kembali menendang wajah Felix geram.
"Kau sengaja? Kalian menjebak kami!" kalutnya emosi.
"Sudah ku katakan, kalian terlalu naif dan mudah dibodoh-bodohi. Buktinya kalian masuk jebakan kami," ejek Felix dengan raut wajah puas.
Tio menghela napas kasar lalu berlari keluar dari dek R menuju pintu utama dan memerintahkan dua orang untuk menjaga Felix agar tetap terantai di ruangan itu. Selebihnya, mengikuti Tio dari belakang.
Felix menatap langit dek R sambil terkekeh pelan. "Ah.. Aríos, benar katamu. Ternyata jadi umpan tidak buruk juga," monolognya.
Skenario tertangkapnya Felix oleh Jacob ternyata adalah umpan yang sudah direncanakan Aríos sebelumnya. Strateginya benar-benar berhasil saat ini.
__ADS_1
...------...