Love In Siren

Love In Siren
Luka Bakar


__ADS_3

"Apa yang kamu lakukan? Dia bisa terbunuh!" Aoi melempar botol air yang dipegang Audrina ke sembarang tempat.


Audrina membulatkan matanya kaget melihat perlakuan Aoi yang sangat tidak seperti biasanya itu. Aoi terlihat panik dan menakutkan.


"Luka ini akan membusuk jika disiram air tawar. Kalau kamu siram lukanya akan sulit disembuhkan dan merusak tubuhnya." Jelas Aoi penuh penekanan.


Aoi terlihat sangat mengkhawatirkan kondisi Zayn saat ini. Tentu saja, hal seperti menyakiti andrás tidak ada dikamus siren danau dari mereka kecil. Hidup sesama dan saling membantu adalah yang paling utama.


Itu menjadi motto hidup siren danau yang sangat bertolak belakang dengan siren merah dari laut tenggara. Mereka diajarkan untuk membenci siapapun yang bukan kaumnya.


Motto itu sudah hidup hingga ratusan tahun. Merusak dan membunuh adalah salah satu keunggulan mereka.


Audrina mundur perlahan membiarkan Aoi mendekati tubuh Zayn.


"A-aku tidak tau," Audrina merasa bersalah.


Aoi menghela napasnya kasar lalu melihat ke sekelilingnya. Terdapat tangan siren yang terputus disana. Benar dugaannya, siren merah itu sengaja menghambatnya tadi di danau untuk bisa menyerang Zayn dan Audrina disini.


Zayn masih merintih menahan luka bakar yang terasa semakin menyebar dipunggungnya. Aoi dengan cepat mengangkat tubuh Zayn lalu menelungkupkannya diatas tempat tidur Audrina.


Aoi melebarkan tangannya yang berselaput lalu menekan luka dipunggung Zayn dengan telapak tangannya. Tumpuan badannya kini ia berikan keatas tubuh Zayn.


"Akh!" Zayn berteriak semakin keras saat Aoi menekan lukannya itu.


Suara teriakan Zayn membuat Audrina khawatir dan spontan mendekati Aoi yang sedang berusaha menekan luka Zayj itu.


"Kamu menyakitinya, Aoi!" Audrina berusaha mendorong Aoi untuk menghentikannya.


Aoi berbalik kearah Audrina lalu menatapnya tajam. Audrina yang melihat tatapan itu perlahan mundur karena takut. Pupil matanya berunah mengecil seperti mata ular.


"Aku lakukan ini untuk menghentikan pelebaran luka bakarnya. Lebih baik kamu segera siapkan air dingin untuknya," ucap Aoi dengan suara beratnya, "jangan mengangguku!"


Aoi mengabaikan Audrina lagi dan melanjutkan untuk menekan luka Zayn.


Audrina sedikit tertegun mendengar suara berat Aoi yang terkesan tegas dan mengintimidasi. Suara itu membuat Audrina sedikit ketakutan, karena biasanga Aoi akan selalu berbicara lembah lembut kepadanya.


Walaupun teriakan Zayn masih sangat memilukan untuk didengar, bisa dilihat lukanya tidak menyebar lagi setelah tekanan dari tangan Aoi.


Audrina yang melihat itu bergegas untuk mengambil air dingin untuk Zayn sesuai perintah Aoi. Saat ia keluar dari kamar, tidak ada siren merah itu lagi hanya jejak darahnya saja yang tersisa.


Kepala Zayn perlahan mulai merasa pusing karena teriakannya yang sejak tadi ia keluarkan. Rintihan kecil masih terdengar dari mulut Zayn, namun rasa terbakar dipunggung perlahan mulai hilang.


"Zayn, apa kau mendengarku?" tanya Aoi saat tidak lagi mendengar teriakan kesakitan Zayn.


"iya, aku mendengarmu." Sahut Zayn dengan suara lirih.


"Syukurlah," Aoi menghela napasnya lega, "tahan lah sedikit lagi. Aku akan mengobati lukamu." Seru Aoi sembari mengangkat kedua tangannya dari punggung Zayn.


Zayn sedikit meringis lalu kembali memejamkan matanya berusaha mengembalikan kekuatan yang sudah terkuras tadi.


"Ini airnya." Audrina membawa nampan yang berisi satu teko air dingin dan gelas.


Aoi membuka teko air itu lalu meneteskan cairan bewarna biru kedalam air itu. Air yang semula putih bening berubah menjadi biru terang.

__ADS_1


"Zayn, minumlah air ini. Itu akan membuat tubuhmu dingin dari dalam," ucap Aoi sambil membantu Zayn duduk.


"Terimakasih." Zayn mengambil air itu lalu meminum air itu. Baru saja satu teguk, ia langsung melepehkan air itu dan memasang wajah masamnya. "Uhuk..uhukk.. Apa ini? Pahit banget," keluhnya sambil terbatuk.


Aoi berdecak. "Itu obatmu, kan aku sudah mengatakan akan mengobatimu. Minum itu atau kau tidak akan sembuh selamanya." Ucap Aoi dengan tegas.


"Tidak mau, obatmu ini tidak enak! Aku hampir kehilangan indera perasa ku karena terlalu pahit," tolak Zayn mentah-mentah.


Aoi mengerutkan dahinya kesal, "mana ada obat yang enak. Minumlah atau aku akan memaksamu meminumnya!"


"Sampai mati aku tidak akan mau minum!"


"Baiklah, jangan salahkan aku kalau kau mati tersedak gelas ini ya." Ancam Aoi membuat Zayn menatapnya ngeri.


"Aduh, sudah dong. Kenapa ribut terus sih?" potong Audrina yang pusing sendiri melihat kelakukan mereka. "Zayn, kamu minum sampai habis atau aku tidak akan berbicara padamu lagi." Ancam Audrina akhirnya.


Zayn membulatkan matanya terkejut dengan ucapan Audrina, "b-baik aku akan meminumnya sampai habis." Zayn meminum air biru dingin itu hingga habis tak bersisa. Rasa mual kini menyerang perutnya disertai sensasi dingin dari dalam tubuhnya.


Melihat ekspresi wajah Zayn yang seperti ingin muntah, Aoi dengan cepat memukul pelan pundak Zayn.


"Awas saja kalau sampai dimuntahkan." Ucap Aoi datar dan membuat Zayn menelan kembali apa yang baru saja ingin dimuntahkan.


Zayn kembali tidur terlungkup untuk membiarkan punggungnya tetap terbuka dan akhirnya ia bisa tertidur setelah meminum air yang dikatakan obat oleh Aoi.


Aoi berdiri dan bersiul pelan seperti memanggil sesuatu. Audrina terlihat penasaran dengan apa yang dilakukan Aoi. Setelah itu, Aoi membuka jendela kamar Audrina lebar-lebar.


Sring...


Terdengar suara lonceng halus menghiasi sunyinya malam itu. Kerlipan cahaya terlihat mendekat kearah jendela kamar Audrina.


Aoi menunduk membalas sapaan siren laki-laki itu. Kedua siren itupun masuk kedalam kamar Audrina sambil membungkukan badannya kepada Audrina, memberi salam hormat.


"Salam, Audrina." Ucap kedua siren itu.


Audrina membalas bungkukkan mereka, "Salam."


Audrina melirik kearah Aoi meminta penjelasan tentang siren yang baru saja datang ke kamarnya itu.


"Ody, perkenalkan ini Vivian dan Thanisa. Mereka adalah pelayan Amber dan merupakan temanku." Aoi memperkenalkan mereka.


Vivian, siren laki-laki yang sangat tampan dengan rambut putih sepinggangnya dan terdapat beberapa helai rambut bewarna hijau terkepang. Vivian memilili sisik bewarna kehijauan dan mata biru laut yang sangat menawan. Tanda merah dibawah matanya memberikan kesan agresif dan siripnya yang melengkung dikedua bahunya. Sama seperti Aoi, ia hanya memakai celana hitam tanpa baju.


Thania, siren perempuan cantik yang sangat anggun dengan rambut hitamnya yang sangat legam. Ia membiarkan rambutnya tergerai dengan memakai beberapa hiasan kerang dirambutnya, membuatnya seolah memakai bando yang sangat indah. Mata coklat terang dan sisik bewarna keemasan terlihat sangat menakjubkan. Beda halnya dengan Aoi dan Vivian, Thanis terlihat memakai baju bewarna putih seperti kemben yang membungkus dadanya.


Audrina sedikit lega melihat ternyata siren perempuan setidaknya memakai baju untuk menutupi dadanya.


"Apa yang terjadi?" tanya Thania, suara lembutnya membuat Audrina merinding.


Aoi melihat kearah Zayn, "dia terkena darah hitam."


Melihat itu, Thania langsung bergegas mendekati Zayn lalu mengeluarkan sesuatu dari balik kembennya. Sebuah botol yang berisi cairan bewarna putih susu lalu ia meneteskan cairan itu keatas luka Zayn.


Zayn sedikit meringis saat cairan itu berhasil mengenai lukanya. Lalu tidak lama setelah itu, ia kembali tertidur.

__ADS_1


"Bekas luka itu tidak bisa hilang, akan membekas seumur hidupnya." Ucap Vivian prihatin.


Audrina menghembuskan napasnya lalu menatap Zayn yang tertidur pulas.


Thania berdiri, "sepertinya ada yang membuatmu takut, Audrina." Ucapnya sambil menepuk pelan pundak Audrina.


"Aku hanya heran melihat cara Aoi menekan luka bakar ditubuh Zayn. Aku tidak pernah melihat seseorang memberikan pertolongan pertama seperti itu selama ini." Ucap Audrina jujur kepada Thania.


"Memang seperti itu cara menahan luka bakar dari darah hitam, apa yang membuat kamu heran?" Tanya Thania Lagi.


"Huft.. Apa memarahi orang lain yang tidak tau termasuk didalamnya? Menyebalkan." Audrina cemberut. Ia masih kesal dengan sikap Aoi yang membentaknya tadi.


Thania dan Vivian saling memandang satu sama lain lalu terkekeh pelan sambil menatap Aoi yang hanya terdiam saja daritadi. Mereka seperti tau apa yang sudah dilakukan Aoi. Saat ia serius, maka ia akan memarahi siapa saja yang menganggunya.


Sifat alami Aoi yang sangat serius dan ambisius untuk menjaga dan menyembuhkan juga menjadi faktor utama mudah marahnya Aoi.


"Iya, sebenarnya itu cara paling ampuh." Sahut Vivian kemudian.


"Berhenti mengejekku." Ucap Aoi datar membuat Vivian dan Thania terdiam.


...****************...


"Bagaimana bisa kau kalah dari seorang andrás Cleo?!" tanya Gloria murka.


Cleo menundukkan wajahnya dan meratapi tangannya yang putus akibat tebasan sirip oleh Audrina tadi. Jika hanya ditebas dengan pedang biasa, tangannya pasti akan tumbuh kembali. Hanya saja, senjata yang digunakan buka senjata biasa. Sehingga Cleo tidak bisa menumbuhkan kembali bagian tubuhnya itu.


"Aku tidak tau dia memiliki sirip siren danau itu, jika aku tau aku pasti tidak akan gegabah." Jawab Cleo sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam takut untuk menatao Gloria.


"Hah, benar-benar."


"Maafkan aku." Seru Cleo lirih.


"Kiesa, bawa dia kepada Gladius. Mungkin dia ada cara untuk menumbuhkan tangannya." Titahnya kepada Kiesa.


"Baik, yang mulia." Kiesa membopong tubuh Cleo yang tampak melemah karena rasa sakit yang diterimanya itu.


Gloria merasa kesal karena misi untuk menangkap Audrina tidak berjalan mulus kali ini. Kegagalan ini terjadi karena kemunculan Zayn yang membantu Audrina dan kelicikan Aoi yang menjadi tameng mereka. Kalau kedua hal itu tidak ada, pasti mereka bisa mendapatkan Audrina dengan mudah.


Gloria mengibaskan ekornya kebawah dan membawanya menuju batu kristal yang berada diatas singgasananya.


Saat disentuh, bola kristal itu tampak bergerak seperti ombak yang menggulung di lautan. Gloria mengelus pelan kristal itu lalu muncul Zayn, Aoi dan Audrina disana.


Terlihat Aoi sedang menekan luka bakar Zayn dengan tangannya dan Audrina duduk bersimpuh di hadapan Zayn yang terlelap. Saat itu, belum terlihat kedatangan Vivian dan Thania disana.


"Sepertinya manusia itu terbakar," ucap Gloria pada dirinya sendiri. "Dasar lemah."


Gloria mengelus kembali dan kristal itu kembali seperti semula. Wajahnya telihat sedang memikirkan sesuatu.


Gloria berenang kebawah mendekati sebuah kerang besar, ia membuka kerang itu. Terdapat sebuah tulang disana. Dilihat dari bentuknya, itu sepertinya tulang belulang siren yang sudah bersih.


Gloria menyeringai, "sepertinya aku harus melakukan cara ini untuk mengalahkam Aoi."


Gloria menatap tulang itu dengan lekat. Saat ini ia memilili rencana yang sangat jahat untuk mengalahkan Aoi. Rencana apa itu?

__ADS_1


Kita lihat saja kedepannya.


...-----...


__ADS_2