
Semua mata tertuju pada pintu yang sudah terbuka. Kru kapal yang sebelumnya membelakangi pintu utama akhirnya berbalik memandangi Aríos yang tengah berdiri tegak sambil memandangi netra mereka satu per satu. Beberapa kru terlihat terduduk secara tiba-tiba, karena otot kaki mereka yang mendadak kelu hingga tompangan kaki tidak lagi bisa menahan tubuh mereka yang lemas seketika.
"Ah.. Apa aku mengejutkan kalian para andrás?" tanya Aríos sambil tersenyum miring.
Rahang mereka perlahan terjatuh, menyaksikan pintu terbuka dan memperlihatkan sosok yang sejak tadi mereka coba untuk hindari kehadirannya. Terlalu takut hanya dengan Felix, tidak ingin bertemu lebih dari itu tapi takdir berkata lain.
"Ada apa? Aku rasa kalian seharusnya tidak begitu terkejut dengan kehadiran aku, bukan? Toh kalian sudah menangkap anak buah kesayanganku," ucap Aríos masih dengan senyum miringnya yang menjadikan sosoknya terlihat lebih mengerikan.
Dari tampangnya saja, mereka merasa Aríos lebih kuat daripada siren yang sudah mereka tangkap sebelumnya. Aura jahat yang dipancarkannya pun juga terlihat lebih mencekam dari sebelumnya. Tio keluar dari pintu dek R, menghadap langsung ke barisan terdepan menjaga anak buahnya tetap di belakangnya. Jiwa tak gentar mulai merasuki tubuh tegap Tio yang sepantaran dengan Aríos.
Intimidasi yang diberikan Aríos tidak dapat menembus jiwa sekuat baja Tio, tidak ada rasa takut yang ditorehkan dalam wajah tegasnya. Netra kehitamannya menubruk langsung sorot mata kemerahan dari siren dihadapannya itu.
"Apa yang kau inginkan sebenarnya?" tanya Tio datar, nada bicaranya yang tenang menunjukan kestabilan emosi yang dengan sekuat tenaga ia simpan. Agar tidak terjadi hal-hal yang diinginkan.
Aríos memiringkan kepalanya, "tunggu sebentar..." ucapnya pelan sambil mendekatkan jarak diantara mereka, "aku sepertinya mengenalmu."
"Jangan dekati kapten kami!" teriak Jhonson dengan suara bergetar.
Aríos yang semula masih ingin terus menepis jarak diantara dirinya dan Tio otomatis menghentikan langkahnya. Sayup-sayup ia sedikit melirik ke arah sumber suara, menatap raut wajah tegang Jhonson yang tidak sesuai nyalinya.
Tawa Aríos mulai terdengar nyaring melihat ekspresi wajah ketakutan Jhonson beserta kru lainnya. Ia merasa sudah lama tidak melihat pemandangan seperti ini membuat dirinya tanpa sadar merasa senang.
"Ternyata anak buahmu cukup bernyali juga tuan Tio Ivankov Valmord."
Tio termangu, ternyata siren dihadapannya ini justru mengingat nama aslinya Tio. Padahal identitas yang digunakanny selama ini hanya sebatas 'Tio Valmord' tanpa menggunakan nama keluarganya yaitu 'Ivankov'.
Ada alasan khusus yang membuat dirinya tidak menyertakan nama keluarganya itu. Selain untuk melindungi identitasnya dari para intel yang sangat penasaran dengan silsilah keluarganya, alasan lainnya ia berusaha untuk melindungi dirinya dari kejaran wartawan yang sampai saat ini masih mengulik kebenaran dan tanggapannya dibalik tragedi kapal yang menghilangkan nyawa kakek dan ayahnya itu.
Aríos mengambil salah satu senjatanya yang merupakan sirip punggungnya yang sudah ia modifikasi sedemikian rupa. Melihat senjata yang sangat familiar itu, Tio langsung teringat sosok mengerikan di depannya ini.
"Kau Aríos?" tanyanya memastikan.
Aríos tersenyum hingga menampilkan taringnya yang lebih panjang dari Felix, "ternyata kamu masih ingat dengan aku. Aku pikir kamu sudah lupa," sarkasnya.
Tio tersenyum miring, "bagaimana aku lupa dengan pembunuh seperti kalian, terutama kau. Tinggalkan kapal ini atau aku yang akan membunuhmu!" ancam Tio.
"Wow wow, sudah berani mengancam rupanya. Tio mungil sudah tumbuh jadi orang dewasa sekarang," ledek Aríos dengan memasang wajah pura-pura takut.
Tio yang melihat sikap Aríos yang menjengkelkan itu mengepalkan tangannya menahan amarah yang sudah lama ia tahan selama hidupnya ini. Seperti muntahan magma yang ada pada gunung merapi tidur yang tiba-tiba saja meluap saat ada yang menganggu kestabilan emosinya.
Saat ini di tangan Tio masih tergenggam erat pedang yang masih berlumuran darah siren yang sempat ia putuskan tangannya. Pedang itu ia acungkan ke depan, mencuat lurus ke arah Aríos yang masih terus memandang remeh Tio dengan sorot matanya.
Atmosfir dalam dek inti kembali tergoncang sengit mendapati kedua pimpinan yang sedang saling mengintimidasi, berusaha menunjukkan jati diri terkuat diantara keduanya sekaligus menjaga kehormatan kaumnya. Hal tersirat ini seakan menjadi momok pertahanan harga diri, tidak ada jalan lain selain melawan musuh seorang diri.
"Kau masih ada urusan denganku!" tukas Tio dengan suara goyah, menahan emosi yang semakin lama semakin berhasil menguasai nafsu amarahnya.
Aríos tentu tidak diam saja melihat musuh dihadapannya sudah masuk ke dalam mode perlawanan, saat ia mengambil posisi yang sama untuk menyamakan kedudukan. Walau ia tau, siapa yang akan memenangkan perlawanan ini namun tidak ada salahnya membuat lawannya seakan merasa tinggi namun terbuai dengan angan-angan.
Ia memang sudah menghitung semua probalitas itu, tapi mau bagaimana pun Aríos tidak pernah mengabaikan atau lawannya. Walaupun licik, ia juga punya sopan santun yang selalu ia pegang teguh dalam dirinya. Jangan kalian pikir semua makhluk licik, jahat dan pendendam sepertinya tidak memiliki prinsip yang selalu memandunya. Bahkan sosok Gloria sendiri memiliki prinsip hidupnya sendiri.
"Sepertinya begitu," balas Aríos sembari mengancungkan senjatanya ke arah depan, "aku akan bermain jujur dengan mu. Penasaran seberapa kuatnya seorang anak keturunan Ivankov, sebaiknya kamu jangan mengecewakan leluhurmu."
Tio melangkahkan kakinya, menepis jarak diantara keduanya hingga senjata mereka bersatu menompang satu sama lain di udara. Battle antara mereka tidak bisa dielak lagi.
Wuss..
Kedua pimpinan itu memasang kuda-kuda terbaik mereka, bersamaan dengan teriakan mereka yang menggema menandakan battle mereka dimulai. Aríos lebih dulu menganyunkan senjatanya hingga hampir mengenai wajah Tio yang bisa saja langsung tersayat jika tidak ditahan dengan pedang yang ada ditangannya.
__ADS_1
Cling...
Wuss..
"Ara..ara.. Ternyata kamu gesit juga untuk menahan seranganku," ucap Aríos sambil tersenyum lebar, "kamu benar-benar sudah berlatih dengan giat rupanya."
Tio tidak menggubris pernyataan Aríos, ia masih bertumpu dengan kaki dan tangannya yang menahan serangan Aríos yang sangat berat itu. Tenaganya benar-benar luar biasa kuatnya membuat Tio menahan tompangan kakinya dengan sekuat tenaga, ia sulit bergerak saat ini.
Kesempatannya untuk menyerang benar-benar terkuras habis melihat daya serang Aríos yang sudah memakan banyak kekuatan fisiknya. Peluh sudah mulai membanjiri Tio hingga tangannya sedikit licin, membuat pegangan tangannya tergelincir. Untuk menghindari luka fatal, Tio dengan sengaja menjatuhkan dirinya ke lantai menyebabkan sayatan yang cukup panjang di dahinya hingga memotong sebagian rambut depannya memperlihatkan matanya yang memang sudah hilang.
Cling..
"Arghh.."
"Kapten!" teriak krunya bersamaan saat melihat Tio terjatuh ke lantai. Mereka tidak bisa mendekat, selain karena siren itu bukan tandingan mereka alasan lainnya juga mereka tidak ingin menjadi beban untuk sang kapten.
Tio yang mendengar teriakan krunya menoleh ke belakang, "kenapa kalian masih di sini? Apa kalian tidak ada niatan untuk menyelamatkan diri? Dasar bodoh!" teriak Tio frustasi.
Krunya itu benar-benar tidak peka sama sekali. Mereka kira untuk apa Tio menyerang siren itu kalau bukan untuk mengalihkan perhatiannya dari anak buahnya itu. Justru mereka malah menonton saja, bagaimana Tio tidak kesal sendiri kalau seperti itu.
Hans mengernyitkan dahinya, "t-tapi kapten, kami tidak bisa meninggalkan—"
"Pergi sekarang! Ini perintah!" titahnya tegas menggunakan wewenang pangkatnya untuk menyadarkan mereka semua. Kalau tidak dengan itu, mereka tidak akan pergi menyelamatkan diri mereka.
Dengan perasaan tidak tenang, mereka semua akhirnya memutuskan untuk menjalankan perintah kaptennya itu. Bagaimana pun kondisinya, perintah harus dijalankan. Begitulah yang diajarkan kepada mereka.
"Baik kapten!" teriak mereka lagi dengan mata yang berkaca-kaca, tidak tega meninggalkan kaptennya bertarung sendiri.
Hans dan Roni mengambil alih komando untuk kru yang tersisa dan mengarahkan mereka untuk bergerak ke dek belakang meninggalkan Tio dan Aríos yang bertarung di dek inti. Mereka juga menyeret Felix secara paksa untuk dijadikan sandera, tidak mudah membawanya memang tapi mereka harus menjaga keunggulan mereka yang sedikit itu. Langkah kaki para kru kapal mulai menghilang di dalam lorong panjang kapal yang semakin masuk ke dalam, meninggalkan jasad Will dan Tio yang bertarung di sana.
Tio menompang pedangnya, membantunya untuk berdiri dan kembali mengacungkannya ke depan.
Tio menautkan alisnya bingung," apa maksudmu?"
"Menurutmu?" Aríos malah balik bertanya.
"Tidak usah bertele-tele!" ketus Tio tidak sabar. Berbicara dengan Aríos membuatnya selalu cepat kehilangan kesabarannya dengan mudah.
Aríos terkekeh pelan, "oh well. Aku hanya menyayangkan perintahmu kepada kru mu itu, Tio."
Tio masih terdiam, berusaha mendengar kelanjutan kalimat yang akan disampaikan oleh Aríos lagi. Namun, apa yang dinantinya itu langsung membuatnya kehabisan kata-kata.
"Kamu tau, bahwa kapten kalian sudah mati bukan?" celetuk Aríos dengan nada suara yang lebih lembut dari sebelumnya, terkesan serak dan sangat dalam.
"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan, sialan?!" kesal Tio.
"Tunggu sebentar lagi," ucap Aríos sambil mengubah sorot matanya melihat ke segala arah dengan antusias. Perubahan yang sangat rancu membuat Tio merasa ada hal buruk yang akan terjadi selanjutnya.
Sampai tiba-tiba arah laju kapal yang semula stabil menjadi bergerak tidak beraturan. Tio membulatkan matanya sempurna, tanggung jawabnya untuk menjaga kru kapalnya membuatnya melupakan satu hal penting lainnya yaitu kendali kapal.
"Apa yang kau lakukan?!" teriak Tio frustasi. Ia benar-benar tidak berpikir bahwa siren-siren itu dapat mengambil alih kemudi kapal dengan mudah di atas sana.
Aríos tersenyum penuh kemenangan, "bukankah kalian menaiki kapal? Mengapa bisa melupakan hal terpenting dalam menjalankan kapal? Kalian bodoh atau bagaimana?" ejeknya sarkas membuat Tio tidak dapat berkutik.
Dilihat dari segi manapun, mereka benar-benar sudah kalah.
...***...
__ADS_1
Duakk...
"Aw!" rintih Jacob yang terhantuk tembok kapal karena langkah kakinya yang tiba-tiba salah tidak stabil.
Bukan hanya dia saja, semua orang di sana juga banyak yang sampai tersungkur karena pijakan kaki mereka yang goyang. Mereka menyadari ada yang tidak beres dari arah kapal saat ini.
"Apa yang terjadi? Apa arah tujuan kapal kita berubah?" tanya salah satu kru kapal.
Hans yang semula berlutut karena terjatuh akibat goncangan kapal kembali berdiri tegak dengan bersandar ke tembok kapal, "sepertinya begitu," jawabnya seadanya.
"Y-yang benar saja!" teriak parau kru kapal itu menandakan dirinya sangat terguncang kali ini.
Melihat perubahan suasana disekitar mereka membuat Felix yang juga berada diantara mereka hanya terkekeh pelan, menyadari pengorbanannya tidak sia-sia. Ia tidak banyak berontak lagi, karena tubuhnya yang semakin lemas akibat kenekatannya mengigit lidahnya sendiri yang menyebabkan ia kehilangan banyak darah hingga tersisa darah kering disekitar mulutnya.
Jhonson yang melihat itu dengan geram mendorong tubuh Felix hingga menabrak tembok kapal membuat suara keras yang sedikit menggema.
"Ini semua pasti salah satu rencana kau, kan? Dasar siren licik!" teriak Jhonson frustasi tepat di wajah Felix yang masih terkekeh sejak tadi.
Arnold menahan bahu Jhonson yang penuh dengam emosi itu ke belakang, "tenanglah, Jhon."
"Bagaimana aku bisa tenang? Siren sialan itu benar- benar membuat aku ingin membunuh mereka dengan tanganku sendiri! Arrghh, sialan!" amuknya sambil memukul tembok kapal, meluapkan emosinya.
Semua sepemikiran dengan Jhonson saat ini. Mereka juga merasa frustasi, takut, panik, bingung, dan tidak berdaya di waktu yang bersamaan. Mereka juga bukan hanya dikepung dari segala sisi, bahkan kapal mereka sudah di bajak. Belum lagi rasa bersalah meninggalkan jasad Will dan kapten yang bertarung sendiri saja masih terus berulang di benak mereka.
Jacob menghela napasnya pelan, "Bang Ron, apa kau ada rencana? Setidaknya ada yang bisa kita lakukan saat ini," tanyanya sambil memandang Roni dengan raut wajah lelah.
Roni terdiam. Ia berusaha memikirkan rencana bertahan hidup mereka, pasti ada peluang walau tidak yakin akan berjalan dengan mulus.
"Aku tidak yakin," ucapnya lirih, tidak ada rasa percaya diri di sana.
"Katakan saja, bang!" seru Daniel yang sudah tidak peduli lagi dengan Felix yang berada disekitarnya, keselamatan mereka menjadi hal utama saat ini.
Roni memandang semua kru satu persatu, "apakah kalian melihat issyarat kapten saat menyuruh kita untuk pergi? Kapten menyuruh kita ke dek belakang tadi," tukasnya.
Soni mengernyitkan dahinya, "maksudnya? Aku tidak melihat apapun," sergahnya.
"Aku juga tidak," seru kru kapal lainnya.
"Sama aku juga tidak lihat apapun selain mendengar perintah kapten," kata Jacob dengan wajah bingung.
"Aku lihat," ucap Hans pelan.
Sorot netra beralih kepada Hans saat ini, bersamaan dengan raut wajah mereka yang bingung dan heran.
"Kapten memberikan isyarat dengan mengepalkan tangan kirinya. Seperti ini," Hans menunjukkan kepalan tangannya sesuai dengan isyarat yang diberikan oleh kaptennya tadi, "aku yakin kalian tau maksudnya apa."
Mata sendu mereka kini mulai berbinar senang, seperti ada harapan muncul walau cuma setitik tapi bisa sangat menaikkan mood mereka saat ini.
"Sekoci!" seru Daniel.
Hans dan Roni mengangguk. Kapten mereka benar-benar terus menompang keselamatan mereka di saat ia sendiri tidak yakin dengan keselamatannya sendiri. Rasa kagum akan sosok Tio semakin berkembang di dalam hati mereka, sungguh lelaki yang begitu mulia, pikir mereka.
"Tapi, pertama-tama kita harus turun ke dek belakang terlebih dahulu. Kita susun rencana di sana," titah Roni.
"Baik," balas yang lain bersamaan disusul dengan langkah kaki mereka yang berjalan menuju dek belakang, menjadikannya markas baru.
Mereka harus memikirkan hal apa yang harus mereka lakukan dengan matang. Hanya pasrah saja sama dengan mati.
__ADS_1
...-----...