Love In Siren

Love In Siren
Perubahan yang Mendadak


__ADS_3

Aoi tampak sedang duduk disofa ruang tamu dengan Audrina yang sedang tertidur dipangkuannya. Wajah kalem dan damainya membuat Aoi sedikit menaikkan bibirnya tersenyum menatap wajahnya.


"Sesuka itu kamu dengannya, Aoi?" tanya Thania yang sedang duduk di meja makan bersama dengan Vivian.


Aoi semakin melebarkan senyumannya, "aku bahkan tidak sanggup kalau sampai dia kenapa-napa."


"Dia sudah tau?" tanya Vivian.


"Entahlah, aku harap ciuman waktu itu membuatnya mengerti," jawab Aoi santai sambil membelai pipi Audrina yang mulus.


Thania dan Vivian yang mendengar kalimat itu tidak bisa berkata-kata. Aoi secara terang-terangan mengatakan ia pernah mencium Audrina. Biasanya orang akan menutupi hal itu karena merasa malu.


Tentu saja, sepertinya kita lupa sesuatu bahwa Aoi bukan 'orang' melainkan siren. Jadi, maklumi saja.


"Berapa kali?" tanya Vivian iseng.


Aoi menaikkan alisnya bingung, "apanya?"


"Ciumannya lah," Thania menimpali.


"Hanya sekali," jawab Aoi singkat.


Vivian menatap Aoi tidak percaya, "kapan?"


"Hmm.. saat dia tidur," jawab Aoi sambil berpikir.


"Dasar bodoh. Bagaimana dia tau perasaanmu kalau cuma sekali? Saat dia tidur pula," Thania memukul kepala bagian belakang Aoi dengan kesal.


Aoi meringis, "memangnya harus bagaimana lagi?"


Vivian dan Thania menghela napasnya kasar tidak sanggup meladeni temannya itu. Pemikiran simple Aoi membuat mereka sakit kepala sendiri, tidak cocok dengan Aoi yang terlihat agresif walau tidak impulsif.


Mereka membiarkan Aoi berdua saja dengan Audrina dan lebih memilih berkeliling villa, mencari sesuatu yang menarik disana.


Aoi tidak memperdulikan kedua temannya itu, ia lebih memilih menatap Audrina yang masih saja terlelap dalam tidurnya. Wajah manisnya membuat Aoi tampak geram sendiri ingin mengelusnya.


"Engg.." Audrina mengerang sambil mengucek matanya. Cahaya matahari pagi yang masuk dan menerpa wajahnya membuatnya terbangun.


"Sudah bangun?" tanya Aoi lembut, suaranya sudah kembali ke setelan pabriknya. Tidak seperti semalam dengan suara berat yang membuat Audrina merinding ketakutan.


Audrina mengerjapkan matanya berkali-kali mencoba beradaptasi dengan terangnya cahaya matahari. Ia masih belum ingin bangun dan mengerakkan tubuhnya lebih mendekat kearah Aoi dan mengambil tangannya untuk dijadikan bantal.


Melihat itu, Aoi kembali tersenyum lalu menarik kembali selimut Audrina agar membuatnya lebih hangat.


"Aoi, tangan kamu hangat," ucap Audrina pelan namun masih terdengar oleh Aoi.


Aoi tidak menanggapi, ia hanya mengelus rambut Audrina membiarkannya tidur lebih lama di pangkuannya.


Setelah hampir setengah jam berlalu, Zayn perlahan berjalan untuk turun dari lantai atas. Ia mencari keberadaan yang lainnya karena saat ia bangun dan melihat kesekeliling kamar, tidak ada siapapun disana.


Rasa terbakar sudah tidak terasa lagi, hanya saja punggungnya masih terasa nyeri dan kaku membuatnya sulit berjalan dengan benar. Perhatian Thania yang tadinya sedang asik melihat tanaman yang ada dibawa tangga kini beralih kepada Zayn yang mendekati tangga.


"Kenapa kamu turun?" tanya Thania tiba-tiba.


Zayn terperanjat kaget saat melihat Thania sedang berjalan kearahnya. Semalam ia sudah tertidur dan tidak mengetahui kehadiran Thania dan Vivian tentu sangat ketakutan. Waktu melihat Aoi saja ia sudah gemetaran, sekarang malah muncul siren lainnya. Bagaimana ia tidak panik sendiri.


Ia belum terbiasa dengan ini semua.


"Uwaa.. Jangan mendekat!" Zayn mengarahkan tangannya kedepan berusaha mengusir Thania.


Thania yang merasakan ketakutan Zayn itu berhenti ditempat, tidak jadi mendekatinya. Sedangkan Zayn berbalik arah untuk masuk kembali ke kamar Audrina dan mengunci pintunya.

__ADS_1


Helaan napas terdengar dari Thania, namun ia dapat memakluminya. Manusia pasti akan takut dengan wujud aneh seperti mereka, tidak heran hal itu akan terjadi.


"Kamu ngomong sama siapa, Than?" tanya Vivian yang heran melihat Thania sendiri tanpa ada siapapun disana.


"Temannya Audrina," jawabnya singkat lalu berjalan turun dari tangga.


Audrina duduk sambil meregangkan tubuhnya yang sedikit kaku karena baru bangun tidur. Ia kemudian mengulung rambutnya hingga lehernya tersingkap, menampilkan lehernya yang jenjang. Setelah mengambil sikat gigi baru didapur, ia masuk kekamar mandi untuk gosok gigi dan mencuci mukanya.


Saat selesai menggosok gigi dan berkumur, ia merasa ada yang aneh dengan mulutnya.


Audrina membuka mulutnya dan berkaca, betapa terkejutnya ia saat gigi taringnya kini sudah lebih panjang dari sebelumnya. Merasa ada yang salah, Audrina membasuh wajahnya dengan air dan kembali bercermin. Matanya lebih segar saat ini.


"Ada yang salah ni sama mata aku," gumamnya pada diri sendiri.


Ia mulai memeriksa kembali giginya namun taringnya memang lebih panjang dari sebelumnya. Sama seperti taring milik Aoi.


Audrina berlari menuju tempat Aoi yang sedang berdiri di dapur bersama dengan Thania dan Vivian. Melihat wajah panik Audrina tentu saja Aoi penasaran.


"Ada apa Ody?" tanya Aoi.


Audrina menunjukkan gigi taringnya membuat ketiga siren didepannya menatapnya tidak percaya. Thania mendekati Audrina dan mengecek giginya, ternyata taringnya asli.


"Taringmu muncul, bagaimana mungkin?" Vivian terlihat kebingungan.


Audrina menggelengkan kepalanya bingung, "aku juga tidak tau. Aku baru melihatnya saat menggosok gigi tadi."


"Tidak mungkin taringmu bisa muncul, kamu darías bukan siren seutuhnya," seru Thania masih dengan heran.


Audrina tampak bingung dan gelisah. Sesekali ia juga memegang tengkuknya yang terasa sedikit panas. Aoi yang melihat itu merasa ada hal aneh yang terjadi kepada Audrina saat ini.


Aoi mendekati Audrina, "coba sini aku lihat."


Aoi mendekati Audrina lalu melihat tengkuknya. Simbol ditengkuk Audrina berubah, ia kemudian menarik turun baju belakang Audrina hingga ke punggung. Simbol darías yang semula berada disatu tempat saja, kini mulai menyebar hingga kepunggungnya.


"Apa yang terjadi?" Audrina terlihat ketakutan melihat ekspresi Thania.


Aoi menyentuh pelan punggung Audrina yang sudah dipenuhi dengan ukiran daun dan bunga mawar bewarna biru. Bahkan simbol bulan sabitnya sudah menjadi bentuk bulan penuh. Jika orang awam melihat, makan mereka akan mengira Audrina mentato penuh punggungnya.


Tidak mendapat jawaban dari Aoi, Audrina yang penasaran berjalan mendekati cermin hias yang berada di ruang tamu. Ia menurunkan sedikit baju di punggungnya dan melihat sendiri punggungnya yang penuh dengan ukiran.


Audrina tertegun, "b-bagaimana bisa?" ucapnya sambil menatap kearah Aoi dengan bingung.


Aoi tampak berpikir tentang apa yang terjadi sekaligus memikirkan sesuatu yang harus dia lakukan saat ini, hal seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya. Ia berjalan mendekati Audrina yang masih saja melihat pantulan dirinya di cermin dengan takut.


"Kita harus membawanya kepada Amber, Aoi." Ucap Thania memberi solusi.


"Benar, kita tidak tau apa yang sebenarnya terjadi." Vivian ikut menimpali, setuju dengan ucapan Thania.


Aoi menghela napasnya pelan, "itu sangat berbahaya. Aku takut Audrina kenapa-napa."


"Justru lebih berbahaya jika kita tidak bertanya langsung kepada Amber," sahut Vivian.


Aoi juga merasakan hal yang sama, jika tidak segera melakukan sesuatu bisa saja Audrina dalam bahaya. Mereka tidak tau apapun tentang simbol yang menyebar ini. Tapi mungkin sesepuh mereka yang hidupnya sudah ratusan tahun, lebih berpengalaman dan mengetahui masalah ini.


Tapi disisi lain, Aoi takut membawa Audrina ke dasar danau. Disana bukan tempat yang aman apalagi Audrina sudah di klaim merupakan dariás yang membuatnya diincar oleh banyak mahkluk hidup, salah satunya siren merah.


Thania mendekati Aoi, "Aoi kita harus membawanya segera!" desak Thania.


Aoi masih tidak menanggapi. Ia masih berpikir itu bukan hal yang baik.


"Bagaimana kalau kita membawa Amber kesini?" ucap Aoi memberi ide.

__ADS_1


"Amber tidak semuda itu sampai bisa berlama-lama di daratan," jawab Vivian langsung, "lagian kita hanya bertanya padanya dan langsung membawa Audrina pulang kembali," lanjutnya sambil membujuk Aoi.


Aoi memandang punggung Audrina dan Vivian bergantian, ia masih ragu. Sementara Aoi berpikir, terdengar suara pecahan kaca dari kamar Audrina.


Bukan hanya itu saja, banyak benda-benda yang terjatuh dan teriakan Zayn membuat mereka berlari menuju kesana. Saat tiba didepan kamar, pintunya terkunci sontak semuanya menjadi khawatir.


"Zayn! Ada apa?!" Audrina mengetuk-ngetuk pintu kamar sambil memanggil nama Zayn.


Argghhh ...


Suara erangan Zayn juga terdengar semakin keras. Vivian yang sudah tidak sabar langsung memukul pintu kamar Audrina hingga pecah membuat Audrina mematung melihat pintu kamarnya hancur berkeping-keping.


Vivian berlari mendekati Zayn yang meringkuk dilantai sambil menangis. Thania yang berusaha mendekatinya juga kembali terkejut untuk kedua kalinya, melihat punggung Zayn berubah menjadi bersisik.


"Zayn, punggungmu," ucap Audrina dengan lirih.


Zayn memukul kepalanya frustasi, "harusnya aku tidak memakan daging itu! Kenapa kalian menyuruhku memakannya?!"


Thania mengerutkan dahinya, "daging? Daging apa? Bukankah Aoi hanya memberimu air biru?" tanya Thania beruntun.


Zayn menggelengkan kepalanya, "gak usah sok tidak tau! Kalian menyuruh siren itu untuk memberikan daging itu padaku! Kalian sengaja kan?!" Zayn mendorong tubuh Thania dengan marah.


"Siren yang mana?" tanya Thania lagi.


"Ahh.. Sialan!" Zayn berteriak tidak karuan. Emosinya sangat tidak stabil saat ini.


Semua yang berada dikamar menatap Zayn dengan bingung. Mereka memandang satu sama lain, berusaha memahami maksud yang dikatakan Zayn.


Mereka bahkan belum memasak apapun, dengan apa mereka memberi makanan kepada Zayn? Audrina saja belum sempat makan apapun juga.


Ada yang tidak beres.


Zayn masih meraung-raung marah sambil terus mengaruk punggungnya yang bersisik itu, berusaha melepaskannya dari kulitnya. Namun itu hanya melukainya saja, semakin ia menggaruk punggungnya semakin banyak pula luka dan darah yang keluar.


"Zayn, cukup! Lihat aku, lihat aku!" Audrina menangkup wajah Zayn melihat tepat ke manik matanya, berusaha menenangkannya.


Napas Zayn yang memburu menandakannya ia sedang sangat terguncang saat ini. Zayn melihat manik mata Audrina dan seketika menangis memikirkan apa yang terjadi padanya saat ini.


Audrina memeluk Zayn berusaha menenangkannya. Saat merasa Zayn sudah sedikit tenang, Audrina melepaskan pelukannya dan memegang kedua tangan Zayn.


"Bisa ceritakan pada kami, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Audrina perlahan.


Zayn menghela napasnya kasar, masih merasa enggan untuk bercerita. Namun karena wajah khawatir yang ditunjukkan Audrina membuatnya akhirnya menceritakan semuanya.


Zayn mengusap air matanya, "tadi saat aku bangun, aku tidak menemukan kalian dimana-mana. Jadi aku berencana untuk turun kebawah.."


".. Waktu turun, aku ngelihat siren perempuan itu. Karena takut, aku lari masuk lagi kedalam kamar dan mengunci pintu..." Zayn menunjuk kearah Thania.


"..Kira-kira sudah hampir setengah jam aku dikamar, perut aku lapar. Jadi, mau gak mau aku harus turun untuk makan. Tapi, pas aku mau buka pintu, ada yang mengetuk jendela kamarmu, Na.." Lanjutnya sambil menatap Audrina yang berada dihadapannya.


"..Aku kira itu siren yang sama kayak yang aku jumpai di tangga, jadi aku buka. Pas aku buka, dia ngasih aku steak. Dia bilang ini dari Aoi dan aku disuruh makan.."


"..Pas udah selesai makan, aku ngerasa punggung aku gatal banget, jadi aku berusaha untuk ngecek di kaca. Ternyata..." Zayn menghentikan ucapannya saat itu.


Audrina langsung memeluk Zayn kembali, "oke, jangan dilanjutin."


Vivian melirik kearah Aoi yang seperti menahan amarahnya sejak tadi. Sepertinya Aoi mengetahui sesuatu tentang hal ini.


"Kita harus membawa mereka ke tempat Amber, apapun yang terjadi." Ucap Aoi langsung.


Mereka tidak punya pilihan lain selain membawa Audrina dan juga Zayn menjumpai Amber. Tidak ada cara lain.

__ADS_1


...-----...


__ADS_2