Love In Siren

Love In Siren
Aoi Cemburu


__ADS_3

Aoi mengibaskan ekornya meninggalkan gelembung halus dan hilang menyatu dengan air. Kilauan sisiknya memberikan cahaya tersendiri dalam kegelapan danau. Terlihat cahaya itu menerangi jalan Aoi hingga terlihat tanaman rambat bawah air yang tumbuh disekitar bebatuan yang menempel di dasar danau.


Sesekali Aoi tampak menyapa siren biru lain yang melintas disekitarnya. Kerlipan dari sisik mereka membuat danau bawah air sangat indah dan bersinar.


Aoi mendekati sebuah gua bawah air yang dikelilingi batu hijau yang bersinar. Terdapat siren yang duduk disalah satu kerang penyangga yang menempel di dinding batu dalam gua itu.


Sring....


"Chairetismoús goneís. " (salam sesepuh) Ucap Aoi dengan sedikit menundukkan kepala dan meletakkan tangannya didada, memberikan hormat.


Siren yang diberi hormat itu bernama Amber. Ia adalah sesepuh dari kaum siren biru yang sangat dihormati. Salah satu pendiri kerajaan dasar danau untuk menjadi tempat hidup siren lain selama lebih 200 tahun yang lalu. Saat ini Amber sudah berusia 157 tahun, namun siklus tua mereka akan berhenti saat mereka berumur 30 tahun usia manusia.


Waktu hidup siren bisa mencapai 250 tahun selagi ekor mereka masih menyatu saat berada didalam air. Apabila ekor mereka sudah terbelah dan berubah menjadi kaki biasa, tubuh siren akan melemah seiring berjalannya waktu.


Amber tampak tersenyum simpul menampilkan keanggunannya dan mengibaskan ekornya memberikan salam balasan yang sangat tulus. Rambut putih keabuan dan bulu mata yang sangat lentik membuat Amber terlihat sangat cantik diusianya yang sangat tua. Walau sebenarnya jika dilihat kasat mata, tidak akan ada yang tau pasti berapa umur aslinya.


" Chairetísmata gie mou, Aoihan." (Salam anakku, Aoihan) Amber menundukkan kepalanya pelan memberikan senyuman hangatnya sambil memegang bola kristal hijau ditangannya.


Aoi mendekat kearah Amber, "Apakah sesepuh sudah mendengar berita yang aku sebarkan kepada Vivian?" tanya Aoi.


Amber mengangguk, "tentang keturunan darías bernama Audrina itu? Aku sudah mendengarnya." Amber seperti tersenyum lega.


"Audrina bisa menyelamatkan kaum kita. Aku yakin itu." Aoi tersenyum sangat lebar menampilkan taringnya yang terlihat manis diwajahnya.


Amber terdiam sebentar. Ia seperti memikirkan sesuatu yang membuatnya tampak khawatir. Aoi yang merasa ada hal yang dipikirkan oleh Amber merasa khawatir juga.


"Apa ada hal yang sedang menghantuimu sesepuh?" Tanya Aoi khawatir.


Amber menghela napasnya perlahan. Ia meletakkan kristal hijau yang dipegangnya diatas batu yang sedikit masuk kedalam sehingga kristal itu berada diposisi yang pas. Amber mengibaskan ekornya membuat tubuhnya menjauh dari Aoi dan mengambil satu buah buku tebal yamg terbuat dari kaca.


Amber membuka halaman demi halaman, seperti mencari sesuatu yang sangat penting. Aoi hanya menunggu dan melihat dari belakang.


Terlihat wajah khawatir Amber mulai kembali seperti semula saat matanya berhasil melihat sesuatu hal yang berada dihalaman buku kaca itu. Amber membawa buku itu dan duduk kembali diatas batu kerang disebelah Aoi bersandar. Aoi lantas mendekati Amber tanpa disuruh dan melirik ke buku yang dipegang Amber.


"Aoi, aku tau kamu pasti sangat mengkhawatirkan Audrina. Mengingat Gloria sepertinya sudah mengetahui kabar bahwa Audrina merupakan keturunan dari Kena." ucap Amber dengan sedikit tersenyum. Ia lalu memberikan buku kaca yang dipegangnya itu untuk diperlihatkan kepada Aoi.


Aoi dengan hati-hati menerima buku yang diberikan padanya. Melihat dengan teliti apa yang sebenarnya ingin ditunjukan Amber padanya. Aoi sedikit mengerutkan dahinya bingung, tidak mengerti maksud dan tujuan dari halaman buku ini.


"Tidak ada apapun disini." Ucap Aoi kebingungan karena halaman buku itu memang tidak ada tulisan apapun disana. Hanya tanda bunga teratai kecil yang berada diujung buku.


"Apa kamu bingung, Aoi?" tanya Amber yang seperti mengerti kebingungan dari raut wajah Aoi. Aoi lantas dengan cepat mengangguk karena ia memang tidak mengerti sama sekali. Amber mengambil kembali buku yang di pegang Aoi lalu jari telunjuknya menyentuh tanda berbentuk bunga teratai yang berada dihalaman buku itu.


Cahaya putih perlahan keluar dari halaman buku itu membuat Aoi sedikit menyipitkan matanya. Halaman yang awalnya kosong perlahan mulai muncul tulisan-tulisan. Aoi sedikit takjub dengan apa yang terjadi.

__ADS_1


Amber memberikan kembali buku itu kepada Aoi, "bacalah. Kamu akan mengerti apa yang harus kamu lakukan." Ucap Amber lalu menepuk pelan pundak Aoi, "lakukanlah demi melindungi Audrina. Utamakan keselamatan dia, maka kaum kita juga akan selamat."


Aoi mengangguk paham dengan amanat yang diberikan oleh Amber. Setelah itu, Aoi berpamitan dengan Amber sekaligus meminta izin untuk menemui Audrina. Amber yang seperti tau akan kebiasaan Aoi tentu sangat mendukung perihal itu. Walau biasanya Aoi hanya meminta izin kepada Vivian si pembawa berita, karena sudah langsung bertemu Amber ia pun meminta izin secara langsung.


"Jagalah Audrina dengan sepenuh hati. Aku yakin kamu pasti bisa melindunginya." Amber tersenyum.


"Baik, sesepuh." Aoi meninggalkan gua itu lalu menyimpan buku kaca itu kedalam cermin yang berada di kastilnya. Itu merupakan tempat teraman yang tidak mungkin bisa dijamah oleh siapapun kecuali dirinya.


Aoi kembali mengibaskan ekornya kebawah untuk meluncur keatas permukaan air. Saat yang ditunggu-tunggu telah tiba. Ia akan menjumpai Audrina.


...****************...


Sringg...


Sringg...


"Aoi," ucap Audrina pelan saat mendengar detingan bel yang menandakan Aoi naik ke permukaan air. Terlihat ekspresi bahagia yang terukir di wajah Audrina, entah kenapa sepertinya ia merindukan Aoi.


Audrina menoleh kearah jendela kamarnya menunggu kedatangan Aoi. Namun ia tersadar akan satu hal, Zayn berada di lantai bawah. Audrina sedikit berlari untuk mengunci pintu kamarnya, takut Zayn masuk ke kamarnya.


tok tok tok...


Aoi mengetuk jendela Audrina dengan senyum manisnya. Audrina membuka jendela dan langsung disambut Aoi dengan pelukan yang sedikit membuatnya terkejut.


Audrina sedikit menjerit, "j-jangan gitu, Aoi! Nanti jatuh." Ucap Audrina sambil merangkul leher Aoi agar tidak jatuh.


Aoi terkekeh pelan melihat tingkah Audrina lalu menurunkannya kembali. Audrina tampak menghela napasnya lega dan mundur beberapa langkah mengantisipasi keagresifan Aoi yang bisa muncul kapan saja itu. Aoi memiringkan wajahnya saat melihat wajah Audrina yang memerah.


"Kamu sakit?" Aoi mencoba mendekati Audrina yang langsung mundur menahan debaran jantungnya yang tiba-tiba berdegup kencang.


"T-tidak." Audrina mengangkat tanga kanannya ke depan untuk menghalangi Aoi mendekatinya, sedangkan tangan kirinya memegang pipinya yang memanas.


Aoi yang merasa ada yang aneh dengan tingkah Audrina menahan tangan Audrina dan tetap menerobos kearahnya. Audrina yang tidak siap memejamkan matanya karena panik.


"Ada apa?" tanya Aoi bingung. Ia pun memegang pipi kanan Audrina yang sedikit hangat, ia sadar suhu tubuh Audrina tidak seperti biasanya.


"A-Aoi a-aku-" Audrina masih memejamkan matanya takut untuk melihat Aoi yang sepertinya sudah berada tepat didepannya. Terasa dari hembusan napasnya yang mengenai wajah Audrina dengan lembut.


Tangan Aoi beralih ke leher Audrina yang langsung membuatnya merinding. Audrina membuka matanya dan spontan memegang tangan Aoi yang berada di lehernya, ia tidak tahan dengan sensasi aneh itu.


Aoi menatap manik mata Audrina dalam, berusaha membuatnya berbicara karena sifat aneh yang ditunjukkannya kali ini. Audrina menelan salivanya dan akhirnya menundukkan kepalanya menyerah. Ia tidak bisa lebih lama berdiam diri dengan posisi seperti ini.


Audrina menghembuskan napasnya pelan, "baiklah, aku juga tidak bisa berbohong denganmu, Aoi. Aku sedang demam, sepertinya karena syok semalam." Ucap Audrina yang akhrinya mengaku kepada Aoi.

__ADS_1


Raut wajah Aoi berubah, "Kamu sakit? Sudah makan? Biar aku buatkan makanan, ya." Aoi segera berjalan mendekati pintu untuk menuju dapur. Audrina yang menyadarinya langsung menahan tangan Aoi berusaha membuatnya tetap berada disana.


"J-jangan!" Teriak Audrina tanpa sadar.


"Kenapa?" Aoi terlihat bingung dengan ucapan Audrina.


"Um.. M-maksud aku..." Audrina salah tingkah sendiri. Ia berpikir keras untuk mencegah Zayn melihat Aoi begitu pula sebaliknya. Entah apa yang akan terjadi jika mereka bertemu.


Aoi semakin bingung dengan tingkah Audrina yang aneh dan sepertinya sedang menutupi sesuatu. Baru akan bertanya kepada Audrina mereka berdua di kejutkan oleh suara Zayn yang memanggil Audrina dari luar pintu kamar.


Tok tok tok...


"Audrina? Kamu sedang apa? Ayo makan dulu." Ucap Zayn dari luar kamar Audrina.


Audrina membatu. Ia tidak bisa menyembunyikan Zayn terhadap Aoi, pasti Aoi juga mendengar suara Zayn. Tapi, Zayn belum mengetahui keberadaan Aoi.


Audrina dengan cepat menarik tangan Aoi dan mendorong tubuh tingginya itu untuk bersembunyi di kamar mandinya. Aoi tampak bingung sekaligus penasaran siapa laki-laki yang memanggil Audrina itu. Bukan suara pak Karni ataupun suara Key selaku ayahnya Audrina, suaranya berbeda sekali dari mereka berdua.


"Siapa itu?" tanya Aoi sambil menahan pintu yang hendak ditutup Audrina.


"Ssttt... Nanti aku jelasin ya. Aoi sembunyi dulu." Bisik Audrina sambil menyatukan kedua telapak tangannya seperti memohon.


Dengan perasaan kesal, Aoi melepaskan tahanan pintu lalu membiarkan Audrina menutup pintu kamar mandi. Wajah Aoi tampak tidak senang melihat Audrina jelas-jelas sedang menutupi sesuatu darinya dan juga tidak jujur kepadanya.


Sedangkan Audrina dengan gugup membuka pintu kamarnya lalu menatap Zayn sambil tersenyum kikuk. Audrina yang biasanya tidak langsung menutup pintu kamar saat keluar tanpa sadar menutupnya sesaat setelah ia sampai diluar.


"Ayo makan, aku udah masak pasta bolognese." Ucap Zayn tanpa curiga sedikitpun dengan tingkah Audrina.


"O-oke." Audrina tertawa renyah, "ayo turun!" Audrina dengan cepat berjalan kearah belakang lalu mendorong tubuh Zayn untuk turun ke bawah. Zayn yang mendapat perlakuan itu hanya tertawa kecil sambil mengikuti keinginan Audrina itu.


Muncul ide untuk menjaili Audrina, Zayn sengaja memberatkan langkahnya agar Audrina tampak kesulitan mendorongnya. Audrina yang merasa dorongan semakin berat akhirnya menyerah dan menatap punggung Zayn datar.


"Loh, belum sampe dapur kok udah berhenti dorongnya?" tanya Zayn usil karena menyadari Audrina tidak lagi mendorongnya dari belakang.


Audrina mendengus kesal, "gak tau, Zayn. Mau makan aja." Ketus Audrina melewati Zayn yang masih cekikikan karena berhasil menjaili Audrina.


"Yah, ngambek deh." Ucap Zayn sambil mengikuti Audrina yang melengos pergi menuju dapur.


Sepasang mata tampak sedang memperhatikan mereka dari atas. Aoi yang tidak bisa menahan diri untuk keluar dan melihat siapa yang berbicara dengan Audrina sedikit menyesal. Ia berpikir mungkin seharusnya tidak keluar kamar dan tetap disana, sehingga ia tidak harus melihat keakraban Audrina dengan Zayn.


Hatinya tampak sedikit tidak rela dengan pemandangan barusan, ia tidak tega melihat posisi Aoi digantikan oleh orang lain. Aoi mengepalkan tangannya dengan kesal dan kembali masuk ke dalam kamar Audrina. Setidaknya dari dalam sana, suara keakraban Audrina dan Zayn tidak terdengar sejelas saat Aoi berada di luar.


Seperti yang kalian tau, Aoi cemburu.

__ADS_1


...-----...


__ADS_2