
Arìos mulai memimpin pasukan tentara siren merah, ia bergerak di depan kawanan siren itu sesuai dengan perintah Gloria. Sedangkan untuk Gloria sendiri berada dibagian tengah kawanan agar tetap terlindungi dari serangan musuh yang menyerang, baik itu dari sisi tengah, depan, belakang maupun samping kanan dan kiri.
Strategi itu diusulkan oleh Patra selaku ahli strategi perang kaum siren merah. Walaupun mereka tidak sering berperang, mereka tetap selalu memperkuat dan berdiskusi strategi terbaik untuk menang. Rasa ambisius yang sangat melekat untuk setiap makhluk di sana membuat mereka semakin serakah dan haus akan darah.
Terlebih lagi saat Gloria diangkat sebagai pemimpin oleh sesepuh mereka, selain karena sifat kepemimpinan dan siasat yang sangat sempurna yang dimilikinya. Gloria merupakan darah murni dari keturunan awal pemimpin siren merah sejak dulu. Dari semua keturunan murni nenek moyang mereka dulu, hanya Gloria yang memiliki darah beracun yang menjadikan semua kandidat kuat kalah.
Meskipun ada sedikit kericuhan, Gloria yang notabenenya sudah sah menjadi pemimpin mulai memberikan perintah langsung yang mengancam keselamatan mereka yang membangkang. Sifat otoriter, ketegasan dan intimidasi yang diberikannya membuat siapapun merasa segan sekaligus takut kepada Gloria. Dengan popularitasnya yang menakutkan, tidak ada yang merasa terganggu dengan hasil kepemimpinannya.
"Tanyakan kepada Aríos, apakah kapal yang kita incar sudah terlihat?" tanya Gloria kepada Cleo yang berada di sampingnya.
Cleo yang mendapat titah dadakan Gloria langsung bergerak mengibaskan ekornya kencang mendekati Arios yang berada jauh dibarisan terdepan. Gloria melihat gerak gerik Cleo dengan tidak sabar, penasaran apakah target mereka sudah berada dikungkungan atau belum.
Sejak melakukan pergerakan meninggalkan lembah mereka di Kókkino Paláti, mereka sudah menargetkan beberapa kapal muatan barang untuk diambil alih sehingga mereka bisa bergerak ke darat tanpa dicurigai manusia. Sesuai dengan saran yang diberikan oleh Patra kepada Gloria agar mereka bisa masuk ke dalam box yang diangkut oleh kapal barang itu.
Gelembung tipis menyertai Cleo yang perlahan mulai mendekati Gloria.
"Yang mulia, sesuai dengan balasan pesan dari Aríos, kapal target sudah berada diradar dan siap untuk di serang."
Kalimat yang berhasil membuat Gloria tersenyum lebar hingga menampilkan taringnya yang panjang. Bukan hanya raut wajah marahnya saja yang menyeramkan, raut wajah senangnya bisa membuat yang melihat berkelut merinding ngeri.
Pergerakan mereka mulai melambat sesuai dengan perintah Aríos. Ia mengangkat tangannya memberikan isyarat berhenti kepada tentara merah diikuti dengan suara lengkingan kencang menarik perhatian semua rungu lancip mereka yang mendengar.
"Aku akan melihat keadaan, saat aku beri instruksi baru kalian bergerak secara bersamaan. Paham?" titah Aríos dengan lantang membuat siren lain merasa tertantang.
Cakar dan taring sudah masuk kedalam mode menyerang, sirip mereka pun mencuat tegang menerima respon otak yang mengantarkan darah dengan cepat. Sisik mereka mulai meredup beriringan dengan semakin dekatnya mereka dengan kapal.
Sesuai yang diperintahkan Aríos, siren lain diam menunggu instruksi lanjutan dari Aríos.
__ADS_1
Dengan perlahan Aríos mengeluarkan kepalanya hanya sebatas mata untuk melihat situasi dari kapal dan sekitarnya, memastikan hanya kapal itu saja yang berada di perairan saat ini. Samar-samar terdengar suara manusia yang sedang berbincang dan tertawa keras menanggapi lawan bicaranya.
"Woilah cok, aku kalau istriku hamil lagi nanti aku berhenti aja melaut gini. Sayang istri aku sendiri terus," salah satu pria berperawakan tinggi berjanggut itu sesekali menyeruput kopi hitam yang ada ditangannya.
"Alah, gayamu Son. Nanti juga kalau udah miskin melaut lagi," sahut lawan bicaranya. Pria itu memiliki tubuh sedikit sintal dan dengan rambut yang ia ikat sanggul seadanya dengan karet.
Pria bernama Soni sedikit mendelik, "oo..ya jelas dong."
Gelakan tawa mulai terdengar dari kedua pria itu, merasa ucapan yang dikeluarkan ada benarnya juga.
Kedua pria itu kira-kira berusia 30 tahun keatas, dilihat dengan garis wajah mereka yang sudah terlihat jelas dan gaya berpakaian yang sudah sangat, simple.
Terlihat kedua pria itu sesekali menggunakan teropong mereka untuk melirik sekitaran lautan yang tampak sama, garis lurus lautan dan sama sekali belum terlihat daratan. Sepertinya mereka tidak menyadari telah di intai oleh Aríos dari bawah air, pupil matanya mulai mengecil pertanda target sudah berada di dalam posisi yang diinginkan mereka.
Sebelum benar-benar memberikan perintah lanjutan, Aríos berniat untu mengintai kapal itu lebih jauh lagi. Ia pun bergerak perlahan memutari kapal itu berupaya melihat keseluruhan dek kapal dan memastikan berapa banyak manusia yang berada disana. Walau ia tau pasti tidak bisa melihat manusia di dek bagian dalam, setidaknya ia bisa lebih waspada.
"Kapten, waktunya makan. Arnold sudah menyediakan makan siang untuk kita," teriak pemuda dengan pakaian bewarna kuning yang kira-kira berumur 25 tahun keatas itu.
"Jhonson, kau makanlah dulu. Setelah selesai, gantikan aku memantau kapal dan aku akan makan," ucap kapten kapal itu dengan suara seraknya.
Pemuda bernama Jhonson itu mengangguk paham lalu memberikan hormat kepada kapten kapal, "aye aye sir! "
Jhonson turun melalui anak tangga penghubung antara dek kemudi dan dek inti dengan sesekali melihat ke sekitarnya tanpa rasa curiga. Sampai ketika matanya memincing saat melihat sesuatu yang menurutnya ganjal sedang mengapung di laut. Langkahnya terhenti, ia berusaha memastikan apakah matanya salah lihat atau bagaimana.
"Apa itu?" gumamnya pelan.
Jhonson kembali memincingkan matanya seraya mencondongkan sedikit tubuhnya ke depan, sangat sulit melihat objek yang lumayan jauh tanpa teropong. Namun, ia yakin satu hal bahwa yang ia lihat saat ini benar-benar tidak biasa.
__ADS_1
"Itu.. Kepala?" tanyanya lirih pada dirinya sendiri.
Seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, ia mengucek kedua matanya dan melihat objek aneh itu lagi. Saat ini ia sedang bertatapan dengan netra kemerahan milik Aríos yang mengerikan menurut para manusia, mata merah yang sangat tajam seperti sedang menargetkan sesuatu.
"Jhonson! Kau sedang apa?" teriak salah satu awak kapal yang muncul dari pintu dek inti. Menatap kesal Jhonson yang malah melamun di anak tangga dan membiarkan rekannya kelaparan menunggu kedatangannya itu.
Jhonson sedikit tersentak melihat rekannya muncul secara tiba-tiba. Ia menoleh kearah rekannya sejenak, lalu kembali menoleh ke arah laut untuk melihat objek itu.
Hilang.
Objek aneh yang dia lihat seperti kepala manusia itu hilang. Ia terkejut bukan main, matanya terbelalak kaget melihat hal aneh yang baru saja ia alami.
"Loh? Kok hilang?" terdengar suara bergetar dan raut wajah Jhonson yang tampak gelisah.
"Ha? Apa yang hilang?" tanya rekannya sambil mengikuti arah pandang Jhonson. Ia tidak menemukan apapun disana, sepertinya anak muda ini sedang halu, pikirnya.
"Tadi ada kepala," seru Jhonson lagi berusaha meyakinkan rekannya itu. Ia terus menunjuk ke arah laut tempat ia melihat kepala yang dimaksudnya tadi.
Sebenarnya Jhonson tidak salah lihat, itu memang kepala Aríos yang mengintip gerak-gerik mereka sejak tadi. Jhonson tampak bingung dan bertanya-tanya kemana perginya kepala itu? Ia terus celingak-celinguk melihat ke sekitar mencari keberadaan objek itu, tapi nihil. Tidak ada apapun di sana, hanya lautan dengan air dan ombak yang menggulung perlahan.
"Ayolah, Jhon! Aku sudah lapar," keluh rekan kerjanya itu.
Jhonson mengangguk ragu, "b-baiklah aku datang."
Jhonson sedikit berlari kearah dek inti sambil memegang tepi pagar berusaha menyeimbangi langkahnya yang gontai akibat laut yang selalu bergerak. Walaupun perut lapar berusaha menarik perhatiannya, bayangan tentang kepala yang mengambang di laut tadi masih terus menghantuinya.
Apa aku sedang berhalusinasi? pikirnya berulang kali.
__ADS_1
...-----...