Love In Siren

Love In Siren
Gugurnya Kru 0AS-Ship 5389


__ADS_3

Setelah kapal tertutup, Jhonson berinisiatif untuk melihat pergerakan sekoci yang sudah berhasil lepas dari dek belakang kapal. Diikuti oleh Jacob dan Daniel yang juga penasaran.


Mereka bertiga mengintip dari kaca yang mengarah langsung ke laut tempat sekoci itu mengapung. Namun, yang membuat mereka syok adalah ketika beberapa menit setelah sekoci itu mengapung. Mereka melihat sebuah pemandangan yang benar-benar membuat mereka bertiga seketika trauma.


Laut biru itu berubah menjadi lautan merah seketika.


Jhonson meraba-raba sekitarnya, "J-Jac," panggilnya lirih sambil menarik lengan Jacob, namun sorot matanya tetap tidak bisa lepas dari pemandangan keadaan di luar kapal.


Jacob dan Daniel masih mematung dengan mata membulat panik, otaknya masih belum sinkron dengan apa yang telah dilihat oleh mata mereka itu. Saraf mereka seperti sedang macet, kesulitan membawa informasi yang ditangkap dengan sempurna ke otak mereka.


Di sana, mereka melihat sekoci yang berisi 18 orang kru kapal sekaligus teman-teman mereka di kerumuni oleh siren merah yang merangkak menguasai keseluruhan badan kapal itu. Ada sekitar 20 sampai 30 siren merah yang memblokade kapal sekoci itu dengan mudah.


Dengan senjata yang persis mirip seperti milik Aríos, namun ada beberapa dari mereka yang memodifikasinya seperti tombak sepanjang 2 meter. Para siren itu menusuk badan kapal berulang kali, hingga tembus dan meninggalkan lubang yang di lebarkan dengan tangan berselaput mereka hingga sebagian sisi kapal terbuka sempurna.


Terlihat 18 kru kapal yang panik dan berusaha melarikan diri hingga terjatuh ke dalam air, namun ada juga yang melawan. Karena medan yang sangat tidak mendukung, senjata siren merah itu berhasil menembus pertahanan mereka hingga membunuh semua yang berada di kapal tanpa terkecuali. Termasuk kru yang tadinya sudah jatuh dan berenang di laut.


Cairan merah mulai menggenangi seisi kapal, hingga ke sekitar air di bawah kapal. Mengubah warna air laut menjadi kemerahan yang disebabkan dari kebrutalan pembunuhan yang dilakukan oleh siren merah itu.


Kaki Daniel bergetar membuatnya tidak sanggup menampung berat tubuhnya hingga terjatuh ke lantai, "mereka mati?" gumamnya pilu dengan tatapan kosong.


Jhonson mundur beberapa langkah ke belakang, tidak sanggup melihat pemandangan itu jauh lebih lama lagi. Ia masih tidak bisa menerima semua hal yang terus terjadi hari ini.


Baru saja mereka berbicang beberapa menit yang lalu, baru saja mereka bertengkar beberapa menit yang lalu, namun semua itu ternyata adalah kenangan terakhir mereka bersama kru kapal yang lain. Seakan mimpi buruk yang membuat si pemimpi memaksa bangun untuk menghirup napas segar.


Daniel meringkuk seraya memeluk kedua kakinya, "apa selanjutnya kita juga akan mati?" gumamnya lagi dengan suara lirih, kali ini air matanya tidak sanggup dibendung dan mengalir mulus di pipinya.


Jacob membalikkan badannya, bersandar di tembok kapal dengan netra yang meniti lurus ke depan. "Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanyanya kepada kedua orang yang masih syok disisinya itu.


Dengan perlahan Jhonson menoleh ke arah Jacob, "kita harus menjemput kapten."


Jacob mengangguk paham, "baiklah."


"B-bisakah kita istirahat 5 menit lagi? Aku lelah," keluh Daniel dibalik punggungnya yang bergetar. Ia masih tidak sanggup untuk bergerak saat ini, otot dan otaknya seakan kelu dan menolaknya untuk bergerak seinci pun. Ia butuh istirahat sejenak.


Kedua orang itu memandangi Daniel yang terduduk di lantai, dengan perlahan mereka mendekati Daniel lalu ikut duduk di sana.


Jhonson mengelus pelan kepala Daniel, "baiklah. Kita istirahat sebentar," ucapnya berusaha tersenyum.


Tangan Jacob juga menepuk-nepuk pundak Daniel, mencoba membuatnya sedikit lebih tenang. Ia sama syoknya seperti Daniel, namun ia berusaha seperti tidak terlalu terpengaruh agar suasana mereka lebih kondusif. Tidak ingin berlarut lagi, Jacob akhirnya memutuskan agar mereka bergerak sekarang.


Jacob memegang kedua lengan Daniel, "ayo Daniel, aku bantu berdiri," tawarnya sambil membantunya berdiri.


Daniel tampak tidak menolak tawaran Jacob lalu berdiri berpenganggan dengan Jacob. Jhonson membantu membopoh Daniel untuk berjalan dari sisi kanan, sedangkan Jacob dari sisi kiri.


Mereka bertiga berjalan perlahan melewati koridor panjang menuju dek inti, berharap kapten mereka masih berada di sana. Sampai tiba-tiba perhatian mereka beralih ke arah pintu pembatas antara dek belakang dengan kawasan dek R yang terbuka.


Napas mereka memburu, bersamaan dengan rasa penasaran yang tinggi. Begitu pula dengan rasa takut yang juga tidak kalah tinggi, menguasai seluruh tubuh mereka.


"Jac, pintunya ke buka," bisik Daniel dengan wajah menegang.


Jacob menelan salivanya, "iya. Aku juga melihatnya."


"Bagaimana kalau itu kaum siren?" bisik Daniel lagi dengan kalut.


"Kalau kapten bagaimana?" Jhonson menimpali, ia berusaha berpikiran positif.


Mereka masih berdiri di tempat, tidak bergerak sedikitpun. Bahkan sekedar berpikiran untuk melarikan diri saja tidak, karena merasa tidak sanggup dan pasrah saja dengan apa yang terjadi.


Pintu pembatas terbuka sempurna dan dugaan Jhonson benar, itu adalah Tio.

__ADS_1


"Argghh!" teriak Tio dibarengi dengan desisan menahan sakit yang teramat di tangannya yang hanpir mati rasa itu.


Tio memegangi tangan kirinya yang sudah ditekan dengan pakaian yang sebelumnya ia kenakan, berusaha untuk menghentikan pendarahan yang terjadi. Jhonson yang melihat itu lantas langsung berlari mendekatinya dan membantu Tio.


Jacob berinisiatif untuk mengambil handuk dan kotak P3K yang berada tidak jauh dari koridor itu. Dengan setengah berlari, ia memberikan handuk kepada Jhonson lalu membuka P3K untuk menemukan alkohol pembersih luka.


"Sial!" umpat Jacob frustasi.


Jhonson menoleh ke arah Jacob, "kenapa, Jac?"


"Alkoholnya tidak cukup. Bagaimana cara kita membersihkan luka kapten kalau seperti ini?" kesal Jacob lagi.


Jhonson mengernyitkan dahinya, "membersihkan luka dengan alkohol? Itu kan tidak baik, Jac."


"Lalu kau mau membersihkannya pakai apa? Air? Kau harus kembali ke dek inti untuk mengakses air, Jhon. Masuk kembali bertemu dengan siren-siren itu. Kau mau?" sarkas Jacob sambil menatap Jhonson kesal, ia lupa dengan situasi yang sedang mereka alami saat ini.


Akhirnya mereka terdiam.


Setelah senyap beberapa saat, Daniel akhirnya mendekati mereka sambil membawa sebotol vodka yang hanya berkurang sedikit. Tentu saja, ketiga orang yang berada di sana memandangi Daniel dengan sorot mata yang bertanya dan sulit diartikan.


"Aku tidak punya alkohol lain selain ini," ucap Daniel seraya menyerahkan botol kaca berisi Vodka, "apakah bisa membersihkan luka?" lanjutnya.


Jacob memandangi Daniel, "lebih baik daripada tidak ada," tangannya langsung meraih Vodka dari tangan Daniel.


Dengan tegas, Jacob mulai memerintahkan Daniel dan Jhonson untuk membaringkan Tio lalu memegang kaki dan kepalanya dengan erat. Perlahan, Jacob juga menyuruh Tio untuk melepaskan tangan kanannya dari kain yang berada di atas tangan kirinya.


Sebelum itu, Jacob membasahi kedua tangannya dengan Vodka agar steril saat menyentuh luka Tio nantinya. Tidak lupa Jacob memberikan instruksi kepada Jhonson untuk menaruh kain di mulut Tio, agar ia tidak mengigit lidah atau bibirnya sendiri nantinya.


Rencana Jacob adalah membersihkan luka tebasan Tio dengan alkohol, memberinya sedikit cairan kuning kemerahan, lalu membalutnya dengan kain kasa untuk menahan perdarahannya.


"Kapten, aku hitung sampai 3 ya."


"Satu.."


"Dua.."


"Tiga!"


Jacob langsung membasahi tangan kiri Tio dengan Vodka yang membuatnya mengigit keras kain dimulutnya itu, menahan sakit yang amat sangat dari efek alkohol yang mengenai lukanya. Daniel sekuat tenaga menahan kaki Tio agar tidak bergerak banyak, sedangkan Jhonson menahan kepala Tio agar tetap dalam kondisi berbaring.


Dengan air mata yang tanpa diundang keluar dari sudut mata Tio.


Tanpa berlama-lama lagi, dengan cepat Jacob memberikan cairan kuning kemerahan ke atas kulit Tio, lalu membungkusnya menggunakan kain kasa. Ia terus menekan dan menggulung kain itu agar menutupi tangan Tio yang tinggal setengah itu dengan tulus.


Di lihat dari cara kerjanya, Jacob sangat telaten dan bisa cepat tanggap dalam menangani masalah urgent seperti sekarang ini. Jacob adalah lulusan akademi perawat yang beralih profesi menjadi pelaut karena ia merasa lebih nyaman di posisi itu.


Walau ada sedikit banyak pertanyaan yang diajukan saat ia berubah profesi, namun setelah melihat track record yang sangat baik dari latar belakangnya selama ini, akhirnya ia diterima ke pekerjaan barunya ini.


Jacob menahan kasanya dengan hansaplast kasa steril lalu kembali duduk dengan sedikit bernapas lega. "Sudah selesai, kapten."


Tio masih memejamkan matanya, berusaha menetralkan napasnya dan menahan rasa sakit yang tiada tara itu.


Sambil menunggu Tio lebih tenang, Daniel dan Jhonson diperintahkan Jacob untuk mengecek sekoci cadangan yang akan mereka pakai untuk melarikan diri. Walau dengan perasaan ragu, mereka tetap menjalankan perintah Jacob dengan baik.


Awalannya terbesit dibenak mereka untuk menolak kabur dengan sekoci, apalagi setelah melihat rekannya yang langsung dibunuh dengan sadis oleh siren merah tepat setelah mereka mejatuhkan sekoci ke laut.


Tetapi setelah dipikir-pikir lagi, lebih baik mereka kabur dari kapal ini daripada harus terus berada di sana dengam rasa takut yang selalu memuncak. Resiko dibunuh dengan perlawanan lebih baik daripada mati tanpa perlawanan, lebih terhormat menurut mereka.


"Jac, kunci pintu pembatas itu segera," titah Tio dengan suara seraknya.

__ADS_1


Jacob menuruti perintah Tio tanpa banyak bertanya, lalu kembali duduk di sebelah Tio untuk sekedar menjaganya tetap tersadar.


Setelah kembali dari mengecek sekoci cadangan, mereka membopong Tio perlahan lalu memasukkannya terlebih dulu ke dalam sekoci itu. Diikuti Daniel, Jhonson dan terakhir Jacob yang sebelum menutup pintu sekoci terlebih dahulu menekan tuas untuk membuka dek belakang kapal.


Bersamaan dengan pintu dek belakang terbuka, Jacob berlari masuk ke dalam sekoci dan menutup pintu dengan kuat. Ia juga menyuruh mereka untuk duduk di lantai berdekatan, kecuali Tio yang di baringkan di atas.


Pintu dek kapal sudah sepenuhnya terbuka dan menggerakan sekoci mereka ke laut dengan perlahan. Di dalam hari mereka terus menerus berdoa, meminta agar tidak ada hal buruk yang akan menimpa mereka.


Kapal sedikit tergoncang saat lambung kapal sudah mengenai air dan bergerak bersama dengan alunan ombak yang menari di bawah tarian angin laut yang bergejolak.


Daniel menyatukan tangannya berdoa kepada triniti meminta perlindungan, Jacob menyatukan tangannya berdoa kepada dewanya, sedangkan Jhonson menengadahkan tangannya berdoa kepada Tuhannya.


Mereka berdoa menurut kepercayaan mereka masing-masing.


Kira-kira sudah hampir 10 menit berlalu, tidak ada apapun yang terjadi di sana. Dengan keberaniannya yang tersisa, Daniel berdiri dan mengintip ke luar jendela.


Kosong.


Ia tidak melihat kapal mereka 0AS-Ship 5389 di sana. Seharusnya, mereka masih berada dijangkauan kapal besar itu. Tetapi yang hanya dilihatnya hanyalah lautan kosong tanpa objek sedikitpun.


"Kapalnya gak ada," seru Daniel terkejut.


Jacob membuka matanya, beralih fokus dari doanya yang khusuk. "Apa maksudmu?" tanyanya bingung.


"Bantu aku membuka bagian atap kapal ini, aku mau melihat sekitar!" titah Daniel yang langsung dibantu oleh Jacob dan Jhonson di sana.


Atap sekoci yang sudah terbuka lebar membuat cahaya masuk sedikit demi sedikit ke dalam kapal, bersamaan dengan angin laut. Dengan duduk di atas pundak Jacob, Daniel akhirnya bisa mengeluarkan kepalanya dari atas seperti mengintip keluar. Kalau di kapal selam, dia seperti teropong hidupnya mereka saat ini.


Daniel menoleh ke kanan dan kiri, berusaha mencari keberadaan kapal mereka yang seharusnya berada di sana. Tetapi, nihil.


"Kapal kita kemana? Kapal kita tidak ada!" lapor Daniel dari atas sana.


"Kau yakin?" tanya Jacob memastikan.


Daniel kembali menolehkan kepalanya ke segala arah, tapi tetap nihil, "ya, aku yakin!"


Jacob menurunkan Daniel lalu menutup kembali atap yang semula terbuka. Aktivitas mereka pun terhenti kembali saat Tio kembali bersuara.


Tio berdehem, "kalian tidak akan menemukan kapal itu lagi," ucapnya dengan suaranya yang serak, "apalagi dalam kondisi seperti ini."


"Apa masudmu kapten?" tanya Daniel penuh selidik, tidak mengerti dengan perkataan Tio.


Tio yang semula berbaring memaksakan diri untuk duduk, di bantu Jacob yang berada di sampingnya itu. Kondisi Tio sudah sangat memprihatinkan sekarang.


Bibir sudah sedikit membiru, buku-buku jarinya yang membiru, tubuh dingin dan peluh selalu terus bercucuran. Ia sepertinya sudah terlalu banyak mengerluarkan darah, bahkan saat ia duduk ini saja matanya sampai berkunang-kunang.


Tio menghela napasnya pelan, "kalian pasti tidak sadar, sekoci ini sejak tadi menjauh dari kapal kita. Aku rasa ini sudah lebih jauh ke tengah laut daripada sebelumnya," ucapnya.


"Bagaimana bisa bergerak sendiri? Kita bahkan belum menghidupkan engine kapal ini," bantah Jhonson merasa tidak masuk akal dengan ucapan kaptennya ini.


Tio menggelengkan kepalanya, "kapal ini bergerak karena sudah di dorong dari bawah air oleh siren itu. Aku yakin ini atas perintah Aríos. Mereka ingin menelantarkan kita ke pulau tidak berpenghuni," terangnya dengan sorot mata menukik lurus keluar jendela. Ia tau betul apa yang sedang terjadi saat ini.


Persis seperti apa yang pernah terjadi sebelumnya, di saat kapal SS Ourang Medan berhasil diambil alih. Sisa yang selamat dibiarkan kabur dan mati dehidrasi di pulau tidak berpenghuni.


Hal itu juga akan terjadi kepada mereka selanjutnya.


Mungkin.


..._____...

__ADS_1


__ADS_2