
"Udah mendingan?" tanya Audrina kepada Zayn. Mengingat ia tadi sampai mengeluarkan isi perutnya karena obat yang diberikan Amber.
Zayn meringis, "udah lumayan sih."
"Ramuannya gimana? Sudah bekerja?" imbuh Audrina lagi penasaran.
"Sudah bekerja, walau sisik ditubuh aku tidak hilang sepenuhnya tapi setidaknya sisik itu tumbuh dibagian aku bisa menutupinya," jawab Zayn tersenyum miris.
Audrina menatap sendu Zayn yang tampak murung dan masih sulit untuk menerima kenyataan yang sudah terjadi pada dirinya. Mau dihibur bagaimana pun, rasa tidak sepenuhnya menerima diri pasti selalu ada dalam benaknya. Ia harus memikirkan cara agar Zayn setidaknya lupa akan kenyataan pahitnya.
"Boleh aku lihat?"
Zayn yang sejak tadi menundukkan kepalanya menoleh kearah Audrina. Ia melihat wajah antusias Audrina yang sangat membuatnya lega. Rasa itu selalu ada saat Zayn mengamati wajah Audrina yang berbinar-binar seperti itu.
Zayn tertawa kecil, tidak bisa mengabaikan wajah manis Audrina yang membuat hatinya geli sendiri. Melihat Audrina saja membuat beban serta pikiran negatifnya melayang hilang entah kemana.
"Mau lihat apa?" Zayn menaik turunkan kedua alisnya, menggoda Audrina.
Wajah Audrina seketika memerah, tangannya spontan memukul lengan Zayn gemas, "lihat sisik kamu, Zayn. Jangan mikir yang aneh-aneh!"
Merasa berhasil menggoda Audrina, Zayn tertawa keras sekali. Ia senang saat menggoda Audrina karena reaksinya yang sangat menggemaskan.
"Ah yang bener?" Zayn masih berusaha menggoda Audrina.
"Zayn! Jangan gitu ih!" kesal Audrina lagi.
Zayn masih terus saja tertawa, merasa lucu karena kembali berhasil membuat Audrina kesal. "Oke oke," akhirnya ia berhenti karena perutnya sudah sakit terlalu banyak tertawa sejak tadi.
Audrina melipat kedua tangannya dan membuang muka, masih merasa kesal karena Zayn yang terus menggodanya sejak tadi.
"Na."
"Na," panggil Zayn lagi.
"Audrina."
Audrina menoleh setelah panggilan ketiga, "apa?" jawabnya ketus.
"Jangan marah lagi ya," bujuk Zayn.
Helaan napas terdengar dari mulut Audrina, "iya," balasnya singkat, padat dan jelas.
__ADS_1
Zayn terkekeh pelan lalu tanpa sadar mengacak pelan rambut Audrina. Tentu saja itu membuat Audrina kesal sampai ia memanyunkan bibirnya.
Dengan perlahan Zayn membalikkan badannya membelakangi Audrina yang masih berusaha merapikan rambutnya. Agak sulit sih karena rambutnya agak sedikit lepek karena saat ini mereka sedang didalam air.
"Hem, pikiran aku masih belum percaya kalo kita bisa napas di dalam air gini," Zayn sedikit membungkukan punggungnya untuk memperlihatkan bagian pinggangnya yang terdapat sisik kearah Audrina,"ngga logis banget."
Audrina menyentuh pelan bagian pinggang Zayn, "dari awal emang ngga ada yang logis sih, Zayn."
Saat tangan Audrina berhasil menyentuh kulit Zayn, tubuhnya langsung merinding. Sentuhan lembut itu berhasil membuatnya sedikit tersentak dan menegang, ia susah payah menelan salivanya.
Tangan Audrina masih terus menyentuh bagian pinggangnya meniti setiap sisik yang masih tertinggal disana. Untuk saat ini Zayn sedang membelakangi Audrina, kalau tidak ia pasti sangat malu. Matanya kini terpejam menahan sensasi sentuhan Audrina yang perlahan hilang bersamaan dengan Audrina yang menarik tangannya kembali, berhenti menyentuh pinggang Zayn.
Zayn menghela napasnya lega saat itu juga. Ia menegakkan punggungnya lalu berbalik menghadap Audrina lagi.
"Setidaknya sudah lebih baik dari sebelumnya ya," celetuk Audrina.
Zayn tersenyum kecil, "iya benar. Aku juga perlahan juga berusaha terbiasa dengan ini."
Audrina tampak memicingkan matanya, "Zayn, kamu—" tangan Audrina meraih wajah Zayn mendekatkannya kearahnya , lalu menyentuh bibir Zayn pelan.
"K-kenapa?" napas Zayn kembali tercekat mendapati kejadian ini, bisa-bisanya Audrina menyentuh lagi daerah sensitif lain. Zayn tidak tau harus bereaksi seperti apa.
"Taring kamu muncul juga," ucap Audrina sambil mendekatkan wajahnya.
Tangan Zayn meraih tangan Audrina lalu menurunkannya perlahan, "b-benarkah?" tanyanya berusaha tenang, padahal jantungnya saat ini sudah tidak karuan.
Audrina mengangguk, "sama seperti taringku," ucapnya seraya menunjukkan taringnya.
"Aku rasa kalau untuk taring orang tidak terlalu sus terhadap kita," sahut Zayn.
Audrina setuju dengan Zayn. Setidaknya mereka bisa mencegah kecurigaan mendalam dari perubahan fisik mereka saat didarat. Terutama untuk orang tua mereka yang pasti sangat mengerti dengan perubahan yang terjadi.
Zayn terus menerus mencoba mengatur napasnya yang masih belum stabil dengan apa yang sudah terjadi sebelumnya. Berbeda sekali dengan Audrina yang tidak tahu apa yang sedang terjadi. Ia biasa saja, sedangkan Zayn setengah mati menahan perasaan yang mencuat.
Audrina meraih buku Wilona yang berada diatas meja kaca ruangan itu, mencoba untuk membaca isinya walau ia sebenarnya tidak mengetahui apa yang tertulis disana. Ia sempat terpikir untuk meminta Aoi untuk mengajarinya bahas siren agar ia bisa dengan mudah mempelajari hal-hal dariás lebih dalam.
Nanti aku minta Aoi ajarin aku, batinnya sambil terus membuka halaman demi halaman buku Wilona secara perlahan.
...****************...
Rui menatap Amber dengan tatapan yang sulit diartikan. Amber sudah mempermalukannya didepan siren lain dengan menamparnya dengan sangat keras. Wibawanya sudah jatuh saat itu juga membuatnya mengeraskan rahangnya menahan emosi yang hampir keluar. Ia harus berusaha menahan emosinya atau Amber akan kembali mempermalukannya. Terlebih lagi ancaman untuk membunuh dirinya sudah keluar dari mulut Amber.
__ADS_1
Rui tau betul bahwa ancaman yang keluar dari Amber tidak pernah main-main. Ia selalu serius dengan ancaman yang dikatakannya, Rui tidak bisa gegabah.
"Apa ada yang ingin kau katakan lagi, Rui? Katakanlah, aku persilahkan," ucap Amber datar.
Rui terdiam, ia tidak menjawab pertanyaan itu. Dengan kesal ia membuang mukannya menghindari tatapan Amber yang semakin dingin. Merasa Rui tidak menanggapinya, Amber merasa sedikit senang.
"Baiklah kalau tidak ada," Amber mengalihkan pandangannya ke depan, menatap siren yang berada ditengah Aula.
Aziel berdehem, "bagaimana strategi kita?" tanyanya sambil melihat kearah Amber.
"Kita tanyakan kepada komandan perang kita saja, Aziel." Amber membalikkan badannya dan mengibas pelan ekornya bergerak kearah Vivian, "bagaimana Vivian?" tanyanya langsung.
Vivian terdiam sejenak, berusaha memikirkan strategi terbaik yang bisa menyelamatkan kaumnya juga Audrina dan Zayn. Ia tidak ingin ada siapapun yang terluka dan harus berkorban demi kepentingan sendiri-sendiri.
Cara terbaik yang membuat mereka semua selamat tanpa mengorbankan satu pihak, kira-kira bagaimana Vivian akan mendapati strategi terbaik.
Netra Vivian mengitari seluruh isi Aula yang sedang menatapnya penuh harap dan rasa penasaran. Tekanan mulai terasa menekan punggungnya saat ini, banyak yang dipertaruhkan jika ia mengambil keputusan yang salah.
Vivian menarik napasnya panjang, "Aku tau ini mungkin menyulitkan, tapi—" ia menggantungkan kalimatnya sambil menatap Aoi yang berada didekatnya itu.
"Katakan saja," sahut Aoi yang merasa ada rasa tidak enak dari wajah Vivian.
"Untuk urusan Audrina dan Zayn sepertinya kita serahkan kepada Thania dan Aoi. Tidak ada yang lebih baik selain mereka berdua dalam menjaga dariás berharga seperti mereka," lanjut Vivian.
Geo mengerutkan dahinya, seperti tersadar akan sesuatu. "Lelaki itu juga dariás?" tanyanya bingung.
Vivian mengangguk. "Zayn sudah berubah menjadi darias beberapa jam yang lalu. Ramuan tulang siren yang diberikan kepadanya oleh Gloria membuatnya hampir menjadi siren seutuhnya, namun Amber sudah menangani masalah itu. Saat ini, Zayn adalah dariás kedua setelah Audrina yang masih hidup."
Seluruh siren yang mendengar itu tentu sangat terkejut sekaligus senang. Dariás yang sebelumnya disangka punah karena pembantaian yang dilakukan sedikit demi sedikit mulai muncul kembali. Ada rasa marah dan berterimakasih kepada Gloria walau itu sangat tidak dibenarkan untuk memaksa manusia menjadi siren.
Pemberian ramuan tulang siren itu juga adalah hal yang ilegal dilakukan sejak dulu karena bisa mengakibatkan terjadinya eksploitasi yang berlebihan untuk kaum siren dan manusia diwaktu yang bersamaan.
"Baiklah, aku rasa itu benar. Aoi, Thania, kalian lindungi dariás kita." Tegas Amber.
"Bagaimana dengan kita?" tanya Geo lagi.
"Aku akan mencari jalan keluarnya, kalian jangan khawatir ," Vivian menatap seluruh siren dan sesepuh disana dengan yakin.
Keselamatan siren danau saat ini berada ditangan Vivian. Semoga ia berhasil menyiapka strategi terbaik untuk menyerang dan bertahan dari siren merah.
Semoga saja.
__ADS_1
...-----...