
Audrina meringkuk membulat memeluk tubuhnya sendiri di ujung kamarnya. Ia menutup kedua telinganya dan menenggelamkan wajahnya dibalik kakinya. Ia mencoba untuk menenangkan diri dari apa yang sudah terjadi.
Sesekali Audrina mengintip untuk melihat sekitar kamarnya itu, mungkin saja dirinya tengah bermimpi. Namun, kamarnya masih sama dengan sebelumnya. Bau amis dari jendela, darah berserakan di lantai, kakinya yang penuh darah karena tidak sengaja menginjak darah, tubuh kelinci yang mati, itu semua ternyata beneran terjadi. Kejadian yang dialaminya itu nyata, dia tidak sedang bermimpi saat ini.
Audrina kembali menenggelamkan wajahnya. Dengan perasaan gelisah dan didominasi rasa takut, Audrina berusaha untuk memanggil Aoi dengan suara hatinya. Aoi adalah sosok yang dia butuhkan saat ini.
'Aoi.'
'Aoi, kamu dimana?'
'Aoi, aku takut. Kamu dimana?'
'Aoi, kamu dengar aku kan?'
Kalimat itu berulang kali diucapkannya dalam hati, berharap Aoi bisa mendengarnya dari dalam danau. Audrina tidak tau harus berbicara kepada siapa lagi saat ini selain kepada Aoi. Di sekolah pun, Audrina tidak memiliki teman dekat kalaupun ada tidak mungkin ia tiba-tiba menyuruh mereka datang di tengah malam seperti ini.
Audrina terus menerus memanggil nama Aoi dan berharap akan kedatangannya ke Villa saat ini. Harusnya saat ini adalah waktu dimana Aoi biasa datang untuk menemui Audrina di Villa.
kriek....
Jendela kamar Audrina terbuka bersamaan dengan angin malam yang halus menembus celah hingga menerpa kakinya yang polos. Audrina menengadahkan kepalanya perlahan dengan mata yang berkaca-kaca. Di sana, ia melihat Aoi yang sudah berdiri di sebelah tempat tidurnya tampak terkejut dengan keadaan kamar Audrina saat ini.
Perasaan lega akhirnya muncul dari dalam dirinya Audrina. Setelah sejak tadi ia terus menahan diri, Audrina akhirnya menangis ketakutan. Aoi yang menyadari itu langsung mendekati Audrina untuk memeriksanya, merasa bersalah karena ia datang terlambat dan tidak ada saat Audrina ketakutan.
"Ody, kamu tidak apa-apa?" tanyanya khawatir.
Audrina langsung memeluk Aoi saat itu juga, mendekapnya seakan tidak ingin melepasnya begitu saja. Mendapat respon seperti itu, Aoi membalas pelukan Audrina dengan lembut, merasakan kulitnya yang menyentuh tubuh Audrina yang sedingin es. Ia mengelus lembut surai kehitaman bersamaan dengan punggung Audrina agar ia merasa lebih tenang.
Sepertinya dia sangat ketakutan, pikir Aoi.
Aoi sesekali mencium pelan puncak kepala Audrina, "sudah, Ody aman sama aku ya. Jangan nangis lagi." Aoi berusaha menenangkan Audrina yang masih terus menerus menangis sesegukan. Ia tau betul Audrina sangat syok bahkan dirinya sendiri sempat terkejut dengan apa yang terjadi.
Setelah hampir setengah jam menangis, Aoi akhirnya berhasil menenangkan Audrina. Aoi pun berinisiatif untuk memberi segelas air putih kepada Audrina yang mungkin saja dehidrasi karena terus menangis sejak tadi.
Audrina bersandar di kursi meja belajarnya sambil terus memegang tangan Aoi, seakan takut ditinggal apabila ia melepas tangannya. Tentu saja Aoi tidak keberatan, ia malah dengan senang hati melakukan hal itu.
"Ody tidak apa-apa kan?" tanya Aoi mencoba membuka pembicaraan kembali.
Audrina mengangguk pelan.
Aoi tersenyum, "baiklah, kamu duduk di sini dulu. Biar aku bersihkan kakimu." Aoi yang hendak beranjak langsung ditahan oleh Audrina.
"Jangan pergi," Audrina menggeleng cepat dengan wajah yang memelas. Ia takut Aoi kembali meninggalkannya.
Aoi bersimpuh di depan Audrina sambil menangkup kedua pipi perempuan itu. "Tenang saja. Aoi cuma mau ambil air hangat dan kain di dapur. Setelah itu langsung kesini lagi," bujuk Aoi sambil menatap manik mata Audrina lekat hingga bertubrukan langsung ke dalamnya, berusaha meyakinkan perempuan itu.
Audrina yang menatap mata hijau itu juga seakan merasa perasaan hangat dan nyaman di dalam hatinya. Dengan ragu ia pun akhirnya menyetujui untuk melepaskan genggamannya.
__ADS_1
"Baiklah," Audrina mengalah.
Aoi mencium pelan kening Audrina, lalu dengan ceoat melengos pergi menuju dapur. Sesampainya di dapur, ia membuka salah satu lemari dan didapati kain di sana. Aoi juga mengambil air hangat yang diatur dari keran dengan menampungnya ke dalam baskom putih, lalu bergegas kembali ke kamar Audrina.
Aoi menyatukan kedua kaki Audrina lalu membersihkannya satu persatu. Audrina hanya melihatnya tanpa berkomentar apa-apa. Hanya saja, tatapannya jatuh kepada bulu mata Aoi yang sangat lenting dan hidungnya yang mancung.
Dilihat dari atas kursi Aoi sungguh sangat tampan. Apalagi melihatnya sangat mengkhawatirkan Audrina dan begitu peduli padanya membuat hatinya menghangat.
"Apa kamu melihat seseorang tadi?" tanya Aoi sambil melihat kearah Audrina dan berhasil membuyarkan lamunan Audrina.
"T-tidak," jawabnya sambil memalingkan wajahnya.
Aoi tampak kembali membersihkan kaki Audrina. Lumayan sulit dibersihkan karena darah yang menempel sudah mulai mengering.
"Aku curiga ini bukan ulah ándras," Aoi mengernyitkan alisnya. "Aku yakin ini ulah siren merah itu." Lanjutnya dengan yakin.
Audrina tampak terkejut. "Mengapa mereka meneror ku, Aoi?" terlihat wajah Audrina yang merasa kesal.
Aoi menghela napasnya. "Sepertinya ada mata-mata disini." Ucapnya sambil memeras kain yang sudah memerah karena darah.
"Mata-mata? Maksudmu aku sudah dimata-matai? Kenapa?" tanya Audrina tidak terima. Bisa-bisanya seorang Audrina di mata-matai. Namun ini bukan dari kalangan manusia yang bisa dengan mudah ia laporkan ke polisi. Siren adalah makhluk mitologi yang tidak diyakini keberadaannya. Polisi akan menganggapnya gila jika saja Audrina nekat melaporkan siren merah itu kepada polisi.
Bukan itu saja. Aoi juga akan dalam bahaya.
Aoi menukar kaki Audrina lalu melanjutkan pekerjaannya. "Sepertinya mereka sudah tau tentang mu dan ibumu Ody," ucap Aoi langsung.
"Tentang darías?" tanya Audrina memastikan.
Audrina membenarkan posisi duduknya, "darimana kamu yakin kalau itu musuh kamu dari kaum siren merah?" tanya Audrina penasaran.
Aoi menoleh kearah jendela yang masih dilumuri tulisan dengan cairan hitam itu. "Itu.. adalah darah mereka."
Audrina terkejut. "Darah mereka?"
Aoi mengalihkan pandangan kearah Audrina, "iya benar. Warna hitam, sangat amis dan kental adalah darah dari sirem merah. Akibat dari kebusukan hati dan penindasan terhadap kaum ándras, darah mereka berubah menjadi seperti itu." Jelas Aoi sambil menancapkan kukunya di pergelangan tangannya hingga berdarah.
"Apa yang kamu lakukan, Aoi?" tanya Audrina sedikit panik.
Aoi menunjukkan tangannya, "ini darah kami. Semua jenis siren harusnya memiliki darah seperti ini. Hanya saja bagi mereka yang merusak, darah mereka akan menghitam dan bau seperti itu." Aoi menunjuk ke jendela. Terlihat cairan bewarna silver sedikit keluar dari luka akibat tancapan kuku Aoi. Beberapa detik kemudian, lukanya memudar dan kulit Aoi kembali seperti semula. Tidak ada luka disana.
Audrina sedikit takjub melihat itu. Kekebalan kulit yang luar biasa. Baru saja beberapa detik yang lalu tangannya terluka, tidak lama kemudian bahkan bekas lukanya saja tidak ada. Aoi tampak tersenyum kecil melihat ekspresi Audrina lalu kembali membersihkan kaki Audrina.
Audrina akhirnya mengerti dengan situasinya saat ini. "Apa aku dalam bahaya?" tanya dengan suara lirih.
Aoi menghentikan pekerjaannya, lalu mengangguk. "Maafkan aku." Suaranya berubah begitu lirih, rasa bersalah kini mulai menghantui Aoi
"Kenapa kamu minta ma-"
__ADS_1
"Ini salah aku. Harusnya aku gak libatin kamu dan buka matra penutup yang ibu kamu lakukan," potong Aoi dengan suara yang sedikit parau.
Aoi menundukkan kepalanya. Aoi merasa ia telah membawa Audrina ke dalam bahaya. Hanya karena kaumnya memerlukan bantuan Audrina, ia sampai harus diincar oleh musuh mereka. Nyawa Audrina sudah terancam saat ini. Kedepannya Audrina bisa saja dibunuh oleh siren merah itu melihat dari teror yang mereka lakukan.
Audrina mengelus pelan rambut Aoi, "bukan salah kamu." Ucap Audrina berusaha menghilangkan rasa bersalah pada diri Aoi.
Aoi menengadahkan kepalanya. "Aku janji akan selalu lindungi kamu," ucap Aoi dengan suara meyakinkan.
Audrina yang melihat sampai terenyuh, ia merasa aman dan nyaman saat ini. Melihat Aoi dengan wajah yang bersungguh-sungguh seperti itu membuat tangan Audrina tanpa sadar memegang wajah putih pucat Aoi.
Aoi yang mendapat perlakuan seperti itu memegang tangan yang berada di wajahnya itu dengan lembut.
"Aoi, sepertinya aku..."
Prang!
Perhatian mereka seketika tertuju pada sebuah wadah aluminium berbentuk bola yang sangat mencurigakan yang dilempar dari luar jendela Audrina yang masih terbuka. Aoi dengan cepat melindungi Audrina untuk bersembunyi belakang tubuhnya.
"Apa itu?" teriak Audrina panik.
Aoi mendekati aluminium berbentuk bola itu perlahan dan baru saja akan membukanya, aluminium itu mengeluarkan jarum bewarna hitam.
Audrina tampak bingung lalu berusaha menyentuh jatum itu lalu dicegah oleh Aoi.
"Jangan disentuh, itu beracun!" teriak Aoi dengan nada panik sekaligus marah kepada Audrina yang bisa saja mati terkena jatum beracun itu.
Sekelibat cahaya muncul dari balik jendela yang membuat Aoi mencoba untuk menangkapnya. Namun saat Aoi berlari kearah jendela, cahaya itu hilang dan tidak meninggalkan jejak.
"Sial!" Aoi tampak menggerutu kesal karena tidak berhasil menangkap pelakunya.
Audrina yang masih berada dibelakang Aoi mulai mencoba mengintip. "A-apa itu?" tanyanya sedikit gemetaran.
Aoi langsung menutup jendela lalu menguncinya rapat-rapat. Ia menarik tangan Audrina untuk bersembunyi didalam lemarinya.
"C-cahaya itu. Aku melihatnya. Warnanya putih dan ungu," ucap Audrina dengan suara gemetaran.
Aoi mengerutkan dahinya tampak berpikir, "ungu? Apa kamu yakin?" tanya Aoi dengan sedikit mendesak.
Audrina mengangguk. "Wajahnya sangat menyeramkan, Aoi. Aku takut," lanjutnya.
Aoi tampak kebingungan mendengar ucapan Audrina saat ini. Ia sendiri hanya melihat cahaya putih, kenapa Audrina berkata kalau cahaya itu bewarna ungu. Aoi juga dibuat kebingungan saat Audrina mengatakan ia melihat wajah dari pemilik cahaya itu.
"Kamu sembunyi disini, Ody. Aku akan mengecek keluar," perintah Aoi tegas dan dibalas anggukan oleh Audrina.
Jika benar cahaya itu bewarna ungu, peneror itu berarti adalah Arios, batin Aoi.
Aoi menutup pintu lemari Audrina dan membiarkan Audrina bersembunyi disana. Ia harus melindungi Audrina saat ini, bagaimana pun caranya.
__ADS_1
Teror ini masih akan bertambah buruk jika tidak segera dihentikan.
...-----...