
Gloria muncul ke permukaan, diiringi dengan Aríos yang menyusul di belakang. Sekumpulan siren merah yang dipimpin oleh Cleo masih terlihat bolak-balik ke dek inti, masih sibuk melaksanakan perintah atasam mereka. Sedangkan Cleo sudah dengan sedikit tegang menunggu kehadiran Gloria dan Aríos yang menurutnya sedikit terlambat. Namun, karena ia rasa mereka berdua baik-baik saja akhirnya ia enggan menanyakan hal itu.
Cleo membungkukkan badannya dengan tompahan kaki kanan ke depan sembari menundukkan kepalanya pula "Yang Mulia, Gloria. Anda sudah hadir," ucapnya formal, begitulah adab dan tata kramanya.
Gloria mengangguk, "bangunlah, berikan informasi singkat mengenai tugasmu, Cleo."
"Baik," jawabnya, "untuk saat ini semua berjalan lancar. Para siren yang sudah mendapatkan cairan masuk ke dek inti, sedang mencari pakaian yang bisa digunakan untuk identitas penyamaran agar dapat berbaur dengan manusia nantinya, Yang Mulia."
Glori mengangguk. Ia kemudian bergerak mendekati kapal lalu duduk di ujung kapal dengan ekor yang menjuntai bebas ke dalam air, membiarkannya terendam disana. Tangannya mengisyaratkan Aríos dan Cleo untuk mendekat kearahnya.
"Baiklah, setelah penyamaran selesai lakukan perintah lanjutan. Segera pergi ke daratan, kita tidak bisa bergerak terlalu lama," ucap Gloria langsung.
"Apa ada masalah, Gloria?" tanya Aríos penasaran.
Gloria hanya memandang sekilas ke arah Aríos, lalu kembali membuang muka, "tidak ada. Hanya saja jika kita terlalu lama sampai di danau itu kita akan semakin kesulitan menghentikan Audrina. Aoi dan pelayan perempuan itu sedang mengajarkan mereka tentang matra pada buku wilona saat ini."
Cleo dan Aríos sedikit tersentak, mereka tau benar bahwa buku mantra yang disebutkan Gloria adalah buku yang selama ini mereka cari dari generasi ke generasi. Mendengar berita mengejutkan itu membuat mereka bertanya-tanya, ada raut wajah tidak wajar yang terukir jelas pada Gloria.
Cleo melirik Aríos, berusaha mendesaknya untuk bertanya hal yang saat ini mereka pikirkan. Aríos menghela napas mengalah, ia tau bahwa Cleo pasti merasa tidak pantas menanyakan hal yang bukan menjadi perintah terhadapnya.
"Bagaimana kamu tau mereka sedang mengajarkan matra pada buku itu? Bukankah itu adalah buku yang selama ini leluhur kita cari?" tanya Aríos dengan nada yang sangat hati-hati.
Gloria masih tidak bergeming, ia seperti memikirkan sesuatu. Iris merah menyalanya seperti memancarkan aura yang sangat berbeda dari biasanya, seperti marah, takut, bahagia namun juga sedih. Entahlah.
"Untuk saat ini, aku hanya memberikan informasi sebatas itu. Untuk informasi lain, aku melihat hal itu dalam bola kristalku, tentu saja."
__ADS_1
"Baiklah," pasrah Aríos.
Gloria menatap Cleo seraya memberikan sebuah kerang bewarna merah jambu yang sangat indah. Melihat raut wajah kebingungan dari Cleo, Gloria segera memberitahu alasan dari pemberiannya itu.
"Simpan ini dekat denganmu, itu adalah pelacak dari kami para petinggi. Jika ada hal buruk atau hal tidak diinginkan terjadi maka kami akan segera mengetahuinya. Ingat, jangan sampai hilang!" tegas Gloria.
Cleo mengangguk paham, "baik, Yang Mulia!" jawabnya tegas lalu menyimpan kerang itu di antara sirip punggungnya, kemudian memastikan kembali keamanan kerang tersebut.
Hingga tiba ada salah satu siren yang merupakan bawahan Cleo mendekati mereka bertiga, seraya melaporkan persiapan telah selesai dan menunggu instruksi lanjutan dari para pimpinan untuk keberlanjutan misi mereka. Cleo melirik kearah Gloria dan Aríos yang memberikan tatapan menyegerakan misi sebelum mereka berdua kembali masuk ke lautan.
"Segera jalankan kapal, kita mulai misi menuju danau hijau," titah Cleo tegas yang disanggupi oleh bawahannya itu.
Suara klakson kapal yang memenuhi gendang telinga mulai terdengar menghiasi langit dan lautan yang kosong, memberikan hawa yang sangat berbeda dari biasanya. Suasana dingin dan membuat bulu kuduk merinding menyelimuti kapal beserta lautan yang mulai menggulung riuh ombaknya. Tekanan bawah laut yang diberikan para siren merah lainnya disana juga menjadi salah satu alasan pergerakan ombak tidak seperti biasanya.
Dorongan dari bawah laut membuat kapal besar itu seakan tidak berat sama sekali, ia dengan cepat meluncur ke depan bersamaan dengan tuas kemudi yang mengarahkan kapal semakin percaya diri berjalan. Apalagi dengan kemampuan luar nalar Cleo yang sangat handal mengemudikan tuas kapal, baik yang kecil maupun yang besar sekalipun. Itu tidak ada apa-apanya baginya.
"Kalian berpencarlah, jaga kapal dari segala penjuru. Lindungi kapal!" perintah Gloria kepada siren yang berada di bawah laut.
Dengan segera mereka memencarkan diri, menjaga setiap sudut sesuai dengan perintah Gloria. Dengan sedikit menghentakkan ekornya, Gloria kembali duduk di singgasana yang dibawa rombongannya lalu menyuruh mereka segera maju beriringan dengan kapal dan rekan mereka yang lain.
"Gyblin, pastikan semua bekerja sesuai dengan tugasnya masing-masing."
Siren merah bernama Gyblin itu menoleh ke arah Cleo, "baik, tuan!"
Sebelum Gyblin benar-benar pergi, Cleo kembali memberikan perintah lanjutan. "Jangan lupa laporkan kepada ku, apapun situasinya."
__ADS_1
Gyblin kembali mengangguk, "laksanakan!"
Cleo kembali melakukan tugasnya dengan serius, karena ia ingat betul bahwa daerah yang saat ini mereka lewati adalah daerah lautan yang sering membuat kapal karam. Sebenarnya tidak masalah kapal ini karam, hanya saja misi mereka untuk menjaga tenaga dan membawa banyak pasukan akan gagal total.
Seketika ia mengingat wajah menakutkan Gloria yang akan menghantuinya sepanjang hidup apabila misi penting ini gagal. Telebih lagi, tangan kanannya yaitu Aríos yang tidak kalah menakutkan. Lebih baik ia cari aman saja.
"Glo, ada apa denganmu?" tanya Aríos yang bergerak tepat disebelahnya.
Gloria menoleh sejenak, "entahlah. Mungkin hanya terlalu bersemangat saja rencana kita selama ini berjalan mulus hingga saat ini," jawabnya mengelak.
"Apa mungkin jika sedang senang, seseorang akan berwajah tegang dan mengerut seperti dirimu saat ini?" goda Aríos, "ayolah. Kamu tau aku tidak sebodoh itu untuk dibohongi."
"Benar. Aku bicara yang sebenarnya," kekeh Gloria dengan pandangan lurus ke depan.
Aríos mengangguk. "Baiklah baiklah. Setidaknya beritahu aku alasan dibalik lolongan mu tadi, aku yakin ada yang tiba-tiba masuk ke penglihatanmu, bukan? Apa misi ini akan gagal?"
Gloria menghela napas. "Tidak, misi ini akan berjalan sangat sempurna hingga kita menyentuh daerah perbatasan danau didekat rumah darías itu."
"Syukurlah," balas Aríos. Ia kemudian terdiam, tidak adanya niatan dari Gloria untuk menceritakan hal yang saat ini dipikirkannya membuat Aríos pasrah saja. Ia tidak mungkin memaksanya bercerita, akan sangat gawat jika mood Gloria tiba-tiba saja berubah jika ia terus memancing pertanyaan.
Gloria menahan tangan Aríos yang hendak pergi, "mau kemana?"
"Aku akan mengecek barisan terdepan. Memastikan semuanya aman dan lancar untuk misi kita," jawab Aríos.
Gloria melepaskan genggamannya lalu mempersilahlan Aríos untuk mengerjakan tugasnya. Sementara dirinya masih saja memikirkan penglihatan yang masih menghantuinya hingga saat ini.
__ADS_1
...-----...