
Semua siren yang berada di sana mulai bergerak dari satu tempat ke tempat lain sambil mengumpulkan anak-anak jóias. Tidak ada yang menyadari bahwa selama ini mereka hidup di sekitar hamparan batu jóias. Itulah alasan tersembunti mengapa mereka masih bisa hidup sampai saat ini, sepertinya berkat jóias yang berada di atas tanah mereka ini.
Jika mengingat perkataan Aoi dulu, dimana ia mengatakan bahwa jóias adalah penyokong hidup dan ekosistem mereka, ini adalah salah satu buktinya. Jóias benar-benar sangat berarti untuk kehidupan siren danau.
Samar-samar dari kejauhan, terlihat segerombolan tentara berjalan mendekati pemukiman kastil bawah menuju ke tempat mereka berlima berada saat ini. Salah satu siren mendekati mereka sambil bersimpuh. Dengan perlahan Vivian menanggapi simpuhan siren itu dengan mengangguk memberikan respon untuk segera melaporkan laporan kepada mereka.
"Tuan Vivian, nyonya besar Amber sudah menunggu kedatangan kalian di kastil," ucap salah satu siren laki-laki yang memiliki sirip biru alga dengan sisik kecoklatan dan terdapat beberapa bekas luka diwajahnya. Sepertinya akibat pertempuran yang pernah dilakukannya dulu di masa lampau.
Vivian mengangguk paham, "baik. Kami akan segera menuju ke sana," jawab Vivian sambil memberikan isyarat kepada tentara siren itu untuk kembali.
Setengah dari tentara itu kembali ke dalam kastil sementara sisanya bertugas untuk mengawal rombonhan itu, menyisakan setengahnya lagi di sana. Vivian juga sempat memberikan perintah kepada beberapa tentara untuk membantu mengumpulkan jóias bersama siren lainnya. Sementara sisanya mendampingi mereka berlima ke kastil untuk bertemu Amber.
Zayn masih terus memegang tangan Thania, begitupula dengan Audrina yang terus mendekap lengan Aoi agar selalu berada di dekatnya. Alasan utamanya adalah karena mereka yang memang tidak adanya pengalaman menyelam, apalagi sampai ke dasar danau seperti saat ini. Jangankan menyelam, berenang biasa saja mereka kesusahan karena tekanan air yang berada di sana.
"Thania, orang yang bernama Amber itu seperti apa?" tanya Zayn sedikit berbisik, penasaran dengan sosok yang tanpa sengaja terdengar masuk ke telinganya.
Thania menoleh memandangi wajah penasaran Zayn, "Amber adalah sesepuh yang paling disegani dan dihormati di kalangan siren danau. Ia adalah penasehat kami sebagai siren paling tua disini," jelas Thania.
"Buyut kalian?" tanya Zayn lagi.
Thania terkekeh pelan, "bisa dibilang begitu."
"Wow, berarti sudah tua dong?" imbuhnya tanpa berpikir.
"Jangan salah, dia yang sudah hidup berabad-abad itu justru sangat cantik."
Zayn tersentak, "benarkah?"
Thania mengangguk mantap untuk memberikan jawaban terakhir dari ucapan Zayn, yang dibalas mangut-mangut pula sambil terus mengedarkan pandangannya ke sekitar. Seakan masih belum bisa melupakan keindahan lembah ini.
Aoi menarik pelan Audrina yang masih memegang jantung jóias di tangan kanannya. Berlian itu harus terus dipegang olehnya agar anak-anaknya muncul dan memaparkan cahayanya.
Sesampainya di depan kastil, Vivian berjalan menuju pintu utama bewarna coklat yang dihiasi ukiran berbentuk emas seperti corak daun dan bunga mawar. Kira-kira tinggi pintu itu sekitar 3 meter dengan lebar 2 meter.
Vivian berjalan ke sisi kanan pintu itu lalu menekan sebuah tombol keemasan. Setelah tombol itu ditekan, muncul sebuah batu marmer berbentuk persegi yang bewarna keemasan pula dengan corak bulan sabit dan mawar di sekelilingnya.
Vivian meruncingkan kelima kuku tangan kanannya, lalu mengoresnya keatas batu itu sejalan dengan lima buah garis meliuk yang ada diatasnya. Kemudian, Vivian menekan memutar batu berbentuk persegi lima yang mencuat keluar.
Krakk...
Pintu berhasil terbuka. Vivian bergerak mundur mendekati Thania. Setelah pintu besar itu terbuka sempurna, mereka masuk menuju kastil melewati lorong yang cukup panjang.
Diujung lorong terlihat cahaya yang menampilkan sebuah ruangan yang cukup besar. Di tengah-tengah ruangan itu terdapat meja kaca panjang dan hiasan gantung di atasnya.
Saat mereka masuk di ruangan itu, ternyata Amber telah menunggu mereka di sana bersama dengan dua sesepuh lainnya.
"Salam, Audrina."
Amber menyapa Audrina sambil menampilkan senyumnya. Audrina menundukkan kepalanya menerima sapaan yang diberikan Amber kepadanya.
__ADS_1
"Salam, Amber."
Pandangan Amber kini tertuju kepada Zayn. Terlihat wajah bingung dari Amber karena tidak mengenalinya. Zayn yang sadar tidak dikenali akhirnya memperkenalkan dirinya.
"Salam, Amber. Kenalkan aku Zayn," ucap Zayn dengan sopan.
Amber tersenyum, "salam, Zayn. Selamat datang di kastil biru."
Zayn membalas senyuman Amber dengan ramah. Amber mengibaskan ekornya perlahan mendekati Audrina dan berhenti dihadapannya.
"Aku ucapkan terimakasih kepada ibumu, Audrina. Ternyata dia telah melahirkan kamu sebagai keturunannya. Setelah kepergiannya aku baru tau pesan terakhir yang dimaksudkan adalah kamu," ucap Amber seraya memegang kedua pundak Audrina lalu memeluknya lembut.
Audrina membalas pelukan itu, "memangnya apa pesan terakhir mama?" tanya Audrina setelah melepaskan pelukannya.
Amber tersenyum, ia kemudian berbalik kemudian bergerak mendekati kursi kaca yang berada dibalik meja seraya berkata, "biarkan mereka merayakan kepunahan, justru semuanya akan berbalik sesuai keadaan yang kita inginkan. Aku pastikan itu."
Audrina terdiam. Ingatan terhadap ibunya seakan muncul kembali dalam benaknya. Aoi merangkul Audrina berusaha menghiburnya.
"Dulu aku tidak tau maknanya karena sebelum kamu dilahirkan 20 tahun yang lalu, ibu kamu dinyatakan mandul dan tidak bisa memiliki keturunan."
Pernyataan itu membuat tenggorokan Audrina tercekat, ia tidak menyangka akan hal itu. Begitu pula dengan Aoi, Thania, Vivian dan Zayn.
"Lalu, bagaimana Kena bisa memiliki keturunan?" tanya Vivian penasaran.
Amber menundukkan kepalanya, "Gideon menghilang setelahnya," ucap Amber yang membuat Thania membukatkan matanya sempurna.
"A-apa maksudmu, Amber?" tanya Thania lirih.
"Gideon menyerahkan tulang dan jantungnya untuk Kena. Awalnya Kena menolak keras karena itu sama saja Gideon harus mati. Tapi, pendirian Gideon dan tekadnya untuk menjaga keutuhan dariás membuatnya kekeh melakukan itu," ucap salah satu sesepuh yang bernama Aziel.
"Tentu saja, dia juga sudah berunding dengan sesepuh diatas kami. Walaupun akhirnya kami tau kejadian ini setelah Kena meninggal," timpal Amber lirih.
"Benar," sahut Aziel lagi, "Kena bahkan tidak kembali kesini lagi karena merasa bersalah kepada kaum kita."
Amber mengangkat kepalanya, "setelah itu aku sempat menjumpainya dalam mimpi. Kalimat itu yang terakhir kali ia ucapkan sebelum ia melahirkanmu."
"Setelah itu apa yang terjadi?" tanya Audrina yang masih penasaran.
Aziel menggelengkan kepalanya, "ia meminta kami untuk tidak menemuinya lagi."
"Benarkah?"
Amber mengangguk, "pertemuan selanjutnya aku melihat Kena sudah tiada."
Audrina menundukkan kepalanya, mendengar cerita tentang ibunya membuatnya sedikit sensitif.
Selain itu, setelah mendengar cerita yang disampaikan Amber membuat Thania sedikit lega. Ia sempat berpikir bahwa Kena sengaja melakukannya tanpa persetujuan Gideon. Untung saja Amber dan Aziel menjelaskannya.
Aoi membawa Audrina untuk duduk di kursi kaca begitupula dengan Zayn. Namun, saat Zayn duduk Amber berdiri kembali karena terkejut.
__ADS_1
"Apa kamu memakan daging yang diberikan siren dengan sirip kemerahan?" tanya Amber kepada Zayn dan dibalas anggukan oleh Zayn.
Amber mendekati Zayn dengan khawatir lalu memeriksa punggungnya. Melihat raut wajah Amber yang tidak biasa, membuat Zayn sedikit khawatir dengan kondisinya.
"A-apa aku bisa normal kembali? Aku masih ingin jadi manusia," seru Zayn.
Amber menatap Zayn sendu, "aku bisa mengembalikannya, ta-"
"Benarkah? Aku bisa kembali jadi manusia lagi?" potong Zayn sebelum Amber melanjutkan ucapannya. Senyum Zayn merekah saat ini.
"Sebentar, Amber belum selesai bicara," Thania menekan pundak Zayn yang sudah kegirangan terlebih dahulu. Zayn sedikit meringis, "lanjutkan Amber," seru Thania.
Amber menghela napasnya, "aku bisa mengembalikannya, tapi hanya sebagian saja."
Aoi mengerutkan keningnya, "maksudnya sebagian?"
Amber menyentuh pelan punggung Zayn yang bersisik, "dia tidak bisa menjadi manusia utuh lagi. Sama seperti Kena, ia telah memakan tulang siren yang sudah diracik. Aku yakin ini ulah Gloria, hanya dia yang bisa melakukan ini."
"Apa?" Audrina menutup mulutnya. Ia menoleh kearah Zayn yang tadinya tersenyum lepas, sedikit demi sedikit mulai lemas.
Pasti Zayn sangat sedih mendengar ia tidak bisa menjadi manusia lagi dan hanya bisa menjadi setengahnya. Zayn menenggelamkan wajahnya dibalik tangannya yang ia taruh diatas meja kaca itu.
Semua orang menatap Zayn dengan prihatin, melihat perubahan yang tidak diinginkan terjadi padanya pasti membuatnya sangat frustasi. Terlebih lagi, perubahannya terjadi juga karena tipuan licik siren merah. Mereka benar-benar sangat kejam dan tidak memiliki perasaan.
Thania mengelus pelan kepala Zayn, "Zayn bukankah lebih baik daripada sepenuhnya menjadi siren?"
Zayn tidak menanggapi. Ia masih menenggelamkan wajahnya tanpa bergerak sedikit pun. Saat ini harapannya sudah pupus, ia tidak ingin diganggu.
Thania menghela napasnya pelan. Lalu menoleh kearah Vivian dan Aoi bergantian, berusaha meminta tolong untuk menghibur Zayn.
Aoi mendekati Zayn, "setidaknya kamu bisa terus bersama Audrina. Bukankah itu yang kamu mau, Zayn?" ucap Aoi.
Zayn perlahan mengangkat kepalanya, menatap Aoi yang berada disebelahnya lalu melihat kearah Audrina yang sedang menatapnya juga dengan khawatir. Zayn mengerutkan dahinya, berusaha menjaga matanya agar tidak menangis.
Sebenarnya, ia setuju dengan yang dikatakan Aoi barusan. Tetapi, kenyataan lain juga sama pentingnya baginya. Zayn menundukkan kepalanya berusaha menerima dirinya saat ini.
"Zayn, benar kata Aoi. Kita bisa sama-sama terus sampai kapanpun. Kamu jangan sedih lagi ya," seru Audrina sambil tersenyum kepada Zayn.
Zayn menoleh kearah Audrina yang tersenyum kepadanya. Ia menghela napasnya pelan dan beralih kearah Amber.
"B-baiklah. Setidaknya aku masih bisa menjadi manusia, walau sebagian," ucap Zayn lirih.
Amber dan Aziel tersenyum mendengar ucapan Zayn. Keberanian dan keteguhan hatinya membuat ia bisa menerima garis yang tiba-tiba harus dilewatinya membuat seisi ruangan merasa terharu sekaligus bangga.
Walau takut, Zayn berusaha untuk menerima keadaannya saat ini. Tentu saja harus disertai dukungan dari yang lain.
"Baik, kami akan memberikan ramuan kepada mu setelah ini," ucap Amber dengan suara lembut.
Zayn tersenyum kecil, "terimakasih Amber."
__ADS_1
......_____......