
Aoi dan Audrina duduk diatas batu marmer berdekatan dengan Amber yang akan menjelaskan inci demi inci isi buku Wilona kepada mereka.
Terlihat wajah penasaran dari Aoi dan Audrina, sehingga membuat Amber mulai menjelaskan dengan semangat kepada mereka.
Buku Wilona adalah buku mantra yang diwariskan secara turun temurun oleh nenek moyang siren danau yang bersekutu dengan dariás. Buku ini dibuat sebagai bekal dan bentuk penjagaan diri para keturunan siren dan dariás dari segala bentuk ancaman yang ada disekitar mereka.
Terutama dari musuh bebuyutan mereka, yaitu siren merah.
Buku itu merupakan kitab paling di jaga dan menjadi peninggalan berharga bagi mereka. Melihat isi yang berada didalamnya, ada 6 bagian penting dalam buku Wilona. Persembunyian, pertahanan, perlindungan, penyembuhan, perlawanan, dan pemutihan.
Keenam bagian penting itu akan dijelaskan satu per satu.
Pertama, persembunyian (katafýgio) adalah matra untuk mengelabui musuh yang sangat dibutuhkan oleh kaum dariás dan siren danau yang mungkin sangat jarang menggunakan mantra ini. Ini merupakan bagian dasar atay level 1 untuk menjaga diri dari khalayak ramai, baik itu dari manusia atau makhluk lainnya. Mantra ini sangat berperan penting dalam menjaga citra aroma khas dan fisik unik yang dimiliki oleh dariás ataupun siren danau itu sendiri. Mantra ini sangat berguna bagi kaum dariás yang sangat rapuh dan lemah seperti manusia pada umumnya.
Kedua, pertahanan (ámyna) merupakan bentuk defense atau pertahanan diri dari serangan musuh baik secara verbal, fisik maupun telepati yang bisa dilakukan dari jarak dekat ataupun jarak jauh. Mantra ini juga melindungi diri dari serangan kiriman yang bisa berakibat fatal jika tidak dibentengi dengan matra ini. Matra ámyna ini masuk kedalam mantra level 2 menengah.
Ketiga, perlindungan (prostasía) merupakan mantra perlindungan dari serangan secara langsung saat bertarung satu lawan satu. Konsep dari mantra ini adalah menangkis serangan dari lawan sehingga dapat memberikan serangan balik dengan sempurna. Biasanya matra ini digunakan saat bertarung dan termasuk kedalam level 3 menengah dan sulit untuk dikendalikan. Hanya mereka yang terlatih saja yang mampu melakukannya.
Keempat, perlawanan (antístasi) digunakan pada saat bertarung dan dipakai bersamaan dengan mantra prostasía. Jika mereka tidak bisa mengontrol napas dan ritme tubuh maka bisa terjadi luka dalam yang serius sehingga hanya para siren danau yang menggunakannya. Selain karena fisik mereka yang lebih kuat, mereka juga lebih lincah daripada dariàs. Level mantra ini adalah 4 menengah.
Kelima, penyembuhan (therapeía) adalah mantra yang paling dominan digunakan oleh para dariás. Karena mereka bukan tipe petarung seperti siren danau, mereka sangat ahli dalam hal pengobatan. Apabila ada yang terluka, mereka dengan sigap memberikan pertolongan dan mantra penyembuhan yang sangat mujarab. Mantra ini selevel dengan mantra ketiga dan kempat digabung yaitu level 3-4 menengah.
Lembaran terakhir dibuka dan menampilkan lembaran level mantra tertinggi dari keenam mantra dasar buku Wilona. Amber mengubah raut wajahnya yang semula ceria menjadi tampak suram.
Audrina yang menyadari ada perubahan raut wajah Amber dengan lembut menyentuh bahu Amber.
"Ada apa, Amber?" tanya Audrina khawatir.
Amber tampak tersenyum pilu, sepertinya ada yang sedang merasuki pikirannya sehingga ia sedikit terganggu dengan itu. Amber sedikit menegakkan punggungnya membuat sisik disekitar leher bersinar lebih terang.
"Tidak apa-apa, Na. Aku akan lanjutkan," ucapnya dengan memaksakan bibirnya untuk tersenyum.
Amber menarik napasnya dalam dan menghembuskannya lebih panjang dari biasanya. Ia kemudian menekan pelan lembaran terakhir lalu membacakan isi yang tertera beserta makna yang terkandung disana. Penjelasan terakhir dan warisan terakhir yang sangat berharga.
__ADS_1
Aoi dan Audrina kembali mendengarkan penjelasan Amber dengan saksama tanpa mengalihkan pikiran dan pandangan mereka darinya.
Terakhir, pemutihan (léfkansi ) merupakan mantra terkuat dan paling berbahaya jika digunakan sembarangan. Mantra dengan level 5 menengah ini adalah mantra tertinggi untuk mereka yang bisa menguasai kelima mantra lainnya tanpa terkecuali, baik itu siren danau ataupun dariás.
Mantra léfkansi ini sangat berbahaya karena faktor yang terdapat didalamnya. Selain untuk melindungi diri dan bertarung, mantra ini dapat membunuh lawan hingga hancur berkeping-keping. Mantra ini juga bisa membunuh musuh secara langsung tanpa bisa berbuat apa-apa, istilah mudahnya dapat membuat musuh mati seketika di tempat.
Beda dengan mantra lain yang bisa di-cover dengan mantra lainnya, mantra ini tidak ada penawarnya sama sekali. Sehingga hanya mereka yang disumpah darah yang bisa mempelajarinya.
Sumpah darah adalah mereka yang akan memberikan setengah hatinya untuk dikorbankan ke ritual yang mengaitkan mereka langsung dengan para leluhur. Mereka yang benar-benar setia dan loyal yang bisa mendapatkan kesempatan untuk mempelajari matra ini.
Menguasai keenam mantra dengan sempurna akan dinobatkan sebagai pemimpin pasukan namun tidak semudah kelihatannya. Hanya beberapa siren danau dan dariás yang bisa menguasai keenam mantra itu.
"Siapa mereka?" Aoi menginterupsi penjelasan Amber. Rasa penasaran dan kekagumannya membuatnya tidak kuasa untuk tidak bertanya kepada Amber.
Amber mengangkat kepalanya menatap Aoi, " hanya ada 7 orang yang bisa menguasai keenam mantra dalam 100 tahun terakhir ini, selain para leluhur."
"Benarkah? Siapa?" tanya Audrina yang ikut penasaran.
"Aku, Aziel, ayahnya Thania yaitu Idaho, ibunya Thania yaitu Grace, Azura, Vito dan Kena," ucap Amber sembari menutup buku Wilona, "4 siren dan 3 dariás," lanjutnya.
"Benar. Mama kamu salah satunya," Amber tersenyum.
Rasa haru dan bangga mulai menyerang Audrina lagi saat kenangan ibunya kembali muncul. Mata Audrina kembali berkaca-kaca, tampaknya itu bisa membuatnya dengan mudah mengalirkan air mata.
"Tahan, jangan nangis Audrina. Akan sulit mengendalikan perubahan mu jika air matamu berubah menjadi permata juga," sergah Amber dengan cepat.
Audrina dengan cepat menyeka matanya dan menahan diri untuk tidak mengeluarkan air matanya. Aoi membantu Audrina untuk mengusap pipinya dan menekan pelan kedua matanya agar menahan air matanya.
Saat mereka bertiga sedang berusaha menghentikan air mata Audrina agar tidak jatuh, tiba-tiba dengan suara nyanyian merdu bak senandungan kecil burung dipagi hari terdengar begitu indah masuk ke runggu dan sangat menarik perhatian pendengar. Walaupun suara dan nadanya sangat indah, namun bahasa yang digunakan sulit dimengerti.
"Wah, siapa yang nyanyi? Menyejukkan banget suaranya," ucap Audrina kagum walau ia sama sekali tidak mengerti makna dan artinya.
Untuk orang yang baru pertama mendengar mungkin akan mengira itu hanyalah nyanyian biasa yang sangat merdu dan memikat hati. Namun, bagi para kaum siren yang berada di lembah itu nyanyian itu adalah sebuah peringatan atau sinyal darurat.
__ADS_1
Amber dan Aoi memandang satu sama lain. Sepertinya penjaga lembah telah mendapatkan kabar buruk yang membahayakan mereka.
Sringg....
"Amber, Aoi kita harus ke aula sekarang!" teriak Vivian panik dari ambang pintu.
Kemunculan Vivian yang tiba-tiba itu membuat Audrina terlonjak kaget. Ia memutar tubuhnya kearah sumber suara, terlihat jelas wajah panik Vivian.
"Ada apa, Ian?" tanya Audrina.
Vivian terdiam sejenak, "Audrina, kamu dan Zayn tunggu disini sebentar kami harus kembali ke aula utama untuk pertemuan penting para siren."
"Mereka berdua saja?" nada tidak suka terdengar dari suara Aoi.
"Ini sangat mendesak, Aoi. Akan aku panggilkan Thania untuk membawa Zayn kesini," tanpa mendengar jawaban dari Aoi yang kesal Vivian langsung pergi begitu saja.
Tidak lama, Thania datang membawa Zayn lalu mendudukannya diatas batu marmer bersebelahan dengan Audrina.
"Ayo, kita harus ke aula. Sudah ditunggu yang lain," seru Thania.
Amber mengangguk paham lalu bergerak untuk keluar dari ruangan itu. Beda halnya dengan Aoi yang masih bergeming, ia tampak tidak tega meninggalkan sisi Audrina.
"Aoi, ayo. Mereka aman disini," ucap Amber lembut.
Aoi menatap Amber dan Audrina bergantian. Dengan setengah hati, akhirnya Aoi bergerak keluar mengikuti Thania dan Amber yang lebih dulu keluar menuju aula utama.
Audrina dan Zayn yang tidak tau apa-apa hanya pasrah saja ditinggal berdua diruangan itu. Toh mereka juga tidak memiliki ekor untuk bergerak leluasa seperti para siren itu.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Zayn?" tanya Audrina heran.
Zayn mengangkat bahunya tidak tau, "setelah suara nyanyian kecil yang merdu itu mereka jadi panik sendiri. Bahkan Aziel sampai buru-buru keluar hingga tanpa sengaja menabrak pilar disebelahnya. Aku jadi kasian dengan siren tua itu," celetuknya.
Audrina terdiam mendengar jawaban Zayn.
__ADS_1
Sepertinya sedang terjadi situasi yang benar-benar gawat sekarang.
...-----...