Love In Siren

Love In Siren
Serangan Mendadak


__ADS_3

"Cerita kan perlahan, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Roni pelan, ia tidak ingin membuat kedua rekannya itu kembali ketakutan.


Jhonson dan Daniel yang sudah tenang mulai mengontrol napasnya perlahan, mereka berjalan dan duduk di kursi tempat mereka biasanya bersantai. Semua awak kapal yang berada di dek inti mendekati mereka untuk mendengar kelanjutan ceritanya.


Jhonson menyatukan tangannya, "aku tidak tau apakah ini ada hubungannya atau tidak."


"Apa maksudmu?" tanya Arnold tidak sabar.


"Apa kau ingat saat kau menyuruh ku untuk memanggil kapal bang?" Jhonson menatap Soni yang berada diseberangnya, ia mengangguk, "saat itu aku menuju dek kemudi dan memanggil kapten untuk makan, tapi kapten menyuruhku untuk makan duluan dan setelah selesai aku akan menggantikannya untuk mengendalikan tuas kemudi kapal selagi ia makan.."


Semua orang mendengar cerita Jhonson dengan saksama.


"..Aku menginyakan kapten karena itu perintah beliau. Aku turun dari dek kemudi melewati tangga, emang dasarnya aku sangat suka melirik kesana kemari aku tidak sengaja melihat kearah laut. Ada kepala mengapung disana," Jhonson menurunkan oktaf suaranya.


"Apa maksudmu kepala mengapung?" tanya salah satu awak kapal yang berada di belakang Arnold.


"Sudah aku bilang kau berhalusinasi, Jhon." Ucap Frans yang menjadi orang yang pertama mengetahui hal itu. Ia adalah orang yang memanggil Jhonson saat sebelum makan siang karena terlalu lama di dek kemudi tadi.


Jhonson menatap Frans tajam, "aku melihat dengan mataku! Aku sudah mengatakan padamu tapi kau mengabaikan aku!" suaranya kini terdengar frustasi.


Frans mengeryitkan dahinya, " kau menyalahkan aku?!" tanya Frans tidak terima.


"Sudah, bukan saatnya kita saling menyalahkan."


Terdengar suara berat dari salah satu awak kapal yang sejak tadi hanya diam saja. Lelaki berkaca mata hitam itu bernama Tio dan ia adalah wakil kapten kapal. Semua mata tertuju pada Tio karena semua komando otomatis berada ditangannya.


Tio yang sejak tadi duduk merokok beranjak dari duduknya mendekati Jhonson dan Daniel seraya menghisap dalam-dalam rokoknya itu. Asap yang tertahan mulai dihembuskan dan mengempul diudara. Jhonson dan Daniel menelan saliva mereka gugup, merasa terintimidasi dengan sosok Tio yang sangat berwibawa.


Tangan kiri Tio menaikkan kacamata hitamnya keatas kepalanya, sehingga terlihatlah apa yang disembunyikan dibalik kacamatanya itu. Mata kanannya sudah tidak ada, hanya ada tanda bekas seperti cakaran disana. Seperti cakaran binatang buas.


Ia berdiri dihadapan kedua anak muda itu. Jika dibandingkan, tinggi mereka dengan Tio sangat berbeda jauh. Tubuh tinggi tegapnya hampir mengenai atap dek dan mereka hanya setinggi bahu Tio.


Seketika menciutkan nyali mereka lebih dalam lagi.


"Bagaimana bentuk kepala yang kau lihat? Jelaskan kepadaku sedetail mungkin," suara Tio yang sangat dalam itu berhasil membuat Jhonson merinding. Suara yang sangat berat dan tenang sekali.


Jhonson menelan kembalu salivanya, "b-baik sir."


"Apa yang kau ingat?" tanya Tio lagi to the point.


Jhonson tampak mengernyitkan dahinya, berpikir keras untuk mengingat detail penting dari ingatannya saat ia tidak sengaja melihat kepala yang mengapung di laut itu. Hal yang sangat menganggunya, hal yang mengerikan, hal yang suspicious menurutnya.


Setelah dipikir-pikir ada beberapa hal yang menurutnya aneh.


"Matanya merah, tajam dan menakutkan. Aku tidak yakin itu benar apa tidak, tapi kepala itu sepertinya memiliki rambut yang panjang dan sisik di sekitaran dahinya," terang Jhonson dengan nada berpikir.

__ADS_1


Tio mengangguk mengerti, "kau yakin kan?"


"Yakin, sir," jawab Jhonson.


Tio menghela napasnya kasar. Ia sepertinya sudah mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi dan siapa musuh mereka saat ini. Tio membalikkan badannya, menatap semua awak kapal yang berada di dek itu satu per satu.


Ada firasat aneh yang menghantui para awak kapal saat Tio memperhatikan mereka satu persatu. Seperti ada makna yang tersirat disana, tapi mereka tidak tau apa.


Tio menghisap habis rokoknya lalu melemparnya kelantai dan mematikannya dengan ujung sepatu yang dikenakannya. Ia menoleh sekilas kearah Jhonson lalu menepuk bahunya tiga kali.


"Dengarkan aku!" suara beratnya mulai menginterupsi, membuat siapapun tidak bisa berpaling, "siapkan senjata kalian, aku tunggu disini 10 menit dari sekarang. Setelah itu aku akan memberikan instruksi lanjutan. Got it? " tukasnya tegas.


"Yes, sir."


Suara mereka menggema di ruangan tertutup itu, membuat gendang telinga sedikit berdengung pelan. Tanpa memperdulikan itu, mereka menyegerakan gerakan mereka untuk mengambil senjata di kamar masing-masing. Tanpa bertanya lebih lanjut, sesuai panduan yang mereka pelajari yaitu 'jangan bertanya sebelum diminta'.


Semuanya bergerak tanpa terkecuali termasuk Tio, Jhonson maupun Daniel.


Mereka semua dengan sigap berlari mengambil semua senjata mereka yang hanya digunakan dalam kondisi darurat. Ada yang membawa senapan, pistol, pisau, pedang seperti katana dan tombak.


Belum genap 10 menit mereka sudah berkumpul kembali di ruang tengah dek inti. Mata Tio melihat kesekitar sekalian menghitung jumlah anggota yang tersisa. Ada 27 orang termasuk dirinya, 3 orang sudah tereliminasi.


"Baik, sepertinya semua sudah lengkap," ucap Tio sambil mengalungkan senapannya. "Aku akan jujur kepada kalian. Lawan kita bukan sembarang lawan, kalian mungkin akan menganggapku gila jika aku mengatakan siapa lawan kita saat ini," nada suara Tio sedikit lebih dalam dan meninggi namun tetap berat.


Tio menoleh kearah sumber suara, menatap lekat manik mata Roni membuatnya seakan menegang, "makhluk mitologi yang kalian tidak percaya hidup di dunia ini."


Semua mata tidak percaya mulai memandang Tio bersamaan dengan tubuh mereka yang tiba-tiba saja menggigil kedinginan. Suhu udara didalam dek inti turun drastis, padahal hari masih siang dan kalaupun malam suhu ruangan tidak sedingin ini.


"Apa maksudmu, sir ?" tanya Daniel takut-takut.


Tio menghela napasnya panjang, "mereka adalah siren laut. Siren pembunuh manusia."


Badan mereka mematung, napas mereka seakan tercekat, otak mereka masih berusaha menerima informasi mustahil yang sangat tidak masuk akal. Mitos para pelaut mengenai makhluk bernama 'Siren' adalah salah satu yang paling terkenal dan paling banyak diminati serta diyakini oleh banyak pelaut diluar sana. Namun, tidak sedikit yang tidak mempercayai mitos kuno yang dialirkan secara turun temurun itu.


Mungkin karena terlalu terkejut, mereka sampai tidak bisa berkata apa-apa mengenai hal ini. Sampai tiba-tiba terdengar suara detuman keras yang berhasil membuat lampu di dalam dek inti berkedip.


Duam...


"Astaga, suara apa itu?!" teriak lelaki yang paling kecil diantara mereka dengan panik.


"Sepertinya mereka sudah mulai menyerang kita," ucap Arnold panik.


Suara detuman itu berhasil membuat panik para awak kapal yang berada di dek inti. Serangan dadakan itu berhasil membuat mereka yang awalnya tenang dan berpikir jernih mulai kehilangan kendali.


...****************...

__ADS_1


Amber dan Aoi mulai membantu Audrina mencari mata pengintai lain yang mungkin masih tersisa. Setelah hampir satu jam, mereka akhirnya berhasil memusnahkan mata pengintai terakhir.


"Bagaimana, Ody? Sudah aman?" tanya Aoi kepada Audrina yang masih memandang keruangan terakhir, yaitu perpustakaan.


Audrina melihat ke segala penjuru ruangan, meniti setiap sudut dengan fokus agar tidak ada titik yang terlewatkan. Sepertinya sudah aman karena tidak ada lagi yang mencurigakan di radar Audrina.


Audrina mengedipkan matanya perlahan, "sepertinya sudah aman, Aoi. Aku tidak melihat tanda-tanda mereka lagi."


"Syukurlah," suara lega Amber akhirnya terdengar.


Aoi mendekap tubuh Audrina lalu membawanya keluar dari perpustakaan, disusul Amber yang mengikuti mereka dari belakang. Mereka kembali keruang biru tempat buku gambar bergerak berada.


Kali ini mereka bisa dengan aman dan leluasa membaca buku Wilona tanpa harus takut dimata-matai.


Aoi menatap Amber yang sudah duduk diatas batu marmer yang berada diujung meja. Seperti tau apa yang ada dipikiran Amber, Aoi mulai merongoh tas rajut yang ada dibalik rambut panjangnya itu.


Ia dengan perlahan mengeluarkan buku Wilona dan meletakkannya diatas meja, bersebelahan dengan buku gambar bergerak itu.


"Wah, kalo di compare buku Wilona lebih indah dari buku gambar bergerak ini," puji Audrina takjub saat kedua buku itu berada di hadapannya.


Amber terkekeh pelan, "nama buku itu bukan buku gambar bergerak, Audrina." Sanggah Amber.


"Jadi?"


"Cruz, kami menyebutnya dengan buku Cruz. Setiap buku di lembah ini memiliki nama mereka masing-masing," jelas Amber disusul dengan senyuman manisnya menampilkan garis pipi seperti kucing, sangat menggemaskan untuk seumuran Amber.


Walaupun umurnya tua, tapi ia masih terlihat sangat cantik dan muda. Kadang Audrina sampai lupa dengan umurnya yang sudah ratusan tahun itu.


Aoi menatap buku-buku itu, "apa kita bisa membacanya sekarang?" tanya Aoi tidak sabar.


"Tunggu-tunggu! Sebelum itu, hei Amber. Apa taringku ini bisa disembunyikan?" tanya Audrina penasaran.


Semakin lama ia semakin risih dengan taringnya yang mulai mengenai bibir bawahnya. Kadang bisa sampai membuatnya tidak sengaja mengigit bibir bawahnya juka ia tidak berhati-hati saat berbicara.


Amber mendorong ekornya perlahan. Ia memegang dagu Audrina lalu melihat gigi taringnya yang tumbuh dengan sangat alami, seperti anak siren kecil yang baru tumbuh gigi. Tawa geli Amber mulai terdengar bersamaan dengan wajah Audrina yang keheranan.


"Lihat ini."


Dengan perlahan, tangan berselaput Amber mengusap bagian atas buku Wilona. Sayup-sayup terdengar suara gemerincing halus yang menyejukkan dari buku itu. Suara yang sangat indah sekali.


Bersamaan dengan suara gemerincing itu, sampul buka Wilona membuka dirinya dan menampilkan halaman awal dari buku itu.


Kini mereka telah berhasil membuka buku Wilona. Saatnya mempelajari isi buku itu.


...-----...

__ADS_1


__ADS_2