
Persis seperti apa yang pernah terjadi sebelumnya, di saat kapal SS Ourang Medan berhasil diambil alih. Sisa yang selamat dibiarkan kabur dan mati dehidrasi di pulau tidak berpenghuni.
Hal itu juga akan terjadi kepada mereka selanjutnya.
Jhonson membuka pintu sekoci, lalu lebih dahulu menyentuhkan kakinya ke pasir pantai dimana pulau tempat mereka terdampar saat ini. Ia menyuruh yang lain untuk tetap di kapal, sementara ia sekedar melihat sekitar apakah aman atau tidak.
Saat di rasa aman, Jhonson memberikan isyarat kepada yang lain untuk turun dari sekoci dengan Jacob memapah Tio untuk turun. Setelah Tio sudah didudukkan di bawah pohon rindang di ujung hutan pulau, mereka bertiga lalu menarik sekoci itu ke darat agar tidak terhanyut ke laut lepas.
Mereka menariknya hingga 5 meter dari tempat Tio berada saat ini. Rencananya mereka akan membangun tenda dengan kayu dan mungkin daun kelapa yang berada di dekat sana, dan mereka juga harus mencari air untuk minum. Tugas itu diperintahkan untuk Jacob dan Jhonson, sementara Daniel menjaga Tio di sana.
"Kapten, apa kita harus membuat api unggun?" tanya Daniel karena merasa malam ini akan menjadi malam yang dingin sekali.
Tidak ada jawaban dari Tio. Saat Daniel melirik kearah kapten, posisinya sedang meringkuk tertidur membelakanginya. Karena takut menganggu istirahatnya, Daniel kembali diam dan hanya memainkan pasir pantai yang berada dikakinya.
Beberapa menit setelahnya, Jacob dan Jhonson kembali. Mereka berhasil menemukan mata air di tengah hutan, tidak lupa mereka membawanya ke sana agar Daniel dan Tio bisa minum juga.
"Daniel, bangunkan kapten. Biarkan ia minum terlebih dahulu," ucap Jacob.
Daniel mengangguk, "baik," ucapnya lalu mendekati sang kapten seraya menggoyangkan sedikit badannya. Namun, tidak ada respon sama sekali.
Tangan Daniel terus menggoyangkan tubuh Tio, "kapten bangun dulu, Jacob dan Jhonson membawakan air untuk diminum."
"Kapten?" panggilnya lagi.
Ada rasa takut yang menyelimuti hati Daniel saat Tio berulang kali tidak merespon panggilannya. Perasaan ganjal mulai kembali menyakinkan dirinya ada yang tidak beres dengan kondisi kaptennya saat ini, apalagi saat ia menyentuh kulitnya hanya dingin yang dirasa.
Ia juga baru sadar tubuh Tio sudah lebih pucat dari biasanya, apa jangan-jangan...
"Kapten!" teriak Daniel panik dan dengan keberaniannya ia membalikkan tubuh Tio.
Mendengar Daniel yang berteriak ke arah kaptennya tentu menjadi perhatian Jacob dan Jhonson. Mereka berdua mendekati Daniel yang sudah mematung di sana, terlalu kaget dengan apa yang dilihatnya. Matanya membulat sempurna, bibirnya jatuh, tangannya bergetar tidak karuan.
Mereka berdua melihat ke arah pandang Daniel. Di sana mereka melihat Tio sudah terbujur kaku, dengan bibir kebiruan dan kulit pucat yang sangat jelas. Gerakan naik turun dadanya juga tidak terlihat jelas, itu pertanda ia sudah tidak bernapas lagi.
Jacob mendekati Daniel, "apa yang terjadi?"
"A-aku rasa kapten.." jawab Daniel tergantung, ia tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Merasa tidak tega dan belum ingin menerima kenyataan pahit lainnya setelah kepergian kru kapal lain dan kali ini kaptennya.
Tentu saja ia tidak mau mengakui hal itu saat ini.
Tio Ivankov Valmord sebagai keturunan dari keluarga Ivankov kembali melanjutkan silsilah terkutuk mereka. Dimana mereka akan mati di tengah laut saat mereka menjadi kapten kapal seperti nenek moyangnya terdahulu. Kali ini, penyebabnya adalah pertarungan sengit antara Tio dan siren yang menjadi penyebab meninggalnya keluarga secara turun termurun hingga dirinya kehilangan banyak darah.
__ADS_1
Sang wakil kapten yang diangkat secara tidak langsung menjadi kapten 0AS-Ship 5389 akhirnya meninggal dunia. Bisa dikatakan ini sebagai penghormatan karena telah mengabdi kepada kapal dan menjaga kru, atau ini adalah kutukan yang terus berlanjut.
Jacob memeriksa nadi di leher Tio, memastikan apakah ia benar sudah meninggal atau tidak. Namun ekspresi Jacob mengatakan segalanya, Tio benar sudah meninggal.
Jacob menunduk sedih, "kapten udah tidak ada," ucapnya lirih.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Daniel dengan pandangan kosong lurus menatap Tio yang terbujur kaku di sana.
"Kita harus kuburkan kapten dengan layak," lirih Jhonson dengan berat hati.
...****************...
Aoi dan Thania terus menghempaskan ekor mereka seraya memastikan kedua dariás yaitu Audrina dan Zayn tetap berada di punggung mereka. Mereka sudah melesat cepat untuk menghindari cahaya redup kemerahan yang mengikuti mereka sejak tadi.
Tanpa melihat ke belakang, Aoi dan Thania bergerak mulus menghindari segala rintangan menuju permukaan dengan kekuatan renang mereka yang sangat memumpuni.
Audrina mengeratkan pegangannya kepada Aoi, "Aoi tangan aku licin," ucapnya sambil sedikit berteriak. Tangannya berulang kali hampir terlepas karena semakin cepat Aoi berenang, maka semakin kuat pula tekanan air yang mereka terima dari arah depan.
Aoi menarik tangan Audrina agar tidak terlepas, "tahan sedikit lagi! Kita hampir sampai di permukaan," seru Aoi masih dengan sorot mata lurus ke depan, fokus untuk mencapai tujuannya.
Berulang kali tangan Zayn juga hampir tergelincir dari pegangannya, membuat Thania lebih mendekapnya hingga wajah Zayn berubah kemerahan karena malu. Karena takut menganggu konsentrasi Thania, ia tidak mengatakan apapun dan hanya diam saja.
Sedikit lagi, mereka akan sampai di permukaan. Namun, pengintai kiriman Gloria juga tidak mau kalah dari mereka. Berusaha untuk membuat mereka berempat kewalahan dan tidak meninggalkan danau sebelum pasukan siren merah datang.
Sedangkan sisanya tetap mengikuti mereka tanpa memperdulikan rekannya yang tumbang.
Aoi mendesis kesal hingga taringnya terlihat lebih tajam, "ck, kenapa mereka masih mengikuti kita sih?" kesalnya seraya dengan gesit menghindari beberapa tanaman rambat yang menjalar di sana.
Melihat tanaman itu yang semakin tebal dan lebat, mereka menyadari bahwa permukaan air sudah dekat.
"Thania, lebih cepat lagi!" titah Aoi dengan lolongan merdu yang membuat Thania mengangguk dan kedua dariás tersipu.
Saat mereka berhasil keluar dari tebalnya tanaman rambat itu, sedetik kemudian mereka muncul di permukaan. Audrina dan Zayn akhirnya kembali menghirup oksigen, mematahkan keunggulan mereka yang bisa bernapas dalam air karena memakan tanaman ampelìa sebelumnya.
Audrina sedikit panik hingga membuat riak air yang semula tenang menjadi berisik. Dengan cepat Aoi membawa Audrina untuk segera menepi ke pinggir danau dan naik ke atas jembatan papan kayu yang berada di sana.
"Aoi!" panik Audrina.
Aoi menarik tangan Audrina lalu menuntunnya memegang tangga dan naik ke sana, "pegang ini, langkahkan kakimu perlahan saat naik," peringat Aoi sambil memegang lingkar pinggang Audrina dari belakang.
Audrina menuruti, "jangan dilepaskan ya!" tukasnya dengan perasaan was-was.
__ADS_1
"Iya, Ody. Aku tidak akan lepaskan peganganku padamu," sahutnya lembut berusaha meyakinkan Audrina.
Sedangkan Thania dan Zayn yang keluar sedikit lebih jauh dari jembatan harus menggunakan lebih banyak effort untuk ke sana. Karena perubahan keadaan yang tiba-tiba, tubuh Zayn sedikit terkejut membuat sarafnya tidak terlalu bekerja dengan baik.
Mau tidak mau, Thania harus menuntun Zayn untuk mendekati jembatan masih dengan dekapannya. Tangan Zayn yang semula berada di belakang sirip punggung Thania perlahan turun ke lingkar pinggangnya yang ramping.
Karena Thania yang terlalu over positive thinking, ia tidak mempermasalahkannya.
"Aku mual," aku Zayn sambil memasang wajah yang kusut.
Thania menoleh ke arah Zayn, "Zayn, sedikit lagi ya. Habis ini kita istirahat di Villa," bujuknya agar Zayn bisa menahan diri sedikit lebih lama.
"Baiklah," jawab Zayn lirih masih dengan wajah kusutnya.
Thania mengerakkan sedikit ekornya di dalam air dan sesampainya di dekat jembatan, Thania sedikit mendorong tubuh Zayn ke depan untuk membantunya memegang tangga. Namun, belun sempat ia menyentuh tangga, kaki Zayn ditarik ke dalam air hingga membuatnya tenggelam ke dalam air lagi.
"Zayn!" teriak Audrina histeris saat melihat Zayn ditarik ke dalam danau.
Mereka sempat melupakan musuh mereka karena dikira tidak akan mengikuti sejauh ini. Thania kembali menyelam ke dalam air untuk menarik kembali Zayn naik ke permukaan, karena saat ini ia benar-benar dalam bahaya. Apabila ia ditarik melewati tanaman rambat itu, maka tidak ada kesempatan Zayn untuk selamat.
Zayn menutup mulut dan hidungnya dengan kedua tangannya, mencoba menahan gelembung udara keluar agar bisa bernapas lebih lama di dalam air. Ia sesekali mencoba menendang kakinya yang ditarik pengintai itu, namun kekuatannya kalah jauh.
Sorot mata penuh harap Zayn menunggu pertolongan akhirnya sedikit berbinar, karena melihat siluet Thania yang menyelam mendekatinya sambil menjulurkan tangannya ke depan. Melihat itu, Zayn mencoba meraih tangan Thania dengan menjulurkan tangannya juga.
Hempasan pergerakan ekor Thania kembali ia percepat untuk mengejar Zayn yang semakin dalam, hingga ia berhasil menangkap tangannya.
Pupil mata Thania melebar tanda ingin menyerang,"astin na fygei! Í tha petháneis apó ta chéria mou! " (Biarkan dia pergi! Atau kamu akan mati di tanganku!) ucapnya sembari memberi peringatan dengan tegas dan desisan yang cukup panjang.
"Dokimáste to an boreíte," (Coba saja kalau bisa) remeh pengintai itu membalas desisan Thania.
Dengan segenap kekuatan yang dibantu dorongan ekornya, Thania berhasil menarik Zayn ke atas. Tetapi dua lawan satu, tentu saja ia kalah dalam segi kekuatan.
Seperti mengerti isi hati Thania, Aoi muncul dari belakang dan membantu Thania menarik Zayn ke permukaan. Aoi juga memberikan perlawanan sengit yang membuat pengintai itu kewalahan.
"Aoi?"
"Tarik sekuat tenagamu Thania! Zayn hampir kehabisan napasnya saat ini," peringat Aoi dengan sorot kehijauan yang tegas membuat Thania merasakan api semangatnya semakin membara untuk menyelamatkan Zayn saat ini.
Thania mengeratkan tangan berselaputnya, menarik kuat Zayn agar lepas dari tarikan pengintai siren merah yang sangat mengkhawatirkan itu. Namun, mereka juga tidak mau kalah dan semakin memberikan perlawanan yang benar-benar merepotkan.
Saat ini mereka harus segera ke permukaan, sebelum Zayn kehabisan napas.
__ADS_1
...-----...